
42. Salah Orang
WC merupakan tempat ternyaman untuk mengadu nasib. Saat kehidupan kita telah berada di ujung dan menjerit untuk dilepaskan, WC lah tempat yang paling tepat untuk melampiaskan segalanya. WC dibuat untuk kenyamanan, berterima kasihlah dengan pencipta wc. Ia telah menyelamatkan milyaran umat manusia dan umat jin yang sering nangkring di WC-WC yang tidak terurus.
Lain hal dengan Anak Amak dan para berandalan SMA pada umumnya, WC merupakan tempat yang paling aman buat ngerokok. Berkali-kali korban kegananasan mata guru dan mata siswa yang ngadu menjadi momok menakutkan, tidak menjadi penghalang bagi mereka buat ngelepas sakaw. Sumpah, kalau udah gila ngerokok, di mana aja pingin banget ngerokok. Ini nih salah satunya, WC.
Sebagai senior yang disegani, Anak Amak tidak pernah terganggu buat ngerokok di WC. Mereka bisa aja ngeluarin adik kelas yang lagi ngerokok, kalau seluruh bilik WC penuh. Bodohya adek kelas ini, malah mau-mau aja disuruh keluar sama mereka. Namanya kan Anak Amak termasuk disegani, sama seperti anak Kodomo ketika masih ada di SMA. Mana ada yang berani menganggu gugat mereka. Yang ada kena bogem sama anak buahnya Kevin yang otot dadanya pada gede-gede semua. Maklum, anak fitness ...
Selain buat ngerokok, WC merupakan tempat curhat terbaik. Bilik WC menjadi bilik curhat. Tangis bertumpah-tumpah ketika cerita sedih disampaikan dengan teman satu rokokan. Sumpah ini lebay banget, ga gitu kali ya. Pokoknya, pasti ada aja cerita aneh yang kedenger dari bilik WC sebelah.
"Bro, gue baru aja ***** sama cewek gue."
Kalimat itu membuat risih telinga Andi yang lagi nyante-nyante sama Agus, Nanang, dan Felix.
"WOI, diam ...!" teriak Andi.
"Eh, iye bang ..."
"Beress ..." Jempolnya mengarah ke Agus yang lagi jongkok di toilet.
Tangan Nanang menggapai saku dada Andi yang berisikan sebuah mancis.
"Felix, gimana sama gebetan lo?" tanya Nanang.
Wajah Felix agak datar gitu. Soalnya dia ga suka ngomongin masalah asmara. "Yaa begitu lah ...."
"Gimana apaan?" sambung Agus. "Cerita dong. Kita ini kan temen lo juga."
"Y-Y-aaa ... gue itu ga terlalu suka ngedeketin cewek."
"Ga suka atau ga pande?" Andi mengisap rokoknya dalam-dalam. "Siapa namanya?'
"Namanya Mega ...."
"Megawati?" sambung Agus.
"Itu mah nama presiden kita dulu." Andi menepuk kepala Agus.
"Kalau biasanya sih dia dipanggil Ling-Ling. Gue biasanya manggil nama itu juga."
Andi mengangguk. Ia menyuruh Felix buat jongkok bersama biar agak seriusan. Felix memang butuh treatment bagi orang berwajah tampan tapi tetep aja jomblo. Soalnya tekanan orang ganteng yang jomblo lebih besar daripada orang mukanya biasa-biasa aja. Terdapat tekanan batin. Kaya babang author ini yang ngejomblo sampe ga tau akhirnya. Doain ya ada yang nyantol. Lah kok jadi curhat gini.
"Jadi masalah lo apa?" tanya Andi.
"Jadi gini, gue ini agak kaku kalau bicara sama cewek. Padahal Ling-Ling itu orangnya asyik loh, tapi gue aja yang pasif."
Andi menatap Agus dan Felix. Sorot mata mereka saling beradu seakan memberikan isyarat. Padahal mereka ga tau maksud tatap-tatapan ini.
Kita harus dukung Felix, bro ... kira-kira begini isyarat mata Andi kepada mereka.
Sementara mereka malah nyimpulin yang lain.
Andi kenapa ya? Minta rokok? tanya Agus dalam hati sambil ikut-ikutan natap.
__ADS_1
Apa? Mengapa engkau menatap aku? Nanang garuk-garuk kepala.
"Lo ngerti ga apa yang gue maksud?" tanya Andi.
Nanang dan Agus menangkat bahu karena ga tau. Dendrit-nya ga nyampe kalau beginian.
"Emang kita tatap-tatapan tadi kenapa?"
"Yaelah goblok amat. Pokoknya nanti kalian semua harus ikut gue. Kita harus mempertemukan Felix dan pujaan hatinya Ling-Ling. Sekalian gue mau tahu seberapa cantik wanita yang telah mencuri hati teman gue." Andi membuka WC dan diikuti oleh ketiga temannya.
Mendengar hal tersebut, Felix jadi cemas ga tau nanti mau ngapain kalau ketemu Ling-Ling. Lagian, ga ada janjian buat ketemuan. Enggak biasa baginya langsung nemuin Ling-Ling tanpa memberitahu tujuan sebelumnya.
Bel pun berbunyi, mereka berempat naik mobil Andi menuju area ruko Felix. Ketika di perjalanan, mereka mendapati Ajiz lagi jalan sendirian. Merasa kasihan, Andi memberi tumpangan kepada adik bimbingannya tersebut. Biasanya nih anak bawa motornya, tapi sekarang malah enggak.
"Mana motor lo?" tanya Andi ketika Ajiz masuk mobil.
"Dibawa Bang Kevin, Bang."
Sontak mereka berempat saling bertatap-tatapan. Gimana bisa nih anak kenal sama Kevin yang sesangar itu. Udah, mereka yakin kalau Ajiz ini bukan cowok biasa. Sampe-sampe Kevin aja bisa kenal sama dia.
"Gimana bisa lo kenal sama kevin?" tanya Andi.
"Oh itu, jadi gue biasanya kalau pulang biasa mampir di kedai itu. Nah, baru tahu di situ tempat tongkrongan Bang Kevin. Lagian, mereka enggak ramai kok. Banter-banter cuma Bang Kevin sama Bang Revin aja di sana. Kata Bang Kevin, anggotanya banyak yang sibuk kuliah jadi jarang ngumpul."
"Oh gitu ... gue kira lo anak buahnya Kevin. Kalau itu benar, ga heran ngelihat lo bisa ngebantai satu kedai."
"Hahaha ... Bang Kevin ga serem-serem amat kok. Kocak orangnya," balas Ajiz.
"Ga serem kapalo utak ang!"
Terlihat Kevin yang lagi makai seragam IndoApril. Kayanya dia lagi siap-siap mau kerja. Di sampingnya ada Revin yang lagi ngerokok. Lantas, Andi menyapa mereka mereka.
"Woi, gue titip adek gue ...." Andi berteriak keras.
Kevin tersenyum melihat Ajiz diturunin dari mobil Andi. Ia baru tahu kalau Andi kenal dengan Ajiz. Nih anak ternyata pergaulannya bagus juga. Senior sekelas Andi aja bisa kenal, bahkan sama dirinya sendiri. Biasanya, adik-adik kelas malah segan mau main ke sini.
"Wah, elo ... oke ...oke ... kalau dia duduk di sini, ga ada satu pun yang nganggu dia.."
"Oke sip, asal jangan lo ngajak dia minum sama ngelinting."
"Lo kira gue Bang Ali ... hahahaha."
Jadi gini, semenjak Ajiz bersekolah di SMA, dia selalu mampir ke kedai ini. Saat itu, Ajiz ga tau tuh istilah anak Kodomo dan senior sangar bernama Kevin. Jadinya Ajiz duduk-duduk aja di kedai ini kaya ga tau apa-apa. Mereka pun open banget sama Ajiz dan ga ada risih sama dia. Selain anaknya kalem, tutur katanya juga lembut dan santun. Makanya anak Kodomo open-open aja dia duduk di situ.
"Lah, ternyata lo kenal sama Andi ...." Tangan Kevin menepuk-nepuk punggung Ajiz. "Minta rokok lo, Jiz."
Sebungkus rokok jatah dari Andi mendarat di meja domino. Kevin langsung mengambil sebatang buat dihisap. Ajiz memang orangnya ga pelit, atau dia memang segan sama Kevin. Setiap Kevin minta rokok, dia selalu ngasih.
"Heheh, iya ... soalnya gue adik bimbingan Andi, bang," balas Ajiz.
Kevin dan Revin tertawa terbahak-bahak. Gimana bisa berandalan kaya dia ngebimbing adik kelas. Yang ada adik bimbingannya pada cabut dan ngerokok di WC, sama kelakuannya kaya Andi.
"Udah mereng tuh sekolah kalian, Andi dijadiin contoh."
__ADS_1
"Yaa gue ga tahu juga, Bang. Andi orangnya agak mereng juga orangnya. Hahaha ..."
Suara motor menggelegar di tepi jalan seberang kedai Kodomo. Belasan anak SMA menatap mereka bertiga. Kevin terheran-heran, selama dia duduk di sini, ga satu orang pun yang berani kaya gitu, bahkan Andi sendiri. Lah, ini malah adik kelasnya sendiri yang beginian. Langsunglah Kevin ngegas.
"Woi, ****** ... motor kalian matiin. Malah digas-gas kaya mau balap. Udah keras kepala kalian?" Kevin menunjuk mereka satu per satu.
Ajiz terheran-heran kenapa anak Four Dog datang ke sini. Ia baru ingat, kedatangannya ini berkaitan erat dengan kejadian kemarin. Pasti Dandi mau balas dendam karena Ajiz sering duduk di sini.
Tangan Ajiz meminta Kevin buat mundur. "Bang, kayanya ini urusan pribadi gue. Mereka lagi nyariin gue."
"Lah, emangnya lo kenapa?" tanay Revin di belakang. Dia udah siap-siap buka baju kalau memang terjadi perkelahian.
"Mereka Four Dog, kelompok yang mau ngancurin Antophosfer. Kemarin gue baru ngobrak-abrik kedai mereka. Soalnya gue kesel sama mereka yang sok-sokan."
"*******, apa kata lo? Mau ngancurin Antophosfer. Becanda ga tuh. Siapa ketua mereka? Biar gue adu panco sama dia," balas Kevin.
Telunjuk Ajiz mengarah kepada Dandi. "Dia ... namanya Dandi."
"Kalian duduk aja di sini. Biar gue urus. Mau berpuluh orang pun, gue jabanin. Ga usah takut ...."
"Tapi, Bang ... mereka itu bahaya." Ajiz sedikit cemas melihat jumlah mereka yang banyak.
Revin meminta Ajiz buat duduk dan menyaksikan apa yang akan terjadi. "Udah duduk aja, lo mau lihat Kevin gimana, kan?"
"Hahaha, nah itu dia ...." Jempol Kevin diancungkan kepada Ajiz.
Langkah Kevin mengarah kepada Dandi yang memimpin di depan. Kayanya dia belum tahu kalau dia sedang berhadapan dengan siapa. Bagi Kevin, mereka belum seberapa. Masih anak ingusan yang baru tahu dunia berandal. Udah berani sok-sokan kaya gini.
"Lo siapa?" tanya Dandi ketika Kevin berada di hadapannya.
"Apa????" Kevin mendekatkan telinganya. "Coba ulangi lagi, Dek ...."
"Lo siapa?" tanya Dandi kembali.
"Sepertinya lo itu harus banyak bertanya. Soalnya guru bahasa Indonesia di SMA kalian bilang ke gue, malu bertanya sesat di jalan. Nah, kalian lagi sesat di jalan."
"Minggir ...."
Usaha Dandi mendorong Kevin sia-sia. Otot gedenya yang sebesar buah nangka itu ga bergeser sedikit pun. Dandi heran dengan kekuatan orang yang ada di hadapannya.
"Jadi kalian yang mau ngancurin Antophosfer?" tanya Kevin.
Mendengar kalimat itu, Dandi mendekatkan wajahnya kepada Kevin. "Kalau iya, emang kenapa? Lo ada masalah?"
"HAHAHAHAHA ...." Kevin memalingkan wajah ke arah Kevin. "Revin, katanya mereka mau ngancurin Antophosfer ..."
"HAHAHAHA ... TESERAH LO DEH MAU DIJADIIN APA. MAU DIJADIIN RENDANG JUGA BOLEH," teriak Revin.
Dandi memegang kerah seragam Indoapril milik Kevin. "Gue tanya sekali lagi, lo siapa?"
Kevin tersenyum lepas. "Gue Kevin, kayanya kalian datang ke orang yang tepat."
Setelah itu, Dandi langsung nyebur ke comberan.
__ADS_1
***