
Setelah mengantar Sarah ke rumah, Andi segera mengubungi Revin untuk mengetahui di mana Ajiz sedang dirawat. Beruntung Andi membawa kunci rumah sehingga ia bisa sedikit terlambat untuk pulang. Sekitar pukul setengah dua belas malam, Andi tiba di rumah sakit yang dituju. Terlihatlah Revin bersama Pram berada di depan pintu ruang inap. Hanya mereka berdua dari anak Kodomo yang hadir untuk menjaga Ajiz. Perlu diketahui, Ajiz tinggal sendirian di rumah semenjak tamat SMA, jadi tidak ada orangtua yang akan mengurusnya.
“Bagaimana keadaan Ajiz?” tanya Andi.
Tentu saja Andi khawatir. Hubungannya dengan Ajiz tidak sekadar antara senior dan junior, melainkan Ajiz sudah menganggap Andi sebagai mentornya sendiri.
“Lo bisa lihat sendiri deh di dalam,” balas Revin dengan wajah murung.
“Orangtuanya tahu?” tanya Andi lagi.
“Ajiz minta orangtuanya enggak tahu. Orangtuanya udah tua dan takutnya kenapa-kenapa kalau lihat anaknya kena keroyok.”
Andi menatap Pram. “Pram lo kan polisi, kenapa enggak lapor polisi sih? Lo kan tahu prosedurnya.”
“Ndi, Kevin minta hal ini enggak masuk urusan polisi. Lo harus tahu peraturan kita dari dulu, pertarungan jalanan tetaplah selesai di jalanan. Revin juga ngehabisin satu di antara preman itu. Kevin bilang dia akan datengin mereka besok.”
“Kadang gue heran sama lo ya Pram.” Andi menggeleng mendengar penjelasan tersebut.
Di dalam kamar, sudah duduk lebih dahulu Naila. Ia tampak menggenggam tangan Ajiz dengan erat. Wajahnya tampak khawatir berkat keadaan Ajiz yang memprihatinkan. Wajah Ajiz bonyok. Bagian mata kanannya bengkak. Terdapat pula luka-luka di tangannya yang kini sudah ditangani oleh dokter rumah sakit. Tentu saja Ajiz terbaring lemah oleh keadaannnya tersebut.
Tiba-tiba aja Naila memeluk Andi.
“Andi, Ajiz dikeroyok Ndi. Gue enggak mau Ajiz kenapa-kenapa lagi. Lindungin dia dari preman-preman itu. Dari dulu gue khawatir sama dia kalau bakal berakhir kaya gini ….”
__ADS_1
Andi benar-benar merasakan kekhawtiran pada diri Naila. Terlebih lagi, Naila memang kelihatan dekat dengan Ajiz meskipun tanpa hubungan pasti semenjak tamat SMA. Dulu, Naila secara gamblang menolak cinta Andi. Namun, seiring berjalan waktu, mereka memiliki hubungan dekat,
“Udah tenang, Kevin enggak bakalan ngebiarin Ajiz celaka. Lo tahu Kevin bisa ngejaga omongannya.”
Sore tadi sekitar pukul lima …..
Ajiz seperti biasa baru saja pulang dari berkuliah. Mumpung masih ada waktu buat nongkrong sebelum ke rumah, Ajiz memutuskan untuk singgah dulu ke warung Mas Momon. Biasanya, Revin dan Kevin masih berada di sana untuk menikmati senja bersama. Untuk mempersingkat perjalanan, Ajiz melewati jalanan sepi. Menggelegarlah motor knalpot mber Ajiz di jalanan tersebut. Mumpung sepi nih, Ajiz mainin knalpotnya berkali-kali dan merasa jadi pembalap banget.
Eh ternyata, sedang ada sekelompok preman yang lagi duduk di tepi jalanan sepi tersebut. Tidak ada rumah warga, hanya pepohonan dan kebun singkong, bahkan motor yang melintas pun hanya motor Ajiz saja. Preman-preman tersebut membentuk barikade untuk menghadang motor Ajiz.
“Maap bang, gue permisi mau lewat dulu,” ucap Ajiz dengan sopan sekali karena tidak ingin mencari masalah.
Setidaknya ada empat orang yang lagi nongkrong di tepi jalan aspa. Terdapat pula botol minuman dan lem dalam plastik buat asyik-asyikan oleh mereka. Ajiz pun menyimpulkan kalau mereka ini sudah tidak beres. Masa mabuk sama ngelem di tepi jalanan seperti ini. Beruntung saja Ajiz punya mental baja dan sudah terbiasa menghadapi preman-preman seperti mereka. Terlebih lagi Ajiz selalu membawa piso kecil di jok untuk berjaga-jaga.
“Pajak dulu kalau mau lewat sini. Pipis aja bayar, masa lewat sini kaga ninggalin duit.”
“Maaf bang, gue kaga punya duit. Kalau mau lihat, periksa aja dompet gue. Kosong sumpah bang baru beli minya sepuluh rebu tadi,” jawab Andi dengan jujur.
“Jam tangan lo bagus juga tuh, mahal kayanya.” Ia menyentuh jam tangan Ajiz.
Tentu saja Ajiz risih seseorang tidak dikenal menyentuh jam tangan itu. Jam tangan itu merupakan pemberian Naila tiga tahun lalu yang ia jaga sepenuh hati. Jangankan preman, teman-temannya aja enggak boleh makai jam tangan itu karena saking esklusif bagi Ajiz.
“Sekali lagi gue minta maaf, kalau jam tangan janganlah bang. Abang boleh ambil helm gue. Terserah deh abang mau jual terus beli ke minuman. Gue kaga ngurus kalau itu.”
__ADS_1
“Gue mau jam elo. Terus gimana dong?”
“Kalau jam gue kaga bisa. Ini penting banget buat gue.” Ajiz menarik tangannya dari gas motor biar tidak lagi diperhatikan preman itu. Helm Ajiz kini ia lepas untuk diberikan kepada mereka. “Ambil nih Bang. Tapi gue boleh pergi.”
Ajiz masih teringat perkataan Kevin kalau dirinya harus menghindari perkelahian demi menjaga nama Kodomo. Kalau ada preman malakin, kasih aja duit. Paling cuma buat beli rokok sebungkus. Sayang nyawa meskipun rokok sebungkus bayarannya.
“Kaga mau gue, gue maunya jam tangan elo!” Preman itu menarik Ajiz untuk turun dari motor.
Kata Kevin, kalau premannya makin ngelunjak setelah disopanin begitu, Ajiz boleh ngehajar mereka sampai mampus. Melihat tingkah preman yang tidak bisa ditoleransi lagi, Ajiz berusaha membela diri. Udah dikasih hati malah minta jantung. Ajiz mengambil piso kecil yang ia simpan di dalam jok dan langsung mengarahkannya kepada mereka.
“Kalian kira gue anak kemarin sore?” tanya Ajiz.
“Wah, berani pake senjata.”
“Kalau kaga mau pakai senjata, lawan gue satu per satu!” teriak Ajiz.
Tanpa diduga, preman itu mengeluarkan beceng atau pistol dari dalam celananya. Apakah itu pistol mainan atau beneran, Ajiz tidak mengetahuinya. Yang pasti, Ajiz langsung meloncat ke arah yang punya pistol dan langsung mengambil alih pistolnya. Ia membuang pistol itu jauh-jauh ke dalam semak agar nyawanya bisa selamat.
Bertarunglah Ajiz melawan keempat preman itu dengan mati-matian. Yang namanya satu orang melawa empat preman dengan badan gede-gede, Ajiz merasa kesulitan untuk mengimbangi kekuatan, Ia lebih banyak menahan serangan daripada menyerang balik. Tapi, ia beruntung bisa menghabisi satu orang, yaitu preman yang membawa pistol hingga ia pingsan di tempat. Sementara tiga yang lain menghajar Ajiz hingga mampus.
Ajiz sudah enggak tahan lagi karena tubuhnya dipukulin berkali-kali. Jam tangan Ajiz juga raib dicuri oleh preman tersebut. Di tengah sisa-sisa kesadarannya itulah Ajiz menelpon Naila untuk meminta tolong. Kalau dia meminta tolong kepada Kevin dan Revin di warung Mas Momon, yang ada bikin masalah lebih besar lagi. Kevin bahaya kalau lagi ngamuk.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, datanglah Naila untuk membawa Ajiz ke rumah sakit dengan air mata menangis deras, berharap Ajiz segera bisa terselamatkan.
__ADS_1
Gue suka sama elo, gue enggak mau ngelihat lo begini, ucap Naila sambil ngebut di dalam mobil.
***