
“Maya … kalau sama bapak guru itu jangan panggil om, panggilnya Bapak Andi,” saran Sofi kepada Andi.
“Ga mau, maunya panggil Om Andi ….”
Sofi menoleh kepada Andi. “Maafin Maya ya Bang, dia memang suka aneh-aneh.”
“Iya ga apa-apa Sofi ….”
Lenggang-lenggok pinggul Sofi tidak lepas dari pandangan Andi. Namanya juga cowok, kalau ada cewek bening begini pasti dilirik. Tapi, Andi lebih salfok sama muka bapaknya sofi yang lagi megang senapan. Foto itu terdapat di ruangan tamu. Sepertinya bapaknya Sofi suka pergi berburu pakai senapan angin. Alhasil, Andi ga jadi ngelirik Sofi lagi karena takut ditembak sama bapaknya. Kan ga lucu ketahuan jelalatan berakhir dengan kaki bolong.
Mereka pergi ke dapur yang berada di kawasan belakang rumah. Andi terkejut banyak banget cewek yang berada di dapur, terutama anak-anak cewek KKN. Sarah memandang Andi dengan sinis. Pasti dia mikir aneh-aneh kenapa Andi bisa ikut ke acara anak cewek. Padahal, Andi kan sama sekali tidak ada diundang. Saat Andi memasuki dapur, para gadis desa saling berbisik satu sama lain. Andi tahu apa yang dipikirin mereka, pasti juga mikir aneh seperti Sarah.
“Eh Andi … makasih banyak ya sudah ngantar tabung gasnya. Pasang aja langsung, ini pas sekali gasnya habis,” ucap Ibu Titin yang membantu anak gadis desa lagi masak-masak. “Maaf berantakan … ini anak gadis desa punya agenda arisannya sendiri. Hampir sama kaya ibu-ibu.”
“Wah, asyik banget ya Bu anak gadis desa punya arisan sendiri. Bisa mempererat silaturahmi. Beda banget sama anak kota.” Muka Andi mencibir ke Sarah yang mager banget diajak kegiatan keremajaan di komplek. “Andi pasang dulu gasnya bentar.”
Andi memasang gas tersebut. Semenjak kena marah sama Mama karena tidak pandai pasang gas, Andi pun nyari tutorial di youtube. Semenjak itu, Andi sudah jadi pro dalam pemasangan tabung gas.
“Kalau ada kegiatan, kamu jangan segan-segan ngantar proposal ke toko pupuk Ibu ya. Pasti Ibu kasih kok. Soalnya, Ibu senang sekali kalau ada anak KKN di desa ini. Mereka banyak membantu desa.”
Mendengar hal tersebut, Andi jadi senang karena akan punya donatur. Melihat rumah segede ini, Andi sudah membayangkan besar donasi yang akan diterimanya nanti.
“Iya Bu, terima kasih … pasti Andi antar kok ke sini.” Andi tersenyum senang. “Andi pulang dulu ya. Andi titip anak cewek KKN di sini.”
“Eh, jangan buru-buru dong. Makan dulu di sini, mumpung goreng ayamnya udah masak.”
Andi menolek ke anak cewek yang lain\, kenapa gadis desa malah bilang `yess`. Apakah mereka senang dengan Andi lama-lama di sini atau pengen ngejadiin Andi tester buat makanan acara mereka? Andi pun tidak tahu.
“Oh gitu ya Bu? Oke deh … Andi bisa makan dulu di sini. Mumpung magrib masih lama kan.”
__ADS_1
“Sofi … ambilin Bang Andi nasi sama ayam gorengnya ya,” ucap Ibu Titin.
“Iya Bu ….”
Andi duduk di seberang anak cewek KKN, sementara di tengah ada anak gadis desa yang lagi bergerombol untuk membuat bahan makanan. Andi pun duduk bersila dengan sopan sembari menunggu Sofi mengambilkan nasi. Ia mendapati kalau para gadis desa sedang meliriknya. Merasa sok ganteng, Andi memasang tampang cool meskipun di sana ada beruang yang pengen banget nampol Andi dengan segera.
“Bang Andi … ini silahkan dimakan ….” Sofi meletakkan piring, bakul nasi, ayam goreng kripsi, serta sambel pedes. Tidak cukup diletakkan begitu saja, Sofi pun menuangkan nasi ke piring Andi. “Kalau enak dibilang enak, kalau enggak jangan dibilang ya Bang ….”
“Wah, kalau kalian yang bikin pasti enak ya heheeh …” Mata Andi separuh melihat piring, separuh lagi ngelihat celah daster Sofi yang sedang menunduk ngambilin nasi. Tahu sendiri apa yang sedang dilihat Andi.
Tapi, Andi melihat penampakan sosok makhluk astral yang sedang bergentayangan. Auranya hitam banget dan seram menghantui. Siapa lagi kalau bukan Sarah yang sedang memotong-motong bawang. Potongan bawangnya pun bertambah keras dengan bunyi hentakan pada talenan sembari melirik kepada Andi, seakan bawang itu merupakan kepalanya sendiri. Andi dibikin menelan ludah karena hal tersebut.
Sofi tersenyum padanya, lalu duduk di hadapan Andi. Andi jadi heran dong kenapa Sofi ngelihatin Andi lagi makan. Tidak lama kemudian, anak gadis desa yang lain pada mendekat.
“Awas kamu Sofi.” Sofi malah digeser oleh salah satu gadis, lalu meminta berjabat tangan dengan Andi. “Kenalin Bang aku Indah.”
“Aku Nur Bang … Kami ini temen-temennya Sofi, baru lulus SMA, mau daftar kuliah.”
“Kalau aku Jehan, tinggalnya di dekat masjid.”
Aduh … Andi jadi tidak makan karena meladeni berjabat tangan. Namun, Andi tetap dalam pembawaan yang ramah agar marwah Ketua KKN-nya tidak luntur. Nanti malah dikira anak KKN pada sombong semua.
“Hehe iya, salam kenal juga. Cewek di sini ramah-ramah banget ya.” Andi bilangnya sambil ngelirik ke Sarah yang udah motong cabe sambil melotot. “Heheeh ….”
“Idih … jangan ganggu Abang Andi dong. Kan dia lagi makan,” sanggah Sofi.
“Kamu apaan sih? Kan kita mau kenalan sama Bang Andi,” balas Nur dengan muka juteknya. “Bang, enaknya kuliah di kota? Soalnya Nur mau daftar kuliah di kota. Karena mahasiswa KKN sering ke desa, Nur jadi pengen banget KKN di desa ini.”
“Seru ga seru sih, tergantung orangnya. Kalau kamu nyaman, nanti bakalan enak sendiri kok. Kota itu sebenarnya ga seenak yang dikira, mending desa begini asri dan rimbun dengan pepohonan. Kalau kota mah gedung semua, sumpek nih kepala hehehe,” balas Andi.
__ADS_1
“Kalau kita bosan ngelihat hutan terus Bang. Sesekali mau lihat gedung tinggi gitu kaya di Jakarta,” sambung Indah.
“Pasti Abang udah punya pacar kan?” Pertanyaan Jehan malah aneh-aneh.
“Ih, kamu ini pertanyaannya.” Sofi menepuk tangan Jehan. “Bang Andi pacaran atau enggaknya, itu bukan urusan kamu mah.”
“Kata Kak Sarah, Ketua KKN desa belum punya pacar. Kamu sih belum tahu aja,” sambung Nur, lalu menoleh kepada Andi kembali. “Ya kan Bang belum punya pacar? Kalau udah … Nur kecewa ah ….”
“Aduh … masih kecil ah … belajar dulu baru pacar-pacaran hehehe.” Andi tetap santai.
“Kan betul Abang Andi belum punya pacar.” Nur tersenyum kepada Andi.
Memang sih bibir Andi tetap tersenyu, tapi jantungnya udah kaya pengen copot dengan pembicaraan ini. Nasi aja belum ke mana, ini malah ngeladenin para ABG yang lagi tertarik sama Andi.
“Sebenarnya Abang udah punya pacar kok.”
Keempat gadis itu berekspresi kaget mendengarnya, termasuk Sofi sendiri.
“Siapa Bang?” tanya Jehan.
“Itu ….” Andi menunjuk dengan memajukan bibr.
“Ah Kak Tasya!!! Beruntung banget pacaran sama Bang Andi!!!” Nur menarik tangan Tasya untuk mendekat.
Tasya udah kaya orang goblok karena salah sangka oleh para gadis ini. Terdengar pula Sarah menghentak batu gilingan cabe. Sementara Andi menelan ludah dua kali.
Bukan itu!!!!! MAMPUSS GUEE!!!!
***
__ADS_1