
Enggak, karena ini perasaan gue. Cinta enggak bisa dipaksakan, ya kan? Maka ngelupain itu pun enggak bisa dipaksakan. Biar saja dia ada ada, hingga pada waktunya tiba.
Telah ribuan tahun manusia membicarakan cinta, semenjak cinta itu tumbuh pertama kali di tangan Tuhan kepada manusia, lalu diciptakan-Nya seorang pasangan untuk saling melengkapi. Keberadaan cinta pun kemudian menjadi sebuah semangat untuk bergerak di belahan dunia. Pasangan tersebut terpisah jauh, lalu bertemu pada satu titik. Bersemi cinta itu, ranum menjadi satu. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka meskipun buasnya taring hewan dan menyeramkannya alam terus saja menghantui.
Cinta sebagi pernyatu itu telah menjadi bukti bahwasanya setiap insan butuh untuk penyatuan, atas nama cinta. Namun, ada kalanya cinta menjadi pemisah dan pemecah. Dosa pertama kali di atas dunia ini dilandaskan oleh kekuatan cinta yang negatif, yaitu kecemburuan. Waktu berjalan sebagai mestinya, memberikan cinta untuk berkembang menjadi pemecah. Sepanjang sejarah kecintaan terhadap sesuatu mulai mengikis makna cinta itu sendiri.
Satu pertanyaan yang mencuat, apakah cinta perlu memiliki?
Jika cinta harus memiliki, akankah setiap manusia mempertahankan cinta itu tanpa memerhatikan situasi dan kondisi?
Pembicaraan cinta mulai menumbuhkan kebijaksanaan bagi para pemikirnya, yaitu hak kepemilikan. Sangat naif rasanya cinta dijadikan sebagai kata pembendaan, sehingga kepemilikan menjadi hal wajar. Cinta bukanlah benda yang dapat disentuh dan dimiliki. Cinta merupakan realitas abstrak yang hanya bisa dirasakan. Hati tempat merasa menjadi awal mula kebijaksanaan, sehingga patut tahu kapan harus memiliki maupun melupakan. Memiiliki cinta menjadi awal kebahagiaan, melupakan cinta menjadi awal bagi harga diri seorang manusia.
Asap rokok mengawang pada teduhnya cahaya senja di langit. Awan tipis mulai bergerak manis menutupi cahayanya yang seiring detik berjalan akan semakin memudar. Petang menjemput di ujung waktu yang menjadi tanda bagi para setiap makhluk kembali mencari tempat berteduh. Maka, berterbanganlah burung-burung ke sangkarnya, menunggu untuk disambut teman sejawat serta anak-anak yang mereka tinggalkan.
Sementara di bawah langit itu, terjadi pembicaraan antara dua insan mengenai cinta itu sendiri. Asap rokok mengawang di udara dan pahitnya kopi melekat di langit-langit mulut, bersatu padu menciptakan kenyamanan pada senja kali ini. Tidak lupa pula asap motor yang Memet mainkan sebagai tanda mesin yang sedang dalam peforma terbaik.
“Lo tahu resikonya kan kalau lo tetap bertahan, bukan menjadi jaminan kalau Tami jadi milik lo.”
Memet menurunkan standart motornya Andi yang ia coba, lalu menoleh pada pria itu. “Ya enggak masalah. Lah kan gue udah biasa patah hati, jadi enggak kaget lagi.”
“Hahah … itu malah nyusahin elo namanya. Mental lo yang kenak, ga mau makan, ditinju makin loyo, makin berjayalah maling di komplek ini kalau lo lagi galau.”
“Haha kalau soal maling yang berkeliaran, gue mah pasti cepet.” Asap rokok menyeruak dari mulut Memet. “Menurut lo cinta itu harus saling memiliki?”
__ADS_1
Andi mengernyitkan dahi. “Apa ya? Hmm lebih ke \`lebih baik\` begitu, bukan berarti keharusan. Dengan memiliki cinta, maka lo bahagia.”
“Mungkin itu dari perspektif lain kayanya. Tapi menurut gue cinta itu enggak harus memiliki. Kalau lo cinta, maka cinta ajalah. Ngapain juga lo ngemis-ngemis cinta sama orang lain. Elo yang punya hati, jadi suka-suka lo mau ngerasain apa aja. Mau lo patah hati, mau lo seneng, mau lo cemburu, itu urusan hati lo. Tapi, lo tahu apa yang terpenting?”
“Apa?”
Telunjuk Memet mengarah kepada Andi.
“Mencintai dengan tulus. Itu aja cukup, jangan pernah ngemis cinta sama orang lain.”
Bibir Andi melingkar. “Lo dewasa banget hari ini. Kesambet hantu apa? Belagak tahu cinta banget.”
“Hei, gue ini dasarnya lebih tua dari kalian. Gue ini angkatannya Kevin, tapi gue tinggal setahun waktu di SD.”
“Kan gue bilang, gue enggak pernah usahain buat ngelupain Tami. Gue cuma tahu akan ada satu titik nantinya gue jenuh sendiri dan gue suka sama orang yang lain. Jadi, tinggal masalah waktu.” Memet menoleh ke Andi. “Lo tahu kesukaan Tami apa aja? Gue cuma pengen tahu aja. Soalnya, gue enggak terlalu mengenal Tami sampe hal-hal yang begitu. Apalagi karena Tami udah pergi jauh semenjak bocil.”
“Hmm … apa ya … Tami itu suka makan, hampir sama dengan Sarah. Tapi bedanya kalau Sarah suka makanan pedas dan asin, Tami itu suka yang manis-manis. Tami itu dari kecil suka seni. Dia itu rutin latihan balet waktu SMA dan ngelatih di sanggarnya, tapi semenjak kerja dia enggak nari lagi. Paling seni yang masih Tami lakuin, kaya ngelukis, ngegambar, dan bikin kerajinan tangan. Tangannya itu halus banget, beda kaya kita yang kasar kalau megang pensil langsung patah ujungnya.”
“Hahah … beda jauh banget sama gue yang sukanya sama mesin. Dari kecil gue suka modif sepeda, sampe sekarang bisa modif motor. Mainannya oli sama baut. Boro-boro mau mikirin seni,” balas Memet.
“Bener juga ya Hahah ….”
“Andi, kayanya gue mau masuk kuliah, deh,” ucap Memet. Topik yang sangat melenceng dari sebelumnya.
__ADS_1
Mata Andi jadi memicing karena bingung. Bagaimana bisa seorang Memet yang males banget belajar dan baca buku, tiba-tiba mau kuliah. Sejak tamat dari SMK, Memet bertekad hati untuk lebih memilih bekerja. Padahal, emaknya nyuruh untuk tetap kuliah sambil bekerja. Tapi, Memet yang namanya males banget belajar, dia ga maulah disuruh kuliah.
“Wah, tumben banget lo. Jangan deh, kuliah itu buang-buang duit kalau lo males-malesan.”
“Ini gue serius, Ndi.”
“Motivasi lo apaan kok bisa kepikiran buat kuliah?” tanya Andi.
Asap rokok semakin mengepul di hadapan Memet, terbang ke langit untuk menutupi langit yang mulai menggelap.
“Gara Tami. Gue ngerasa dia pintar dan gue goblok kurang wawasan. Enggak cocok aja kalau gue bener-bener tulus cinta sama Tami. Selain itu, gue jauh banget terbelakangnya secara wawasan daripada kalian yang kuliah. Beda memang pola pikir itu. Gue pengen jadi pinter kek kalian yang sekolah lagi. Jadi, gue pengen kuliah malam.”
“Wah bagus dong. Itu pilihan yang bagus. Tapi, lo harus siap dengan resikonya. Lo bakalan sibuk bikin tugas, baca buku untuk kuis, dan lain-lain.”
Tangan Memet menepuk punggung Andi.
“Enggak apa-apa. Mana tahu ijazah gue yang bikin hidup keluarga gue berubah. Ya kan?”
Andi mengangguk seiring dengan tampaknya seorang wanita berpakaian dinas PNS. Ia datang dengan sekantong besar bawaan. Senyum Tami melingkar tatkala menemukan Andi sedang bersama Memet di sini.
“Aku tadi mau masuk ke rumahnya Andi, tapi enggak ada orang. Aku cari ke mana-mana, ternyata aku nemuin Andi lagi di rumah Memet.” Tangan Tami mengangkat plastik tersebut. “Mumpung kalian ada di sini, kita makan bareng yuk. Ada donat.”
Kedatangan Tami kali ini melengkapi kebersamaan yang mereka harapkan dari dahulu, yaitu berkumpul bersama lagi.
__ADS_1
\*\*\*