
Andi pernah ditanya oleh Naila kenapa ia tidak se-*famous* sewaktu di SMA. Bukannya mengelak, Andi malah mengiyakan hal tersebut. Ketenaran terkadang tidak berbanding lurus dengan ketenangan yang akan didapatkan. Sebagai contoh, Andi selalu saja dicari kesalahan oleh para senior yang tidak suka dengannya atau pun teman seangkatan yang menaruh benci. Oleh karena itu, Andi sama sekali tidak terlalu memunculkan diri di permukaan. Ia tidak ingin bergaul dengan para senior yang sok sokan idealis itu.
Sebenarnya tidak ada beda antara Sarah dan Andi dalam hal pergaulan, mereka sama-sama luwes untuk berinteraksi satu sama lain. Namun, Andi kali ini benar-benar tidak terlalu ingin mengenal banyak orang, terutama senior. Mereka sering kali mengajak nongkrong Andi ke suatu tempat sebagai cara agar Andi ingin memasuki sebuah organsisasi. Belum lagi pembicaraan berat mereka yang Andi nilai \`sok bener\`, terutama tentang perpolitikan. Udahlah Andi eneg sama politik, eh malah diajak-ajak buat masuk di sana.
Andi tetap mengenal orang-orang yang satu frekuensi dengannya, terutama dalam bidang futsal. Ia memasuki Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) yang menaungi cabang olahraga futsal. Dari sana ia mendapatkan teman-teman yang relatif sejalur dan tidak idealis, cenderung realistis sebagaimana Andi sebenarnya. Ia cukup dikenal di sana bukan karena ingin tampil bersinar di hadapan orang banyak, melainkan memang kemampuan futsal Andi di atas rata-rata pemainnya. Tubuh Andi yang tinggi⸺walaupun sekarang buncit⸺selalu menjadi posisi bertahan ketika bertanding.
Sebagaimana waktu SMA, karisma Andi bermain futsal selalu digandrungi oleh para wanita. Banyak para wanita fakultas yang menanyakan nama pria pendiam bernomor punggung 69 itu. \*\*\*\*\*\* banget nih Andi milih nomor 69 buat jadi nomor punggung. Tidak jarang Andi menerima pesan singkat dari wanita fakultas yang ingin mengajak berkenalan. Tetap saja Andi cenderung mengabaikan karena Andi sudah menemukan my sweet king-kong betina, siapa lagi kalau bukan Sarah.
Peliut dari penjaga lapangan futsal menandakan waktu bermain futsal sudah habis. Mereka menyewa lapangan selama satu jam untuk bertanding melawan Jurusan Pendidikan Inggris dalam ajang fun futsal, meskipun tetap saja bertaruh bayar lapangan. Tim jurusan Andi menang telak malam ini sehingga mereka tidak pusing memikiran biaya.
“Eh, tahu ga … itu cewek ngelihatin lo dari tadi.” Bobon menyeka keringatnya sembari menunjuk seorang wanita di tribun kecil.
Andi melebarkan pandangannya di antara orang-orang yang duduk di tribun lapangan futsal. Bibirnya tetap manyun buat minum air mineral, sampe tumpeh-tumpeh ke dada sampai basah kaya mandi keringat.
“Oh dia … Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ya?” tanya Andi.
Bobon menggeleng tidak tahu. “Entah … kali aja jurusan seberang. Keknya jurusan mereka kelebihan anak cewek yang cantik deh.”
“Gue udah punya cewek, buat apa lagi nyari cewek cantik.”
“Hahah … kali aja lo mau.”
Tiba-tiba aja Ujang ngelihatin tribun yang mana banyak anak cewek Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris lagi duduk. “Oh itu, namanya Tasya. Cewek *famous* mereka. Gue *follow* Instagram dia juga.”
“Wih, bagi-bagi dong Instagram anak Pendidikan Bahasa Inggris. Siapa aja yang lo follow?” tanya Bobon.
“Hmmm … bentar … kayanya ada dua orang.” Ujang diam sebentar buat mikir. “Ada Naila yang selebgram hijaber itu, terus sama Si Tasya itu. Mereka itu temenan. Gue sering lihat mereka berdua di story.”
Bobon langsung ngelihatin handphone buat nyari Instagram kedua cewek itu. Andi sih diam-diam aja karena dia kenal banget sama Naila dan bahkan instagramnya di-follback sama cewek itu.
__ADS_1
“Uanjir, lo di-polbek sama Naila? Kok bisa? Padahal lo enggak famous-famous banget, malahan kuper … Hahahah ….” Bobon menunjukkan layar handphone-nya yang menunjukkan orang yang di-follow oleh Naila.
“Eh … itu … dia junior gue di SMA.”
“Ah masa? Jadi curiga gue,” balas Ujang.
“Beneran ….” Andi melihat jam. “Gue pulang dulu, nanti mama gue ngunci rumah duluan.”
Sebuah botol air mineral terlempar kepada Andi. “Ah elo ga asik ….”
Setelah mengganti baju di ruang ganti, Andi melangkah beranjak menuju keluar area fustal. Ia tidak sengaja mendengar suara panggilan seseorang. Arah panggilan tersebut berasal dari tribun kecil futsal di mana anak-anak cewek Pendidika Bahasa Inggris sedang duduk. Lambaian tangan seseorang menarik perhatian Andi. Ternyata suara itu berasal dari Naila yang duduk di sana. Merasa dirinya dipanggil, Andi turut merespon panggilan tersebut dengan melambaikan tangan. Namun, Naila malah mengajaknya ke sana.
“Andi … lo ga liat gue dari tadi?” tanya Naila. Ia tampak tertarik dengan kehadiran Andi di sini. “Gue dari tadi manggil lo waktu main, tapi lo enggak denger.”
Senyum Andi melingkar kepada Naila. Tidak ia sangka wanita bernama Tasya itu berada di samping Naila. Andi dan wanita itu turut beradu pandangan, tetapi Andi hanya menganggapnya orang yang tidak dikenal.
“Haha ya kali gue enggak gangguin lo main.” Naila menatap ke wanita yang berada di sampingnya. “Eh ini kenalin Kak Tasya, dia seangkatan sama lo.”
“Hai …,” sapa Andi.
“Nama gue Tasya.” Ia menjulurkan tangan untuk bersalaman. “Mau minum?”
Sebotol air mineral ditawarkan kepada Andi yang berasal dari stok bersama anak-anak fustal jurusan mereka. Namanya orang lagi haus kering, Andi menerima pemberian tersebut.
“Makasih banget, senang berkenalan dengan lo.”
“Jadi Kak, Andi ini senior aku di SMA dan dia juga jadi kakak pembimbing waktu program bimbingan,” ujar Naila.
“Oh ya? Lo berarti banyak pengalaman dong sampai jadi kakak pembimbing?” tanya Tasya.
__ADS_1
Ingin tertawa dalam hati, Andi jadi ngakak dengar pertanyaan itu. Pengalaman dari mana, yang ada pengalaman tarung satu lawan satu atau pun tawuran antar sekolah yang bikin sekolah malu. Mengenai prestasi sih cuma trofi turnamen fustal, itu pun enggak terlalu dihargai oleh sekolah karena sekolah lebih memandang anak-anak berprestasi akademik.
“Ah, enggak juga sih. Gue kebetulan aja didaftarin sama seorang.”
Seseorang yang dimaksud oleh Andi yaitu Sarah. Namun, Andi enggan menceritakan perihal itu kepada Tasya.
“Sayang banget tim kami kalah. Lo mainnya bagus banget di belakang. Pemain depan kami jadi enggak bisa ngegolin,” puji Tasya.
Andi menggapai rambut belakangnya karena gugup dipuji. “Hahah … biasa aja kayanya. Gue lagi fit aja malam ini jadi bisa *all out* mainnya.”
“Ah enggak Kak, dia itu memang gila futsal dari SMA. Sampe-sampe mereka sanggup cabut buat main futsal. Gila ga tuh?” tambah Naila.
“Lo juga cabut buat makan soto di warung sebelah ….”
“Hahah … kalian akrab banget kayanya,” balas Tasya. Melihat barang bawaan Andi, Tasya menjadi heran. “Lo udah mau pulang?”
“Eh iya nih, gue mau pulang.”
“Oh oke, hati-hati ya ….” Tasya tersenyum.
“*Bye* Andi …,” pungkas Naila.
Setelah percakapan singkat itu, Andi pun beranjak pulang ke rumah. Secara mengendap-ngendap Andi memasukkan motor karena pulang lewat dari jam yang dijanjikan. Sesampainya di kamar, terdapat notifikasi Instagram bahwasanya terdapat orang yang sedang mengikutinya. Orang tersebut ialah Tasya.
*Dia follow gue*?
Wanita secantik dirinya ingin mem-*follow* Instagram Andi yang isinya postingan anime receh. Andi menggeleng tidak mengerti tanpa ingin mengikutinya kembali.
\*\*\*
__ADS_1