Andi X Sarah

Andi X Sarah
24. Patah Hati


__ADS_3


Patah Hati



"Gua suka sama dia," ucap Sarah sewaktu mereka makan berdua.


Pria itu bertegak pinggang di rooftop sekolah sambil meminum cola di tangannya. Andi melihat batang hidung pria itu dari bawah. Pria berambut wangi dengan tubuh yang tegap itu sudah mengambil hati wanita tangguh. Ia tidak menyangka jika Sarah yang sebegitu kerasnya bisa luluh dengan Pram.


Ia menantang anak tangga untuk naik ke rooftop sekolah. Pintu menuju ke sana sudah dirusak oleh Pram waktu itu sehingga mereka leluasa untuk bersantai di atas sana.


Njir, ni anak beneran wangi, ucap Andi tatkala angin membawa wewangian Pram padanya.


Pram menoleh ke belakang dan mendapati Andi sedang mendekatinya. Ingin saja ia melampiaskan perasaan cemburu yang sudah berhari-hari membakarnya, namun ia menjaganya demi hubungan erat Anak Amak dan KODOMO yang akhir-akhir ini membaik.


"Sejak kapan?" tanya Pram.


Tangan Andi menyodorkan sebungkus rokok pada Pram. Namun, ia menolak.


"Apanya?"


"Lo pacaran sama Sarah, apa lagi ...."


"Kami ga pacaran, semua itu cuma salah paham," balas Andi.


Bibir Andi melebar, tawanya pecah sesaat. "Jangan ngelak lagi, deh. Semua orang udah tau. Anak Amak, KODOMO, dan Raisa. Gua dapat info dari mereka. Raisa sendiri malah cerita ke gua."


"Hahah, Raisa cerita sama lo?" Andi tertawa.


"Salah, Raisa cerita sama gua?"


"Aneh aja mantan sama mantan bisa cerita yang begituan," balas Andi.


Tangan Andi memantik api dari korek dan menyulutnya ke sebatang rokok di bibirnya Napasnya beradu dengan sensasi tenang kepulan yang mengawang ke udara.


"Bukannya lo mantan dia juga?" tanya Pram.


"Iya, gua mantannya dia. Kita punya mantan yang sama." Kepulan asap keluar dari bibirnya. "Kalau gua beneran pacaran dengan Sarah, emangnya ada apa?"


Kalimat Andi terdengar menantang di telinganya. "Itu ga masalah. Malah bagus."


"Bagus, ya? Kalau gua ga pacaran dengan Sarah?"


Pram tertawa sejenak. "Ya, itu aneh aja. Padahal kalian udah saling ngaku kalau kalian itu lagi pacaran. Lo suka sama Sarah. Gua bisa lihat itu dari diri lo."


Batang rokok yang sedari tadi ia hisap kini ia hempaskan ke lantai. Noda hitam arang dari batang rokok kini menempel di sepatunya. Ia pergi meninggalkan Pram. Namun, di depan pintu ia berhenti.

__ADS_1


"Gua ga pernah suka sama Sarah," ucap Andi. "Dan satu hal, sebaiknya lo ngehindar dari Raisa."


"Kenapa?"


"Alasan kita putus dengannya mungkin bisa jadi jawabannya."


Mata Pram hanya bisa melihat Andi pergi dengan teka-teki dari kalimatnya. Ia menganjurkan dirinya utnuk menghindari Raisa. Kembali ia mengingat proses putusnya ia dengan Raisa. Sebuah alasan yang sama jika Andi juga turut menjabarkan.


Raisa selalu memanfaatkan pria di dekatnya hingga ia pergi dengan semua yang ia dapat.


Seperti biasanya, Andi kembali ga bisa fokus dengan semua pelajaran di kelas. Penjelasan mengenai rumus kimia di papan tulis membuat dirinya mual. Sementara itu cewek huluk di depan sana sangat antusias dengan segala penjelasan guru.


Ia melihat ke sekitar, orang-orang yang sejenis dengannya juga melakukan hal yang sama, sangat antusias. Seketika kepalanya berdiri melihat salah satu guru membawa masuk seorang cewek yang begitu familiar. Cewek itu juga turut tersenyum padanya.


"Ini ada anak baru," kata guru itu kepada kami. Ia menatap cewek itu. "Silahkan perkenalkan namamu."


Cewek itu tersenyum dan melambai pada kami. Postur tubuh mungil dengan kulit putih mulus tiada duanya menarik perhatian satu cowok di kelas. Satu per satu cowok pada mimisan.


"Hai, nama aku Descya Utami. Kalian bisa panggil aku Tami."


Mata Andi terbelalak melihat cewek imut bermata bulat sedang berdiri di depan kelas.


Sepulang sekolah, ia sengaja mempercepat langkahnya agar tidak bertemu dengan Tami. Kadang cewek itu sering ceplas-ceplos dan sering ga sengaja mengatakan sesuatu mengenai Andi yang mereka sembunyikan.


Seperti, Andi dulu ga berhenti nyusu dari dot sampai umur lima tahun, trus ada tompel di dekat pantatnya, Andi pernah mandi sama-sama dengan Tami sewaktu kecil, bahkan Andi pertama kali ngenal bokep waktu kelas 1 SD. Semuanya pernah keceplosan dari mulut Tami.


"Mana gua tau. emang gua bapaknya."


Ga sengaja sewaktu mereka jalan, mereka bertemu dengan Tami ditemani dengan seorang cowok. Dari jarak beberapa meter, wangi cowok itu udah tercium di hidung Andi. Bener-bener wangi sampe Andi ngendus sana-sini. Sementara itu Sarah ingin berubah ke mode huluknya karena melihat Tami dengan seorang cowok.


"Woi, ga usah kaya babi ngendusnya napa?" tanya Sarah.


"Ya, lo ga usah salah tingkah gitu ngelihat Tami sama Pram napa?" balas Andi.


"Itu, Pram. Gebet─" Sarah mengepal tanganya. "Baru masuk udah ngegas aja itu cewek ya ... belum tau gue kayanya dia."


"Selow dikit, napa njir ... Ga usah muncrat juga." Andi membersihkan wajahnya yang kena muncratan Sarah.


"Ya sorylah ... kan ga sengaja."


Mereka berdua berusaha untuk jalan biasa sampai Tami dan Pram menyadari kehadiran mereka. Tidak menunggu lama, Tami melambaikan tangan sama Andi. Lalu, tangannya menarik Pram untuk mendekati Andi.


"Kak Pram, kenalin ini Andi. Rumah aku deket rumah dia. Bisa dibilang tetanggaan," kata Tami pada Pram.


Ia hanya tersenyum tipis karena ada Sarah di sana. Namun, Sarah sama sekali tidak menatapnya. Mukanya rada-rada cemberut dan cenderung menatap ke arah yang lain.


"Iya, kakak udah kenal, kok."

__ADS_1


Sok, imut banget lo, ucap Sarah dalam hati.


Sok deket banget sih sama Andi, emang dia siapanya Andi sih! balas Tami dalam hati.


Tatapan mereka saling beradu.


Karena tidak sabar, mereka saling mengambil ancang-ancang.


Mereka berlari ....


Saskeh, Rasengan!!!


Narto, Chidori!!!!


"Oh, gitu ya. Cewek ini pacarnya Andi, kak?" tanya Tami. Pertanyaannya sama dengan sakitnya chidori saskeh bagi Pram.


"Enggak!!!" jawab Sarah dengan cepat. "Eh, kalau ngomong suka sembarangan."


"Oh, begitu. Kalau ga pacaran, kemarin kok jalan bedua di mall. Trus pergi nonton bedua."


Kalimat Tami seakan menyumbat pernapasan Pram. Ia tercekik dan kejang-kejang. Tapi dia berdiri lagi setelah kejang-kejang.


"Ya ga tau juga, mungkin aja mereka pacaran," balas Pram dengan dingin.


Andi mengehela napas. Penyakit menahun Tami memang ga bisa ditahan. Embernya minta ampun, suka ceplas-ceplos. "Kami cuma temen."


"Temen ga mungkin sering jalan bedua mesra-mesraan begitu," jawab Pram. Ngegasnya parah banget.


"Ngomong-ngomong kok kalian bisa kenal, sih?" tanya Sarah.


Tami menggandeng tangan Pram. Ia tersenyum. "Dia bakal jadi temen duet aku di pensi besok."


Pram cuma senyam-senyum ga jelas karena udah digandeng cewek lain tepat dihadapan gebetan sendiri.


"Oh, begitu, ya ..." Sarah berbalik arah untuk melangkah. "Andi, antar gue pulang, ya ...."


Ia hanya terdiam mendengar kalimat Sarah yang sendu. Langkahnya getir tidak bergairah seperti biasanya. Baru kali ini ia melihat Sarah serapuh ini. Tidak menunggu lama, ia segera menyusul Sarah.


"Sar, jangan dimasukin ke hati, dong. Tami memang gitu orangnya. Lagian, Pram ga mungkin demen sama cewek kaya Tami."


"Lo selalu ngebela cewek itu."


"Ya karena gua udah ngerti gimana sifat Tami. Jangan sedih, ya."


Parkiran jika sudah sesore ini tampak lengang. Hanya beberapa kendaraan yang tersisa belum dibawa pulang. Andi memencet tombol di kunci mobil untuk membuka kunci pintu. Namun, Sarah berhenti tepat di dekat pintu mobil.


"Andi," panggil Sarah dengan pelan. "Kira-kira Pram bisa suka sama gue atau enggak?"

__ADS_1


***


__ADS_2