Andi X Sarah

Andi X Sarah
157. Lomba Bola Volly (SEASON 3)


__ADS_3

Pertandingan pertama dimulai Tim Sarah melawan kelompok gadis desa yang bukan dari panitia. Dikarenakan partai pemudi desa hanya berjumlah empat tim, maka siapa yang menang di pertandingan pertama berhak untuk maju ke final. Sarah yang sudah berpengalaman sebagai orang nomor satu volley  di SMA tentu saja pertandingan seperti  bukan hal yang mengejutkan. Sudah beberap kali Sarah mewakili sekolah di pertandingan volley antar SMA walaupun kaga pernah menang. Gimana mau menang kalau cuma Sarah sendiri yang ngegendong tim sendirian.


Service pertama dilakukan langsung oleh kapten tim, yaitu Sarah sendiri. Bak seorang atlit volley profesional, Sarah melakukan service atas dengan meloncat. Bola terpantul dengan kuat ke lapangan sebelah. Permainan yang baru saja dimulai tentu saja membuat pemain belum terlalu siap. Pukulan sekeras itu sungguh sulit untuk dihindari.


“Anjir … lo kok bisa service begitu?” tanya Nabe.


“Ya elah … itu service gue kalau lagi gabut. Kalau serius, gue mejam mata.”


Kelly tidak pernah tahu kalau Sarah sehebat ini berolahraga volley, padahal selama ini mereka kerjanya hanya pergi berburu makanan tanpa olahraga sedikit pun.


“Mana bolanya? Cepet!” teriak Sarah kepada anak SD yang jadi pengambil bola.


Sarah melakukan service seperti yang ia lakukan sebelumnya. Lagi-lagi tidak bisa disambut oleh lawan.


“Hadeeeh … serius ga kalian main ini?” Sarah bertegak pinggang dengan songong. “Kalau begini, tangan gue jadi capek buat di final nanti.”


“Sarah, pelanin dikit pukulannya. Kasian mereka cewek!” teriakk Andi.


“Lah emangnya gue cowok?”


“Iya … tenaga elo setengah cowok soalnya,” balas Andi.


Sungguh tidak ada perlawanan di pertandingan pertama. Sarah mencetak sepuluh skor sekali periode service, hingga bola perpindah tangan kepada lawan karena service-nya Sarah kelewatan garis. Mungkin saja waktu itu ia lagi bersembangat sekali. Namun, sewaktu tim Sarah berperan sebagai penerima bola, lagi-lagi tim mereka bisa memantulkan bola dengan baik. Nabe dengan dadanya memantulkan bola, untung aja agak tinggian karena salah prediksi. Awalnya mau pakai tangan, eh kenanya dada. Beruntung Kelly sigap menyambut bola pantulan dan memberikannya kepada Sarah. Loncatan Sarah seperti kangguru, tinggi, hingga melakukan smash kaya bapak-bapak hobi mai volley. Andi aja sampai menelan ludah membayangkan gimana kalau bola itu terkena kepalanya.


“Ndi, cewek lo ini atlit karate atau volley sih?” tanya Rijek di sampingnya.


“Ga tau Jek, kadang dia jadi atlit MMA juga kadang-kadang.”


“Jadi serem gue gimana bawa jalan dia. Bisa-bisa gue diajakin buat duel MMA.”


“Nah itu juga yang gue takutin Jek, bayangin aja gue pernah dijadiin samsak.” Andi mengingat waktu dia sedang menjemput Sarah di Dojo Karate, tetapi malah dijadiin samsak sebagai contoh kepada murid-muridnya.


“Sakit ga?”


“Widih … jangan ditanya. Gue ga bisa napas ***!” pungkas Andi.


Pertandingan tim Sarah seakan melawan kayu mati. Ini sama aja kaya Hashirama ngelawan bunshinnya Konohamaru, sekali sentuh pakai jari langsung ngilang. Dua set pertandingan berhasil dimenangkan oleh tim Sarah dengan skor telak sekali. Perkiraan Andi terhadap tim lawan ternyata salah. Awalnya Andi mengira kalau tim lawan punya power yang kuat, ternyata cuma ampas doang.


Kini Tim Tasya yang sedang bermain. Awalnya para cowok masih duduk nongkrong di tepi jalan, waktu Tasya main mereka langsung mengerumuni tepi lapangan. Andi, Nanang, dan Rijek juga ikut-ikutan dan meninggalkan tenda panitia. Tentu saja mereka tidak ingin kelihatan melihat kebeningan Tasya. Aulia juga tidak kalah menarik karena beningnya sebelas dua belas dengan Tasya. Pokoknya nyuci mata banget kalau melihat mereka berdua lagi main.


“Bang … doain Sofi menang ya!” Sofi mengepal tangannya kepada Sofi.


“Eh iya Sofi, kamu pasti menang kok!” Andi membalas dengan eskpresi yang sama.


Rijek dan Nanang langsung ngelihatin Andi.


“Kalian ada apa?” tanya Rijek.


“Lah … salah gue apa sih?” tanya balik Andi.


“Kami kok ga digituin sih?” Nanang jadi heran.


“Mana tahu gue ….” Tangan Andi membelokkan kepada kedua temannya waktu Tasya melakukan pemanasan. Pemanasannya yaitu dengan membungkukkan tubuh agar merenggangkan otot-otot belakangnya. Tentu saja bagian itunya langsung berbercak di bagian celana. “Aduh … jam-jam segini memang seger biasanya.”


“Anjir … kalau ga anak DPR udah gue pacarin tuh anak,” ucap Rijek.

__ADS_1


Kepala Rijek langsung ditampol sama Sarah. “Gue dulu … kalau gue ga punya pacar, udah gue bawa jalan tuh anak.”


“Astagfirullah ….. tapi sayang banget kalau dilewatin. Apa Tasya mau sama anak ustadz ya?”


Andi menoleh kepada Nanang. “Yang jadi pertanyaannya itu, bapak lo mau ga cewek yang modelannya kaya Tasya? Yang ada langsung disuruh masuk pesantren dulu biar pake hijab panjang.”


“Oh iya juga.”


“KAN BETOL OM MAU NGELIHATIN KAK SARAH DARI DEKET!” protes Maya dari belakang.


“DIEM!” balas mereka bertiga serempak.


Pertandingan tim Tasya dengan lawannya dimulai. Tidak seperti pertandingan sebelumnya, kali ini sudah ada jual beli sernagan yang terjadi. Bola di-service kuat, tapi masih bisa dikembalikan. Operan-operan antar pemain juga berjalan mulus, pertanda mereka punya pengalaman bermain yang baik. Andi sampai melihat bola ke kiri dan ke kanan karena bolanya jarang nyentuh tanah. Sorak keseruan bergemuruh di tepi lapangan oleh para penonton, terutama para pemuda. Apalagi kalau Tasya yang nyentuh bolanya.


“Aduh!!!” Sofi kena bola di lapangan.


“Eh Sofi, kamu ga apa-apa?” tanya Aulia dengan cepat.


Sofi pada saat itu sedang ingin menyambut bola dengan meloncat, tetapi ternyata salah prediksi. Bola malah menemui kepalanya. Tangannya bergesek di tanah hingga tercipta luka lecet.


“Medis-medis!!!” pinta Andi ke tenda panitia.


Beberapa panitia mendatangi Sofi untuk memberikan perban pada lukanya untuk sementara. Hal itu berguna agar luka lecetnya tersebut tidak sampai terkena debu dan bakteri. “Sofi, kamu ga apa-apa?” Andi mendatangi Sofi yang lagi duduk di tanah dan sedang ditangani oleh para medis.


“Ga apa kok Bang. Sofi baik-baik aja.”


“Oke deh, semangat yaaa!”


Sarah dari luar merhatiin terus nih gelagat Andi di tengah panitia medis.


“Ini ngelihatin Sofi ….”


“Ah ga ada! Balik!”


“Iya … iya ….”


Andi langsung duduk di antara Nanang dan Rijek sambil diketawain oleh mereka. Namanya juga suami-suami taku istri, tentu saja langsung duduk waktu disuruh duduk. Pertandingan pun dilanjutkan kembali. Keseruan tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Tasya. Mereka pun berpeluk satu sama lain untuk merayakan kemenangan. Selanjutnya, mereka akan melaksanakan pertandingan final melawan tim Sarah.


“Waduh … seru nih ngelihat Sarah lawan Tasya. Pasti adu jotos,” ucap Nanang.


“Gue sih pengennya begitu, tapi kita langsung dihujat warga. Niatnya main volley, tapi malah main smekdon.”


“Liat tuh Sarah ….”


Andi terbelalak melihat Sarah yang udah pemanasan salam dari binjai pada salah satu pohon pisang. Ternyata bener, Sarah mau tanding smekdon, bukannya volley.


Kasian sama pohon pisangnya yang malah disalamin dari binjai. Nabe malah ikut-ikutan dengan kebodohan Sarah tersebut. Alhasil, kini berjumlah tiga orang karena Kelly ikut-ikutan gila. Ada tiga orang gila sekarang yang merubuhkan satu pohon pisang di tepi semak-semak. Untung aja pohon pisangnya udah mau mati dengan batang pohon yang kecokelatan.


Mereka break dulu selama tiga puluh menit untuk memberikan waktu bagi kedua tim agar bersiap-siap. Bukan hanya air mineral, Sarah juga menenggak kukubima enerji rosso yang sebenarnya untuk panitia laki-laki. Satu gelas penuh langsung abis dalam satu waktu.


“Eh … perut lo ini mau muntah sebelum main?” tanya Andi.


“AHHHH!!!!!” desah Sarah. “Gue jadi seger lagi kalau begini. Kenapa gue baru tau minuman ini sekarang sih? Ternyata enak banget buat bikin tubuh seger lagi. Kalau begini, gue bisa bikin smash mematikan berkali-kali.”


“Sumpah Sar, lo mainnya serem. Lo mau bikin anak orang masuk rumah sakit?”

__ADS_1


Bibir Sarah mencibir. “Yaelah gitu doang.”


“Yaelah gitu ding.” Andi mengikuti irama kalimat Sarah. “Lo ini lebih cocok masuk tim pemuda levelnya.”


“Pemuda pun mungkin ampun lawan gue.” Sarah memberikan kiss bye kepada Andi. “Daaah … gue mau pemanasan dulu di samping kebon pisang. Bisa salam dari binjai di sana..”


Peluti berbunyi. Pertandingan kali ini akan dimulai. Penonton terbagi atas dua kubu, pertama pendukung kubu Sarah dan kedua yaitu pendukung kubu Tasya. Yang di sana pemudanya pengen ngelihatin Nabe, yang di sini pengen ngelihatin Sarah. Sarah jadi heran kenapa pemuda pada nyebut nama Nabe dan Tasya, dirinya kok enggak. Waktu melihat Nabe dan Tasya, Sarah baru sadar kalau soal penampilan dirinya memang beda jauh.


“TASYA!!!! I LOOP YOUU!!!!” teriak Nanang.


“Woi … kita janjian dukung Sarah!” Andi memukul lengan Nanang.


“Sakit anjir!” balas Nanang, “Suka-suka gue dong …. Liat tuh rijek ….”


Rijek udah buat nama Tasya di karton bekas kotak air mineral. “TASYA … KAMU PASTI BISAAA!!!!!”


Di lapangan, Tasya memberikan ciuman jarak jauhnya kepada Rijek dan Nanang yang sudah meneriaki namanya sebagai simbol penyemangat.


“SARAAAH KAMU PASTI BISAA!!!!” teriak Andi karena tidak mau dukungan Sarah jadi kalah.


“Diem lu! Malu-maluin aja!” balas Sarah karena gaya Andi yang norak.


“Ya elah … gue mau ngedukung malah diginiin,” ucap Andi dengan pelan.


“Hahah … makanya dukung Tasya.” Rijek memberikan karton nama Tasya tersebut kepada Andi karena kini Rijek udah punya dua karton.


“Bener juga ya … eh gue pinjam spidol punya lo, gue dukung Sofi aja,” balas Andi.


“Noh ….”


Andi menulis nama Sofi di sana. Mereka pun bergeser ke sisi lapangan di mana tim Tasya berada. Sekarang, tiga orang ini full mendukung Tim Tasya.


“Sofii … semangat!!!” teriak Andi.


Sofi pun melihat Andi. “Ah Abang … Sofi jadi malu kalau digiin.”


“Kamu pasti bisaaa!!!”


Sarah yang ada di sisi sebelahnya ngelihatin tiga cecunguk itu yang kini berpindah. Perasaan tadi masih di sisi lapangan mereka, tapi sekarang sudah beralih. Ia melihat Andi menuliskan nama Sofi, sementara satu tangan yang lainya tertulis nama Tasya.


“Awas lu ya … gue arahin bola ke sana!”  Sarah mencolej Nabe. “Nabe … liat tuh Andi jadi pengkhianat kita. Katenye di posko pasti dukung kita. Eh sekarang malah di sana dukung mereka.”


“Eh beneran dong … gue ga rela Andi dukung Tasya!” balas Nabe.


“Kita arahin bola ke Andi. Mau out … mau skor masuk, pokoknya dia harus kena.”


Nabe mengangguk setuju. “Harus kita lakuin nih. Gue ga mau tahu.”


Bunyi peluit dimulai. Sarah mendapatkan kesempatan untuk melakukan service pertama. Bola dihantam dengan keras dengan gerakan melompat. Melayanglah bola ke sisi seberang dengan kencang. Saking kencangnyaa, sampe ada bunyi berdesis ketika bergesekan dengan angin.


Tanpa Andi sadari, bola mengarah padanya. Dia yang lagi haha hihi sama Nanang, kini langsung tepar.


“HAHAH MAMPUS!!!” Sarah langsung melakukan tos dengan Nabe.


***

__ADS_1


__ADS_2