Andi X Sarah

Andi X Sarah
36. Saingan


__ADS_3


Saingan



Masuk sekolah tanpa belajar memang membosankan. Ujian telah usai, tidak ada lagi yang mau dipelajari. Tinggal menunggu hasil nilai pemberian dari para guru. Memang para murid memang ga tau syukur, disuruh belajar ga mau, nah giliran ga belajar malah bosan. Sama dengan hal kalau belajar terus rasanya muak, trus kalau libur kelamaan malah tambah muak.


Andi dan ketiga teman gilanya berkeliling sekolah tanpa arah. Para murid laki-laki dengan senang hati melakukan hal yang sewajarnya dilakukan oleh para berandalan sekolah. Cabut, apalagi. Ditambah lagi penjaga tembok sekolah dari para tukang cabut lagi ga masuk beberapa hari. Sarah masih dirumah menunggu tubuhnya sehat kembali.


Anak Amak berhenti di sebuah kelas 12 yang menyabet semua gelar dari pertandingan classmeeting. Mereka mengintip piala yang berjejer melalui jendela kelas.


"Njir, kelas Kevin memang hebat, ya," puji Nanang.


"Gimana ga hebat, liat aja badannya segede tukang semua. Gimana mau dilawan." Agus mengerakkan jarinya untuk mencongkel beberapa bongkah upil dan memberinya kepada Felix. "Nih, gue dapat yang gede."


"Eh, upil jangan lo bagi ... lo kata rejeki dibagi-bagi." Felix membersihkan seragamnya yang tertempel sebongkah upil dari Agus.


"Kata bapak Nanang kita harus berbagai walaupun hal terkecil sekali pun."


Andi menelan ludah. Sudah saatnya mereka melancarkan aksi keberandalan mereka.


"Mulut gua asem."


Kode yang diberikan sangat jelas oleh teman-teman Andi. Mereka melangkah secepatnya ke WC buat nyebat beberapa batang. Kalau tidak cepat, maka WC bakalan penuh sama anak laki-laki yang mulutnya udah pada asem.


WC penuh oleh keempat orang yang sakaw rokoknya melanda. Asap mengepul tatkala mereka menyulut rokok satu per satu. Tak hanya di WC mereka yang penuh dengan asap roko, tetapi WC samping kiri dan kanan juga begitu. Semua penuh dengan para berandalan sekolah yang ga tau aturan.


"Bro, gue putus sama pacar gue."


Seketika Anak Amak fokus ke pembicaraan di WC samping kanan mereka. WC telah berubah menjadi bilik curhat. Udah biasa sih, kalau WC dijadiin bilik curhat sama cowok-cowok. Emang cewek aja yang butuh curhat, cowok juga.


Agus memasang wajah liciknya dengan menghidupkan perekam suara di handphone-nya.


"Gimana bisa putus?" tanya temannya.


"Jadi kan waktu itu gue lagi main mobail lejen. Trus dia nelpon, ga gue angkat. Gue kan lagi main mobail lejen dan ga bisa diganggu. Dan dia marah gara gue mentingin main mobail lejen daripada pacarnya sendiri."


"Alah, gara gituan aja bisa putus, sensi amat sih pacarnya lo."


"Bukan hanya itu."


"Trus?"


"Dia ngatain gue main game bocahlah, mainin game yang plagiatlah, mainin game yang cuma 8 bit-lah. MOBA kok analoglah ... Pokonya game gue dihina gitu. Kan gue ga suka, itu harga diri sebagai gamer sejati."


"Tinggalin aja cewek kaya gitu, gue setuju."

__ADS_1


"Trus gue ngaku kalau gue main mobail lejennya lawan mantannya dia. Parahnya lagi team gue kalah. Soalnya kawan gue ga nge-ban hero karena dia AFK. Dan parahnya lagi lawannya gue dapet hero Kagura sama Lancelot. Yaudah, kena gengbeng team kami."


"Gue tau perasaan lo."


"Sebenarnya gue putusnya bukan karena gue mentingin mobail lejen, tapi waktu game lagi berlangsung. Gue bilang kalau gue udah ***** sama pacar gue, udah grepe-grepe pacar gue ke mantannya dia. Trus mantannya dia nge-screenshoot dan ngasih tau ke pacar gue. Yaudah gue putus."


"Tenang aja kan gue."


"Lo mau jadi pengganti dia?"


"Mau ... gue kan suka sama lo."


LAH????


NGE-GAY DI WC????


ANJIRR ...


PRIA GA BENER!!!!!!


Anak Amak jadi terguncang dengan percakapan absurd dari dua orang pria ga jelas di samping WC mereka. Agus dan Andi udah nutupin pantat takut di tusbol sama orang di sebelah. Felix dan Nanang udah lari kebirit-birit secepatnya takut Andi dan Agus terpicu jiwa gaynya. Soalnya kan dulu mereka pernah diciduk di WC dan Sarah nyebarin isu kalau mereka lagi nge-gay.


"Anjir ... tolong selamatkan sekolah kita!!!!!" Andi dan Agus berlari.


Sementara itu di WC tempat percakapan absurd itu terjadi.


"Iya, betul tuh. Brilian juga otak lo, kampret."


Ternyata mereka lagi nyari ide buat dijadiin naskah drama komedi di pensi besok.


Matahari semakin berani memancarkan cahayanya. Segumpal awan pun tidak ada yang tampak di langit sana. Hari ini begitu berani dengan gerah yang luar biasa. Sementara itu Andi dan teman-temannya masih bertahan tanpa diberi sedikit pun celah untuk pulang. Sudah berkali-kali mereka berkeliling untuk mencari tempat cabut, semuanya telah dijaga sama guru-guru magang.


Andi berlindung dibalik ketek Agus berbulu bagai hutan belantara. Ga peduli dengan bau asem yang harum dari ketek Agus, dia tetep nyelip di sana karena di hadapan mereka sedang berputar kipas angin di kelas Nanang. Kalau geser dikit, Andi ga bakal dapat angin.


Cewek-cewek memerhatikan mereka yang lagi buka baju. Bukannya kagum melihat perut roti sobek dari pria-pria populer di SMA, mereka malah ilfilnya kaya anjing yang kepanasan sambil julur-julur lidah. Tidak menjaga image sedikit pun sebagai pria-pria tamvan.


"Gimana keadaan Sarah?" tanya Felix pada Andi. Tiba-tiba dia mukulin Agus. "Woi, kalau ngupil jangan kasih ke gue dong. Kebiasaan nih."


Agus kembali menambang hasil produksi upilnya. "Berbagi itu indah, bro."


"Kayanya udah mendingan, deh. Dua hari yang lalu dia udah main basket di rumah gue sama Tami. Walaupun luka-lukanya masih belum sembuh sempurna."


"Kasian, cantik-cantik kakinya ntar korengan," balas Felix sambil ketawa.


Kipas angin pemberian dari bapaknya Nanang cukup memberikan kesegaran bagi mereka berempat di hari yang membara ini. Walaupun begitu, kesuntukan mereka karena terkurung sekolah semakin menjadi-jadi. Tidak hanya mereka berempat, tetapi seluruh murid di SMA ini. Rajin maupun berandalan tetep aja muak kalau ga ngapain-ngapain di sekolah.


Di tengah kesuntukan yang tiada tara ini, terdengar langkah seseorang yang berjalan menuju ke kelas. Anak cewek di kelas Nanang teriak ga karuan kaya ngelihat cowok ganteng. Ternyata Pram beserta anak KODOMO sedang menuju ke kelas Nanang.

__ADS_1


"Wah ... ada kak Pram. Ganteng banget," kata semua anak cewek di kelas Nanang.


Wajah Pram tampak tak senang saat dia memasuki kelas Nanang. Anak Amak jadi merasa was-was dengan apa yang akan terjadi. Sudah lama mereka tidak berseteru seperti ini. Suasana semakin memanas karena seluruh anak KODOMO masuk ke kelas Nanang.


Ada yang aneh pada mereka. Kevin terkesan menghalangi langkah Pram, tetapi Pram tetap saja berusaha untuk maju.


"Udah, Pram. Jangan lo perpanjang masalahnya!!" Kevin menahan langkah Pram.


"Diam lo. Ini urusan gue sama dia."


Andi dan teman-temannya berdiri saat Pram sudah di hadapan mereka. Tiba-tiba Pram mendorong Andi dengan keras hingga terjerembab ke kursi di belakangnya. Melihat Andi yang dihantan, ketiga temannya menjadi naik pitam. Mereka membalas menendang Pram ke komlotan mereka.


"Eh, lo jangan sok-sokan, ya!!!!" Agus menunjuk Pram dengan keras. "Ada apa ini? Ngapain kalian ke sini??!!!"


Kevin melangkah maju. Dia terlihat rilex tanpa ada beban. Dari tatapannya, Agus tahu jika Kevin mendekatinya secara damai.


"Ada sesatu yang harus mereka berdua selesaikan. Bersifat pribadi, kita ga harus ikut campur. Gua jamin, anggota gua juga ga bakalan ikutan. Cuma mereka berdua, pliss ... sebelum ini semakin memanas."


Arah tatapan Agus mengarah ke Andi yang sedang merintih kesakitan karena ulu hatinya terkena hantaman dari Pram. Walaupun kesakitan, Andi tetap berusaha berdiri. Ia menyentuh pundak Agus.


"Udah, Gus. Biar gua yang selesain ini," katanya pada Agus. Agus tampak mengangguk sekaligus cemas dengan Andi. Namun ia yakin, jika berduel, Andi tidak akan kalah walaupun dengan Memet si jagoan SMK sebelah. "Lo mau apa?"


Urat leher Pram menegang. Ingin sekali ia menghantam wajah Pram sekarang. "Lo kan yang hasut Sarah buat ngejauhin gue?"


"Bukan gue, itu salah lo sendiri. Di saat kalian dekat, lo malah jalan sama cewek lain. Lo kira gue ga tau kalau lo ngedeketin banyak cewek di sekolah ini. Termasuk Tami, temen gue!!"


"Jangan mengelak lagi deh. Gue tau semua ini gara-gara lo. Lo menghasut Sarah buat ngejauhin gue. Ini semua gara lo!!!!"


Andi mengambil kerah Pram. Tampak Pram tidak melawan sedikit pun, kecuali urat-uratnya yang menegang. "Kalau semuanya gara-gara gue, emangnya kenapa? Bukannya lo sendiri yang bilang kalau kita bakalan jadi saingan?"


"Dan lo jawab waktu itu kalau lo ga punya perasaan dengan Sarah."


"Iya, gue bilang begitu saat itu. Asal lo tau, Sarah ngejauhin lo karena lo nyakitin dia" Andi mendorong Pram ke depan. Tatapan mereka saling beradu kuat. "Dan satu hal yang harus lo ketahui, gue juga suka sama Sarah!! Kita bakalan jadi saingan. Tapi sayang, lo terlalu lemah buat jadi saingan gua!!"


Seluruh umat yang menyaksikan geger dengan pernyataan Andi. Sosok Andi yang berandalan dan suka bermusuhan dengan cewek huluk, ternyata diam-diam menyimpan perasaan padanya. Yang paling terkejut adalah para Anak Amak. Yang mereka ketahui adalah jika Andi dulu suka ngata-ngatain Sarah dengan sebutan yang enggak-enggak.


APA ANDI SUKA SAMA SARAH????


INI BENERAN ATAU CUMA AKAL-AKALAN KAYA DULU LAGI????


HMMM .... SUDAH KUDUGA!!!!!!


Pram yang mendengarkan kalimat itu langsung menghantam wajah Andi. Andi tidak ingin kalah, ia balas menendang Pram. Perkelahian yang sengit terjadi di dalam kelas. Agus dan teman-teman ingin membantu, namun Kevin menahannya. Biarkan mereka menyelesaikan keluh kesahnya dengan cara ini.


PRAM ... LO BODOH!!!!! ucap Kevin dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2