
Mustahil
Malam minggu telah tiba. Ini lah malam yang paling ditunggu-tunggu oleh jones satu dunia. Lah kok ditunggu-tunggu, sih? Ya iyalah, soalnya mereka bakal ngadain musyawarah besar ditempat tongkrongan yang semua anggotanya jones semua. Mereka bakal membahas kiat-kiat kejonesan untuk satu minggu kemudian, dan mereview kegiatan para jones selama seminggu yang lalu.
LINE
Pujaan Tante (4 anggota)
Nanang : Bro, ke alfamart yuk. Ngopi woi, diam-diam bae!
Agus : Ayok, mumpung lagi ga punya cewek nih.
Felix : Lah, kapan emangnya lo punya cewek?
Agus : Ga pernah, sih. Kalau adik lo yang kawaii itu mau sama gua, ga apa-apa sih.
Andi : Kuy, Alfamart. Push rank sekalian. Bentar lagi naik Epic.
Agus : Ajak Tami sama Sarah ya.
Andi : Tami lagi pergi sama papa mamanya.
Agus : Aduh, mertua gua udah datang ke rumah, ya?
Andi : Bisa aja lo tai kebo. Kuy, OTW no bacot. Sekalian gua ngajak Sarah kalau mau join.
Felix : Ga apa-apa tuh dia main sama kita? Dikirain cabe ntar kalau nongki tepi jalan sama laki-laki.
Andi : Dia itu setengah laki-laki. Punya batang.
Nanang : Gue screenshoot nih. Gue kirim ke Sarah.
Andi : OTW no bacot.
Suara motor Supra milik mamanya mengaum tatkala Andi mengengkolnya. Knalpot yang ajigile menambah kebisikan di dalam garasi. Sudah lama Andi mengganti knalpotnya biar keliatan keren dan berharap bisa ngalahin motornya Dilan.
Di perjalanan tampak cewek lagi bawa barang di dalam kantong asoy. Andi iseng-iseng mendekatinya. Dari cara jalannya yang agak ngangkang, Andi rasanya tahu siapa cewek itu.
Teng-teng-teng-teng (ceritanya ini bunyi motor Andi.)
"Kamu Mie-lea, ya?" tanya Andi.
Terdengar suara-suara MOBA analog yang khas dari handphone yang ia mainkan.
Enemy double kill!!!
Enemy triple kill!!!
Enemy maniac!!!
Enemy Savage!!!!!!!!!!!!!!!
Mendengar suara itu, Andi jadi tertawa di dalam hati. Gamenya sudah tercium bau-bau kekalahan. Masa' lawannya bisa savage gitu. Ya udah, bentar lagi turun bintang. Masalahnya, dari tadi Sarah enggak ada ngelihat sedikit pun ke arah Andi. Padahal dari tadi dia udah manggil Andi.
"Dancoeg!!!! Squad kamprett!!! Dasar bocah dekil!!! Kalau lo nge-lag jangan ngajak mabar, ***!!!! Kan turun bintang. Untung aja masih di mythic." Sarah bercarut-marut di tengah jalan.
Ternyata rank Sarah di Em El udah tinggi banget. Andi cuma di Epic.
__ADS_1
Uanjir, masa' gua kalah sama cewek, ucap Andi dalam hati.
Andi kembali memanggil Sarah dengan ala godaan pilem Dolan.
"Kamu mie-lea, ya?" tanya Andi lagi. Tapi Sarah masih ga ngelihat.
Telunjuk Sarah tampak menekan kuat-kuat layar handphone-nya. "Gue report lo!!! Malam minggu memang banyak bocah, ***!"
Sarah memang nge-gas keselnya. Ga abis-abis kata kasar yang mau diucapin. Sementara itu Andi serasa cuma jadi lalat lewat yang enggak dipedulikan sama sekali. Udah capek lo dia ngegoda ala Dolan gitu.
"Eh, tai unta! Lo denger ga gua manggil dari tadi?" Andi sudah mulai kesal. "Kamu Mie-lea, ya??"
Kali ini Sarah baru sadar kalau ada yang sedang manggil dia. Sarah menoleh kepada Andi. "Eh, ternyata elo, Ndi ... sejak kapan lo di sini?"
Ya Allah ... cewek kok budeg gini, ya ...
"Dari tadi, monyong! Gua manggil-manggil lo, 'kamu Mielia ya? Kamu Mielea ya?' tapi lo ga ada nyaut dikit pun. Malah fokus sama Em El lo yang turun bintang gara bocah-bocah malam mingguan!!"
Sebelah alis Sarah terangkat. Jemarinya menunjuk Andi. "Lah, bocah ngapa, yak? Jadi lo ngapain manggil-manggil gue?"
"Allahuakbar ... kalau enggak temen udah gua gebuk lo pakai kapaknya Balmond," ucap Andi sedikit kasar. "Ke Alfa yuk, Agus sama yang lain nungguin."
"Enggak ... gue disuruh nungguin rumah sama Papa. Dia pergi," balas Sarah.
"Di kantong itu apaan?"
"Mie instan, makan malam gue." Sarah menatap mata Andi yang memicing karena merasa lucu dengan kalimatnya. "Ada yang lucu ya kalau gue makan mie instan?"
"Hahahaha ... kaya akhir bulan aja makan mie instan. Udah ... ikut kami aja. Kalau soal makan, Nanang kan duitnya lagi banyak."
"Ga ada yang seenak mie instan di malam minggu." Sarah ***-remas mie instan di dalam kantong asoy.
Krenyes-krenyesnya sangat menggugah selera. Apa lagi ditambah dengan mata sapi telor plus bawang goreng di atasnya, aduhai sangat menggugah selera.
"Oke, tapi lo beli sendiri ya mienya. Yang gue beli cuma dua dan gua mau makan mie instan double malam ini."
Rasanya ada yang menganehkan dari sebungus mie instan dengan merek yang tak boleh disebut, soalnya ini bukan lapak endorse.
Kalau di makan satu bungkus, rasanya kurang. Kalau dicoba makan dua bungkus, eh malah kekenyangan banget. Susah buat ngabisin dua bungkus. Maunya ada porsi mie instan yang isinya setara dengan satu setengah bungkus biar porsinya pas banget.
Yang di atas curhatan temen author yang anak kos.
Andi tak henti ***-remas mie instannya waktu nungguin Sarah ngerebus mienya. Sarah benar-benar memasak dua bungkus mie instan, sedangkan Andi cuma satu. Soalnya takut ga habis. Ntar malu-maluin di depan Sarah.
"Gue makan duluan, ya." Sarah mengaduk mie instan dobel. "Lo mau minum apa? ada teh, kopi, jus, sirup ... air biasa aja, ya?"
"Serah lo!"
Uap rebusan mengepul saat Andi meniriskan mie instannya. Sudah saatnya mise ini diserang secepatnya sebelum mengembang. Semerbak wangi dari bumbu tercium saat Andi membukanya dengan cara yang paling lemah, yaitu gunain gunting. Karena cara yang paling legend ialah dengan tanpa menggunakan alat apa pun, hanya menggunakan tangan kosong saja.
"Ih, dasar manusia lemah!!! Buka itu pake gunting," kata Sarah saat ingin membuat teh es manis.
"Ya kan gua jarang buat mie. Mama ngelarang bikin sering-sering."
"Lemah ... dasar lemah ... dasar payah." Lidah Sarah menjulur untuk meledek Andi.
Bulan tersenyum manja saat bertemu dengan sepasang insan yang lagi makan mie instan di teras rumah. Tak mau kalah, sekumpulan bintang berkedip untuk memainkan nyanyian malam. Sementara itu, dingin malam tak menjadi masalah. Andi merasa sosok di hadapannya sudah memberikan kehangatan yang lebih.
Ia tak bisa menahan matanya dari cara Sarah tersenyum padanya. Mulutnya terbungkam oleh sorot mata Sarah yang indah lengkap dengan lentik bulu mata laksana gulungan ombak nan bergulung. Betapa indahnya Sarah dilihat ketika dilanda jatuh cinta. Bersemi bunga-bunga yang merekah dalam hati.
Namun, Andi menaikkan alis melihat tingkah Sarah yang satu ini. Mulutnya ga jadi ngunyah lagi. Terperongoh melihat Sarah dengan sedemikian perilaku abstrak yang kadang bikin ilfil Andi.
__ADS_1
Makannya huluk model beginian, ya?
Sarah menegakkan lututnya dan membuka tangannya lebar-lebar saat menyendok, bagai tukang yang lagi makan sehabis kerja. Suap Sarah setara dengan dua sendok suapan Andi. Gede banget. Kalau bisa, sama piring-piringnya yang ditelen.
"Eh, ga di makan?" tanya Sarah sambil ngunyah mienya.
Mata Andi dengan cepat mengarah ke piring "Eh, iya ... nih gua makan."
"Lah, kaya anak dua tahun baru makan suapan lo. Yang banyak dong ... biar laki," kata Sarah. Dia pun mencontohkan suapannya kepada Andi. "Kaya gini, nih."
"Kalau keselek, lo mati gimana?"
Sarah tertawa. Tangannya menggapai gelas teh es dan meminumnya. "Mie terlalu lemah untuk buat gue mati."
"Tapi, gua yang ga kuat kalau lo yang mati." Andi menatap mata Sarah dalam-dalam, lalu meminum teh es ditangannya. "Mati itu berat, lo aja yang mati dah."
"Gombalan lo kampret."
Sendawa Sarah menggelegar tatkala sepiring mie instan dobel dihabisi dalam waktu lima menit. Sementara itu Andi masih ada sisa beberapa suapan lag walaupun dia cuma masak satu bungkus. Satu bungkus ini saja udah buat Andi senang banget. Mamanya di rumah anti banget kalau Andi makan mie instan. Kata mamanya, mie instan bikin usus bolong dan micinnya itu bakal bikin otak makin goblok.
"Sini, biar gue cuci sekalian piring lo," pinta Sarah.
"Jangan, biar gua yang nyuci."
Sarah mengikat rambutnya agar tidak terkena percikan air. Bagi Andi inilah momen tercantik dari seorang Sarah. Setiap gerakan dalam mengikat rambutnya terlihat begitu cantik bagai sebuah tarian yang indah jika dipandang. Ingin sekali dirinya menyentuh rambut itu dan mengelusnya sekali lagi.
"Sarah, lo suka sama gua, kan?"
Sarah terbatuk sesaat. Kalimatnya terasa menyumbat tenggorokannya.
"Apa lo bilang?" Sarah kembali menyuci piring. "Pede amat lo."
"Lo selalu ngehindar kontak mata kalau kita bicara. Tatap gua, Sarah." Andi memutar tubuh Sarah untuk tetap berhadap-hadapan.
"Kenapa sih lo ga nyerah? Kan gue udah bilang, jangan pernah berharap lebih dari gue."
"Karena gua suka sama lo. Gue ga peduli sama perilaku lo itu yang kadang bikin gue ilfil. Dan gue ga peduli sama tingkah gue yang sering banget buat lo ilfil sama gua. Gue tetep suka sama lo."
Sarah mengelap tangannya. Ia tak ingin berlama-lama di daput dengan percakapan yag seperti ini.
"Gue udah nolak lo. Prinsip itu ga bisa dirubah."
Langkahnya begitu cepat meninggalkan Andi. Sebetulnya ia tak ingin membawa Andi ke rumahnya karena kemungkinan besar percakapan pasti akan mengarah ke sana. Di saat itu juga, Andi menyusulnya ke luar rumah.
"Semua alasannya adalah Tami, kan? Gua tau. Tami udah cerita semuanya sama gua. Cerita tentang alasan lo, cerita tentang perasaannya ke gua, dan tentang perasaan lo terhadap gua. Gua tau lo suka sama gua. Dan lo ga mau dianggap sebagai saingan sama Tami."
Air mata Sarah menetes perlahan. Begitu sakit tatkala dirinya dianggap saingan oleh Tami saat itu. Ia tak ingin merebut siapa-siapa dikala orang lain yang lebih pantas menginginkan hal yang sama. Tami lebih mengerti Andi daripada dirinya yang hanya seorang gadis kemarin sore yang tidak sengaja kenal Andi dari kelakuannnya yang brutal.
"Oke, gue suka sama lo. Tapi, bukan berarti gue mau sama lo." Sarah menatap Andi. Matanya banjir oleh air mata yang menetes.
"Tami ngerti kalau gua cuma suka sama lo. Tami senang jika gua tetap merjuangin lo, Sarah. Tami juga ga punya sedikit pun perasaan iri sama lo. Jadi, apa alasannya lagi? Gua ga pernah tau alasan sebenarnya lo itu apa."
Sarah hening sejenak. Ia biarkan air matanya habis terkuras.
"Tolong pergi dari rumah gua!!!!!"
Bulu kuduk Andi tidak berhenti untuk merinding. Bukan karena telah melihat hatu, melainkan telah melihat Sarah yang begitu marah. Sampe-sampe Andi jadi ter-oesir dari rumah Sarah. Ketika ia berbaring di kamarnya, datanglah sebuah pesan LINE dari Sarah.
Gua bakal mikirin lagi tentang perasaan lo, asal lo masuk 10 besar buat semester ini.
Bulu kuduk yang tadi merinding, kini menjadi rontok semua. Pesan itu lebih menyeramkan dari pesan LINE bendahara yang nagih uang kas selama 5 bulan. Andi terduduk di depan cermin kamarnya. Ia kembali meratapi wajahnya. Rasanya ga ada yang kurang lagi dari Andi. Ada sih, otaknya aja yang kurang. Selama ini tidak pernah ia merasakan sesusah ini mendekati cewek. Kembali ia melihat pesan LINE dari Sarah.
__ADS_1
Permintaan lo sama mustahilnya dengan macarin oshi gua, Natalia JKT48.
***