
“JANGAN PAAK!!! JANGAN BILANGIN MAMA GUE PAAK!!!” Andi merengek kaya bocah waktu dijitakin sama bapak-bapak polisi pangkat bengkok satu. Padahal, mungkin saja Andi lebih tua dari polisi-polisi muda itu.
“Makanya jangan tawuran, dasar preman,” balas polisi tersebut.
“Sumpah, Pak. Kami cuma membela diri.” Andi berusaha mengambil dompetnya, tapi masih diikat sama bapak polisi. “Lihat nih dompet gue, duitnya aja masih belum diambil dari mereka. GUE KECOPETAN PAAK!”
“Ah, jangan banyak alasan kamu. Nanti kamu kasih keterangan di kantor. Dasar kamu ini! Malah bikin resah warga.”
Ajiz diam saja waktu ditakut-takutin sama bapak polisi. Dia malah ilfil melihat Andi yang kaya bocah ketahuan ngerokok, terus diancam dibilangin mamaknya. Padahal, Ajiz dulu takut sama Andi yang terkenal pemberani. Pernah sewaktu itu Andi mengancam Ajiz buat digebukin kalau bikin ulah di sekolah. Soalnya kan Ajiz jadi adik bimbingan Andi ketika SMA.
Mobil bapak polisi tersebut berangkat ke polsek sebentar. Mereka digiring satu per satu dengan tangan terikat karena dianggap sudah meresahkan warga sekitar. Andi masih aja ngerengek buat dilepasin. Lalu, mereka didudukkan untuk dimintai keterangan yang sebenarnya. Andi menjelaskan secara detail bagaimana kronologi kejadian yang membuat resah masyarakat tersebut. Gimana enggak resah, kalau dibiarin bakalan ada aksi pembacokan pisau di sana.
“Jadi, Pak … saya kecepotan⸺” Andi malah belepotan karena gugup.
“Kecopetan, guoblok banget, sih!” potong Bapak Polisi yang lagi di depan komputer.
“Nah itu, maksudnya. Saya belum minum, nih. Agak haus gara-gara kabur dari mereka.”
“Jangan banyak bacot, deh, Dari tadi kamu ngelantur mulu. Narkoba kamu, ya? Mau dites urin dulu?”
Kepala Andi langsung naik. “Astagfirullah, Pak. Mana ada saya begitu. Jangankan narkoba, ngerokok aja saya ketengan Pak. Gimana mau beli sabu coba.”
“Yaudah, sekarang jelaskan kronologinya,” pinta Bapak Polisi.
“Jadi, suatu hari yang cerah. Waduh kok jadi gini ceritnya.” Andi batuk dua kali. “Saya kan kecopetan. Terus saya dikasih tahu sama seseorang kalau ada sekelompok preman yang sering nyopet. Saya datengin tuh mereka. Awalnya saya minta baik-baik uang yang mereka curi, eh mereka malah minta gelud terus dia ngeluarin pisau. Yaudah, saya kelahi dikit terus kabur keluar kawasan hijau."
“Udah tahu mereka bawa pisau, kenapa kamu masih lawan?”
Andi menghela napas panjang. “Enggak laki dong, Pak. Saya ini pantang sekali kalau diremehin kaya gitu. Kalau satu orang yang bawa pisau saya masih berani. Eh ternyata mereka semua bawa pisau. Saya terpaksa lari.”
__ADS_1
Bapak Polisi menunjuk Ajiz dan kedua temannya. “Nih, tiga orang lagi ngapain bisa ikut-ikutan? Bukannya kuliah dengan baik, malah tawuran.”
“Kami itu buat nolongin dia yang datang sendirian, Pak. Saya dipanggil temen sayan yang cewek, dia bilang kalau Abang Andi ini ngedatengin preman sendirian. Jadi, kami dateng.”
“Kalian tahu kan kalau kalian semua bakalan bisa bahaya? Sekali kena tusuk, kalian bisa-bisa meninggal, loh.”
“Tahu, Pak.” Mereka menjawab serentak.
“Terus ngapain dilakuin?” tanya Bapak Polisi kemudian. Andi dan yang lain diam tidak bisa menjawab. Mungkin saja benar, ini semua berkat keegoisan mereka. Perkara duit lima puluh ribu tidak sebanding dengan cacat tubuh atau nyawa melayang nantinya. “Ya sudah … kalian jangan ngelakuin lagi. Kalau kelihatan kalian tawuran kaya gitu lagi, saya tahan kalian.”
“Jadi kami bisa bebas nih, Pak?” tanya Andi.
“Ya sudah kalian pulang asal janji untuk tidak melakukan hal itu lagi. Sayangi orangtua kalian yang pastinya khawatir kalau kalian begini.”
Andi menunduk pasrah. “Terima kasih, Pak. Kami tidak akan melakukannya lagi.”
Tangan Andi jadi pegel karena sedari tadi diikat. Setelah dibolehkan pulang, ikatan tersebut dilepaskan. Seperti orang baru keluar dari penjara, Andi pun menghirup napas bebas di luar kantor. Hari sudah menunjukkan jam tujuh malam. Andi untung saja sedari sore izin untuk main ke rumah Nanang kalau selesai makan sate di taman kota. Jadi, Andi tidak khawatir pulang setelag magrib.
Ternyata wanita itu ialah Naila yng menunggu sedari tadi. Berkat Naila yang menelpon Ajiz, Andi masih bisa selamat dari kejaran preman. Kalau tidak, bisa-bisa Andi jadi peyek mala mini.
“Gimana keadaan kalian? Enggak ada yang luka, kan?” tanya Naila sangat khawatir.
“Enggak, kok. Kami selamat dari kejaran preman-preman itu,” jawab Ajiz.
“Beneran kan kalian enggak apa-apa?” Naila menyentuh kedua bahu Ajiz sembari melihat keadaan tubuhnya. “Kalau ada apa-apa? Bilang gue.”
“Enggak kok Naila. Kami baik-baik aja. Betewe, makasih banget yang udah nelpon Ajiz buat nolongin gue. Tadi itu benar-benar bahaya.”
“Udah gue bilang kan jangan ke sana. Lo malah bandel⸺” Kalimat Naila terpotong sama suara motor traill yang datang ke kantor polsek.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Sarah dengan motor mautnya tersebut. Sudah jelas ini kantor polisi, tapi dia malah bodo amat buat nerobos dengan knalpot tersebut. Untung saja tidak ada polisi yang keluar. Takutnya kan Sarah ditilang gara-gara itu.
“Mana si Andi?” Suara Sarah langsung kaya bapak nyariin anak yang bandel main ke warnet.
Ajiz menunjuk Andi sambil membuang wajah. Ia sudah pasti tahu hasilnya, Sarah kaya udah mau ngesmekdon Andi gara-gara berulah.
“Dia kok bisa tahu, sih?” tanya Andi memelas. Ia tampak cemas kalau Sarah jadi huluk di polsek ini.
“Gue nelpon Kak Sarah karena lo dibawa ke polsek. Kalau kenapa-kenapa, biar dia hubungin Pram atau Agus yang polisi buat nolongin kalian.”
Andi menepuk jidatnya sendiri. Benar sih langkah yang direncakan Naila, tap ikan Pram dan Agus masih terlalu rendah pangkatnya buat nolongin mereka semua. Yang ada mereka semua malah sikap hormat sambil dikasih hukuman push up gara-gara ngebela kami yang salah.
Langah Sarah begitu cepat menuju Andi setelah meletakkan helm di atas motornya. Andi bersiap-siap menerima pukulan Sarah yang sering mengarah ke tengah-tengah dada kalau Andi berulah parah. Pukulan karatenya Sarah terasa sakit sekali.
“Sarah, gue minta maa⸺” Andi menutup matanya.
Bukan amarah Sarah yang ia dapat, melainkan pelukan khawatir menyelinap di tubuh Andi. Tangan Sarah merengkuh tubuh kekasihnya tersebut dan membenamkan wajah pada dada Andi. Meskipun terasa cubitan mematikan di pinggang Andi, tetapi ia tahu Sarah sangatlah khawatir jika dirinya terjadi sesuatu. Tangan Andi membelai rambut Sarah yang harum sisa mandi sore, lalu berkata di dalam hati bahwasanya ia begitu meminta maaf untuk kali ini.
“Lo ini kenapa sih selalu bikin gue khawati?!” Sarah menatap wajah Andi.
“Maaf, gue memang keterlaluan. Gue enggak mikir panjang buat ngelawan preman-preman itu,” balas Sarah.
“Kita pulang sekarang. Mama lo pasti khawatir karena lo pulang malam.” Sarah menoleh kepada yang lain. “Makasih banyak ya guys. Maap banget Andi ngerepotin.”
Naila menghentikan langkah mereka berdua yang beranjak pergi dengan memanggilnya kembali. “Kak, Sarah. Ini bukan seperti yang Kakak kira. Gue enggak sengaja ketemu Andi di taman kota.”
Senyum Sarah melingkar. “Gue paham, kok. Makasih, ya.”
Hati Naila merasa cemas dengan tatapan Sarah bercampur senyum. Wanita itu sangat sulit untuk ditebak.
__ADS_1
\*\*\*