Andi X Sarah

Andi X Sarah
66. Andi X Sarah 2 (TAMAT)


__ADS_3

Epilog


Sebuah kata cinta yang terus saja merekah tak terhentikan dalam tatap jiwa. Setiap tutur kata yang beralunkan belai senyum wanita itu selalu aja meluluh lantakkan kerasnya hati. Betapa malunya jika mengilas balik kenangan tatkala mereka bertatap untuk pertama kali. Bermadukan cahaya redup yang seiring waktu terang benderang memanjakan hati. Ahh ... rindu itu kembali berputar. Caci maki yang Andi sampaikan menusuknya, membuka tirai hati untuk terus menatap wanita itu.


Tangan Andi berayun dalam genggaman Sarah yang malu-malu melangkah di antara reramaian pengunjung yang lain. Sudah berapa lamakah mereka bersama? Kenapa hati masih bergetar menciptakan rasa gugup tatkala ia menyentuh Andi? Sudah dikatakan sebelumnya pada kisah-kisah lama, cinta tak pernah memandang waktu. Getaran itu akan terus dirasakan, tak pernah padam bagaikan mentari hangat yang menyinari seluruh belahan tanah.


Terkadang Andi berpikir apakah mereka akan terus bersama? Menulis kisah hidup yang hanya tersajikan untuk mereka berdua. Rasa ini ia harap akan terus tumbuh dan tumbuh, meskipun badai menghantam meluluh lantak jalan bersih yang sempat tapaki sebelumnya. Hati terus berbicara, membicarakan tentang takdir. Mengucap kata kemilau rindu yang akan datangnya satu hari, di mana satu janji bersatu lebur untuk bersama.


Wanita itu tersenyum di hadapan Andi, menatap Andi yang mati kutu.


Bukan mati kutu berkat pancaran senyuman Sarah.


Namun ....


"*****, ini restoran mahal, Sar. Gue miskin malam ini," ucap Andi memegangi kepala.


"Yealah, masa restoran begini lo ga ada uang."


"Eh, ga ada uang kepala lo ... Sumpah, gue kira lo mau makan ke kaefci atau mekdi ..."


Pelayan restoran datang memberikan menu makanan. Andi yang membukanya langsung dibuat menutup mata.


"Bagaimana bisa satu menu makanan ratusan ribu?!" tanya Andi.


Sarah agak malu nih, ni anak bicara di deket pelayan restoran.


"Eh, jangan maluin gue dong ...." Sarah membisik kepada Andi. "Pilih aja yang agak murahan, bego!"


"Mending gue makan nasi padang. Kenyang dan bisa tambah," bisik Andi.


"Yaudah gue yang milih." Telunjuk Sarah menelusuri setiap menu di kertas menu. Pastinya milih yang relatif murah. "Mas, Steak Sirloin dua. Minumnya ... hmmm ... tropical float dua. Pudingnya dua buat penutup."


Pelayan restoran mengangguk dan mencatat pesanan Sarah. Setelah itu ia pergi.


"Hei, kenapa lo bawa gue ke sini?" tanya Andi.

__ADS_1


"Lo liat aja ke samping, pemandangannya bagus, kan?"


Restoran menyajikan pemandangan menarik hamparan kemilau malam ibu kota. Lampu-lampu jalanan dan kendaraan begitu kecil bergerak perlahan. Ruang indoor dan outdoor dibatasi oleh sebuah kaca besar yang membuat pengunjung bisa menikmati sajian sembari dimanjakan pemadangan kota. Suasana romantis ditambah dengan taburan mawar pada setiap meja dan tiga buah lilin berwangikan mawar yang khas. Kawasan outdoor dilengkapi dengan tempat lesehan dan bantal-bantal besar yang menjadi tempat berbaring yang nyaman. Beberapa pasangan tampak memadu kasih bersama sembari melihat bintang gemintang bertaburan.


"Iya sih ... worth it dengan harganya yang selangit. Tapi kan bahagia itu ga harus mahal begini."


Sarah mengangguk paham. "Sesekali kan ga apa-apa, lagian kita belum pernah dinner romantis seperti ini."


"Yaudah, makasih banget udah ngajak gue ke sini."


"So, ceritakan gue tentang Clara," pinta Sarah.


Wajah Andi terpasang curiga. "Lo masih cemburu ... unch banget, gue suka wajah lo yang cemburu."


"Yaa ngapain gue cemburu sama cewek yang udah punya calon."


"Hahahah ... dia itu temen gue waktu masih balita. Bundanya sahabat Mama di Bukit Tinggi, kebetulan gue kembali jumpa dia sewaktu gue ke sana. Yaa, dia itu pandai segala hal. Namanya wanita Minang, apalagi besar di Desa."


"Jadi lo bandingin gue sama dia, gitu?"


Andi menggeleng. "Ga gitu juga kali."


"Gue ga tau bagaimana bisa dia dapet tuh cowok. Seingat gue, dia jomblo. Eh, tiba-tiba kemarin bilang kalau dia bakalan nikah sama seorang TNI."


"Oh gitu ... Dia cantik sih ... cocok banget sama abdi-abdi negara. Hahahaha ..."


"Yaa ... Tuhan udah ngegarisin semuanya."


"Semoga kita juga."


Senyum Andi begitu manis setelah mendengar hal tersebut. Mereka bersentuh tangan, mengharapkan kalimat itu terwujudkan dalam doa yang mereka sampaikan.


Makanan mahal yang datang di makan perlahan kaya orang-orang di samping, kiri, dan kanan. Padahal Andi bisa aja kan makan daging steak ini sekali lahap. Udahlah porsinya dikit, trus harganya mahal banget. Mendingan dia makan daging rendang di rumah makan Minang. Tapi ga apalah, Sarah membawa ia ke sini agar ia bisa menikmati suasana romantis yang jarang-jarang banget mereka rasakan.


Andi menggenggam Sarah menuju ke kawasan outdoor. Sarah pernah mengatakan bahwa ia menyukai bintang-bintang di kemilauan malam. Satu hal yang membuat ia cemburu jika sewaktu itu Andi membahas bintang gemintang bersama Clara. Sembari bersandar di besi pembatas, Andi menujuk bintang di langit.

__ADS_1


"Gue memang bego, tapi gue pernah baca kalau bintang itu bakalan bisa padam."


"Setiap bintang punya masanya. Bahan bakar hidrogen yang habis ngebuat bintang jadi bintang padam, lama kelamaan ia meledak menjadi supernova. Jangan sok romantis deh ngajarin gue tentang perbintangan. Hahahah ..."


"Iya ... iya ...lo kan pinter."


"Gue harap kita ga seperti bintang yang padam."


Sarah menggenggam tangan Andi dengan erat. "Jangan pergi lagi Andi."


"Gue ga bakalan pergi ke mana-mana. Lo jangan hilang, ya ...."


"Jagain gue biar gue ga diculik .... hahaha ..."


"Gue heran ..."


"Kenapa?" tanya Sarah.


"Lo selalu bertambah cantik dan cantik. Rahasianya apa sih?"


Sarah tersenyum. Ia tahu Andi berusaha menggodanya. Ia menunjuk dada Andi.


"Ini rahasianya. Gue ga pernah bertambah cantik, gue bertambah tua dan kecantikan gue bakalan hilang. Tapi ...." Sarah diam sesaat. "Hati selalu memandang. Ia tak punya mata, tapi punya rasa."


"Gue sayang sama lo."


"Gue juga."


Malam ini begitu sempuran. Langit malam bersih tak bercelah. Rembulan malam bulat tersenyum kepada mereka yang saling bergenggam tangan.


Akankah romantisme ini terjadi pada kalian?


Aku berharap juga.


Semoga kau salah satunya.

__ADS_1


***


Tamat eaa


__ADS_2