Andi X Sarah

Andi X Sarah
92. Jajang Bengkel (SEASON 3)


__ADS_3

Andi lagi enak-enak nontonin berita debat politik yang ada di tipiwan. Masih tentang debat banjir membanjir yang ada di Ibu Kota, mereka berdebat siapa pemimpin yang berhak maju setelah masa jabatannya habis untuk mengatasi banjir di kota tercinta ini. Bukan malah mencari solusi untuk kemaslahatan bersama, tapi malah saling menghujat satu sama lain. Yang katanya air itu takdirnya masuk ke dalam tanah lah, bukan dibikinin saluran air ke laut. Yang katanya Jakarta udah banyak dibikin gedunglah, pokoknya banyak argument disertai sentiment-sentimen.


Kalau ada Sarah di sini, pasti dia udah sibuk mengomentari mereka yang ada tipi. Sarah merupakan fans berat roki gerung kadang debat politik sama Andi suaranya dimirip-miripin kaya roki gerung, ada qolqolahnya. Terus, argumennya bikin otak Andi sekecil udang itu jadi mumet. Andi itu fansnya vokalis band yang pengen jadi presiden itu, jadi dia pengen pemimpin yang bisa nyanyi dan mengibur masyarakat yang penuh hiruk pikuk ini.


Lok kok ke sana jadinya ….


Aisyah datang sembari memanggil abangnya yang sedang ngangkang di depan tipi sambil ngangguk-ngangguk, padahal tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


“Uda, uda mesan Bo-jek?” tanya Aisyah.


“Loh, mana ada? Uda mana pernah ke mana-mana mesan Bo-jek.”


“Kalau Bo-food? Kakak ada mesan?” tanya Aisya lagi.


“Gimana mau mesan Bo-food kalau tiap hari bisa makan gratis di rumah Kak Tami.”


Aisyah menunjuk ke luar. “Itu loh ada driver Bo-Jek yang lagi nungguin sambil manggilin nama Uda.”


“Ah masa?” tanya Andi sembari mengencangkan sarungnya. “Kayanya dia salah rumah deh.”


Padahal di komplek ini yang namanya Andi cuma dirinya sendiri. Jadi tidak mungkin ada orang lain yang bernama sama. Oleh karena itu, Andi memastikan siapa gerangan orang yang dimaksud. Sewaktu keluar, Andi melihat abang-abang Bo-food. Ia sedang menunggu di depan gerbang pagar. Pria itu tersenyum dengan otot menggembul di balik jaket hijau ojol. Seperti biasa, nyengirnya itu bikin Andi ikut nyengir juga. Ternyata pria itu ialah Kevin yang lagi mampir.


“Lah kok tumben?” tanya Andi.


“Ikut gue ke rumah seseorang.” Kevin menunjuk ke rumah. “Adek lo cantik juga, bikin adem hati gue. Boleh minta WA?”


“Minta noh sama Sarah kalau berani,” balas Andi. “Jadi, mau ke rumah siapa?”


“Eh ga jadilah kalau sama Sarah. Itu … ke rumah rumah Jajang Bengkel, adeknya mendiang Bang Ali.”


Andi memerengkan kepalanya. Kenal saja tidak dengan Jajang Bengkel itu, tetapi ia dikenal sebagai preman kampung setempat. “Ngapain ke sana?”

__ADS_1


“Gue mau nanya-nanya tentang Geng Beng itu.”


“Oke bentar ya gue ganti baju dulu.”


Kevin mengangguk dan kembali ke motornya. “Cepetan ya ….”


Motor Kevin berbunyi tatkala mereka bersiap-siap pergi.


“Sesuati tujuan yang ada di map ya Bang,” ucap Kevin seperti abang-abang ojol.


“Oke bang, gue udah pakai voucher nih.”


Bengkel pria bernama Jajang itu berada tidak jauh dari sekolah. Mereka bahkan, menyempatkan untuk beli rokok di warung Mas Momon. Setelah itu, mereka bertandang ke bengkel. Sempat ditanyain oleh karyawannya Jajang, Kevin pun mengatakan ingin bertemu dengan Jajang sendiri. Ia sekarang berada di rumah orangtuanya yang berada di belakang bengkel.


“Jaaang … ini gue Kevin.” Panggil Kevin di belakang rumahnya.


“Sebenarnya siapa tuaan lo sama Jajang?” tanya Andi.


Tidak lama kemudian, keluarlah pria sangar dengan tubuh jangkung berkulit gelap. Ia menatap mereka berdua yang sedang berkunjung. Dengan mata sayunya, sempat Andi langsung kena mental karena kesangaran orang yang sedang ada di hadapan. Tatkala senyum Jajang keluar, ternyata ampir sama aja sama Kevin. Bahkan, suaranya terdengar cempreng, tidak ada seram-seramnya sama sekali.


“Lah elo Kevin, udah lama kaga ketemu nih.” Ia menyingkir dari pintu. “Ayo masuk … emak gue lagi kaga ada di rumah.”


“Iya nih udah lama kaga ke sini. Gue kira lo tadi ada di bengkel, kata karyawan lo, lo lagi ada di rumah.” Kevin menoleh pada Andi. “Kenalin ini Andi, junior gue di SMA. Mereka yang nongkrong di Kedai Pak Topoi itu dulu.”


“Lah elo ternyata yang nongkrong di sana?” Jajang bersalaman dengan Andi. “Udah lama kaga nampak orang yang duduk di situ. Bahkan sebelum kalian pun juga lama enggak ditongkrongin. Kasian kaya cewek yang jarang dianggurin.”


Mereka pun duduk di dalam rumah Jajang sambil menikmati kopi yang dihidangkan melalui teko. Rokok pun dihidangkan sebungkus untuk mereka. Duduklah Jajang untuk menanyakan maksud kedatangan Kevin dan Andi.


“Jadi, kalian mau ngutang?”


“Lah kok ngutang sih?” tanya Kevin.

__ADS_1


“Hahah canda, biasanya temen-temen yang udah lama kaga ketemu, datang ke rumah cuma buat ngutang.”


“Gini loh Jang, anggota gue sebelumnya udah pernah dikeroyok, terus tongkrongangue diserang sama mereka. Mereka namainnya kelompok itu dengan nama Geng Beng. Jadi, sebenarnya siapa mereka itu? Ketuanya Salim.”


Jajang diam sejenak untuk mengira-ngira siapa mereka itu. Waktu hisapan rokok yang kedua, barulah Jajang sadar kalau pernah mendengar nama itu.


“Oh itu, gue tahu. Mereka itu kriminal, sebaiknya jangan di deketin. Takutnya kalian malah bahaya. Anggota mereka juga pernah ribut sama orang bengkel gue. Untung aja mereka tahu gue itu siapa.”


Andi sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya Jajang itu sehingga anak Geng Beng bisa takut dengan dirinya.


“Jadi, mereka itu sebenarnya gimana, Bang? Kayanay bringas banget,


tanya Andi.


“Mereka itu ada banyak, enggak cuma satu. Salim itu cuma ketua dari kelompok kecilnya aja. Jadi, kira-kira kawasan kelurahan kita ada geng-geng kriminal yang tergabung dengan satu geng besar, itulah Geng Beng. Satu ada yang nguasain teriminal, satu lagi ada yang nguasain area balap liar, satu lagi ada di dekat sekolah akhir-akhir ini, dan yang kalian temui itu hanya salah satu dari mereka. Kerjaan mereka itu ngebegal, rampok, bandar narkoba, judi, pokoknya kriminalitas lainnya. Jadi, enggak ada anak sekolahan di sana, murni preman-preman.”


“Jadi, ada banyak geng yang tergabung dalam organisasi mereka? Gitu?”


Jajang menangguk. “Itu sih kata orang yang sering nongkrong di warung gue. Mereka itu kaya sindikat premanisme gitulah. Terstruktur, bukan anak tongkrongan kedai biasa. Sampai saat ini, mereka bebas bergerak.”


Aku dan Kevin saling menatap. Alih-alih merasa puas karena sudah membuat mereka kabur waktu itu, ternyata mereka hanyalah salah satu dari geng yang tergabung dalam organisasi yang lebih besar.


“Okelaah, itu aja sih yang gue tahu. Soalnya ada banyak junior-junior gue yang terlibat narkoba. Asumsi gue, narkoba itu dapat dari mereka.”


“Bisa jadi, pokoknya lo jangan sampai main-main sama mereka deh. Takutnya bakalan terjadi hal yang berbahaya. Gue enggak mau apa yang terjadi dengan temen-temen sebelumnya, terjadi sama kalian berdua.”


Kevin memberikan tinjunya kepada Jajang. “Oke deh makasih banyak ya Jang.”


“Kami pamit dulu Bang, assalamualaikum,” pungkas Andi.


Informasi hari ini sudah cukup menjelaskan siapa sebenarnya Geng Beng itu.

__ADS_1


***


__ADS_2