
Masalah
Masa Ujian Nasional yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Persiapan tempur yang dipersiapkan sebelum berperang tengah digencarkan untuk menghadapi butir-butir soal. Masa depan tengah dipertaruhkan dalam satu waktu memilih jawaban yang benar di layar komputer ujian. Tidak ada kata menyerah, inilah kenapa mereka mati-matian belajar siang dan malam hanya untuk berperang di empat hari yang dinantikan.
Andi tidak sepenuhnya bisa menjawab semua soal yang ada di layar computer. Setidaknya, ia masih bisa menjawab soal-soal yang ia yakini mampu untuk mengerjakan. Kemajuan yang patut diapresiasi, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang sama sekali asal-asalan dalam mengerjakan ujian. Tidak hanya Andi, ketiga teman jenakanya turut merasakan hal yang sama. Tidak sia-sia rasanya masuk ke dalam bimbel yang turut menguras dompet orangtua mereka.
Adik-adik kelas seperti Arman, Naila, Aisyah, bahkan Dandi sekali pun menaruh harapan yang besar kepada senior-senior mereka yang tengah ujian. Hal itu disebabkan harga diri sekolah mereka tengah dipertaruhkan di sana. Marwah nama mereka sebagai penerus sekarang berada di tangan senior.
Senyum dipancarkan oleh Sarah tatkala melihat Andi keluar dari ruangan ujian. Semuanya berbahagia karena mereka berhasil melewati ujian yang terakhir. Terlihat jelas dari wajah mereka yang berseri-seri sembari menggenggam tangan tanda keberhasilan setelah keluar dari ruang ujian. Melambai kepada teman yang lebih dahulu selesai, saling berpelukan untuk merayakan kemenangan mereka hari ini.
"Kita berhasil ***!!!!" Andi berteriak kepada teman-temannya.
"YEEE, bentar lagi kita kuliah!!!" Agus memeluk Andi.
Nanang turut memeluk, lain hal dengan Felix yang sedikit malu-malu. Soalnya cuma mereka aja yang cowok malah pelukan, kaya cewek di sebelah aja.
Felix memandang Sarah yang tengah sendirian berdiri di dinding kelas, memandang kemeseraan mereka berempat. Ia sampaikan senyum pertamanya hari ini sembari mengajak Sarah untuk bergabung dengan isyarat tangan.
"Selamat!"
Hanya sepenggal kata itu yang diucapkan Sarah. Setelah itu ia pergi sendirian. Euforia yang ia tunjukkan tidak seperti murid-murid biasa, ia selalu dingin dan tanpa ekspresi jika merayakan kebahagiaan.
__ADS_1
Andi sekilah melihat pergerakan Sarah yang pergi. Ia tahu sedari tadi wanita tersebut memerhatikan dirinya diam-diam. Ada sesuatu yang ia ingin katakan, namun Andi sadar jika Sarah terlalu canggung untuk mengungkapkan. Ia lepaskan pelukan dari teman-temannya tersebut, lalu pergi menghampiri Sarah yang pergi.
"Sarah ....." Andi menggapai tangan Sarah.
"Oh, elo ... hmm ... senang banget ya. Gimana ujiannya?" tanya Sarah.
"Ga usah basa-basi. Tentang jawaban kemarin, gue─"
Tanpa diduga Sarah memeluk Andi dengan erat. Ia tumpahkan isak tangis rindu yang selama ini ia tahan. Tamparan keras baginya yang malah mengemis kembali cinta yang pernah ia lepaskan sebelumnya. Menuntut pria tersebut memilikinya kembali, merajut kisah yang sempat terhenti.
"Ga sedetik pun hati gue berpaling dari lo semenjak kita putus. Gue sayang banget sama lo, Andi. Betapa rindunya gue denger suara lo semenjak lo ga mau bicara sama gue lagi. Betapa hancurnya hati gue semenjak denger lo deket sama cewek lain. Gue sempet down karena hal itu. Segala cara lakukan biar dapat perhatian lo, salah satunya gue deket sama Pram. Gue kira lo bakal cemburu, ternyata tidak. Hilangkah cinta lo dari gue. Gue ga ngerti sama lo, Andi."
"Maaf, Sarah ... gue selama ini terlalu sibuk buat sendiri. Gue butuh ketenangan."
Seseorang berlari menuju mereka yang tengah meleas rindu. Dugong dengan wajah cemasnya menggapai pundak Andi, sehingga terpaksa Andi melepas pelukan dari Sarah.
Ia pegang wajah Sarah. "Tungu, gue harus pergi."
"Jangan Andi. Jangan terlibat lagi!!!!" teriak Sarah.
"Ga bisa, ini udah jalan gue."
Terlihat semuanya sudah berkumpul diparkiran. Pentolan-pentolan Antohosfer angkatan 12 yang lain sudah lebih dahulu menunggu di sana. Melihat Andi dan Dugong tiba, mereka membuka jalan agar Andi tahu yang sebenarnya terjadi.
"Ini Surat dilempar pakai batu ke mobil gue." Dugong memberikan secarik kertas tersebut.
__ADS_1
Dengan jelas terlihat Honda Jazz milik Dugong penyok dibagian pintu depan. Andi segera membaca surat tersebut.
**GUE MAU TAHU SIAPA ANAK YANG BERNAMA AJIZ. DIA UDAH NGEHAJAR ANGGOTA GUE TADI SIANG. DATANG KE MARKAS GUE BESOK SIANG, ATAU KAMI YANG NGEHANCURIN SEKOLAH KALIAN BESOK.
TERTANDA KETUA GHOS NIGHT**
ALEX
Membaca surat tersebut, Andi bergegas menuju kedai Kodomo. Mungkin saja Ajiz tengah berada di sana.
Benar saja, Ajiz tengah tertunduk pasrah di hadapan Kevin yang menamparnya berkali-kali. Ajiz tidak sedikit pun melawan, ia terlalu takut untuk berhadapan dengan Kevin.
"GUE UDAH PERNAH BILANG JANGAN GEGABAH NGUSIK GENG LAIN!!!" teriak Kevin.
"Mereka yang nyetopin gue duluan, bang." Ajiz tertunduk.
"Trus, kenapa lo kejar mereka? Gue tahu lo itu kuat, tapi ga sampai hampir membunuh orang. Lo itu kalau emosi ga stabil. Lo harus bisa mengendalikan diri lo."
Andi tiba dengan menahan tamparan Kevin ke wajah Ajiz.
"Udah, biar Antohpsfer yang selesaikan. Lo duduk manis aja sendiri di sini. Kami bakalan gerak besok siang."
"Gue ikut!" pinta Kevin.
"Ga usah, kalian udah banyak ngebantu kami. Sekarang kami tunjukin kalau kami kuat tanpa kalian."
__ADS_1
Lima orang anggota Ghost Night babak belur dihajar Ajiz. Satu orangnya dilarikan ke rumah sakit berkat kepala yang bocor dihantam kerasnya pukulan Ajiz.
***