
“Eh tahu ga Tam, Nabe itu sumpah pakaiannya sexy banget. Kemarin gue kan sama Andi lagi jalan ke pasar malam, ketemu dia sendirian makan gulali. Gue ngerasa aneh banget kenapa ada cewek-cewek makai pakaian sesexy itu sih.”
Meja makan Andi ternyata sudah menjadi ajang rumpi no sikret. Terkadang Andi lupa kalau mereka berdua itu tetap aja cewek yang suka ngerumpiin ini itu. Untung saja Sarah tidak memakai panggilan `jeng` ke Tami\, kalau iya\, sudah seperti ibu-ibu elit yang sedang membicarakan sesuatu.
“Eh iya Sar? Masa sih? Sumpah aku kaga tahu itu siapa Nabe. Kamu enggak khawatir gitu kalau Andi nanti ngelirik Nabe?”
“Ih kayanya enggak deh, soalnya gue itu tahu gimana Andi. Biasanya nih Andi itu lebih ngelirik cewek yang enggak berlebihan banget cara pakaiannya. Kaya gue gitu ….”
“Kalau aku jadi kamu, bakalan aku cari tahu siapa Nabe.”
Sarah menutup bibirnya memakai telapak tangannya ketika tertawa kecil. “Haha … enggak kerjaan gue juga kali begitu. Kayanya Andi juga enggak open sama cewek itu. Jadi tenang aja.”
Andi memasang wajah datar. Sedari tadi ia mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh kedua gadis itu.
“Gue di sini loh. Gue dengeeer … ngerumpi kok langsung di depan orangnyaaa,” sindir Andi.
“Ada perlu apa Nabe ke elo?” tanya Sarah.
“Dia sakit, jadi mau titip absen ….”
Sarah menutupi wajahnya agar Andi tidak tahu apa yang sedang ia sampaikan kepada Tami. “Kan lihat tuh, cewek itu pemalas. Masa mau nitip absen.”
“Heh, enggak boleh ngerumpiin orang lain … biasa aja kali mahasiswa nitip absen.” Andi menatap kedua gadis itu. Ternyata mereka berdua menggeleng. Andi baru sadar kalau kedua makhluk di hadapannya ini berbeda dengan mahasiswa pada umumnya. “Oh iya, itu tidak berlaku bagi kalian.”
“Gue titip absen? Auto goblok ketinggalan mata kuliah kedokteran. Lo kira main-main apa?” Sarah menoleh pada Tami. “Lo juga kan, Tam?”
“Aku juga, jangankan titip absen, nilai rendah di STAN aja kena DO.”
Andi menepuk jidat. Ternyata hanya dirinya sendiri di sini yang pernah titip absen, sering malah dengan meminta bantuan Ari Kiting.
Keesokan harinya, Andi kembali berkuliah seperti biasa. Bengkak di keningya kini sudah kempes karena ia kompres dengan air dingin setiap saat. Tentu saja Andi tidak ingin tampil di muka umum dengan wajah habis kena pukul. Setidaknya harus normal, meskipun tidak kinclong. Seperti biasa, ia mengambil tempat duduk di samping Ari Kiting yang sudah datang terlebih dahulu. Ia melihat ke bangku kosong di depannya. Nabe selalu duduk di sana, bahkan jika Andi merubah tempat duduk, selalu saja Nabe berada di depan.
Mata kuliah berganti, dosen pun berganti. Makan siang sudah lewat, bahkan ibu kantin mulai menagih bon hutang Andi. Dengan wajah kesal, Ari Kiting terpaksa meminjamkan uangnya dahulu karena Andi beralasan belum pergi ke ATM untuk ngambil uang jajan. Hingga mata kuliah berakhir, Nabe tidak kunjung datang untuk berkuliah. Andi tetap menitipabsenkan Nabe meskipun hal itu tidak pernah Nabe pinta darinya.
Keesokan harinya pun sama, Nabe tidak juga datang ke kelas. Ari Kiting yang biasanya selalu stalking-stalking medsos Nabe turut tidak mengetahui Nabe ke mana. Andi menyempatkan diri untuk menanyai teman perempuan sekelasnya yang disinyalir sering berkomunikasi dengan Nabe, tetapi mereka tetap menjawab tidak tahu menahu kenapa Nabe tidak hadir di kelas.
Mulai saat itu pun Andi tersadar. Nabe memang terlihat famous di kalangan angkatan dan memiliki banyak teman yang dikenali dari pengalaman berorganisasi, ternyata Nabe tidak benar-benar menjalin keakraban dengan mereka. Teman hanya sebatas di satu tempat dan di satu waktu, tidak berlanjut sebagai hubungan privat untuk keakraban. Bayangkan saja, sudah dua hari Nabe tidak hadir di kelas, tidak ada satu pun teman perempuan yang mengetahui Nabe sedang ke mana. Seminimalnya teman sekelas yang perempuan membicarakan ke mana Nabe pergi, meskipun sebenarnya tidak merasa peduli. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh mereka.
Mungkin Andi mengetahui jika Nabe mengatakan sedang sakit demam. Biasanya Nabe selalu hadir, meskipun terkadang wanita itu berkata sedang tidak enak badan. Di hari ketiga, Andi pun mulai curiga terjadi apa-apa dengan Nabe.
“Lo biasanya tahu Nabe lagi ngapain. Dia mandi di bath up aja lo tahu.” Andi menoleh kepada Ari Kiting yang sedang merapikan rambut tegangnya itu.
Rambut Ari Kiting meskipun di sisir berkali-kali, tetap saja tidak berubah. Ia masih tetap pede kalau rambutnya sebagai mahkota paling sexy sedunia.
“Itu mah gue tahu dari story instagram-nya Nabe yang di-close friend waktu itu. Sumpah dia sexy banget.” Ari kiting menurunkan tangannya dari rambut. “Kalau yang ini, gue bener-bener enggak tahu Nabe ke mana. Bikin story aja gue enggak tahu.”
“Oh gitu ya, jadi heran gue.” Andi menggaruk rambutnya.
“Sejak kapan lo peduli sama Nabe?” tanya Ari Kiting.
“Sejak kapan ya … sejak tadi sih. Yang namanya temen kan heran kenapa dia enggak masuk udah tiga hari ini. Beruntung anaknya pinter, kaga masuk kuliah pun materi udah nempel ke otaknya.”
Andi melihat lambaian tangan dari arah pintu. Lambaian tangan itu tertujukan kepada Andi. Berkat hal tersebut, Andi jadi panik kenapa Tasya bisa tahu Andi sedang ada di kelas ini. Seluruh teman sekelas pun menatap Andi, soalnya yang datang ini merupakan cewek selebgram fakultas. Sebening-beningnya cewek di kelas ini, lebih bening lagi si Tasya itu.
Aduh … kenapa dia ke sini sih?! protes Andi di dalam hati.
__ADS_1
Agar tidak menarik perhatian, Andi langsung mengajak Tasya menjauh dari kelas. Mumpung dosennya dari tadi enggak datang dan diinformasikan jika kelas akan dipindahkan setelah makan siang nanti.
“Lo ada perlu apa ke kelas gue?” tanya Andi di tempat yang relatif sepi.
“Gue kebetulan lagi berjumpa dengan anak organisasi jurusan kalian. Sekalian aja gue jumpain lo. Makan siang yuk,” pinta Tasya tanpa ragu.
“Kalau cuma itu, lo bisa chat gue. Jadi enggak ke kelas gue, gue jadi segan dilihatin temen-temen karena lo ke sana.”
“Kan gue enggak ada kontak WA-nya elo. Selama ini kan gue chat elo di instagram.”
Andi baru sadar kalau selama ini mereka memang tidak saling menyimpan nomor. Tapi, Andi tidak peduli juga, hanya memenuhi kontak orang-orang yang tidak penting.
“Oh gitu … okelah.” Andi tidak mau melanjutkan percakapan mengenai kontak WA. “Ya kali gue makan siang sama elo berdua. Kaga lah. Apa kata temen-temen elo nanti.”
“Ada Naila juga kok, kami janjian tadi buat makan di kantin. Ayolah … kan elo juga lagi free, enggak ngapa-ngapain.”
“Ya udah oke ….”
Ajakan makan siang di kantin itu diterima oleh Andi. Andi tidak punya alasan untuk makan di tempat lain karena sudah langganan ibu kantin dengan bon yang dibayar setiap minggu. Tidak ada tempat makan selain di kantin fakultas karena tempatnya luas dan tidak panas. Angin sepoi-sepoi sering mengiringi kalau sedang makan siang, ditambah lagi segelas kopi buatan mbak-mbak kantin yang cantik.
Setelah mengambil tas, mereka berdua pergi ke kantin tersebut. Andi memilih meja faforitnya yaitu di sudut kanan yang langsung mengarah ke kolam Jurusan Perikanan. View di sana serasa makan di tepian danau. Mereka menunggu sebentar Naila yang sudah berjanji untuk datang.
“Hallo?” Tasya mengangkat panggilan di handphone miliknya. Dua puluh detik mereka berbicara melalui handphone. “Oke deh, enggak apa-apa. Andi ada di sini kok … oke … santai aja … bye Nai ….”
Andi melihat Tasya yang menutup layar handphone. “Kenapa Naila?”
“Dia ada rapat organisasi mendadak. Jadi, dia enggak ke sini. Kayanya kita makan berdua aja dulu deh ….”
Kepala Andi melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada teman sekelasnya yang melihat. Kalau anak kelas lain, Andi mah bodo amat. Mau diomongin apa aja Andi enggak peduli. Soalnya banyak yang enggak Andi kenal secara pribadi, cuma tahu nama dan wajah saja.
“Lo ngebon di kantin fakultas kita?” tanya Tasya.
Tidak ada gunanya menjaga marwah sebagai pria ganteng di depan Tasya, hanya menghabis-habiskan energi saja. Lagi pula, Andi ngebon karena lebih senang jika sekali bayar saja, bukan karena tidak punya uang.
“Iya, gue bukan kaya temen-temen cowok elo yang make mobil. Motor gue butuT noh ….”
Andi merendah diri dengan menumbalkan motor butut mamanya tersebut. Sebenarnya Andi mempunya satu motor gede 150 Cc yang dibelikan orangtuanya semenjak SMA. Tetapi, motor itu tidak pernah diajak keluar, hanya dipanaskan di rumah saja. Mending naik motor mamanya, hemat bensin dan ringan kendarai ke mana-mana. Jikalau ingin jalan-jalan cantik bersama Sarah, Andi meminjam mobil mamanya atau memakai motor trail milik Sarah.
“Enggak usah ngerendah deh. Gue tahu sebenarnya elo itu bisa aja begaya setara cowok-cowok yang elo bilang itu. Lo sendiri aja yang enggak mau, kan?”
“Ga ada gunanya, yang ada bikin ribet.”
Andi memanggil mbak-mbak kantin cantik tersebut. Pesanan makan siang hari ini dimasukkan ke dalam bon utang Andi.
“Minta nomor WA lo dong,” pinta Tasya.
“Buat apa?” tanya Andi singkat.
“Ya enggak ada, lo kan temen gue. Jadi wajar aja dong gue punya,” balas Tasya.
Merasa setengah ragu Andi memberikan nomor teleponnya kepada Tasya. Andi berharap ia tidak mengganggu dirinya ketika bermain game atau pun sedang bersama Sarah. Mereka berdua kini saling menyimpan nomor telepon satu sama lain.
“Lo kenal Nama kan secara pribadi?” tanya Andi.
“Kok kita bicarain dia yaa ….”
__ADS_1
Gestur tubuh Tasya menandakan ketidaksukaan, meskipun Andi tidak menyadari hal tersebut.
“Dia udah tiga hari ini enggak masuk sekolah. Temen-temen sekelas malah pada enggak tahu dia ke mana atau lagi ngapain. Aneh aja anak itu bolos kuliah, padahal rajib banget.”
“Dulu kami sering komunikasi sewaktu masih ada di BEM. Sekarang paling cuma sekadar ngelihat story WA aja,” jawab Tasya.
"Sebenarnya dia punya temen ga sih?”
Tasya mengangguk. Setahunya, Nabe itu memiliki banyak kenalan, terutama dari kalangan organisasi yang pernah ia masuki. Namun, sekarang Nabe tidak lagi bergabung di organisasi kampus.
“Ada kok, malahan banyak. Tapi kayanya dia sering gaul sama para senior. Senior-senior gue pada kenal sama Tasya. Di ulang tahun gue, dia juga mainnya dengan para senior kalian. Tapi kebanyakan laki-laki sih, cewek pada jarang kayanya.”
“Lo pernah bilang kalau Nabe itu pernah dipaksa begituan sama pacarnya?” tanya Andi untuk memastikan penjelasan Tasya di cafetaria rumah sakit.
“Rumur sih itu, gue enggak tahu kepastianya. Pacarnya Nana itu modelannya rada-rada cowok fakboy sih. Mungkin aja dimanfatin.Tetapi, senior-senior gue bilang kalau Nabe itu sering jalan sama lain loh ….”
Tanpa dijelaskan, Andi sudah tahu jika Nabe sering jalan dengan cowok lain. Kan dia masuk ke dunia per-BO-an. Tidak heran jika Nabe gonta-ganti pasangan, meskipun bertarif seusai akad yang sudah setujui oleh kedua belah pihak.
“Biarin aja deh, kaya kita bersih aja. Sekarang lo lagi makan sama cowok yang udah pacar,” sinir Andi.
“Oh iya juga ya. Hehe … maaf. Gue terkadang lo itu udah punya cewek.” Ia menatap nasi ayam yang sudah datang. “Beneran kan enggak cewek lo enggak marah kalau lo di sini?”
“Pastinya marah dong. Siapa sih yang enggak marah kalau pacarnya duduk berdua satu meja seperti ini. “ Andi menunjuk Tasya dengan ujung sendok. “Gue punya alasan kalau sebenarnya mau makan sama Naila. Sarah kenal baik kok sama Naila.”
“Seneng deh ngelihat pasangan saling pengertian. Gue susah-susah gampang nyari cowok.”
“Siapa sih yang enggak mau sama lo? Temen sekelas gue pasti mau sama elo. Lo aja kali yang pemilih.”
“Termasuk elo?” tanya Tasya sembari memerengkan wajah.
“Gue cukup punya satu cewek,”
“Tapi sebenarnya mau kan?” pancing Tasya kembali. Alis matanya naik turun agar Andi ragu untuk menjawabnya. “Haha .. gue canda.”
Percakapan mereka hari ini selesai ketika makan siang sudah habis tersantap. Tasya berpamit pergi untuk kembali berpetualanga. Bon utang milik Andi untuk hari ini meningkat seratus persen. Ia terpaksa mengeluarkan uang lebih di akhir pekan nanti.
“See you later, Andi ….”
“Oke … oke …,” balas Andi dengan cuek.
Kelas setelah jam makan siang pun sudah berakhir. Andi berinisiatif untuk mencari tahu keadaan Nabe dengan mengunjungi kosannya. Masker Andi gunakan agar tidak dikira cowok yang mengunjungi Nabe bergonta-ganti. Kalau mereka hapal wajah Andi dan ternyata tahu siapa Andi, urusannya malah makin jadi sulit.
Nomor hape Nabe tidak kunjung memberikan jawaban. Ia berkali-kali menelepon Nabe unttuk memberitahu jika ia sudah di bawah kosannya, tetapi wanita itu tidak kunjung membalas. Andi pun berinisiatf untuk mengetok sendiri pintu kamar kosan Nabe tersebut.
“Andi?”
Wajah Nabe yang pucat kini tampak ketika ia membuka pintu. Wanita itu hanya memakaikan tank top hitam dan hotpants setengah paha yang bikin Andi menelan ludah.
“Pasang baju dulu, baru ketemu gue ….”
“Enggak usah, lagian biar terbiasa heheh ….”
Andi langsung menutup pintu. “Pasang baju dulu.”
Setelah itu, Nabe meminta bercerita di dalam kosan berdua. Entah apa yang akan terjadi.
__ADS_1
***