
Andi pandangi senior bertubuh gempal yang hanya sedada Fajri tersebut. Rambutnya panjang sebahu dan keriting di bagian ujung dan mukanya kurang lebih kaya preman nagih duit ke anak SMA. Di kala mahasiswa kampusnya dilarang pakai celana jeans robek-robek, ternyata dia malah melakukan hal yang sebaliknya. Andi tidak melihat simbol kemahasiswaan dari pria itu, kecuali bawa tas yang isinya entah apa. Hanya satu yang membaut Andi takjub, yaitu sepatu yang harga sejutaan. Andi aja mikir dua kali untuk beli sepatu itu.
“Lo siapa sih?” tanya Fajri.
“Elo yang siapa?” Ia melihat ke sekitar. “Gue enggak pernah lihat lo di sekitaran ini. Gue kira yang main basket juga bukan elo.”
Gaya berbicara pria itu ampir sama kaya cowok yang lagi tinggi abis ngelem, santuy banget. Wajahny tidak kelihatan ada kelihatan ekspresi apa pun, tenang seperti angin hari ini yang melintas di antara mereka.
“Jangan main-main deh elo, sana!” Fajri kembali fokus kepada Andi.
Teman-teman dari mahasiswa tersebut ingin sekali menyerang Fajri karena sudah meremehkan anggotanya. Namun, ia melarang teman-temannya untuk mendekati Fajri. Satu langkah pria itu maju untuk menghampiri Fajri. Ia menepuk dua kali pundak Fajri.
“Woi, lo bisa ga santuy dikit sama anak itu. Kasian dia sendirian, kalian malah rame-rame.”
“Lo temennya dia? Oh gue tahu, lo mau nolongin dia ya?” tanya Fajri.
“Gue bukan temennya dia.” Ia menoleh padaku sesaat, lalu kembali lagi kepada Fajri. “Tapi elo udah ngeremehin Kevin. Itu temen gue. Parahnya lagi, elo ngeremehin Antophosfer.”
Fajri kini melepaskan tangannya dari kerahku. Ia beralih kepada mahasiswa tersebut sembari menegakkan pinggang.
“Sekarag lo ada masalah apa sama gue? Lo mau berakhir kaya dia?”
“Ya udah, ayo kita kelahi. Tapi jangan keras-keras ya. Gue abis bangun tidur di sekre tadi. Oke?” ucapnya dengan santai sembari melepaskan tas.
__ADS_1
“Idih … belagu banget sih lo, Pendek!”
“Iya gue pendek, jangan main fisik bisa kan?”
Andi bingung pria ini antara ingin kelahi atau berdiskusi. Setiap kalimatnya tidak ada penekanan sedikit pun. Bahkan, jika Andi di posisi Fajri, ia sama sekali tidak akan takut walaupun wajahnya seperti preman. Ditambah lagi suara pria itu terdengar cempreng dan menggemaskan.
“Bajing⸺”
Tidak sampai Fajri mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba saja ia terjerembab di belakang. Perkelahian pun terjadi di antara dua kelompok. Setiap kelompok kini saling menyerang karena aksi tadi. Andi langsung mundur ke belakang dan lari mengambil tasnya. Andi sebenarnya ingin kabur, tetapi pria itu sepertinya mengenal Kevin. Andi langsung masuk ke dalam perkelahian, menyerang siapa saja yang bisa ia serang.
Akhirnya, kelompok Fajri pun mundur perlahan. Fajri sendiri kini berada di genggaman mahasiswa yang tidak aku kenali tersebut. Kepala Fajri dihantam berkali-kali olehnya hingga tidak berdaya.
“Pertama, elo ngeremehin temen gue Kevin. Kedua, elo ngeremehin Antophosfer.”
“LO SIAPA BAMNSAT!!!” tanya Fajri sembari melawan kuncian dari pria itu, hanya saja ia sudah tidak berdaya.
Andi mengingat jika Kevin sebelumnya pernah menyebutkan sebuah nama, yaitu Dedi Oli. Ia merupakan anak teknik mesin sekaligus aktif di kegiatan Mapala kampus. Sebagai orang terdahulu Antophosfer, ia juga teman satu angkatan Bang Ali sang senior legendaris. Bang Ali terdengar kuat sekali di dunia hantam menghantam, bahkan Kevin saja sampai mampus melawannya. Hanya Dedi Oli yang mampu menyaingi pertarungan dengan Bang Ali.
Kini, senior itu berada tepat di hadapan Andi. Ia sekarang melepas Fajri agar kabur bersama teman-temannya. Berlarilah Fajri dengan terbirit-birit karena sudah KO oleh Bang Dedi.
“Sekali lagi lo ganggin dia, gue kejar sampai ke kelas!” teriak Bang Dedi. Ia melangkah ke arahku yang terduduk lemas di tepi lapangan basket. Tangannya menjulur agar membantuku untuk berdiri. “Kevin ngasih tahu aku kalau ada anak Antophosfer yang butuh bantuan kalau lagi digangguin sama mahasiswa lain. Dia bilang kalau lo sering dapat masalah sama senior. Beruntung kita ketemu di sini.”
“Makasih banya Bang. Bener, gue cerita itu dengan Kevin karena gue selalu aja dimusuhin sama senior,” balas Andi.
__ADS_1
“Sekarang lo enggak perlu takut. Kalau ada apa-apa, datang aja ke sekre Mapala.” Ia merangkul Andi untuk memperkenalkan dengan teman-temannya. “Ini junior gue di SMA. Dia teman kita sekarang. Bagi temen yang dulunya anggota gue, dia ini seangkatan dengan Dugong dan Pram.”
Andi merasa disambut dengan baik oleh kehadiran mereka. Ia dibawa ke sekre Mapala untuk menikmati minuman dingin. Rencananya tadi mereka ingin nongrong di tribun lapangan basket. Namun karena perkelahian tersebut, energi mereka banyak terkuas dan jadinya haus. Bersama-samalah mereka meracik ekstrajoss susu pakai es batu. Es batunya dihancurin pakai atraksi, yaitu dengan tinjuan tangan, bukan dengan palu atau benda keras lainnya. Waktu Andi mencoba, tangannya lagi minta ampun karena tidak sanggup.
Sampai sore Andi di sekre Mapala untuk bercanda-canda ria dan berkenalan dengan anak Mapala lainnya, Ternyata, Bang Dedi ini junior paling disegani satu organisasi, meksipun bukan dia Ketua Mapala-nya. Selain itu, ternyata ada banyak anak Antophosfer terdahulu yang tergabung di Mapala berkat adanya Bang Dedi. Sebagian mereka juga pernah nongkrong di Kedai Pak Topi, di mana Anak Amak dulunya duduk.
“Sebenarnya gue udah pernah lihat kalian berempat di warung itu, gue ingat tuh temen lo yang sipit itu. Gue ceritanya lagi beli rokok sekaligus nyapa pemilik warung. Ternyata udah ada kalian sebagai penerus tongkrongan Kedai Pak Topoi,” ucap Bang Ali.
Kedai Pak Topoi menjadi tongkrongan kebanggaan bagi Anak Amak. Selama tiga tahun lebih mereka selalu nongkrong di sana, hingga seluruh aktivitas kini terfokuskan dengan kegiatan masing-masing. Jadi, tidak ada lagi aktivitas tongkrong menongkrong di sana. Jikalau ingin berkumpul, sudah pasti Andi mengarahkannya ke warung Mas Momon karena ramai selalu oleh Anak Kodomo.
“Maaf Bang, gue enggak nerusin tongkrongan itu ke junior. Jadinya, warung itu sepi karena kami udah pada sibuk masing-masing. Kami sekarang lebih nongkrong sama anak Kodomo,” balas Andi.
Rokok mild Bang Dedi mengeluarkan bunyi kretek tatkala dihisap panjang. Berhembuslah asap di tengah-tengah mereka.
“Iya sih, salah gue juga kayanya. Gue bukan kaya senior anak Kodomo yang selalu nyari junior buat nerusin tongkrongan. Akibatnya, elo juga ngelakuin hal yang sama. Coba aja dulu gue ngebawa elo nongkrong di sana. Pasti tongkrongan kita hidup selalu.”
Andi menyandang tasnya. Hari sudah sore, sehingga Andi pamit untuk pulang.
“Oke deh, Bang. Udah mau magrib nih, takutnya gue dijadiin sayur sama emak gue di rumah kalau pulangnya setelah magrib.”
“Iya, hati-hati di jalan. Elo kalau ada yang gangguin, bilang aja ke gue. Lo memang bukan anak Mapala, tapi lo itu junior Antophosfer. Sebagian anak Mapala itu anggota Antophosfer yang gue ajak masuk.”
“Iya Bang, makasih banget pertolongannya. Gue jadi enggak mampus dua kali sama anak itu.”
__ADS_1
Andi pun pulang. Ia bersyukur sekarang punya dekingan apabila sesekali ada masalah.
***