Andi X Sarah

Andi X Sarah
152. Ada yang Aneh


__ADS_3

Sudah setengah bulan mereka bertahan di Desa Maju Jaya. Aktivitas berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti karena setiap elemen desa membantu mereka dengan baik. Andi bersyukur dengan penyambutan antusias masyarakat desa yang begitu dalam. Setiap Andi berkeliaran di desa untuk sekadar menyegarkan pikiran, ada saja nanti warga yang mengajak ke rumah buat makan. Nanti jalan lagi, ada aja ibu-ibu yang mengajak makan cemilan. Dikit lagi jalan, ada aja ibu-ibu yang nawarin anak gadisnya buat dikawinin.


“Muka lo biasa aja ….”


Baru saja Andi keluar kamar untuk menyeduh kopi pagi, Kelly langsung menyerocos seperti biasa. Padahal muka Andi tidak ada menatap sinis atau pun mengejek gadis itu. Untung aja dia sahabatan sama Sarah, kalau enggak, sudah pasti Andi gas buat debat.


“Apaan sih lo. Muka gue kaga ada masalah kayanya ….”


“Ga tau setiap muka liat muka lo bawaanya badmoon mulu ….” Kelly berlalu ke pintu keluar karena hari ini merupakan giliran dirinya bersama Rijek untuk mengajar di SD.


Pagi-pagi ditemani segelas kopi memang ga ada obeng. Embun desa yang masih bersisa menambah syahdunya momen nyantuy di pondokan belakang posko. Rasanya begitu berjasa Andi membangun pondokan ini karena sering dijadikan tempat bersantai oleh anak-anak KKN. Setiap malam, mereka makan bersama di sini sekaligus bermain game kecil-kecilan untuk menghibur diri sebelum tidur.


Lagi enak-enaknya bikin bulatan asap rokok seperti trickster vape, datanglah seorang wanita yang mukanya ampir sama kaya Kelly, bawaannya sinis mulu. Andi sudah pasti bisa menebak jika ia akan segera beranjak dari kesantuyannya ini.


“Apaan sih sayang? Pagi-pagi itu mukanya harus cerah. Kucing aja mual liat muka lo.”


Kebetulan sekali kucing langsung lari di muka pintu belakang posko sewaktu Sarah lewat. Gimana enggak kabur, lah Sarah datang sambil menguap gede kaya bapak-bapak.


“Ngopi mulu, rokok juga. Kurang-kurangi lah!”


“Lah, ga ngopi dan rokok ga santuy. Kita ini hidup harus dalam taraf kesantuyan paling tinggi. Bayangin aja muka lo ngambek mulu, pasti jadi boros kaya Memet.”


“Temenin gue lah ….”


“Ke mana?”


“Ke pasar … males banget gue berdua sama Tasya. Kalau elu pasti seneng kan berdua sama Tasya,” jawab Sarah.

__ADS_1


“Ya iyalah seneng, muka dia ceria mulu sama gue. Lah elo.” Andi menekan-nekan pipi Sarah yang kaya bakpao. Sepertinya Sarah naik berat badan semenjak KKN. Biasamya anak KKN kekurnagan makan karena harus berbagi, Sarah malah berburu makanan kalau ada setiap abang-abang jualan yang datang setiap sore di depan posko.  “Ini pipi atau gabus sih!”


“Loh kok gitu sih? Ayolah pergi. Kalau ga gue pulang nih ke kota ….”


“Pulang cepet, pulang … kaga takut gue ancaman begituan.” Andi berdiri untuk memenuhi keinginan Sarah.


Kalau dibiarin, Sarah pasti pergi sendirian. Nanti kalau ada pemuda desa yang ngegodain gimana? Andi tidak khawatir dengan Sarah yang digodain, tapi khawatir sama pemuda yang menggoda. Mereka bisa diamuk sama Sarah seorang diri.


Motor kebun donasi dari Pak Kades sudah Andi bengkelin. Tangannya selalu gatal kalau ada motor yang tidak dalam peforma terbaik. Ia pergi ke bengkel tongkrongan pemuda desa, lalu menyetel bagian-bagian yang dianggap tidak bagus. Kalau diajakin balap, sabi lah buat nambah jajan di sirkuit balapan liar.


“Naik cepet buruan,” pinta Andi kepada Sarah.


“Tunggu dulu, tali gue nyangkut nih ….”


Ada-ada saja yang didiskusikan oleh mereka berdua. Tali apa lagi yang nyangkut. Sarah pun membenarkan karena tidak nyaman jika salah letak di bagian tubuh. Setelah itu, mereka pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan.


Hari Jumat merupakan giliran pasar yang ada di desa sebelah. Desa sebelah itu terletak di jalur lintas sehingga ramai oleh kendaraan lintas. Tidak seperti Desa Mayu Jaya, di sana banyak toko-toko yang menjual berbagai keperluan. Sekalian Andi membeli baterai remot TV, paket internet, serta susu beruang titipan Rijek. Pasar Jumat itu pun lebih ramai daripada Pasar Senin Desa Mayu Jaya. Pedagang-pedagang berbagai kawasan juga berdatangan karena relative muda dijangkau lokasinya.


“Beli eskrim lah gue ….” Andi menarik Sarah ke penjual eskrim.


“Ga ah … lo sakit tenggorokan ….”


“Lah? Udah kaya mama gue aja lo. Beliin dong  gue eskrim. Gue ga ada bawa duit nih. Nangsi nih gue ….”


“Nangis aja sana di pojokan kaya bocil. Kaga bakal gue beliin,” pungkas Sarah.


Sebagai pengganti eskrim, Sarah mengajak Andi untuk makan sate di pasar, itung-itung sarapan pagi. Duduklah mereka berhadap-hadapan tanpa meja, hanya sebuah kursi plastik tanpa penyangga punggung.

__ADS_1


“Wah … pasutri muda rajin ke pasar …,” puji Abang Sate sambil mengantarkan pesanan mereka.


“Wah ga kok Bang, kami anak KKN.”


“Loh anak KKN?” Abang Sate berbaik hati memberikan bonus keripik kepada mereka. “Ini bonus karena kalian anak KKN.”


“Makasih banyak Abang Sate,” balas Sarah dengan lembut. Setelah Abang sate kembali ke gerobaknya, ia menoleh kepada Andi. “Andi … lo waktu malam-malam kaga ada denger suara yang aneh-aneh gitu?”


Andi menarik daging sate dari tusuknya. “Denger apa?”


“Itu kaya ada yang goyangin jendela gitu. Gue kira kucing, tapi kan ga mungkin kucing nyampe ke jendela. Lagian kucing ngapain gabut-gabut manjatin jendela yang kekunci,” balas Sarah.


“Eh … jangan ngadi-ngadi deh lo Sar? Suara apa nih?” Andi memastikan.


“Iya … kadang gue denger kaya ada suara langkah di langit-langit posko. Sumpah deh gue kaga bohong. Kalau ga percaya, tanya aja sama Aulia. Ternyata Aulia juga nyadar kalau sering denger suara itu malam-malam.”


Bulu kuduk Andi langsung berdiri. Mana tahu KKN mereka ini kaya KKN Desa Pelari yang ada hantu atlit pelarinya. Di kisah tersebut, anggota KKN dirasuki hantu pelari dan keliling desa kaya orang olimpiade sampe meninggal. Kan serem kalau kejadian itu beneran ada.


“Aduh … gue kok ga pernah denger ya?”


“Gimana lo denger tiap malam pake hetset. Sumpah gue sampe ga tidur buat menelusuri suara itu ….”


“Nanti malam deh gue cek. Mana tau gue nemu sesuatu. Positif aja, mana tau kucing.”


“Gue berharap begitu sih.”


Malam hari pun tiba. Andi berjaga malam sambil ngopi di dapur belakang.

__ADS_1


Tiba … tiba ….


***


__ADS_2