
Naila Sikumbang namanya, salah satu junior yang diberi kesempatan untuk berkenalan dengan Andi. Pertemuan pertama mereka terjadi di turnamen PUBG di mana tim Andi habis dibabat habis oleh Naila seorang. Pertemuan itu ternyata tidak berjalan mulus hingga timbullah rasa kesal berkat sikap Naila yang cenderung tidak menghargai dirinya sebagai senior. Sayangnya, sekolah memilih Andi dalam program bimbingan sebagai mentor dan langsung menghadapi Naila sebagai adik bimbingannya.
Sifat Naila hampir sama dengan Sarah yang selalu ingin berbuat sendiri. Peraturan hanya berasal dari dirinya dan hanya untuk dirinya. Orang lain tidak terlalu diberi hak untuk mengatur bagaimana mereka bersikap. Hal itu mulai Andi sadari seiring berjalan waktu dan menemukan kesamaan di antara mereka berdua. Pengalaman menghadapi Sarah yang keras kepala menjadi bekal untuk membimbing Naila yang sering berbuat ulah.
Cukup kesulitan bagi Andi untuk mengatur anak itu. Terlebih lagi sifat Naila banyak yang tidak disukai oleh senior perempuan. Beberapa kali Andi melihatnya tengah dilabrak oleh para senior. Bukannya diam sembari meminta maaf, Naila malah melawan atas idealismenya sendiri. Andi dan Naila pun sering bersama, hingga membuat kecemburuan di hati Sarah. Hubungan mereka renggang hingga berakhir putus.
Hanya satu yang Andi sadari ialah Naila pernah menyukainya. Waktu menumbuhkan itu semua, hanya pada Naila, sementara Andi dipaku bimbang bagaimana mengembalikan Sarah atau melupakannya yang semakin dekat dengan Pram. Pada saat itu, Andi memang merasa kalah telak dari Pram yang sudah sukses sebagai polisi dan Andi hanyalah seorang brengsek SMA. Namun, dengan penuh kedewasaan Andi bisa mengembalikan posisi itu kembali. Naila sadar bahwa dirinya bukan untuk diri Andi, melainkan hanya menjadi benalu jika terus berharap. Sakit memang, tetapi itulah kenyataannya.
Semesta mungkin terlalu sempit bagi insan manusia untuk berkelana dan bercerita. Ada satu titik awal untuk pertemuan, lalu ruang sebagai tempat bersama, hingga berakhir sebagai perpisahan. Namun, semesta selalu saja memberikan ruang dan waktunya untuk mereka bertemu kembali. Di sini tepatnya, mereka kembali bertemu dan tersenyum satu sama lain.
“Jangan anggap serius kata-kata Ajo. Dia memang sering becanda.” Andi menggigit tusuk satenya.
“Haha iya, dia memang suka begitu. Kadang-kadang nih ya, dia ngegodain aku. Hahaha, parah enggak tuh?”
Andi memicing melihat perubahan Naila yang drastis. Selain penampilannya yang sudah berkerudung, Naila sedikit lebih kalem. Tutur katanya lembut walaupun nuansa semangat terlihat darinya. Gesture tubuhnya tampak feminim, tidak seperti yang ia kenal sebelumnya.
“Lo banyak berubah kayanya. Lihat … Naila yang sekarang udah pakai kerudung. Lo lebih kelihatan kalem. Pokoknya beda banget dari Naila yang gue kenal dulu, bar-bar banget.”
Bibir Naila melingkar pelan. “Semua orang bisa berubah, bukan? Lo pasti sadar kalau lo sendiri juga berubah.”
“Lo juga terlihat lebih dewasa,” ucap Andi.
“Lo makin tinggi aja dan perut lo buncit. Haha ….”
“Kalau itu faktor U, alias umur.” Tangan Andi menuangkan air ke bibirnya. “Sekarang sibuk apa selain kuliah?”
“Hmm … bilangnya seperti apa, ya? Lebih tepatnya *influencer* atau *conten creator*. Yang pasti, gue lebih aktif di sosial media.”
“Kok gue enggak tahu, ya?” Andi menggaruk kepalanya. Ingatan Andi teringat sewaktu Sarah memegang akun instagramnya. “Oh iya … aduh, maap banget, ya.”
__ADS_1
“Lo nge-*block* gue di berbagai macam sosial media. Tapi, enggak apa-apa. Gue tahu kok alasan dari itu,” balas Naila.
“Sorry banget. Waktu itu bukan gue yang ngelakuin itu. Sarah waktu itu lagi masa-masanya posesif sama gue. Jadi, dia nge-block setiap cewek yang dia kira lagi deket sama gue.” Telapak tangan Andi saling menempel untuk minta maaf.
“Iya, gue paham kalau itu.”
“Jadi, lo kaya cewek-cewek jaman sekarang bikin goyang-goyang Tik-Tak?” Andi mulai sengklek di otaknya.
Naila tertawa kecil, tetapi cukup lama karena kepolosannya. “Bukan … jadi gini … dulu kan gue masuk e-*sport* sebagai pemain. Gue memutuskan buat keluar karena bikin sekolah jadi berantakan. Gue sering bolos gara-gara itu. Terus, gue dijadiin icon model buat tim itu. Nah, dari situ tuh gue makin banyak *followers* dan makin aktif di media sosial.”
“Wow, lo jadi model? Cocok sih bagi gue,” puji Andi.
“*Thanks* ….” Naila memerengkan wajah. “Gue jadi *icon* model di tim sampai gue tamat di SMA. Pengalaman itu ternyata mendatangkan rejeki bagi gue. Gue dapet tawaran jadi model untuk banyak produk dan juga *endorse*.”
“Sampe sekarang?”
Naila mengangguk. “Bisa dibilang iya. Tapi sedikit nuansa yang berbeda. Semenjak masuk kuliah, gue memutuskan memakai kerudung. Jadi, gue enggak memperpanjang kontrak-kontrak yang bikin gue lepas kerudung. Nah, gue jadi *Brand Ambasador* untuk sebuah produk kecantikan wanita. Untuk urusan jadi model tetap ada buat *fashion product*.”
“Haha … berproses.” Naila tersenyum. “Nanti follow lagi Instagram gue. Di sana gue banyak sharing tutorial make up dan pasang hijab. Terus, klik youtube gue. Kalau Kak Sarah dan Kak Tami pengen main di channel gue, gue bisa bikin konten khusus buat mereka.”
“Wah, bisa banget tuh. Eh, tahu enggak kalau Sarah itu males banget make up. Kalau mau make up, Tami harus datang ke rumahnya. Jadi ribet, kan?”
“Kak Sarah itu dasarnya udah cantik. Enggak pakai *make up* aja tetap manis. Make up natural cocok banget deh sama dia yang kulitnya relatif cokelat.”
“Itu mah gara panas-panasan. Dulu dia putih juga kek kalian.”
“Mau putih atau pun gelap, yang penting hatinya. Kak Sarah itu orang yang baik. Meskipun sikapnya yang brutal, tapi orang banyak senang sama dia. Ya, kan?”
Andi terdiam sesaat mendengar kalimat tersebut. Sungguh bijaknya ia sekarang. Jika dikaji kembali, terlampau jauh dewasa seorang Naila daripada dirinya yang beban keluarga ini. Ya benar, masih belum ada satu orang pun yang Andi dengar membenci sosok Sarah. Sarah mungkin terlihat kasar dengan orang yang tidak ia sukai, tetapi ia pandai untuk menjalin hubungan kembali hingga mereka berteman. Contohnya Kevin dan Memet yang pernah kontra terhadap Sarah. Namun lihatlah hasil akhirnya, mereka berdua mungkin rela bermuka bonyok demi melindungi Sarah seorang.
__ADS_1
“Thanks banget hari ini, lo bikin gue jadi enggak suntuk di sini,” ucap Andi sewaktu bangkit dari tempat duduk.
“Senang ketemu lagi setelah sekian lama lo enggak nampak. Ngomong-ngomong, lo juga jarang kelihatan di fakultas. Padahal di SMA lo *famous* banget. Gue tanyain temen seangkatan gue di jurusan lo, mereka pada enggak kenal sama Andi.”
Mereka berdua saling beriringan menuju gerobak Sate Ajo yang masih berasap melayani pelanggan.
“Hahah … gue lebih nyaman aja enggak dikenal orang lain. Gue juga enggak banyak kenal temen satu fakultas, kecuali temen-temen kelas dan temen main futsal. Itu pun kebanyakan cuma cowok.”
“Nah, itu salah satu contoh elo juga berubah, kan?”
“Haha … Iya⸺” Andi terdiam tatkala merogoh kantong celana belakang. Tiada berada di sana dompet untuk membayar sate ini.
*Perasaan gue bawa, deh. Kan gue tadi beli minyak. Apa kececer, ya*?
Andi diam kebingungan di samping Ajo sate yang sedang menuang kuah ke atas piring.
“Ada apa, Andi?” tanya Naila.
“Kayanya dompet gue tinggal, deh,” ucap Andi meskipun ia sangat yakin jika sedari rumah ia membawa dompetnya. Wajah Andi menoleh kepada Ajo sate. “Jo, sampai malam, kan? Nanti malam aku bayar. Soalnya dompet ketinggalan.”
“Oh, enggak apa-apa, kok. Gue yang bayar untuk kali ini.” Naila mengeluarkan sejumlah yang untuk membayar sate dua porsi.
“Gue jadi enggak enak, nih.”
“Lo ganti kalau enggak enak. Hahah ….”
“Makasih banget, ya ….”
Senyum mereka saling bersambut di tengah hati Andi yang merasa khawatir, apa gue kecopetan waktu di tempat ramai tadi, ya?
__ADS_1
\*\*\*