
“Rumahnya Tami kemalingan, dia lagi sendirian di rumahnya.”
Hati Memet menjadi risau dan sangat kacau, seperti seorang anak yang balon warna hijaunya meletus. Semenjak Andi mengatakan hal tersebut, jantung Memet berdebar-debar kaya mau keluar. Darahnya berdesir kuat karena tidak sabar menginjak-nginjak orang yang telah berani masuk ke dalam rumah adinda tercintanya itu. Pokoknya, kalau sampai orang itu di tangan Memet, dia berniat bikin bonyok minta ampun melebihi seluruh maling yang pernah jadi korban di komplek ini.
Bayangin, Memet aja tidak berani memasuki rumah Tami. Bahkan, ia baru sekali menginjak tengah-tengah rumah gadis itu. Jangankan masuk, mengetuk saja Memet sudah gugup tidak karuan, padahal itu hanya untuk menagih uang ronda setiap bulannya. Ini malah maling yang berani-beraninya masuk melalui jendela. Lewat pintu kek biar sopan. Tapi mana ada maling yang lewat pintu karena lebih mudah masuk lewat jendela. Itu sih penuturan para maling yang pernah Memet tangkap sebelumnya.
Kawasan komplek memang lengang kalau sudah di atas jam sembilan malam. Tidak ada lagi anak-anak kecil yang sering main kejar-kejaran setelah pulang dari masjid atau pun bapak-bapak yang membuka partai ngopi di depan rumah. Keramaian hanya ada di warung tongkrongan belakang di mana Memet yang jadi ketuanya dan pos ronda tempat bapak-bapak bertaruh rokok melalui pertandingan adu catur. Kawasan yang lengang itu kental terasa di rumah Tami. Tidak ada melintas kendaraan atau pun orang lain, kecuali para anggota Memet yang lagi beraksi.
Memet seperti seorang mayor pangkat tinggi yang sedang memerintahkan anak buahnya untuk berperang. Kelompok dibagi dua orang, yaitu bergerak melalui kiri dan kanan sisi rumah Tami. Kondisi rumah Tami yang sunyi sangatlah terasa sekali dan mengundang aksi kejahatan maling. Ingatlah kepada mamang-mamang yang bilang, \`kejahatan itu bukan karena niat, melainkan karena ada kesempatan, waspadalah-waspadalah!\`.
Para kucing yang lagi nongkrong tampak berlarian tatkala pasukan Memet bergerak ke belakang. Kondisi rumah Tami tampak gelap di bagian belakang. Sepertinya Tami lupa untuk menghidupkan lampunya. Tatkala Memet menyenteri teras belakang terdapat noda lumpur berbentuk jejak kaki yang berujung ke jendela. Jendela tersebut sudah dalam keadaan terbuka.
“Bang, liat ini ….”
Salah satu anggota Memet memperlihatkan celana jeans dan kaos pria yang sudah ditanggalkan. Melihat hal tersebut, Memet semakin memuncak amarahnya ke ubun-ubun. Maling ini menggunakan teknik tanpa busana alias melumuri seluruh badannya dengan pelumas agar bisa lolos ketika tertangkap. Memet sebagai spesialis penangkap maling dari pihak pemuda setempat sudah paham sekali dengan motif maling seperti ini. Sang maling nanti hanya mengenakan semvak saja dalam beraksi.
“Kalau dapet dia, gue pecahin bijinya dan gue gantung di knalpot gue!” Memet melihat para anggotanya. “Satu orang masuk sama gue. Tiga orang berjaga di belakang, kiri, dan kanan. Satu orang lagi kabarin ke pos ronda biar datengin massa. Maling ini takutnya licin kaya belut, parahnya lagi mungkin pakai ilmu ngilang.”
“SIAP!!!”
Satu anggota mengikuti Memet dari belakang. Mereka masuk melalui tempat yang sama dengan maling, yaitu jendela. Hampir saja kaki Memet berdarah oleh pecahan vas bunga jika tidak diperingati oleh temannya tersebut. Perjalan mereka dimulai ke dapur. Kondisi dapur sungguh berantakan dengan kulkas terbuka. Ada banyak sampah makanan ringan yang tergeletak di atas lantai. Tidak mungkin Tami makannya begini, atau pun kucing yang buka kulkas.
“Kayanya maling ini lapar, Bang,” ucap anak buah Memet.
“Iya sih, tapi jangan lo makan juga!”
“Oh iya juga. Maap.”
Eh Memet malah nyicip ciki-ciki rasa jagung yang bentuknya kaya jari itu. Enak sih, tapi dia kembali fokus dengan penyergapan. Mereka kembali bergerak menuju ruang tamu dan ruang tengah. Lemari besar sudah terbuka dengan buku-buku yang berserakan ke lantai. Entah apa maksud si maling membuka lemari buku papanya Tami, kali aja sekalian nyuri buku buat referensi kuliah. Di berbagai ruangan lantai satu banyak lemari yang terbuka, bahkan lemari kaca penyimpanan piring juga tidak luput dibuka maling. Malingg masih belum menampakkan diri, Memet mengajak anggotanya menuju ke lantai.
“Ini malingnya pasti di lantai dua.”
“Rumah Kak Tami gede juga, Bang. Orang kaya mana cocok sama elu ….”
Tangan Memet mengelus jidat temannya itu lalu menepuknya sekali. “Jangan mikirin itu bisa ga? Govlok banget sih! Fokus-fokus … ini menyangkut harga diri gue sebagai pria.”
__ADS_1
Mereka menaiki lantai dua. Kondisi kamar sudah dalam keadaan terbuka, kecuali kamar Tami yang masih tertutup.
“Ssttt … dia pasti di ruang solat yang ada di depan kamar Tami.”
“Lo kok tahu kamar Tami, Bang?”
“Seriuslah! Kita lagi beraksi, nyesel gue bawa lo!” Memet mendorong temannya ke depan. “Lo di depan. Mengendap-ngendap di tepi dinding.”
“Aduh … malah gue di depan.”
“Udah … ikut aja perintah gue. Nanti langsung sergap dia di ruangan solat.”
“Ngapain juga maling ke ruangan solat.”
“Ya kali aja dia belum solat Isya.”
Lututnya temen Memet bergetar tatkala mengendap di tepi dinding, maklum masih newbie. Selain dia duluan yang kena bacok kalau maling bawa pisau, Memet bisa dengan sigap menerkam maling karena fokus dengan temannya tersebut.
Seketika temannya berhenti.
“Apa? Gue kaga denger?!”
“Lemarinya lagi dibuka ….”
“Langsung gas!!!”
“Haaaa!!!!!”
Teriakan tersebut membakar semangat mereka untuk bertarung. Terlihatlah sosok manusia tinggi dan gempal tengah berdiri di depan lemari. Tangannya sedang menggapai-gapai sesuatu di sana. Malingnya dipenuhi oleh oli warna hitam di sekujur tubuh sehingga persis kaya genduruwo. Bukannya maling itu yang terkejut, malah temennya Memet yang takut. Maling menghantam tubuh kecil temennya Memet dan terpental ke pintu kamar Tami. Giliran Memet mau menangkap lehernya, maling bisa melepaskan diri karena sekujur tubuh yang licin.
“Jangan lari lo maling bangsat!!!!”
Memet berubah menjadi mode singanya. Ia berlari sekencang-kencangnya dan meloncat ke tubuh maling. Ia menarik tubuh maling ke dalam sebuah kamar sebisa mungkin. Walaupun tubuh maling dua kali lebih besar dari tubuh Memet, Memet tetaplah pria yang pernah jadi yang terkuat di SMK. Wajah maling langsung dihajar abis-abisan oleh Memet. Punggungnya dijadiin kuda-kudaan sambil ditepuk-tepuk di bagian belakang. Memet masih enggak puas, sekarang dia baringin maling ke lantai dan menginjak-injak wajahnya sampai berdarah.
“Anak mana lo?!” tanya Memet.
__ADS_1
“Maaf bang, gue ampun!!!”
“Gue tanya, anak mana lo?!”
“Ampun bang!!!”
“Tahu ga lo lagi masuk rumah gebetan gue?!”
“Gue kaga tahu bang!!! Ampun⸺”
Seakan tidak kenal ampun, wajah maling dibikin mampus oleh Memet seorang. Padahal, belasan warga lagi nunggu jatah di luar sana buat ninjuin itu maling.
Tami mendengar ketukan dari temennya Memet kalau Tami aman sekarang. Mendengar Memet teriak-teriak di salah satu ruangan, Tami membuka kamarnya dengan cepat. Ia berlari menuju ruangan tersebut dan melihat Memet sedang menghajar maling habis-habisan sendirian.
“Memet, udah!!!” Tami berteriak sambil menahan tubuh Memet yang panas karena emosi.
“Dia mau nyakitin lo, Tami!!!!”
“Memet, udah … dia udah tepar!!”
Tami terlalu lemah bagi Memet yang sedang tidak terkendali. Datanglah bapak-bapak pos ronda yang menerjang tubuh Memet sehingga terpental ke kiri. Tinjuan bapak-bapak tersebut ternyata mengaburkan pandangan Memet. Telinganya penuh dengungan dan ia hanya melihat maling tersebut diangkat tidak berdaya. Sementara itu, tangan Tami menepuk-nepuk pipinya seraya memanggil namanya.
“Memet! Lo baik aja?”
Emosi dan tinjuan bapak-bapak ternyata membuat Memet mengalami shock. Kesadarannya kini pulih dan ia menyadari sedang dipangku setengah badan oleh Tami.
“Sorry Tam, lo ngelihat diri gue yang sebenarnya.”
“Makasih banget Met. Berkat lo gue jadi aman.”
Agar merasa jantan dan cool, Memet berdiri sambil merapikan kaosnya yang basah oleh keringat. Ia julurkan tangannya untuk membantu Tami berdiri. “Sebaiknya lo tidur di rumah Andi malam ini.”
Tangan mereka saling bergenggaman, walaupun hanya untuk sekali saja.
\*\*\*
__ADS_1