
Mo dipeluk
Ayam sudah berkokok semenjak dua jam yang lalu, padahal matahari belum sama sekali menampakkan diri. Dingin begitu terasa menusuk ke dalam tulang hingga membuat giginya menggeretek. Air wudhu bekas sholat shubuh tadi membuatnya berburu ke dalam tenda untuk berselimut. Andi tidak peduli walaupun adik bimbingannya di dalam tenda hanya menggunakan kaos ketat yang biasanya ngebuat matanya jelatatan ke mana-mana. Yang pentuing anget-anget dulu.
"Dek, plis gue mau selimutan dulu." Andi duduk di sudut tenda sambil menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
Sontak saja kedatangan Andi yang tiba-tiba membuat Naila dan yang lain menjarak. Padahal kan tenda cuma buat anak perempuan. Eh, ni si ******* berani-beraninya masuk. Tapi ga apalah, mereka kasian ngelihat andi yang kedinginan.
"Kesambet apa lo?" tanya Naila.
"Dingin banget sumpah ...."
"Ya elah biasa aja kali. Kami cuma pake kaos tipis gini biasa-biasa aja. Cowo lemah," balasnya.
"Bodo ...."
Selimut tebal membuat tubuhnya sedikit lebih nyaman. Matanya perlahan menutup hingga terlelap tidur.
__ADS_1
Tamparan seorang wanita membangunkan Andi dari tidurnya. Sayup-sayup matanya menatap Sarah yang tengah berjongkok sembari memegang secangkir minuman hangat yang masih beruap tipis. Ada yang aneh dengannya dirinya, tenggorokan Andi begitu kering dan panas. Kepalanya terasa sakit sebelah, serta matanya sedikit berkunang-kunang tatkala menatap Sarah.
Sarah memegangi kepala Andi yang panas karena demam. Anak ini selalu memaksakan diri. Ketika semua panitia tengah lelap tertidur, ia masih duduk memangku kepala Sarah yang ayik terlelap di bangku kayu. Hingga semuanya sudah bergegas mengambil wudhu, Andi masih setia menjaga tidur Sarah tanpa bergerak sedikit pun. Barulah ia beranjak ketika Sarah bangun dan memintanya untuk Sholat Subuh.
"Lo demam ...." Suara Sarah menyiratkan kehawatiran kepadanya. "Tadi, Naila yang kasih tahu gue kalau lo ngigau. Katanya lo takut sama hantu penunggu pohon beringin di kompleks yang pernah lo lemparin batu."
Andi pernah ngelempar pohon beringin di komplek rumahnya. Alhasil, Andi demam selama seminggu sambil ngigau-ngigau ga jelas. Untung aja mamanya Andi punya bekal agama yang kuat.
"Iya, ya─" Andi terbatuk sesaat. Ia rasakan kepalanya dipenuhi oleh keringat dingin ketika tertidur. Padahal udara di sini masih terasa dingin. "Kayanya demam .... gimana? katanya mau nge-prank adik-adik ...."
Sarah tersenyum. Ia lap kening Andi yang basah sembari membuka selimut yang masih menutupi sekujur tubuhnya. "Gue batalin. Soalnya ga ada yang mau ngegantiin lo. Cuma lo yang bisa teriak sama adik-adik di sini."
"Ini bubur ayam." Tangan Sarah mengeluarkan sesuatu dari plastik. "Ini teh hangat sama air mineral. Setelah itu minum obat. Nih obatnya ....."
"Udah jam berapa?" tanya Andi.
"Jam tujuh mungkin ... panitia juga lagi menilai karya yang dibikin per kelompok."
__ADS_1
"Mereka di mana?" tanya Andi lagi.
Tangan Sarah membuka resleting tenda. Terlihat Naila dan yang lain sedang berkumpul di depan tenda dengan karya yang sudah mereka buat. Para panitia penilai mendatangi satu per satu untuk menilai.
"Lo di sini aja dulu, bentar lagi mau diadain lomba selanjutnya ..."
"Ga ah ... gue mau keluar ..." Andi berdiri dan berusaha keluar.
Sarah menahan tangan Andi. "Gue tahu lo ga bisa dilarang. Tapi, makan dulu bubur ayam dan obatnya. Setelah itu, lo bebas mau ngapain."
Hati Andi luluh dengan kebaikan Sarah kepadanya. Wanita itu begitu peduli dengannya, padahal demam seperti ini bukanlah masalah besar. Di balik Sarah dengan ke ba-baran yang sering ia lihat, selalu ada sisi lembut yang suatu waktu ia tunjukkan. Andi duduk kembali di hadapan Sarah.
"Makasih ... lo care banget." Andi melebarkan tangannya. "Mo dipeluk ........"
"Mau demam atau enggak, otak lo sama aja. Hahahah," balas Sarah dengan mencubit kuat bibirnya.
"Ya kan gue pengen dipeluk."
__ADS_1
"GA!"
***