
Kejadian ketemu Agus lagi jadi abang-abang tukang bakso masih terngiang-ngiang di pikirian. Ingin sekali ia ceritakan pada yang lain, tetapi Agus minta tetap dirahasiakan karena tidak ingin berita ini tersebar luas. Yang ada nanti malah jadi barabe karena takut temen-temen guobloknya itu ngangguin Agus waktu lagi kerja. Tapi, mamanya Andi malah ketawa ngakak denger cerita itu. Termasuk mamanya pun tiada menyangka Agus bakalan jadi abang tukang bakso bawa walkie talkie.
Satu kesamaan antara Andi dan Sarah, yaitu cepet banget laparnya. Ga tau kenapa, mungkin lambung mereka gede atau gimana. Karena seringny jajan di luar, perut Andi jadi buncit dan tubuhnya makin melar aja. Tidak seperti dahulu waktu SMA yang perutnya Andi masih kotak-kotak gara main futsal, eh sekarang kek bapak-bapak. Beda sama Nanang yang memang punya karakteristik tubuh tinggi semapai dan kurus seperti tiang listrik, apalagi Agus yang punya tubuh tinggi cenderung berotot gara-gara sering ngangkatin pupuk kebun bapaknya.
Pengen sih Andi nge-gym biar ototnya kaya Kevin. Sumpah itu Kevin udah keliatan seperti om dedy corbuzer, Kevin itu punya kulit gelap, ampir sama kaya the rock atay Dwyne Johnson, atau bisa juga kaya CJ GTA San Andreas dibikin cheat berotot. Masalahnya, Andi itu orangnya mageran dan lebih milih nonton anime seharian di rumah kalau enggak ada jadwal kuliah. Gimana mau punya tubuh yang bagus. Giliran dibandingin sama Pram oleh Sarah, Andi malah ngambek.
Andi pergi sendirian tanpa Sarah. Kalau bawa Sarah, Andi bakalan enggak bisa beli rokok. Gimana mau beli rokok kalau Sarah selalu minta porsi lebih. Anehnya Sarah walaupun makan banyak, Sarah tetap mempunyai tubuh yang kurus. Malahan, menurut Andi lebih montokan Tami. Pantes aja Andi nyaman sering-sering main ke rumah Tami, terlebih lagi kalau Tamu sering pakai daster tipis. Ah sudahlah ….
Motor butut Mama hasil modifikasi pun dibawa. Bayangin aja Mama Andi kalau setiap arisan kaya anak geng motor karena motornya udah dirombak abis sama anaknya sendiri. Taman kota kini jadi tempat yang enak buat nyantai sore-sore. Selain bisa menikmati komunitas anak skateboard yang lagi main, Andi bisa ngelihatin cewek-cewek yang lagi jogging sore.
“Sate Bundo Kanduang numero uno, alias indak ado duonyo,” ucap Andi sambil nikung kaya Valentoni Rossi nyalip Marquez.
Ia sering sekali makan sate di sana karena menurut Andi, sate padang taman kota adalah sate padang terlezat selautan, udah kaya krebipeti aja terlezat selautan. Ajo Sate tersebut juga sudah akrab kepada Andi. Ajo itu merupakan panggilan abang bagi orang-orang kawasan Pariaman, Sumatera Barat. Sedikit sekali pelanggan yang pandai berbahasa Minang. Karena Andi orang Minang asli yang handal dan fasih berbahasa Minang, ia pun cepat akrab. Tidak heran porsinya selalu dilebihin sama Ajo Sate.
“Ajo, biaso … sate seporsi ….” Andi mencabut kripik sate biar Ajo satenya nambahin ke piring sate nanti.
“Wah, Andi. *Mano nak gadih patang tu*?”
**Mana anak gadis kemarin itu**?
Andi menggaruk-garuk kepala. “Oh, Sarah … *sadang* di rumah.”
**Oh Sarah, sedang di rumah**.
“*Indak Sarah do, cewek wa ang ciek lai*,” balas Ajo Sate.
**Bukan Sarah, cewek kamu satu lagi**.
“*Eh, aden maa ado cewek lain. Sarah tu nyo cewek satu-satunyo. Kalau yang itu, adiak den, Jo. Aisyah namonyo*.”
__ADS_1
**Eh, aku mana ada cewek lain. Sarah cuma satu-satunya cewek aku. Kalau yang itu adik aku, Bang. Aisyah namanya**.
“Oh, duduaklah di situ dulu ….”
Andi beranjak ke tempat duduk semen di mana ia sering menikmati sate sambil ngelihatin anak-anak skateboard beraksi. Seru juga memerhatikan mereka meluncur dan beraksi di papan luncur. Andi jadi kepengen beli skateboard, tapi mamanya pasti ngomel-ngomel nanti.
Tidak terasa Andi menghabiskan rokok sebatang sewaktu nungguin Ajo meracik sate untuknya. Sewaktu mau ngebakar sebatang lagi, terdapat seorang gadis berhijab datang memanggil dirinya. Atas aja sih yang nutup, bawahnya juga tetep ketat kaya cewek-cewek goyang Tak-Tok jaman sekarang. Butuh waktu bagi Andi untuk menganalisa siapa gerangan cewek tersebut.
“Andi, lo kok di sini?”
“Lo siapa?” tanya Andi sok cuek, biar cool gitu. Padahal, dia seneng banget disamperin cewek.
“Ini Naila ….”
Mulut Andi menganga sedikit karena melihat penampilan Naila yang relatif tertutup. Dalam hatinya berkata, anjir tambah cantik aja semenjak gue tinggalin … tunggu dulu, sejak kapan gue ninggalin dia? Mantan aja kaga ….
“Sumpah lo Naila ….” Andi ngegeser sedikit sambil nepu-nepuk tempat duduk. Maksudnya biar Naila duduk di samping. Maklum mode fakboy mode on. “Sini dulu, udah lama banget enggak ketemu.”
Tanpa ragu dan tanpa bimbang, pokoknya gas aja atuh, Naila duduk di samping Andi. Semerbak wangi parfum Naila menyeruak ke hidung Andi sampai ngembang-ngembang. Mata Andi pun enggak luput dari ngembang-ngembang gara-gara jelalatan ke mana-mana.
“Lo lagi apa di sini?” tanya Andi.
“Beli Sate Ajo Bundo Kanduang. Jarang banget ada sate Minang di sini. Sekalinya ada, malah enggak pandai Bahasa Minang karyawannya.” Naila menoleh pada Andi. “Kalau elo?”
“Sama, gue juga beli sate. Ajo-nya asyik, jadi gue sering ke sini sama Sarah.”
Ia sedikit canggung sewaktu menyebutkan nama Sarah. Hal ini dikarenakan masa lalu yang pernah retak di antara Andi dan Sarah gara-gara kehadiran Naila. Ia pernah dibuat merasa bersalah gara-gara bikin Naila jadi ngehindarinnya sebagai senior karena patah hati. Namun, semua itu hanyalah masa lalu. Terlebih lagi sudah dalam jangka waktu yang lama, tentu saja mereka enggan membahasnya.
“Kak Sarah apa kabar?”
__ADS_1
*Giliran Sarah lo panggil Kakak, emang dasar cewek bar-bar* ….
“Sarah seperti biasa, masih gila kaya sebelumnya. Yang berubah sekarang dia lebih sibuk kuliah, ngurusin motor, dan ngelatih karate.” Andi senang karena Naila ingin menanyakan kabar kepada Sarah. “Lo gimana? Kuliah?”
“Kita satu fakulas, kok. Gue di di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.”
“Wah, kita satu fakultas ternyata. Gue kok enggak pernah ketemu lo di fakultas.“ Andi mengangguk paham. “Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ya? Gue banyak kenalan di sana.”
“Sebut aja, gue aktif di Himpunan Mahasiswa, jadi lumayan banyak kenal senior.”
“Kak Kelly, Bang Fadli, Jo si Kribo, banyak lagi. Gue ketemu mereka waktu turnamen futsal semester lalu,” jawab Andi.
Sewaktu itu Andi mengikuti turnamen futsal se-fakultas. Jurusan mereka memenangkan trofi juara. Maklum, Jurusan Pendidikan Jasmani udah pasti jago-jago kalau olahraga, apalagi laki-lakinya. Andi menjadi pemain belakang pada saat itu dan berhasil ngajak satu orang gelud di luar lapangan gara-gara kena sleding.
Ajo datang dengan dua porsi sate di tangannya.
“*Ha … cewek baru ko* ….”
**Nah, cewek baru ini** ….
Andi dan Naila saling bertatap. Mereka serentak mengatakan. “Enggak⸺”
Ajo Satu tertawa melihat respon mereka. “*Tanang se, Ajo ndak kan agiah tahu ke Sarah* ….”
**Tenang aja, ajo enggak akan beritahu ke Sarah** ….
“Hahah … enggak, Ajo. Ini teman aku waktu SMA, tepatnya junior,” jawab Andi baik-baik. Jantung dega-degup nih. Sempat aja Ajo cerita yang enggak-enggak sama Sarah, alamat tamat sudah Riwayat Andi.
“Hahah … Iyo, asalkan jangan lupa bayar aja. Semua rahasia aman. Sip!!!”
__ADS_1
Ajo memberikan jempolnya dan pergi meninggalkan mereka untuk bercerita.
***