
Berjam-jam di perjalanan membuat mereka sangatlah lelah. Perjalanan sedikit tersendat karena ada beberapa titik macet yang harus dilewati. Selain itu, mereka perlu berhenti sejenak untuk makan besar di siang hari dan singgah ke masjid untuk beribadah. Satu lagi yang jadi masalah, Sarah selalu minta berhenti kalau ada jajanan yang pengen dia beli. Terpaksa deh Agus menepikan mobil dulu agar Sarah bisa diem dan tidak banyak bicara. Bisa-bisa Agus enggak konsen nyetir kalau Sarah ngamuk-ngamuk minta jajan.
Sekitar pukul tiga sore mereka hampir sampai di villa yang berada di sekitar kawasan Gunung Merapi, Yogyakarta. Villa berdiri pada pegunungan tinggi yang menampakkan langsung pemandangan Gunung Merapi secara sempurna. Sebelum sampai ke sana, takjub sudah menggema pada setiap bibir yang memerhatikan. Maklum, anak kota biasanya jadi kampungan kalau ke tempat-tempat begini. Mereka sempat-sempatnya berhenti buat fotoin diri dulu pada view yang cocok.
Sebelah kiri merupakan bukit pegunungan dengan berbagai hasil pertanian masyarakat sekitar. Terdapat sayur mayur yang ranum warna hijaunya, tanaman bawang yang siap dipanen oleh pemiliknya, serta tumbuhan-tumbuhan liar yang menjadi tempat para burung untuk bersarang. Sejuk lagi asri daerah yang dingin ini, tiada bangunan tinggi berani untuk menghalangi setiap pemandangan. Sungguh menyajikan pemandangan kesederhanaan dan alami dari anugerah Tuhan.
Kaca mobil dibuka. Udara segar memasuki paru-paru dengan sempurna. Salam sapa pada masyarakat desa yang sempat lewat turut dilakukan oleh mereka. Senyum masing-masing bibir terpancar tatkala lari anak-anak desa mengingatkan betapa bahagia kehidupan masa kecil. Tiada satu pun berbaju, hanya mengenakan celana pendek basah sehabis bermain di sungai-sungai irigasi lahan pertanian.
Potret tersebut masih belum seberapa tatkala mereka sampai ke villa. Terdapat bangunan villa artistic tingkat dua yan berdiri di tepi pegunungan. Gerbang pagar bergerak oleh bantuan seorang penjaga villa agar mereka semua bisa melewatinya. Mereka pun bisa melihat luasnya kawasan villa yang ternyata memiliki satu bangunan lagi di belakang. Mobil terparkir di samping taman depan yang dihiasi oleh air mancur kecil. Gemericik airnya dimanfaatkan oleh burung-burung untuk sejenak mengambil minum.
“Gila … ini bener-bener indah. Gue baru pertama kali nginep di villa,” ucap Sarah dengan takjub.
Tubuhnya berputar untuk melihat panorama sekitar. Binar-binar wajahnya tidak mampu menyembunyikan rasa takjub. Paripurna sekali apa yang dipandangi oleh Sarah kali ini, membuat pikiran seketika melepaskan seluruh beban yang ada.
“Selamat datang di villa gue.” Pram melangkah bersama seorang bapak paruh baya berpenutup kepala blangkon khas orang Jawa. “Ini Bapak Santoso. Bapak ini kenalan orangtua gue yang dipercaya buat menjaga villa ini.”
“Salam kenal, adik-adik. Saya Bapak Santoso. Kalau ada keperluan, tinggal hubungi aja Bapak. Bapak cuma berjaga di malam hari. Kalau siang hari, Bapak bakal ada di rumah. Ada di desa di bawah bukit ini.”
Andi menyalami Bapak Santoso dengan erat. “Terima kasih Pak. Malam nanti bisa dong kita ngopi-ngopi bareng.”
“Ya bisa ….” Tangan Bapak Santoso terbuka ke arah villa tingkat dua tersebut. “Ayo, masuk. Tunggu apa lagi … kalau Tuan Pram mereka nginep di bangunan belakang.”
Mendengar kata tuan, membuat setiap pasang telinga di sana menjadi heran. Pram udah kaya di pilem-pilem, anak sultan yang dipanggil tuan. Andi jadi mandang sinis tuh sama Pram karena dia kalah derajat sama pria itu. Ya kali Andi dipanggil tuan di rumah, kadang aja adiknya sendiri manggil nama kalau lagi kesel.
“Guys … kita ke kamar masing-masing dulu buat ngeletak barang sambil istirahat sebentar. Nanti sore kalau mau ngopi dan nyantuy-nyantuy, tinggal ke bagian belakang villa aja. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sana.”
“Oke … lo di rumah kayu tingkat dua itu?” Andi menunjuk arah belakang kawasan villa.
“Bener, kami bertiga di sana nginepnya. Kan kaga boleh satu villa sama Sarah Haha …..” Tangan Pram mengangkat salah satu koper yang merupakan milik Tami, lalu ia antarkan ke hadapan gadis itu. “Jangan rebutan kamar ya kalian. Cewek jangans satu kamar dengan cowok.”
“Terutama nih dua orang yang pacaran. Kalian kaga mau maksiat kan di sini?” Kevin tertawa kecil kemudian.
__ADS_1
Dengkul Kevin langsung disepak oleh Sarah yang langsung bikin Kevin kesakitan.
“Emang elo yang otaknya udah miring?!”
“Udah … udah … dari tadi nih anak marah-marah mulu. Galak banget!” Andi langsung menggandeng Sarah. Sementara itu Sarah masih menatap sinis Kevin yang mengejeknya dari kejauhan. Kalau dilepas nih Sarah, bisa-bisa ngejar.
Langkah mengetuk ubin pertama lantai villa. Isi dalam villa ternyata tidak kalah artisik daripada tampak luar. Wangi jati tercium dari perabotan yang tersusun rapi. Sentuhan seni terpampang pada ornamen-ornamen indah pada guci yang tingginya hampir sebahu Andi. Mereka seakan melewati sebuah pameran seni Tersenyum Sarah ketika memerhatikan berbagai lukisan dari berbagai seniman yang tertulis nama di bawahnya. Tidak hanya itu, ukiran kayu pada setiap sudut rumah menambah nyawa keindahan pada sunyinya villa ini.
“Ini itu dulu rumah Kakek dan Nenek dari Pram sewaktu mereka muda. Waktu dulu bentuk villa ini bener-bener kaya arsitektur Belanda. Karena dimakan umur, jadi direnovasi. Eh ternyata mereka pindah karena alasan tertentu dan kedua orangtua Pram menginvestasikan rumah ini jadi villa.”
“Oooo ….”
Panjang deh mereka bilang \`O\`-nya. Bukannya sok akrab sama Bapak Santoso, melainkan mikirin seberapa kaya sih keluarga Pram tersebut. Kakek dan neneknya aja punya rumah segini gede, apalagi rumah Pram yang sama sekali belum mereka ketahui. Sungguh Sultan sekali.
“Bapak Santoso, itu lukisan siapa ya?”
“Itu lukisan dari Kakek dan Nenek dari Pram sewaktu muda. Neneknya itu masih terbilang keturunan bangsawan Jawa, sedangkan kakeknya Pram itu keturunan Belanda campuran. Kuda itu sekarang udah beranak pinak dan satu ekornya ada di rumah Bapak.”
Pantes aja tuh anak mukanya ada bule-bule dikit, ucap Sarah dalam hati.
“Oooo ….” Mereka takjub lagi.
“Oo … ooo … mulu ... gue pengen masuk kamar nih.” Andi makin kesel karena kalah kasta sama Pram. Andi kan cuma rakyat jelata, sedangakan Pram ternyata masih keturunan darah biru.
“Silahkan Ananda pilih aja kamar yang diinginkan. Seluruh kamar di villa ini bisa ditempati. Totalnya ada enam kamar. Tinggal dipilih saja.”
“Gue pilih ini ….” Sarah dan Andi ternyata berbarengan bergeraknya.
Andi bertegak pinggang. “Dari tadi gue udah milih ini loh.”
__ADS_1
“Heh … sejak kapan lo bilang mau milih ini?!”
Bukan tanpa alasan mereka memilih kamar tersebut karena terlihat paling berkesan. Pintu kamar tersebut merupakan yang paling besar dan memiliki ukiran pada permukaanya.
Andi membuka kamar tersebut, lalu melemparkan kopernya di atas ranjang.
“Gue mau di sini. Lo pilih aja kamar lain!"
Sarah tidak mau kalah, dia ngeletakin kopernya di atas ranjang dan menyingkirkan koper milik Andi.
“Gue yang di sini. Kenapa sih cowok mau menang sendiri?!” Tangan Sarah melipat di dada.
“Kenapa sih cowok mau menang sendiri?” ucap Andi mengulangi kalimat Sarah dengan nada menyindiri. “Dari tadi perasaan lo deh yang pengen menang sendiri. Malah nyalahin-nyalahin cowok.”
“Semua cowok sama aja ….”
Mata Andi jadi menatap aneh dong. Kenapa bisa dia yang jadi salah nih, dia jadi bingung.
“Ya emangnya lo udah nyoba semua cowok?” tanya Andi. “Aneh deh elu.”
“Pokoknya gue di sini sama Tami, titik!” Sarah menoleh ke pintu kamar. “Tami … masuk aja. Kita di sini kok. Sekalian tarik keluar cowok yang enggak mau ngalah ini.”
“Ih … ngeselin deh!”
Melihat Tami yang masuk, Andi mengangkat kembali kopernya. Di luar kamar, teman-teman yang lain sudah ketawa-ketiwi melihat tingkah absurd mereka berdua.
Agus pun merangkul pundak Andi. Kelihatan banget Andi yang kesel gara-gara berdebat sama Sarah.
“Udah … yang waras ngalah. Hahaha ….”
__ADS_1
\*\*\*