Andi X Sarah

Andi X Sarah
131. Nabe Berubah


__ADS_3

Hari ini merupakan hari membuat tugas. Andi menyiapkan bahan berupa buku-buku yang sudah ia pinjam dari perpustakaan. Walaupun goblok dan bandel begini, Andi tetap serius dengan tugas-tugas kuliha, mengingat sangat bebar harapan kedua orangtua padanya mengenai masa depan. Laporan kelompok masih belum rampung, sehingga Andi, Nabe, dan Ari Kiting memutuskan untuk mengejar target minggu ini. Mereka memilih rumah Andi karena selama ini Andi selalu menolak jika bertandang ke rumahnya.


“Nabe, kan elu mau ke rumah gue nih. Jangan pakai pakaian ketat ya, soalnya emak gue pasti ngomen nanti tuh, apalagi Aisyah. Aisyah itu lulusan pesantren,” ucap Andi sehari sebelum bikin tugas.


“Tenang ya Sayang, nanti gue pakai daster. Kan daster lebar tuh.”


“Makin gila gue kalau lihat lo pakai daster. Serius nih Nabe ….”


“Iya … iya …. Gue paham kok ….”


Menunggulah Andi sembari makai sarung di depan rumah. Sewaktu domino higs Andi mendapatkan jackpot besar, datang seorang wanita berhijab menggunakan motor beat. Andi masih bingung siapa cewek hijaban montok yang baru saja datang ke rumahnya. Tatkala wanita itu membuka helm, ternyata Nabe.


“Wah elo ternyata ….” Andi memerhatikan Nabe dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Waduh … mantap juga nih body lo kalau pakai pakaian begini.”


“Pakai pakaian terbuka salah, udah nutup juga salah. Otak lo itu yang sebenarnya harus dibenerin dulu ….”


“Hehe … ya gimana ya … memang bikin mata keliling-keliling ….”


Nabe memarkirkan motornya di depan garasi Andi. “Namanya juga cewek montok. Pakai pakaian apa pun, gue tetap aja begini. Beneran kan gue lebih sexoy dari Sarah?”


“Heheh … kalau itu gue akui. Tapi Sarah tetep yang terbaik.” Andi menjulurkan lidahnya untuk mengejek. “Ayo masuk … nanti elo diliatin bapak-bapak komplek.”


“Udah biasa mah gue diliatin om-om.”


Nabe masuk ke dalam rumah Andi, disambut oleh Aisyah yang lagi nonton berita selebriti. Ia tampak berdiri karena kehadiran Nabe, lalu menyalami teman abangnya tersebut.


“Walaikumsalam Kak.” Aisyah komen di dalam hati karena hijab Nabe udah kaya cewek ngabers, hijabnya cuma dililitin doang. Tidak lama kemudian, Aisyah membisik ke Andi, “Cewek yang mana lagi sih, Uda? Tobaat ….”


“Hush ….” Andi menjauhkan wajahnya sembari tersenyum kepada Nabe. “Nabe, anggap aja rumah sendiri. Mau makan, ada cemilan-cemilan Minang di meja.”


“Oh iya ya? makasih banget.”


“Kita di belakang aja ….”


“Iya nih asyiknya di belakang aja ya kan?” Wajah Nabe tampak menggoda.

__ADS_1


Andi tidak mau ambil pusing, lalu mengambil cemilan-cemilan rumah untuk dibawa ke teras belakang. Lagi pula, ikan nila kolam kecil Andi udah kangen makan kerupuk. Duduklah Nabe berhadap-hadapan dengan Andi. Andi sedikit heran kenapa nih anak santun banget gayanya, caranya duduk aja udah ga kaya Nabe yang sebelumnya.


“Bagusan lo pakai hijab begini deh ….”


“Kaga, nanti penghasilan gue berkurang Hehehe ….”


Tawa Andi meluncur tatkala mengingat profesi lama Nabe yang sudah ia tinggalkan tersebut. Ia senang jika Nabe sudah berubah dan tidak akan pernah lagi membuka jasa kencan berbayar itu. Sesekali Andi menjadi penyelamat hidup seseorang dan menjauhkannya dari jerat kehidupan malam yang palsu.


“Terkadan gue mikir lo udah berubah ya ….”


Nabe menatap pada Andi. “Oh ya? Berubah gimana? Iya sih, gue tambah bohai aja.:


“Enggak itu, blok! Maksud gue, ya lo dulu kaya berharap banget gitu sama gue. Tapi lama-lama, kita udah kaya kawan aja.” Andi tersenyum. “Lo masih suka sama gue kaga?”


“Apaan sih lo ge`er banget?” Nabe membuang matanya ke arah lain. “Ya masih lah anjir, gue masih suka sama lo.”


“Tapi lo kok ga kaya suka sama gue. Ya, biasa aja gitu. Menurut gue, bagusnya begitu. Kita ga ada jarak satu sama lain.”


“Lo sih goblok ga mau sama gue. Coba aja lo mau sama gue, pasti banyak keuntungannya.” Kedua alis Nabe terangkat. “Tau sendiri, kan?”


“Heleh … ngomong dimulut doang. Padahalnya mau.” Nabe mengejek Andi dengan jari tengahnya. “Gue begini karena gue ga mau lo itu ngerasa ilfil, terganggung, atau yang lain. Lama-lama, semuanya udah kaya biasa aja. Mungkin, nanti suatu saat gue ga suka lagi sama lo.”


“Suka aja terus sama gue. Biar jadi sadgirl gitu, update story WA sedih-sedih kek orang-orang Heheh ….”


“Gara lo tuh gue naik berat badan!” Tangan Nabe menepuk bahu Andi. “Gue yang galau malah banyak makan!”


“Kan bagus tambah bohai heheh ….” Andi membisik kepada Nabe kemudian, “Sebaiknya lo jadian sama Ari Kiting aja. Dia setia.”


“Enggak … dia jarang mandi!”


“Lah, gue juga jarang mandi,” balas Andi dengan cepat.


“Tapi lo ganteng ….” Nabe malah menyenggol Andi.


“Ih jiji gue!”

__ADS_1


Candaan seperti itu memang sudah biasa dilakukan oleh Andi dan Nabe. Mereka udah seperti kaya temen dekat, meskipun sebenarnya Nabe menyukai Andi. Namun, menurut Andi lebih baik Nabe begitu daripada menyimpan perasaannya, terus galau. Candaan-candaan seperti ini sangat menghidupkan suasana dan menambah keeratan pertemanan mereka.


Sekitar tiga puluh menit mereka menunggu sambil main mobail lejen berdua, datanglah Ari Kiting dengan wajah lusuhnya. Rambutnya itu udah klewer-klewer kaya mie karena jarang dirapihin. Modelan Ari Kiting memang kaya kaka tingkat semester empat belas, padahal baru aja semester enam.


“Itu adik lo atau gimana?”


“Iya, kenapa?” tanya Andi.


“Cantik bener adik lo. Kok beda sama elo sih?” tanya Nabe balik.


“Lah ganteng begini dikirain jelek. Mata lo picek!” sindir Andi.


“Ya udah … ayo bikin tugas. Kalian malah main  mobail lejen!”


Nabe menepuk kaki Ari Kiting dengan kipasnya. Udahlah datang paling lama, malah bilang mereka kerjaannya main mulu.


Setelah itu, mereka mengerjakan tugas bersama di gazebo belakang rumah Tami. Memang, area rumah Tami ini udah kaya hak milik sehingga fasilitas apa pun bisa digunain oleh Andi sendiri. Begitu pula Tami, ia pun bisa menggunakan fasilitas rumah Andi kaya milik sendiri. Enaknya di gazebo belakang rumah Tami itu ialah sejuknya udara karena dinaungi oleh dua pohon rambutan yang sering mereka panjati sewaktu kecil. Kalau lagi berbuah, puaslah Andi bergelantungan kaya beruk minta kawin. Kata Sarah begitu, Andi teriak-teriak kaya monyet lagi birahi.


Tugas sudah selesai, Andi pun laper. Aisyah berbaik hati memasakkan mereka bertiga mie instan. Ini mumpung ada kawannya Andi. Jika tidak, Andi mana boleh masak mie instan sama mamanya.


“Aduh … enak banget masakan mie calon gue,” ucap Ari Kiting.


“Nyadar muka hey!” Nabe mencibiri pria itu.


“Oh iya Andi, kemarin ada senior yang nyariin lo.”


Pernyataan Andi membuat ia menoleh pada Ari Kiting.


“Siapa?” tanya.


“Anak Jurusan Bahasa Inggris. Katanya, dia ada urusan sama lo.”


Andi mengingat-ingat lagi dengan Jurusan Bahasa Inggris. Barulah teringat waktu itu ia pernah hampir menghajar junior dari jurusan itu. Andi pun menghela napas, kayanya dia bakalan berurusan secara fisik lagi dengan senior.


***

__ADS_1


__ADS_2