
“Woy, lama banget lo di kamar mandi. Jadi curiga gue ….”
Andi mengetok-ngetok kamar mandi pribadinya. Kira-kira sekitar lima belas menit Nanang belum keluar dari sana semenjak megang laptop sendirian di sudut kamar Andi. Padahal, mereka berempat akan bersiap-siap menuju rumah Tami tersayang untuk menikmati acara barbekyu malam ini. Felix bahkan sudah mengutuk-ngutuk di dalam hati kenapa itu anak lama banget.
“Duluan aja, yuk. Lama banget tuh anak. Sampe penuh tu septi teng sama dia sendirian.” Felix bangkit dari ranjang Andi.
Tidak sampai lima detik, Nanang langsung keluar dari kamar mandi dengan keadaan lega. Ia buka lebar-lebar tangannya untuk menghirup udara segar yang sedari cuma ngirup semerbak wangi kamar mandi Andi yang dibersihin sekali sebulan.
“Wah, sumpah lega ….” Nanang tersenyum lebar.
“Gue enggak sudi kamar mandi gue lo bikin jadi tempat hambur-hambur,” ucap Andi.
“Sembarangan … gue boker sumpah banyak banget. Kebanyakan makan cabe.”
“Lemah banget lo. Mama gue itu kalau masak pasti cabenya pedes. Kalau bisa, makan cabe pakai nasi gue tiap hari.”
“Yee bedalah, lo kan orang Minang makannya cabe terus.” Nanang melihat ke sekitar. “Mana Agus?”
Andi dan Felix menggeleng kepala. Itu anak juga ngilang dari tadi. Nih rumah atau hutan kok pada ngilang sih, author pun hilang. Biar authornya enggak heran, Andi dan yang lain disuruh cepet-cepet pergi menuju rumah Tami. Tepat di dapur Andi pun menatap datar kepada Agus yang udah nyaman banget bicara sama Agus. Parahnya lagi Aisyah ada di sana juga. Tahu sendiri Agus paling demen sama adiknya Andi yang sekarang jadi mahasiswi keperawatan.
“Duh … Tante indak menyangka jadi polisi. Dulu masih main melala sama Andi entah ke mana,” ucap mamanya Andi dengan logat Minang kental.
Melala\=Keluyuran
“Rejeki enggak tahu ke mana, Tante. Heheh ….” Agus nyengar-nyengir. “Jadi, Aisyah sekarang kuliah keperawatan, ya?”
“Iyo, padahal Tante suruh dia kuliah jurusan agamo. Tapi, dia minta kuliah keperawatan.”
Aisyah malah senyam-senyum di sana, bikin Andi makin pengen narik Agus dari sana. Sebagai temen sejoli, udah paling tahu banget otak Agus kalau ngelihat cewek.
“Mama, Andi pai ka rumah Tami, yo.” Andi menyalami tangan mamanya.
**Mama, Andi pergi ke rumah Tami, ya** ….
Melihat Andi menyalami mamanya, ketiga teman vangsatnya pun ikut-ikutan. Akhirnya, mereka bertiga pergi ke rumah Tami lewat pintu samping. Tampaklah Pram dan yang lain sedang duduk di teras belakang sambil ngerokok manja. Sarah dan Tami sedang sibuk mengejar kucing di halaman belakang. Andi pun memberhentikan ketiga temennya sembari ngelihat outfit mereka hari ini.
“Kita kok burik banget outfit malam ini.” Andi menggaruk-garuk kepala. “Kek gembel banget. Beda dari mereka.”
Hanya Andi dan teman-temannya yang berpakaian kaya mau pergi ke warnet, tidak ada keren-kerennya. Alas kaki pun hanya sendal jepit yang udah tipis dan berdebu. Beda sekali sama komplotan Pram yang keren di malam hari ini. Sarah dan Tami pun memakai baju bagus dan make up cantik.
__ADS_1
“Kaya main ke café aja nih outfit mereka. Padahal nanti juga ngebakar ayam jadi keringetan.” Agus bertegak pinggang.
“Ah, bodo amat. Gue laper ….” Nanang melanjutkan langkah.
“Belagu banget lu. Cebok dulu baru belagu,” sindir Felix.
Sesampainya di teras belakang, Andi saling tatapan sama Pram. Udah lama banget Andi tidak ketemu dia. Walaupun agak kesel, tapi Andi ngakuin kalau Pram itu ganteng malam ini, apalagi tubuhnya semakin kekar aja semenjak jadi polisi. Biar kelihatan keren daan sangat, Andi membakar rokoknya di hadapan Pram.
“Eh, datang juga kalian,” sapa Andi.
“Tami ngajakin kami. Mau enggak mau, heheh ….” Kevin tertawa.
“Oh gitu, giliran ke rumah Tami gegayaan banget. Kaya main ke mall.” Andi melirik mereka dari ujung sepatu hingga ujung rambut.
Pram hanya mengangguk pelan untuk merespon candaan itu. Ia hanya tidak ingin bersikap berlebihan di hadapan Andi karena perang urat syaraf di antar mereka masih terasa hingga sekarang. Padahal, perseteruan itu sudah berlalu sejak lama.
“Hei, para ganteng ….” Sarah memanggil mereka. “TOLONGINLAH VANGSAT!”
Semuanya seketika melirik Sarah yang lagi ngangkatin karung arang ke panggangan. Sedari tadi seluruh peralatan dan perlengkapan dipersiapkan oleh mereka berdua. Nih anak laki-laki cuma pande ngelihatin. Masih mending Pram, Agus, dan Felix berani ngeluarin duit. Yang lain malah enggak tahu diri. Mendengar suara Sarah mulai kaya laki-laki, mereka semua bergegas membantu proses pemanggangan.
Terdapat dua buah pemanggangan. Satu pemanggangan digunakan untuk ayam yang diurus sama Anak Amak. Sementara satu lagi digunakan untuk jagung yang diurus sama Pram, Kevin, dan Revin. Sibuklah anak laki-laki mengoles-oles bumbu, saos, dan kecap. Asap menyerbak ke mana-mana dan bikin keringetan. Sementara Sarah dan Tami mempersiapkan piring dan minuman.
Keakraban terjadi di antara mereka. Canda dan tawa saling bersahutan tanpa henti tatkala bekerja sama. Malam yang dingin pun tidak terasa. Seluruh beban seakan membuyar dalam satu waktu dan satu ruang. Namun, Andi dan Pram tetap tidak berinteraksi satu sama lain. Mereka mengambil posisi saling berjauhan untuk menghindari percakapan.
“Seneng banget ya ngelihat mereka akrab begitu,” ucap Sarah kepada Tami.
__ADS_1
“Iya, Sar. Padahal dulu mereka berantem.”
Ingat sekali Sarah kalau Anak Amak dan Kodomo saling berseteru satu sama lain. Sarah paling takut kalau Andi macam-macam sama mereka karena pasti udah tahu ujungnya yaitu kelahi. Ia takut kalau Andi kenapa-kenapa dikarenakan Kevin yang ototnya segede gaban. Mungkin sekali bogem sama Kevin, Andi pun bisa tumbang.
Bicara tentang kehidupan brutal para laki-laki SMA, pikiran Sarah mengarah kepada satu orang yang pernah ia tentang bijinya.
*Memet kok enggak ke sini, ya? Padahal dia udah janji kemaren sama gue* ….
Sarah pun meletakkan piring di atas lantai.
“Tami, gue pulang bentar ya. Gue lupa ngambil kunci. Takutnya nanti malah bangunin Papa kalau kita pulangnya lambat.”
“Oh, enggak apa-apa kok. Biar aku aja yang siapin ini.”
Mumpung Kevin lagi bawa vespa, Sarah pun meminjam kunci motor vespa kepada pria itu. Kevin mah percaya-percaya aja kalau Sarah yang ngebawa. Malahan dia lebih ragu kalau Andi yang minjam. Tiga kali engkol, vespa punya Kevin pun menggelegar di depan rumah Tami.
Ia melesat laju menuju rumah Memet yang berada di perbatasan komplek. Tepat di tiang listrik berlampu redup, ia menoleh ke rumah sederhana yang tampak lengang. Beberapa kali ia panggil tetap tidak ada sahutan. Setahunya, Memet sudah pulang bekerja kalau jam segini. Ia pun pergi ke warung tongkrongan Memet yang berada lima puluh meter di depan. Terlihat Memet lagi gitaran sama preman-preman setempat.
“Met, ikut gue ….” Tiba-tiba aja Sarah bicara tanpa basa-basi. Salah satu preman di situ jelalatan matanya sama Sarah yang bikin dia risih. “Eh, siapa nama lo? Mata lo biasa aja. Gue congkel mau?”
“Ih, santai aja kali. Anak perawan bringas banget.” Memet menyerahkan gitar tersebut ke kawan di samping.
“Lo lupa sama janji lo?” tanya Sarah.
“Heheh … segan gue ke sana sendirian, enggak ada kawan.”
“Yaelah gitu, doang. Nih sampe gue jemput kalau lo enggak mau juga, keterlaluan banget.” Sarah menepuk-nepuk jok belakang.
“Tapi, gue cuma pakai celana pendek sama kaos polos, doang,” balas Memet.
“Andi sama ketiga temennya lebih parah dari lo. Udaah … ayo naik.”
“Yaudah … gue naik.”
Memet pun lagi-lagi dibonceng sama Sarah.
\*\*\*
__ADS_1