
Ketahuan
Jalanan begitu gelap walaupun sudah menggunakan sebatang senter yang dibawa oleh Andi. Tidak lagi tanah sebagai pijakan, hanya berupa semak belukar yang ditebas tadi siang dan dedaunan kering. Sarah menarik Andi ke sungai kecil di sana untuk boker. Soalnya udah di ujung tanduk nih, kalau ditahan mulu nanti bisa berceceran di mana-mana. Sudah dari tadi siang Sarah menahan dengan sekuat tenaga.
Seumur hidup Sarah, baru kali ini dia boker di kali. Tidak ada ****** atau WC terdekat, butuh berjalan lima belas menit menuju mushollah terdekat. Terpaksa Sarah menggunakan alam sekitar untuk buang hajat. Tidak ada tepian yang nyaman untuk dituruni, rata-rata terjal hingga ke bawah.
"Gue mau eek di mana?" tanya Sarah dengan panik ketika melihat keadaan sungai yang gelap.
"Yaa mana tahu gue. Yang boker elu ...."
"Yaah kok gitu jawabannya sih ..."
"Dulu lo kan boker waktu kita berkemah kelas 10, lo bokernya kek mana?" tanya Sarah.
Andi menunjuk tanah. "Gue bawa cangkulan trus gue suruh Agus buat ngegali tanah."
"Yaaa sekarang gali sama lo ...."
Wajah Andi memelas kesal. "Eh, lo liat gue bawa cangkulan?"
"Gue maunya sekarang ... ga tahan nih ...."
"Ih, manja amat sih lo ... kan itu ada sungai ... ya boker aja di sana." Telunjuk Andi mengarah kepada sungai.
Aliran air yang tenang serta keadaan yang gelap membuat Sarah ragu. Belum lagi bintang-binatang dalam kegelapan yang mungkin saja bisa mendekat. Tangan Sarah memukul Andi karena enggak tahan lagi.
"Yaudah deh ... lo turun duluan ..."
"Ih amit-amit gue deketan sama lo yang lagi boker."
"Kawanin gue ke bawah dong ... takut ... tapi lo ngebelakangin gue. Agak jauhan dikit biar ga jijik."
"Enggak ..."
Ini tidak bisa dibiarkan. Butuh sedikit pemaksaan yang harus dilakukan agar Andi nurut sama dirinya. Memang sih ini agak keterlaluan, tapi mau gimana lagi. Sarah mendorong Andi ke bawa hingga tercebur hingga setengah lutut. Benar saja, aliran sungai di sini tidak dalam.
"Ih ***** lo ya .... "
Sarah melompat ke dalam sungai hingga mukanya Andi kecipratan.
"Lo tau cara boker di sungai?" Pertanyaan Sarah begitu aneh.
"Lo tinggal jongkok, buka celana, celupin pantat lo, dan keluarkan dengan nyaman."
"Senterin gue yah ... tapi lo ngadap sana. Gue agak jauhan nyari tepian yang agak dangkal."
Kalau enggak mikirin pacar, mungkin udah Andi celupin itu muka sampe kelelep. Dengap cepat Andi memalingkan wajah karena Sarah udah mulai mengangkat kaos hingga tali behanya keliatan. Wajah Andi jadi panas dan kemerahan karena sempat melihat pinggul Sarah yang mulus dan ramping. Sementara itu, tangannya tetap mengarahkan senter kepada Sarah yang lagi mengadu nasib.
Thor, ini part kok agak jijikan gitu ya?
Ga tau juga nih ... kok bisa kepikiran bikin yang kaya ginian ...
__ADS_1
--______--
"Ahh ... surge dunia ..." Suara Sarah mendesah dengan nikmat.
Loh, mendesah dengan nikmat?
Yaa kan lagi boker ...
"Udah belom? Biar gue cebokin ...," ucap Andi. Matanya tetap waspada dengan sekitar. Soalnya kalau ada warga yang ngelihat, bisa-bisa mereka diarak keliling kampung karena dianggap mau eue di sungai.
"Lo mau cebokin gue?"
"Boleh ...." Andi bercanda.
"******* kau ..."
"Udah belom?" tanya Andi kembali. "Cepetan, gue takut."
"Tunggu, satu ronde lagi." Terdengar suara Sarah yang mengejan.
Ada ya pasangan yang kaya gini,thor?
kaga tau gue, jangan tanya gue ... soalnya gue mau ke WC juga ... bye ...
Tidak lama kemudian, Author kembali ke meja laptop dan lanjut menulis ...
Tidak lama kemudian, terdengar suara air yang pertanda Sarah udah cebok. Dengan sebuah handuk yang sudah dibawa sedari tadi, Sarah mengeringkan tubuh dan meminta kembali naik.
"Jangan pegang gue ... lo abis cebok," balas Andi sambil melepaskan gandengan Andi.
Tidak ingin dilepaskan, Sarah menggandeng Andi lagi. "Ya elah ... besok lo kalau nikah sama gue ... ga peduli mau gue abis cebok, abis ngegiling terasi, lo pasti minta kelon mulu sama gue."
Menikah?
Baru kali ini Andi kepikiran mengenai menikah bersama Sarah. Selama ini ia hanya memikirkan mengenai masa-masa pacaran dengan Sarah dan apa yang akan terjadi jika mereka benar-benar putus nantinya. Andi juga tidak yakin akan bisa menikahinya karena takdir tiada satu pun yang dapat mengira. Waktu yang begitu panjang tidak akan menutup kemungkinan masing-masing mereka untuk menemukan yang lebih baik lagi. Seberapa pun usaha Andi mempertahankan Sarah, namun jika ia bukanlah jodoh yang dijanjikan oleh Tuhan, maka usahanya akan berakhir sia-sia.
Tempat duduk tempat Andi mengopi tadi tengah kosong. Terlihat teman-temannya tadi kini berkumpul di api unggun yang kembali dinyalakan oleh panitia yang belum tidur. Terdengar nyanyian mereka yang beriringan dengan petikan gitar. Melodi yang tercipta berkolaborasi dengan suasana malam yang sunyi tenang.
Andi menarik Sarah ke bangku kayu tersebut, namun Sarah izin sebentar menuju tenda untuk melihat keadaan adik-adik bimbingannya. Tatkala itulah Andi masih menebak bagaimana jika ia benar-benar terjadi. Namun, yaaa kan namanya kan laki-laki. Pasti ada aja pikiran nyeleneh yang enggak-enggak.
Berarti gue gitu ... sama Sarah ... waduhh ....
Dengan depat Andi mencuci muka sama akua gelas yang ada di atas meja. Entah setan mana yang lagi bisikin pikiran itu ke telinganya.
"Nungguin yaaa ...." Sengaja Sarah masukin jari kirinya ke hidung Andi. Padahal abis digunai buat cebok.
"Ih, tangan lo abis cebok!"
Sarah terawa puas. "Hahahaah ... santeuy ... tangan gue udah dikasih antiseptik."
Ia duduk di samping Andi dengan menyandar ke pundaknya. Mata Sarah memandang langit-langit yang begitu bersih tak berawan. Dengan jelas terlihat bulan bulat sempurna nan sedang bersinar bersama taburan bintang gemintang yang indah. Bibirnya perlahan melebar. Ia teringat bahwa ia tadi sempat menitikkan air mata ketika melihat Andi sedang berdua bersama Naila.
__ADS_1
"Andi ... gue boleh nanya?" tanya Sarah.
"Jangankan nanya ... ngawanin lo boker aja mau gue."
"Heheheh ..." Sarah menyingkirkan kepalanya dari pundak Andi. "Kalau gue deket sama cowok lain, lo marah ga?"
"Deketnya kaya mana dulu?" tanya Andi.
"Yaa deket aja ... dia sering main sama gue, akrab sama gue, yaa seperti itulah."
Andi berpikir sesaat. Telunjuknya menempel di antara kedua mata. "Tergantung dekatnya gimana dulu. Misalnya si cowok ada rasa sama lo, dan lo malah ngeladenin dia. Gue bakalan marah. Kalau sebatas teman, yaa gue ga ada alasan buat marah. Lo bebas mau temenan sama siapa."
"Oh gitu ...." Wajah Sarah turun. "Gue minta maaf."
"Minta maaf buat apa?" tanya Andi.
"Gue sempat marah karena lo kelihatan dekat sama Naila."
Mereka saling memandang satu sama lain. Ia sentuh wajah Sarah dengan lembut.
"Lo harus sepemikiran sama gue. Gue sama dia sebatas teman dan hubungan kakak-adik bimbingan. Lo harus percaya sama gue dan gue bakalan terus percaya sama lo. Lo mungkin ga heran gue sering digangguin sama banyak cewek, tapi lo harus tau ... hati gue cuma buat lo."
"Pram kemarin bilang, kalau lo nyakitin gue, dia bakalan ngehajar lo sampe mampus. Lo ga bakalan ngelakuin itu kan?" tanya Sarah.
Andi menggeleng. "Butuh pembuktian apa lagi?"
"Cium gue ..."
"Apa?"
"Cium gue ..."
"Enggak─"
Bibir Andi lebih dahulu dikecup oleh Sarah dengan lembut. Mata Andi yang terbelalak dengan jelas melihat mata Sarah yang terpejam menikmati. Gelora yang tengah mengalir membawanya untuk turut menikmati momen yang tidak sengaja ini. Ia pejamkan mata sembari mencoba merasakan garis bibir Sarah yang bergelombang. Seakan waktu tengah berhenti, nyanyian di tepi api unggun terdengar begitu melambat, ia tidak percaya wanita inilah yang mencuri ciuman pertamanya.
"Khm ... permisi," ucap sesorang.
Sontak Andi dan Sarah melepaskan kecupan secepatnya. Mereka berdua tidak bisa menyembunyikan salah tingkah akibat ketahuan tengah bermesraan. Andi berpaling ke belakang, ternyata Ajiz yang sedang menghampiri.
"Bang ... minta rokok ... gue mau boker ..."
"UDAH AMBIL AJA DUA BUNGKUS INI ...." Andi merogoh koceknya. "KALAU BISA LO GUE GRATISIN NGEROKOK SEMINGGU ... TAPI JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA YAAAA ...."
Ajiz tersenyum lepas. Dia sih ga peduli Andi mau ngapain kek sama Sarah, tapi karena Andi sendiri yang menawari hal tersebut, Ajiz ga bisa nolak. Sarah pun ga bisa marah karena melihat adik kelas yang minta rokok sama Andi tepat di hadapannya.
"Oke bang ... lanjutin deh ...:"
Ajiz membawa dua bungkus rokok beserta mancis mahal punya Andi.
***
__ADS_1