
Seluruh orang berkumpul di lapangan panjat pinang. Andi, Nanang, dan Rijek sudah bertelanjang dada dengan celana bola sekali pakai. Pasti nanti bakalan kotor oleh oli yang melumuri batang pinang, sehingga langsung saja dibuang ke sungai. Bakalan ribet untuk mencucinya kembali. Andi jadi nervous kalau banyak cewek yang liat, soalnya celana bola pendek yang ia kenakan itu ketat banget. Andi punya pengalaman buruk karena waktu itu celananya robek dan memperlihatkan isi dalamnya. Hal itu yang dijadiin becandaan sama Memet tiap tahunnya.
“Nang … kalau bapak lo tahu gimana nih?” tanya Rijek.
“Ya mana tahu gue. Paling diceramahin lagi pakai dalil. Eh ini kita sebagai lelaki batas auratnya sampai lutut, terus ga boleh nampak puser. Lah kita aja begini. Kalau elo gimana?”
“Entah … gue ga tahu juga. Soalnya bapak gue jarang di rumah. Dia dinas keluar kota.”
Nanang bertegak pinggang. “Apa bedanya sama babeh gue yang sering ceramah ke luar pulau.”
“Iya deh anak Bapak Ustadz Dr. Nazaruddin.”
“Kurang tuh gelarnya. Yang bener itu Bapak Ustadx Dr. Nazaruddin, Lc, Ma. Capek-capek babeh gue kuliah di mesir, lah elo nyingkat-nyingkat gelarnya,” balas Nanang.
“Jangan kaya anak mami deh kalian. Kalau mau main, ya udah main aja,” sambung Andi.
“Kan kami ga pernah ikut beginian Ndi. Kayanya ini bahaya,” balas Rijek.
“Ga ada bahaya kalau kita yaqinnn ….” Kata terakhir Andi pakai qalqalah kental sebagaimana yang diajarin oleh babehnya Nanang.
Peluit mulainya panjat pinang sudah berbunyi. Sound DJ Tik Tak dari speaker hajatan benar-benar membuat adrenalin terpacu. Bayangin aja desa nyewa sound hajatan yang bikin jantung jadi copot. Malam nanti desa hampir sama kaya club malam dengan biduan goyang dangdutan. Andi udah ga sabar mau nyawer biduannya, lalu bungkus ke kota.
Panjat anak-anak dan remaja sudah dimulai. Satu tim diberikan waktu selama tiga menit. Jika tidak bisa mencapai puncak dan menarik bendera merah putih, maka digantikan dengan tim selanjutnya. Kalau melihat anak-anak bermain panjat pinang, pasti aja ada lucu-lucuannya. Tinggah menggemas mereka yang menginjak wajah teman, lalu berteriak kesakitan dengan muka kaya lagi nahan boker, mengingatkan Andi dengan masa kecilnya dahulu. Andi juga begitu waktu menahan beban temannya yang di atas, pengen manggil emak, eh emak ga setuju Andi buat ikutan.
“Giliran kita guys!” seru dengan semangat.
Delapan orang dewasa bergabung dalam sesi pertama pemanjatan. Bang Asep udah seperti Sir Alex Ferguson pelatih senior Manchaster United. Ia memakai spidol di atas kertas untuk menentukan formasi pemanjatan. Rijek yang ototnya gede, dipilih paling bawah bersama Andi yang tinggi gempal. Terdapat tiga orang sebagai pondasi. Nanang diminta berada di tingkat ketiga, tepat di bawah pemuda yang paling kecil badannya. Gede badan pemuda tersebut seperti anak SMA kelas satu. Andi heran kenapa kok tubuhnya kecil banget, apa ga dikasih makan.
“Ayo manjat kalian sekarang!” teriak Bang Asep sambil memukul punggung Andi.
“Jangan pukul-pukul Bang. Baru aja mulai nih!” teriak Andi. Salah satu personil dah naik ke atas punggung Andi.
“Heheh Soryy ….”
Tangan Andi memeluk batang pinang dengan kuat agar tidak terlepas sewaktu melakukan pertahanan. Hal itu ia ajarkan kepada Rijek agar ia tidak meruntuhkan kuda-kudanya. Sekali aja kuda-kuda rusak, maka pondasi akan mudah roboh. Kan Rijek masih junior nih dalam dunia pemanjatpinangan. Andi sudah terbilang senior karena tiap tahun ikut.
Nanang berhasil mendapatkan tingkat ketiga. Posisi pondasi sudah mulai utuh. Tinggal pemuda kaya bocil itu yang manjat sebagai orang paling puncak. Dia manjat seperti monyet kehausan air kelapa. Kepala Andi diinjek begitu keras hingga carut bahasa minangnya keluar. Untung aja mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Andi.
“WOI, MASIH LAMA NIH?” Andi berusaha melihat ke atas. Tapi ketutupan bokong bapak-bapak pakai celana boxer merek billabong.
“DIKIT LAGI!!!!” teriak Nanang,
Muka Rijek seperti nahan boker. Mukanya kan putih, jadi jelas terlihat kemerahan sewaktu menahan beban tubuh yang di atas.
“Ndi, gue ga tahan. Mau nangis, mau beli truck aja!” Suara Rijek memelas.
Antara mau ketawa dan sedih melihat keadaan Rijek, ia tetap menenangkan Rijek agar menahan sedikit lagi. Benar adanya pemuda postur bocil itu mulai naik ke tubuh Nanang di tingkat ketiga. Tinggal menunggu ia manjat ke puncak.
“Tunggu Jek … gunain otot-otot nge-gym lu. Jangan malu-maluin Kevin Si Dewa Otot satu daerah tongkrongan gue!”
“Siapa lagi itu Kevin?!”
“Nanti gue kenalin waktu udah sampai ke kota. Ototnya kaya Om Dedi Kobujer.”
“ANDI GUE GA TAHAN!!!!!”
Keseluruhan pondasi melorot ke bawah. Pemuda postur bocil pun meluncur dengan tetap bergantung ke batang pinang. Bagaimana mau manjat lagi kalau pijakannya sudah tidak ada. Alhasil, mereka bertumpuk di bawah satu sama lain, lalu ditarik oleh Bang Asep ke tepi. Peluit tanda berakhirnya sesi tim mereka berbunyi. Andi tertunduk lemah dengan muka penuh oli.
“Woi … lo udah jadi orang afrika kalau item begini! Hahaha ….” Sarah ngeledekin Andi.
“Jangan rasis woi!” protes Andi. “Sumpah bapak-bapak di atas berat banget. Udahlah gemuk, tapi di atas gue.”
“Alah gitu doang. Kan elo anak muda, tenaganya masih berlebih-lebih. Masa kalah sama orang tua.”
“Aduh …. pinggang gue kerasa mau patah nih. Ga ada rumah sakit lagi di sekitaran sini.”
Sarah menendang pinggang Rijek tanpa hati. Rijek langsung berguling karena kesakitan.
“Lemah banget lo. Masa kalah sama Andi yang kerjaannya cuma makan bakso pedes sama gue. Otot lo kan gede-gede!” ejek Sarah.
__ADS_1
“Ah … jangan banyak bacot lo deh Sar. Coba elo ada di posisi gue!” protes Rijek sambil merintih kesakitan.
“Kalau gue jadi cowok, gue pasti bisa ini mah.” Sarah menepuk punggung Andi. “Ayo berdiri, gue mau hadiah susu indomilik rasa vanilla.”
“Ah … mending buat gue susunya!”
Pertandingan dilanjutkan dengan tim kedua. Andi harus menunggu hingga tim ketiga, yaitu tim terakhir agar mendapatkan giliran mereka lagi. Sama saja, menurutnya pinang ala desa ini sangat tinggi dan relatif sulit untuk dipanjat. Mungkin karena tenaga pemuda desa umunya pada kuat karena terbiasa ngarit dan angkut pupuk.
Tim kedua dan tim ketiga pun sama, periode giliran pertama sudah habis. Tim Andi berdiri lagi dengan formasi baru. Rijek diletakkan di pondasi kedua karena kelihatan ototnya sama sekali tidak berguna. Andi tetap di posisi pertama berkat semangatnya tambah setelah Nabe memberikan kukubima enerji rosso pakai susu.
“Kalian harus bisa manjat. Kalau bisa, satu orang dua bungkus rokok dikasih sama Pak Alam!” seru Bang Asep.
Pak Alam sedang menggendong Maya di belakang mereka. Ia berjanji untuk mentraktir mereka rokok apabila berhasil sampai ke puncak. Hal dikarenakan tim Andi berisikan panitia serta anak KKN yang sudah berkontribusi bagus buat desa.
“AYOO!!!” teriak Andi dengan semangat.
Rijek memanjat pertama kali ke puncak Andi. Sungguh deh kalau orang penuh protein bakalan terasa berat banget. Kalau diukur berat badan, tentu saja Rijek berat karena postur tubuhnya lebih tinggi daripada Andi. Tapi untuk ketahanan otot, Andi sudah teruji karena semenjak kecil tidak pernah manja. Selanjutnya, Nanang manjat ke pundaknya Rijek. Muka Rijek seperti biasa memerah untuk menenahan beban tubuh Nanang.
“WOI JANGAN INJEK MUKA GUE!!!” protes Rijek.
“Sory ga sengaja bro. Gue kira lantai!” balas Nanang dengan tenang,
“Lantai muke pale babeh elo!”
“Jangan main bapak dong! Sebut bapak gue dengan gelar lengkah, baru bisa!”
“AH bacot!” pungkas Andi paling bawah. “Jangan banyak omong, gue mau mampus ini. Rijek sumpah berat banget kaya babon.”
Emang dasarnya anak usil, Sarah berdiri tepat di depan Andi. Dia toel-toel hitungnya Andi, nendang-nendangin kakinya Andi, sampe menggelitik keteknya Andi sambil ketawa-ketiwi. Kalau enggak ditarik sama Nabe, Sarah bakalan begitu sampai selesainya permainan.
“Aduuh … punya pacar kok aneh begini sih!” kesal Andi.
“Ayo dikit lagi si bocil udah ke atas!” Tiba-tiba saja Nanang berteriak. “AYO BOCIL …. KAMU PASTI BISA!”
Nanang tidak tahu apakah orang tersebut lebih tua daripada dirinya, padahal mukanya tua banget ada brewokan. Tapi tetep aja dipanggil bocil. Hal ini karena ikut-ikutan waktu Andi menyebut pria itu dengan sebutan bocil anak SMA kelas satu.
“Ayo Ndi … kita minum bir malam ini Ndi!” Bang Asep memegangi kepala Andi dengan kedua tangan.
“IYA NDI!!! BIASA ANAK MUDAA!!!”
“WAAH MAKIN SEMANGAT NIH GUEEE!!! HAAA!!!”
Ulti zilong di game mobail lejen kini berlaku kini bagi Andi. Semangatnya berapi-api. Ototnya menegang kuat, terutama waktu ada Nabe di ujung sana pakai baju olahraga ketat. Makin panas lagi karena Sarah mengacungkan jari tengahnya kepada Andi. Bukannya menyemangati seperti Nabe, eh Sarah malah jadi ngeselin.
“AYO BOCIL!” teriak Nanang.
“BOCIL LO PASTI BISAA!!!!” sahut Andi.
“GUE GA TAU NAMA LO. TAPI PLIS CEPETIN NAIKNYA!!!” Rijek udah ga tahan lagi.
Tangan pria berpostur bocil berhasil menggapai kayu bulatan yang ada di puncak. Semua hadirin bersorak tatkala tubuhnya berhasil duduk di sana. Pondasi pun runtuh seketika karena kehabisan daya menunggu pria postur bocil yang sudah sampai di puncak. Andi ditiban pantatnya Rijek, sedangkan Rijek diapit sama keteknya Nanang. Seperti tumpukan mayat, mereka saling berhimpit satu sama lain di sana.
Tidak mempedulikan rasa sakit yang diderita, Andi langsung berdiri untuk melihat pria postur bocil sedang mengibarkan bendera merah putih. Kalau dulu-dulu di tempat tinggal Andi, bapak-bapak biasanya meletakkan bir tepat di puncak. Layaknya pembalap F1 yang baru saja juara podium, ia membuka bir tersebut dengan cara menggoncang-goncang. Bir tumbah ke bawah. Lalu nih para bocil laknat malah muka mulut biar tahu rasanya bir itu gimana.
“YEE KITA MENANG!!!!” Bang Asep kegirangan di bawah pohon pinang.
Kemenangan ini sungguh berarti bagi Andi. Seluruh hadirin bersorak gembira sewaktu bendera merah putih berkibar dengan gagahnya. Tidak ada satu pun yang tidak larut dalam momentum sekali setahun ini. Setiap perjuangan yang terkucur hari ini merupakan manifestasi bagaimana para pejuang negeri kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia. Keringat hari ini tidaklah cukup untu menggantikan darah serta teriakan dari para pendahulu. Cukuplah kita untuk mengenangnya sekali setahun serta mengiplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“YEEE LO MENANG!!!!” Sarah bergantung di belakang tubuh Andi. Ia memanjatnya, lalu mengangkat tangan karena girang.
“Aduh Sar, berat nih elo!”
“Alah gini aja. Lo tadi bisa nahan dua orang di atas tubuh lo.”
“Lo bukan berat tubuhnya, tapi berat dosa heheh!!!” Andi tertawa keras.
“Berat dosa gini tapi gue tetep pacarnya elo!!! YEE KITA MENANG!!!”
Andi tersenyum sembari mengarak Sarah yang berada di atas pundaknya. Langkah Andi begitu riang. Anak-anak mengikuti langkah mereka di belakang, termasuk Maya yang sedang makan eskrim. Andi heran kenapa tuh anak tiap ketemu pasti megang makanan dan minuman dingin.
__ADS_1
Langsung di tempat, Pak Alam memberikan dua bungkus rokok kepada delapan personil pemuda dan satu bapak-bapak nyasar yang ga tahu kenapa bisa join mereka. Rokok pun terasa nikmat sewaktu disulut, apalgi Andi mengambil rokok suyra fafaritnya. Rijek yang jarang ngerokok kini mengambil rokok malrobo paling mahal. Keseruan ini diisi dengan canda riang sesama panitia yang membahas sebegitu lucu ketika mereka berada di batang pinang. Hingga adzan magrib berkumandang, mereka balik ke posko dan rumah masing-masing untuk berbersih diri. Malam ini merupakan malam puncak yang tidak bisa dilewatkan.
Gantian, kini Andi yang dipijitin sama Sarah. Tangannya dilumuri balsem karena sehabis memeluk batang pinang dengan kuat. Kaki Andi dipijitin dengan lembut karena udah capek-capek berdiri sebagai pondasi. Bagian yang paling enak itu ialah pundak yang terasa pegal-pegal, terutama setelah setelah Rijek berada di depannya.
“Wah … hadianya pasti gede nih,” pancing Sarah.
“Hadiah dewasa itu sebesar dua juta empat ratus. Kita dapat tiga ratus ribu satu orang ….”
Pundak Sarah dipukul kuat-kuat. “Wah … bisa nonton sebulan non stop kita nih Ndi.”
“Nonton pale lu. Nah gini, Karang Taruna mau ngadain perpisahan gitu sama kita. Gue ga tega kan kebersamaan kita selama ini ga ada kesan terakhirnya. Jadi, gue pengen pesta privat kita diganti sama mereka. Oke?”
“Setuju gue tuh.” Tasya mengakat suara. “Gimaan semuanya?”
“Gue sama Rijek ngikut ketua,” balas Nanang.
“Gue ngikut Sarah,” ucap Nabe.
“Ya elah pada ngikut semuanya ini. Jadi, setuju ya kita ngadain party sama pemuda dan pemudi desa. Setelah penutupan panitia, gue rencanakan sama Bang Asep. Di belakang posko kita aja caranya. Oke?” jelas Andi.
“Okeee ….”
Malam ini malam puncak, jadi Andi meminta anak KKN berdandan secantik-cantiknya. Meskipun mereka pakai baju dinas KKN, muka harus tetap keren seperti anak tongkrogan. Sepatu-sepatu mahal yang sempat di bawah, kini harus dipakai. Sudah jelas siapa bintang malam ini, yaitu sang anak DPR yang cantiknya kaya Luna Maya, tinggi, ramping, serta menawan. Nabe lagi-lagi tidak lepas dari kesan sexy sehari-harinya. Sementara Sarah seperti biasa simple tetapi tetap manis di mata Andi.
“Minta deodorant elo.” Nanang mengambil alih deodorant Andi yang barus aja ditempelin pada ketek.
“Ya elah, babeh elo aja yang tiap hari keluar pulau, tapi beli deodorant aja kaga mampu.”
“Deodoran gue kan udah habis. Ga sempat ke swalayan juga selama di sini.” Kini Nanang menoleh kepada Rijek untuk meminta parfum axe yang bikin bidadari jatuh dari loteng. “Minta parfum elo.”
“Kaga modal sumpah,” sindir Rijek.
“Kite kite doang kok pelit sih kalian. Ah ...!!!” Nanang sudah perfek sekarang karena harum.
Andi menyisir rambutnya ke belakang dengan rapi. Gaya Andi necis banget mala mini, berharap para gadis-gadis desa pada ngelirik. Setelah memastikan seluruh anggotanya perfek hari ini, mereka pergi ke lapangan bola yang sudah berkumpul para warga. Pejabat-pejabat sekitar tampak duduk di kursi depan, sementara warga desa berada di belakangnya. Andi dipersilahkan untuk duduk berdampingan dengan pejabat desa karena posisinya sebagai Ketua Panitia dan Ketua KKN desa ini.
Pembicara pertama dimulai dari Pak Camat yang langsung dihadiri tanpa perwakilan. Lalu, Kepala Desa Maju Jaya yang memberikan terima kasihnya kepada panitia serta anak KKN yang sudah sebulan lebih berada di sini. Berkat mereka, suasana desa kembali hidup. Hanya sekali setahun anak KKN ada di desa sebagai penambah warna suasana desa.
“Kita sambut Ketua Panitian serta Ketua KKN Desa Maju Jaya ….”
Sarah bertepuk tangan paling gede. Ia meneriaki nama Andi dengan keras. Naskah pidato malam ini juga dari Sarah sendiri.
“Khmmm … assalamualaikum, salam sejahtera bagi kita semua, omswastiswastu, rahayu … apalahi ya.” Andi bengong sebentar yang membuat Sarah memegang dahinya. Selalu saja seperti itu selalu goblok di awal-awal pidato. Selanjutnya, Andi dengan lancar memberikan pidato singkatnya. “Akhir kata … saya berterima kasih kepada suruh jajaran pejabat Desa Maju Jaya serta pemuda-pemudi desa yang sudah berpartisipasi untuk menyemarakkan gema ramadha … eh maksud saya semarak gema tujuh belasan. Semoga kita mengimplementasikan semangat perjuangan pendahulu kita demi Indonesia yang lebih baik lagi.”
Hadirin bertepuk tangan. Andi turun dari panggung dengan wajah yang cerah. Untuk pertama kali Andi mendapatkan tepuk tangan semeriah ini. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan cabut undian dengan hadiah paling besar yaitu sepeda. Andi terispirasi dari Bapak Presiden Jokowi yang sering memberikan hadiah sepeda kepada warga secara gratis. Setelah itu, barulah biduan bergoyang.
“AYO NYAWERRR!!!” Bang Asep berdiri paling depan.
Pejabat-pejabat penting sudah penting sudah pulang. Malam menunjuukkan pukul dua belas malam. Hanya para lelaki yang tinggal untuk menyaksikan biduan bergoyang. Anak cewek KKN juga balik lagi ke posko karena kelelahan seharian berkaktivitas.
“Mana nih minumannya, Bang?”
Bang Asep mengeluarkan botol bir yang terbungkus dengan plastik hitam, lalu menuangkannya ke gelas plastik bekas air mineral. “Ini … ga minum ga asyik yaa kaaan!!!
Baru saja Andi tadi disanjung karena kesopanannya, tapi sekarang malah minum bersama pemuda desa. Parahnhya lagi, Andi ngajakin Nanang dan Rijek buat minum. Alhasil, mereka goyang di bawah panggung biduan. Bapak-bapak tampak berdiri di samping biduan untuk menyawer dengan cara menyelipkan uang ke baju biduan. Malam tidak jadi dingin, malah makin panas karena goyangan.
Yang tadi nolak minum, sekarang malah nambah, yaitu Nanang. Makin malam makin tinggi aja tuh tubuh. Takutnya kalau terlalu ketinggian malah jatuh.
Tiba-tiba saja Andi menerima telepon dari Felix.
“APE?? GUE LAGI SAMA BIDUAN NIH!!!” teriak Andi karena suara speaker hajatan terlalu keras. “APA? GUE KAGA DENGER!!!”
“Gue chat aja ya,” balas Felix.
“OKe …..”
Tidak lama kemudian, datanglah berita duka dari Felix.
“Ndi … bokap gue meninggal.”
__ADS_1
Yang awalnya Andi tinggi karena bir, kini jadi sadar kalau temannya sedang bersedih. Ia menarik Nanang dan Rijek untuk pamit dari konser biduan.
***