Andi X Sarah

Andi X Sarah
Masa Lalu (3)


__ADS_3

“Sumpah, Kak. Cuma gue yang ngerokok. Temen-temen gua ga ngerokok,” balas Andi untuk meyakinkan.


“Ngapain lo ngerokok? Udah ngerasa hebat?”



“Kak, temen Kakak aja ngerokok. Gua lihat sendiri malam tadi. Yaudah, adik kelas kan nyontoh perbuatan kakak kelasnya.”



Andi menunjuk seseorang, Saat itu aku ga tau siapa nama senior itu. Badannya gede dan tingginya ampir sama dengan Andi. Dari kemarin, senior itu memang diam-diam aja. Ga banyak bacot kaya yang lain. Tapi, karena Andi menunjuk senior itu, kini wajahnya terlihat menyeramkan.



Seseorang temannya menahan langkah senior itu agar tidak mendekati Andi.



“Kevin, udahlah. Jangan lo bawa emosi,” ucapnya.



“Ga bisa Pram. Bocah ini ga tau sopan santun sama senior.”



Dari sana baru aku tau kalau mereka adalah Kevin dan Pram.



Kevin mendekat dan menarik kerah jaket Andi. Tak lama kemudian sebuah kepalan yang keras mendarat ke wajah Andi.



“Gue senior lo. Jaga omongan lo, bangsat.” Kevin berjalan pelan menjauhi Andi.



Andi tersungkur di tanah sambil kesakitan. Aku, Nanang, dan Felix denga cepat menolongnya. Senior yang lain ga ada yang peduli, mereka hanya menatap sinis kepada Andi yang sudah membuat masalah. Seakaan, Andi pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu.



Dari sanalah aku ga pernah melihat Andi dengan sebelah mata. Ada sebuah sisi setia kawanan yang sangat besar di dalam hati kecilnya. Ia rela menanggung cacian dan cibiran dari orang banyak, hanya untuk melindungi teman-temannya. Bahkan, di saat kami datang menolongnya. Ia masih sempat tersenyum walaupun bibirnya berdarah karena saking kerasnya pukulan Kevin.



“Kalian teman pertama gua yang gua lindungin kaya gini, dan kalian temen pertama gua yang datang waktu gua kena pukul,” ucapnya dalam senyum.



Hari itu merupakan hari terakhir acara camping kami. Beberapa perlombaan yang digelar, kami dapat menarik perhatian orang banyak, terutama kakak kelas yang banyak menyukai kelompok kami yang sangat heboh. Bisa dibilang kelompok faforit.



Kami dijadwalkan pulang di sore hari setelah upacara penutupan acara dilaksanakan. Ada rasa senang, yaitu bisa kembali dengan kenyamanan dalam rumah. Namun, aku sedih karena kebersamaan itu segera akan berakhir.



Siang itu, dihari terik yan lembab oleh butiran embun bukit, tampak Andi sedang bercekcok dengan senior kami yang membogem Andi waktu itu. Saat itu aku masih takut untuk melawan Kevin dan Pram. Aku hanya bisa melihat Andi diseret oleh orang berdua itu sambil bersembunyi disemak-semak saat Andi dipukuli.



“Gua masih ga terima sikap kurang ajar lo waktu itu,” ucap Kevin sambil memukulnya. Sedangkan Pram hanya melihat Andi yang tersungkur di tanah.



Saat itu, Andi tidak melawan sedikit pun. Ia menerima setiap serangan yang dilancarkan oleh Kevin.



“Yang gua bilang itu bener, kan? Lo ga bisa ngelak walaupun lo itu senior gua.”



Andi kembali dipukuli berkali-kali oleh Kevin sampai Andi mengerang kesakitan. Tampak luka lebam membiru di wajahnya yang tak bisa ia sembunyikan.

__ADS_1



Pram menahan tangan Kevin untuk tidak terus memukuli Andi. “Udah, dia udah bonyok mukanya. Kasian.”



“Sebaiknya lo nanti ga ketemu sama gua.”



Saat itu aku masih Agus yang cupu dan takut-takutan sama orang baru. Aku hanya bisa menggigil dalam hati melihat wajah Andi yang membiru. Aku segera berlari ke perkumpulan untuk mengadukan ini ke Ketua Osis. Namun, di saat aku berlari, tiba-tiba Kevin langsung menghadangku.



“Lo mau ngadu? Mungkin lo bakal kaya dia.”



Tepat di waktu sholat dzuhur, aku tidak melihat tas Andi lagi di dalam tenda. Aku tidak bisa menemukannya di mana pun. Sebuah surat kecil didapati di samping tumpukan tas kami.



Gua pulang duluan. Kucing gua belum dikasih makan. Gua udah kasih tau senior.



Hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Matahari yang bersinar tak cukup panas untuk membakar di udara yang sesejuk ini. Kami berkumpul di tengah-tengah tempat kemah karena Ketua OSIS akan memberitahukan sesuatu.



Sementara itu, Felix dan Nanang berkali-kali bertanya padaku ke mana Andi pergi. Namun, aku tak menjawabnya. Aku hanya menggeleng di saat mereka bertanya.



Suara toa berdengung di saat Ketua OSIS menghidupkannya.



“Adik-adik sekalian. Abang mau ngasih tau kalau ke sungai hati-hati karena licin dan berbatu. Salah satu teman kalian tadi terpeleset dan wajahnya menghantam batu. Untung saja ia tidak kenapa-kenapa. Sekarang teman kalian itu sedang pulang duluan dibawa sama rombongan OSIS yang pulang duluan.”




Kini Aku, Andi, Felix, dan Nanang tengah berada di dalam satu mobil. Andi membawa mobilnya untuk berkeliling kota. Aku senang ia datang ke rumah dan menyalamatku dari amukan Bapak yang komplain dengan nilai burukku.



Benar, cerita itu adalah cerita yang kukenang setahun yang lalu. Cerita yang membuatku sangat tidak suka dengan Kevin dan anggotanya. Aku tidak ingin melihat Andi seperti dulu, mengerang kesakitan tanpa ada satu teman pun yang datang menolongnya.



Itulah kenapa setiap Andi bermasalah dengan mereka, akulah orang yang paling pertama maju untuk membentengi Andi. Bahkan, Andi selalu marah padaku di saat aku selalu ikut campur tangan di masalah pribadinya. Bagiku tak peduli itu masalah pribadi kek, mau masalah apa kek, yang penting masalah seorang sahabat kuanggap sebagai masalahku sendiri.



Pernah aku ceritakan bahwa aku melihatnya dipukuli oleh kevin waktu itu. Andi hanya merespon senyum tipisnya yang aku tahu sangatlah palsu. Ia berkata bahwa masalah itu tidak perlu dibahas kembali.



Benar, aku tidak pernah membahasnya lagi. Akhir tahun 2014, kami berempat dimasukkan ke Antophosfer yang berisikan semua berandalan sekolah. Saat itu sekolah kami sedang diajak tawuran sama Anak SMK sebelah hingga kami diajak buat tawuran.



Aku takut, itukan tawuran? Kata yang berkali-kali yang dibilang sama Bapak agar aku tidak pernah sedikit pun ikutan.



Apalah daya, aku hanya mengikuti orang yang lebih tangguh dariku.



Mataku benar-benar terbelalak melihat lawan kami tengah mengangkat balok kayu yang akan digunakan untuk menyerang kami. Aku tidak bisa menahan kakiku yang mulai gemetaran. Inilah perdana aku ikut tawuran.


__ADS_1


Ada tiga orang yang tidak kenal takut tengah berdiri di barisan terdepan. Senior kelas 12, Bang Ali, Kevin, serta Andi tegak beridiri membusungkan dada mereka kepada lawan. Aku, Nanang, dan Felix berada di barisan belakang.



Semuanya menyerang. Aku dan teman-teman berlari menghadang satu per satu. Bak singa yang tengah kepalaran, Bang Ali menghantam lawan dengan mudah. Begitu pula Kevin dan Pram, mereka sangat lihai menghindari serangan demi serangan.



Toko-toko di samping kiri kanan terpaksa di tutup. Orang-orang takut untuk mendekat. Sementara itu perkelahian sudah berlangsung sepuluh menit. Aku sebelumnya tak mengenal orang itu, orang yang berkulit gelap sama sepertiku. Ia menghadang Senior Ali hingga terkapar tak berdaya.



Ia adalah Memet, pendekar SMK sebelah yag terkenal jago berkelahi.



Kami melihat sendiri Senior Ali tumbang dan digebuk oleh beberapa lawan. Kevin meminta kami mundur. Di saat kami mundur, ia berlari ke beberapa orang yang tengah menghajar Senior Ali.



“Kevin!!!!” panggil Andi sambil berlari menghadang Memet yang tengah menyeret Kevin ke comberan.



Kami sudah berlari terlalu jauh, sehingga tak sempat ikut menyelamatkan mereka.



Namun, dari sana aku mengakui kehebatan sosok Andi. Sifat solidaritas yang sangat ia junjung tinggi. Pantang meninggalkan teman walaupun nyawa sebagai ganti.



Tangan Andi menghantam lawan berkali-kali hingga semuanya mundur. Ia menarik Bang Ali serta Kevin yang tengah tak berdaya dihantam lawan. Melihat itu, kami semakin membara untuk melancarkan serangan balasan sehingga lawan dapat dipukul mundur. Lawan lari terbirit-birit di saat kami berlari menyerang.



Hidung Kevin telah berdarah, mata Senior Ali bengkak sebelah. Kami terkapar di sebuah lapangan tempat kami menyusun strategi tawuran.



Andi dipuji oleh semua orang. Di sanjung-sanjung bagai pahlawan yang baru pulang berperang. Aku turut bangga, begitu pula Nanang dan Felix. Sahabat kami tengah menjadi orang terkuat saat ini.



Namun, wajah Kevin tetap menatap dalam bencinya.



Rasanya sudah dua jam kami berkeliling kota tanpa tujuan. Rokok satu bungkus sudah habis kami hisap bersama di dalam mobil. Terdengar suara klakson kendaraan yang suntuk akan kemacetan. Aku lihat jalanan aspal dengan pedagang kaki lima di kiri kanannya. Asap pedagang sate berkeliling menimbulkan wangi yang khas. Hiruk pikuk pedagang tak bisa kami elakkan. Begitu ramai dan riuh di senja hari ini.



Jalanan ini menjadi saksi.



“Andi, dulu kita pernah tawuran di sini,” ucapku pada Andi.



“Iya, bener.” Andi tertawa karena aku mengungkit hal itu.



“Gua keinget almarhum Bang Ali.”



Tanggal 27 Desember 2014, Senior Andi meninggal setelah seminggu dirawat karena pendarahan hebat di kepalanya.



Bukan karena tawuran, namun karena kecelakaan motor.


***

__ADS_1


__ADS_2