Andi X Sarah

Andi X Sarah
158. Partai Muda (SEASON 3)


__ADS_3

Kegabutan Andi berakhir dengan kepalanya dihantam sama kekuatan service dari Sarah. Andi pada saat itu lagi ngupil, mumpung tambangnya dapet gede, dia cokelkin ke siku Nanang. Terus, Nanang balas juga dengan menambah hasil paling besar dani meletakkannya ke lengan Andi. Rijek menghindar karena ia tidak sekotor temannya tersebut. Sewaktu haha hihi sambil ngelihatin body Tasya yang aduhai kalau dilihat dari belakang, langsung deh meteor nambrak kepala Andi. Andi terpental ke belakang dan jatuh ke tanah dengan mata terpejam.


“Aduh … apakah gue udah disurga?” tanya Andi.


“Andi … lo ga apa-apa?”


Seluruh orang mengerumuni Andi yang tidak lagi bangun dan terus menutuup mata. Bola tersebut tepat ke hidung bagian atas Andi. Saking kerasnya, telinga Andi sampai berdengung kaya habis kena granat di game Call of Duty PS 4.


“Aduh … Sarah mau ngebunuh gue nih.” Andi masih nutup mata.


Sebuah telapak tangan menyentuh pipi Andi. Rasanya lembut hingga Andi menduga pasti itu Sarah yang lagi khawatir. Ternyata, wanita itu Sofi yang menepuk-nepuk wajah Andi. Perlahan mata Andi kini bisa dibuka, ia mendapati Sofi sedang memandang khawatir padanya.


“Aduih … ada bidadari di surga ini. Bukan cuma satu, tapi tiga.” Andi pas banget ngelihatin Sofi, Tasya, dan Aulia.


Bukannya ngucap, Andi malah ngawur begini. Nanang makin nambah ngejitakin kepala Andi sampe di berdiri sendiri.


“Ah … giliran cewek lo langsung sadar. Udah … langsung aja mainin volleynya. Gini doang ngerusak konsentrasi pemain,” kesal Nanang sembari mengangkat karton bertuliskan nama Tasya. “AYO TASYA … KAMU PASTI BISA!!!”


Sofi tersenyum kepada Andi tatkala melepas tangannya dari wajah Andi. “Lain kali lihat bolanya ya Bang.”


“Iya Dek ….”


Mendengar respon kata `adek` di sana\, Sofi jadi diem. Tidak lama kemudian\, ia kembali tersenyum dan kembalu ke lapangan.


Skor satu kosong berpihak kepada tim Sarah. Pertandingan kembali dilanjutkan dengan Sarah sebagai penyerpis karena yang tadi terhitung masuk skor. Beruntung service Andi tidak memakan korban seperti Andi, tetapi cukup membuat spot jantung dedek-dedek yang ada di tepi lapangan. Hampir saja mengenai anak orang, tetapi keluar dari garis kotak lapangan. Skor imbang masing-masing satu tercipta.


Pertandingan sangat seru. Seperti nonton bulu tangkisnya Timnas Indonesia\, ada kata `ea` `ea` sewaktu pemain memegang bola. Bola berputar sangat cepat. Disambut\, dioper sekali ke tosher\, lalu tosher memberikan bola kepada smasher. Adegan smash seperti di pro liga menjadi daya tarik sendiri. Andi tiada menyangka jika Tasya pandai sekali bermain volley\, rasanya imbang sebelas dua belas dengn Sarah. Rijek pun berkata kalau Tasya pernah menjadi perwakilan universitas dalam turnamen volley. Postur tubuhnya yang tinggi mendukung untuk permainan volley.


“Sofi … pertahanan kamu diperkuat karena Sarah itu kaya beruang lagi lapar.” Tasya memotivasi teman-temannya, lalu ia menoleh kepada Aulia yang sebagai tosher. “Kasih gue bola yang lebih tinggi biar smash gue ga  bisa dijangkau  sama blocker mereka.”


“Siap Tasya … gue lakukan yang terbaik.”


Sarah melihat Tasya sebagai kapten sangat memperhatikan teman-temannya. Ia pun tidak mau kalah, kini ia menghadap ke arah teman-teman, tapi ga tau mau bilang ada. Sistem Sarah yah begini, pokoknya main aja dulu urusan gobloknya elu tanggung malu sendiri. Nah … kebetulan sekali Kelly di sini yang parah banget mainnya. Ia tidak diperbolehkan untuk menyambut bola sehingga Nabe harus mengcover temannya itu. Kelly selalu dijadikan celah bagi lawan untuk menciptakan skor.


“Ayo kalau menang gue kasih nomor Andi. Ayok bisa yok!” ucap Sarah dengan lantang.


Nama Andi malah dijual. Kini, permainan dilakukan dengan service di pihak tim Tasya. Temen-temen sarah siap menerima bola karena kali ini Tasya sendiri yang melakukan service. Berbekal motivasi ngedapetin nomor Andi, mereka jadi tambah semangat karena berharap bisa chatting sama Andi nanti malem, terus ngelihat story WA Andi biar tahu keseharian Ketua KKN itu gimana.


Sarah terkejut dengan  service Tasya kali ini. Bola terpukul cepat dan keras. Mereka beberapa kali tidak sanggup untuk mengantisipasi. Bola selalu saja jatuh ke tanah dan bahkan menghantam tubuh Kellu karena Tasya mengincar titik lemah tim lawannya. Sarah pun meminta teman-temannya untuk mundur selangkah sebagai metode bertahan.


“Ayo kasih bolanya ke gue!” teriak Sarah kepada Tasya. “Lo bencong atau apaan ngasih yang ke lemah mulu. Potong aja itu lo kalau kaga ada gunanya.”


Loh? Andi jadi bingung dengan ancaman Sarah kali ini. Kan Tasya memang tidak ada itunya, kecuali selama ini Tasya itu sebenarnya laki-laki bermana Jhon.


“Nih gue kasih!” Tasya melempar bola ke atas sangat tinggi, lalu menghantamnya dengan keras menggunakan tangan.


Bola meluncur ke kotak sebelah. Sarah dengan sigap menyambut, memberikaannya kepada Nabe agar dioper lagi seperti pola penyerangan yang terstruktur. Sarah loncat kaya kodok, lalu menghantam bola agar melakukan smash. Alhasil, tim Sarah bersorak karena kaptennya sudah berhasil menciptakan skor.


Skor bergerak secara cas cis cus mengejar satu sama lain. Awalnya unggul, lalu imbang, terus ketinggalan, nanti bisa imbang lagi, terus aja begitu sampe Andi ngupil bawa hasil tambang gede dan dihantam bola service Sarah lagi. Akhirnya, tibalah mereka ke skor penentu karena pertandingan berakhir jus.


Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip. Hujan ingin turun dengan petir yang menyertai pertandingan di penghujung sore in. Angin kencang berhembus untuk menerbangkan pasir lapangan bola volley. Sarah jongkok karena sudah terlampau lelah, begitu pula Tasya. Tasya yang jongkok, eh malah pemuda yang ikutan jongkok di tepian lapangan. Sudah empat kali set jus permainan belum bisa diambil pemenang. Mereka harus tetap melanjutkan pertandingan sampai salah satu tim berhasil unggul dua skor. Beruntung tim Sarah berhasil unggul satu skor karena kesalahan dari Aulia tim lawan mereka. Kini, hanya tinggal satu skor lagi untuk mencapai kemenangan.

__ADS_1


“Kelly, lo pasti bisa. Gue yakin lo itu pasti bisa karena pasti bisa itu adalah elo.” Sarah menepuk pundak Kelly.


“Aduuu gimana nih. Bukannya gue ga mau main, kalau bisa ganti pemain, gantiin gue saat ini juga.” Kelly menyentuh bola untuk melakukan service gilirannya.


“Kelly, lo ingat waktu kita lupa bikin tugas kulah?” tanya Sarah, ia senang jika tasya mengangguk. “Percayalah, ini lebih berat.”


“Lah kok gitu?”


“Ah pukul aja, bawel banget lo jadi cewe!” Sarah menoleh ke depan. Ia tatap dalam-dalam mata Tasya, lalu tertidur.  Eh kok tidur sih.


Kelly melakukan servicenya dengan sekuat tenaga. Meskipun ancang-ancangnya salah, tetapi bola melambung tinggi ke atas membentuk pola parabola. Mata Sarah saja sampai bergerak lambat untuk itu. Sekitar tiga detik di udara, bola turun untuk mengarah kepada Aulia. Namun, Aulia  berhasil menyambut bola dan mengopernya kepada Tasya. Tasya melakukan smash terkuat dalam sejarah pertandingan volley pada turnamen kali ini. Tidak ingin mereka menang, Sarah maju ke depan dengan mode huluk setelah khodamnya berhasil dilepas.


“AAAA!!!!!” Tasya teriak waktu mau mukul bola.


“AAAA!!!!!” Sarah juga teriak waktu mau menahan bola smash dari Tasya.


Akhirnya tangan mereka saling bertemu di tengah-tengah bola. Sarah yang otot tangannya udah setara kekuatan laki-laki, Tasya pun kalah power. Bola jatuh ke seberang sana. Seluruh penonton sempat terdiam selang dua detik setelah bola jatuh mengenai tanah. Lalu, semuanya bersorak hebat karena tim Sarah sudah berhasil memenangkan pertandingan.


Andi, Nanang, dan Rijek berlari ke tengah lapangan sembari berteriak. Sungguh fans yang sangat amat karbitan. Awalnya dukung Sarah, lalu pindah jadi dukung Tasya, waktu Sarah menang malah balik lagi jadi fans mereka. Andi berlari sambil membuka tangannya. Dia pengen banget meluk Nabe karena pasti empuk, tapi takutnya Sarah bakalan adain smesh kepala season 2 baginya, Andi jadinya sekarang meluk Sarah untuk merayakan.


“Yeee lo menang … itu baru cewek gue!!!!”


“Ya iya dong, Volley doang mah kecil kalau cuma volley ginian mah kecil.”


“Sombong amat!” Andi tersenyum kemudian, “ Tapi lo tetep cewek gue hehee ….”


“Sekarang Om seriusnya sama Kak Sofi atau Ibu Sarah sih?”


Tiba-tiba aja Maya ada di samping Andi. Anak ini udah kaya hantu yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Terus, kalau nanya pertanyaannya pasti tentang topik yang sama. Hal ini seperti kaya mimpi kalau lagi demam, berulang-ulang, dan absurd banget.


“Ah … ga konsisten, makin males Maya sama Om.” Maya pergi kemudian sambil ngisep es kiko enak tau.


Hadiah juara masing-masing partai tua dan muda langsung diberikan. Pertandingan perncarian juara umum akan ditunda hingga esok hari. Karena hadiahnya langsung dikasih, Sarah mengambil jatahnya untuk dinikmati bersama-sama di orang posko. Terdapat duit sejumlah tiga ratus ribu, jadi kalau dibagi enam orang, masing-masingnya dapat lima puluh rebu. Lumayan juga buat jajan sama pacar makan bakso terus kelilin-keliling desa. Lagi pula, seluruhnya pun setuju agar uang jatah anak KKN yang menang disimpan dulu agar nanti bisa membuat party kecil-kecilan bersama.


Di rumah, Sarah dipijitin sama Andi, Nanang mijitin Nabe, sedangkan Kelly dipijitin oleh Rijek. Pokoknya diservis kaya ratu. Minum diambilin, makan dihidangin, kalau panas tinggal dikipasin. Sarah merasa senang karena sambutan teman-temannya terasa hangat. Piala volley partai muda juga dibawa oleh anak KKN sehingga bisa jadi kenang-kenangan nantinya.


Malam ini Andi bersiap-siap untuk bermain bola sarung yang diadakan pada pukul tiga sore esok hari. Andi meminta Nabe untuk membuatkannya telur setengah mateng dua biji biar stamina jos. Bukan buat malam ini staminanya, tapi buat esok hari. Sarah ga mau bikinin, jadi Andi pinta Nabe saja.


“Ini Papah … biar malem ini bisa sampe pagi …..” Nabe tersenyum-senyum di depan Andi.


“Wah … mamah tahu aja kesukaan papah.” Andi mengeluarkan lidahnya. “Sumpah gue jijik hehehe ….”


“Ngapain juga lo cuma main bola pakai sarung terus harus makan beginian?”  tanya Nabe.


“Ini buat stamina gue bertambah dua jam. Besok gue pagi makan lagi, jadinya nambah empat jam. Kan gue ga cuma main bola. Abis main bola anak cowok panitia bakalan ikutan panjat pinang dewasa. Apa ga mampus gue nanti.”


Nabe mengangguk sok tahu. “Oh gitu … tapi bolehlah dites dulu malam ini staminanya ….”


“Ah udah ah … jijik gue lama-lama haahaha ….”


“Haha iya juga ya. Gue ke kamar dulu.”

__ADS_1


Andi menoleh. “Ga jadi nih tes staminanya?”


Kain lap meja langsung menghantam muka Andi.


Andi, Nanang, dan Rijek akan bermain di turnamen bola dan perlombaan panjat pinang. Perlombaan panjat pinang, panitia yang pemuda sangat mengharapkan mereka main. Postur Andi itu kan tinggi gempal, jadi cocok buat dasar pondasi tiangnya. Kalau Rijek karena sering nge-gym maka ia punya otot yang bagus buat bertahan lama di bawah. Nah, sedangkan Nanang yang kurus bisa diajak buat manjatin orang-orang yang sudah memasang pondasi. Pokoknya Nanang perannya seperti monyet pemanjata kepala yang mengambil bendera secepat mungkin sebelum giliran waktu habis.


Pertandingan bola sarung dewasa berlangsung seperti main sore. Sore ini berlangsung satu pertandingan saja, yaitu antara anak muda versus senior desa. Anak KKN tentu saja bergabung dengan kaula muda. Andi diteriakin sama gadis desa, terus Rijek bikin mereka sumringah waktu memperlihatkan perut roti sobeknya. Andi pengen sih nunjukin perut, tapi yang mereka lihat cuma perut buncit penuh lemak.


Tidak ada yang pakai sepatu dan memakai baju bagus, bahkan ada yang ga pake baju malahan. Suasana jadi tambah seru karena panitia menghidupkan DJ Tik Tak Viral dengan menggunakan speaker pesta orgen tunggal. Bukannya serius, yang main bola malah goyang-goyang. Ibaratnya Neymar lagi ngilik bola, pinggulnya ikut goyang dan jempolnya ke atas.


Hasil akhir memengakan tim kaula muda. Andi yang perannya sebagai bek belakang, tentu saja tidak sempat mencetak gol. Namun, partner futsal Andi selama SMA ternyata mampu menciptakan satu gol, yaitu Nanang. Skor tiga kosong berhasil dipertahankan selama satu jam permainan penuh. Mereka kemudian berisirahat setengah jam untuk menunggi waktu panjat pinang tiba.


“Haaah … haus gue!” ucap Andi sembari memberikan tosnya kepada Nanang. “Mana nih cewek-ceweknya, gue butuh yang seger.”


“Lo kira tinju kalau sehabis ronde langsung ada cewek-cewek,” sindir Rijek.


“Eh ngomong-ngomong kalian pernah main panjat pinang ga sebelumnya?” tanya Andi.


Sedari kecil tiap tahunnya, Andi sudah rutin ikut perlombaan panjat pinang bersama teman-teman, baik di dalam maupun luar komplek. Padahal, Andi dilarang oleh Mama karena panjat pinang merupakan perlombaan yang berbahaya karena dapat menyebabkan patah tulang, keselo, dan kanker paru kalau mainnya sambil ngerokok dua bungkus. Partner Andi main panjat pinang sudah pasti Memet. Memet selalu paling bawah, diikuti Andi di atasnya. Sering kali Memet dipijakin kepalanya sama Andi yang tidak seimbang.


“Kaga pernah\,” balas Rijek. “Komplek gue ga ada panjat pinang. Lah komplek mewah begitu orangnya individualis. Mau hari kemerdekaan\, mau mualid nabi\, isra` mi`raj\, tetep aja sibuk kerja.”


“Boro-boro ikut, bapak gue ngelarang ke sana karena takut gue enggak solat. Jadi kalau ke sana pasti sama bapak,” sambung Nanang


Andi menepuk jidat. Ternyata masa kecil teman-temannya ini tidak seperti Andi yang bahagia. Dengan sedikit perlawanan terhadap aturan-aturan mamanya, Andi bisa lebih bebas walaupun pada akhirnya kena marah sewaktu di rumah.


“Sederhana aja kok, nanti lo dengerin aja intruksi dari Bang Asep. Dia coach kita nanti di sana, meskipun dia ikut main,” balas Andi.


“Bikin encok ga Ndi?” Nanang penasaran.


“Eh menurut elo ajja deh. Ada lima orang di atas lo yang harus lo tahan mungkin. Apa ga encok malamnya,” pungkas Andi.


Lokasi panjat pinang berada di samping lapangan bola. Acara puncak ini mendatangkan banyak warga dan penjual kaki lima sebagai sumber rejeki. Antusias warga yang mengerumuni telah membuat hati Andi senang, pertanda acara yang ia pimpin telah sukses terlaksana.


“Woi … lo harus bisa nahan orang di atas lo. Jangan jadi anak lemah!” Sarah menyemangati.


“Iya-iya, tiap taun gue begini, jadi udah biasa.”


Wajah Sarah menadah ke atas untuk melihat keadaan pinang yang tinggi. “Anjir tinggi banget gue jadi takut.”


Tidak lama kemudian, perhatian mereka tertuju kepada sekelompok pemudi yang datang. Ternyata paling depannya ialah Sofi.


“Bang semangat ya, hati-hati mainnya.”


Tidak lama, mereka langsung pergi dengan berbisik satu sama lain.


Sarah merangkul Andi. “Lo dapet fans kayanya.”


“Lo juga, noh ….” Andi menunjuk bocil yang memandang datar Sarah sambil menahan ingusnya yang udah diujung tanduk.


“Kak minta minum ….”

__ADS_1


Sarah tersenyum. “Ambilah … ambil dua beri satu ke kawannya.”


***


__ADS_2