
Begitulah Nabe ketika berada di dekat Andi, selalu mencuri-curi cara untuk menjadi centil kepadanya. Kadang Nabe memegang tangan Andi, menyentuh pundak Andi, serta megangin telinga Andi. Andi risih, tapi lama-lama udah jadi kebiasaan anak itu. Memet tentu saja heran dengan Memet yang berkenalan dengannya beberapa menit yang lalu. Memang cantik, mulus, dan mempunyai body bak gitar spanyol. Pokoknya seperti cewek-cewek yang sering Memet lihat di Tik-Tak deh.
Sebelum menonton konser dengan serius, Andi dan Memet menemani Nabe untuk mengantarkan tasnya ke jok motor. Takutnya nanti ada barang kececer atau copet yang mencuri kesempatan dalam kesempitan. Memet perhatikan terus Nabe berjalan menuju motornya. Ia perhatikan dari bawah hingga atas, menggoda iman sekali. Memet pun menggeleng kemudian untuk menyegarkan otaknya yang mulai sengkle.
“Anak itu apa enggak kedingingin makai baju tipis begitu?” tanya Memet.
“Entahlah, udahlah badannya itu montok, bajunya selalu ketat begitu.”
“Enak banget lo dipegangin dia mulu. Apa enggak risih?”
Andi menoleh kepada Memet. “Ya risihlah govlok. Tapi ya mau gimana, anak itu sulit diatur. Mau bagaimana pun, dia temen dekat gue di kelas. Anaknya memang begitu, gue harap maklum.”
Memet melihat Nabe yang berjalan ke arah mereka. “Kalau nge-BO pasti ramain nih cewek ….”
Panik dong Andi waktu Memet bilang begitu. Faktanya, Nabe pernah terjerat pada pekerjaan kencan bertarif tersebut, meskipun ia sudah tobat sudah lama dan tidak akan pernah lagi menginjak pekerjaan yang bertarif-tarif, kecuali halalan toyyiba.
“Lo ngapain ngelihatin gue?” tanya Nabe kepada Memet.
“Enggak kok ….” Memet berbalik dan merasa tidak tertarik lagi dengan wanita itu.
“Judes ya orangnya?” tanya Nabe kepada Andi setelah Memet pergi duluan.
“Ya elu sih ada-ada aja pertanyaannya,” sindir Andi.
“Padahal biasa aja kali. Yuk pergi ….”
Konser berdentum dengan lagu band indie yang sedang booming di aplikasi spotipai. Para penikmat musik seakan terbawa suasana dengan melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang lambat. Suara penyanyi pun merdu, memanjakan setiap telinga yang mendengarkannya. Sementara Andi dan Memet merasa tidak tertarik dengan musik-musik beraliran lembut seperti itu, hanya Nabe yang tampak tertarik. Mereka bertiga berdiri di belakang kerumunan tanpa ingin masuk jauh ke depan.
“Ini kita di tepi gini aja? Mana asyik konser kalau cuma di tepi.”
“Ga mungkin deh Nabe ikut ke dalam kerumunan juga.”
“Ga apa-apa kok, ayo kita masuk kerumunan,” balas Nabe.
“Nah, cewek lu yang satu ini aja mau kok,” sambung Memet.
Nabe tentu saja tersenyum-senyum mendengar kalimat Memet.
__ADS_1
“Dia bukan cewek gue, pliss …”
“Lah kok gitu?”
Andi menoleh pada Nabe. “Jangan ngeluh ya kalau elo nanti kegenjet sama yang lain. Gue juga mau masuk ke dalam kerumunan konser. Ga enak nih di tepi-tepi aja.”
“Okeee ….”
Pembawa acara pun akan mulai menyebutkan band selanjutnya yang akan tampil. Dengan meriah penonton konser memberikan tepuk tangan atas band indie yang baru saja tampil sebelumnya, Pembaca acara menyambut band selanjutnya tak kalah meriah. Seluruh pengunjung pun bersorak kencang.
“MotherFather!” Memet tiba-tiba semangat.
“Band apaan kok kaya Mother Fu***** namanya?”
“Itu Band Pop Punk indie yang gue sukai. Ternyata mereka tampil di festival kampus kalian. Ah … gue mau tengah!”
Memet langsung berlari ke dalam kerumunan dengan cepat. Andi yang penasaran tutur mengikuti Memet, begitu pula Nabe yang memegangi ujung baju kaos Andi. Mereka pun menembus tengah kerumunan yang cenderung renggang. Band MotherFather itu pun sudah naik ke panggung. Memet dengan semangat meneriakkan nama band tersebut. Sementara itu, Andi tidak mengetahui band pop punk indie dikarenakan ia tidak mengikuti trend pop punk dalam negeri, ia hanya mengikuti musik pop punk barat.
Mata Andi memerhatikan salah satu gitaris mereka yang merupakan seorang wanita. Wanita itu berpakaian bagaimana cewek punk ala-ala Avril Lavigne. Sewaktu Andi memicing agar lebih fokus lagi, sadarlah Andi jika wanita itu ialah barista café Fakultas Kedokteran, yaitu Fitri atau lebih dikenal sebagai Ipit. Penampilan feminim di café ternyata berbanding jauh dengan dirinya di atas panggung memegang gitar elektrik dengan gagahnya.
“Lo harus tahu MotherFather ….” Memet memegangi kedua bahunya.
Kondisi kerumunan tidak terlalu rapat di bagian tengah, kecuali paling depan sehingga Nabe aman selagi berada di sekitar Andi. Andi berharap tidak ada orang yang melakukan moshpit, atau goyangan musik keras dengan cara melompat-lompat, menggerak-gerakkan tangan, kaki, dan terkesan asal-asalan sebagai cara menikmati aliran musik keras. Untung saja nih konser berada di kampus dan mungkin saja mahasiswa pada umumnya tidak mengerti lagi dengan budaya moshpit yang erat dengan aliran musik keras.
“Boleh gue genggam tangan lo?”
Andi yang meloncat-loncat seketika berhenti. “Enggak boleh, tapi lo boleh pegang pergelangan tangan gue.”
“Oke ….”
Nabe memegang pergelangan tangan Andi tanpa mampu untuk menggenggam tangannya secara utuh. Walaupu begitu, ia sudah senang sekali karena bisa menikmati momen bersama seperti ini. Tawa dan senyum lepas di kala setiap orang bertujuan yang sama, yaitu musik yang sedang berdentum di atas panggung sana. Belum lagi mereka yang mulai melakukan moshpit yang membuat Andi harus memindahkan Nabe di sisi kirinya. Nabe merasa dilindungi oleh seorang pria yang ia sukai.
Sungguh manis sekali perlakuan Andi padanya malam ini, meskpun ia tahu jika Andi bermaksud baik tanpa ada maksud untuk mendekati dirinya. Nabe tetap senang karena bisa berada di sisi Andi cukup lama sehingga ia menyentuh tangan Andi serta menyenderkan kepala ke bahu pria itu, namun Andi tidak mempermasalahkannya.
Musik pun berganti dari band ke band yang lain. Berakhirlah acara ini dengan band terakhir, yaitu The Djancuck. Setelah itu mereka menepi kembali dengan penuh keringat dan sisa-sisa semangat. Mereka pun berdiri di bawah pohon untuk mendinginkan tubuh.
“Wah … selera musik lo bagus juga,” puji Memet kepada Nabe.
__ADS_1
“Sebenarnya gue enggak paham sama musik-musik begitu, tapi gue menikmati suasana meriahnya.”
Memet menoleh kepada Andi. “MotherFather itu band pop punk indie. Memang enggak banyak orang yang tahu, tapi gue suka karakter musik yang mereka bawain.”
“Lo beneran suka mereka?”
“Iya dong, gue nungguin video-video mereka di youtube setiap hari,” balas Memet.
“Lo mau ketemu sama mereka?” tanya Andi.
“Yang benar aja lo? Ya mau dong … tap ikan gue fans doang, siapa banget sih gue bisa ketemu mereka.”
“Ikut gue ….”
Andi membawa Memet ke belakang panggung di mana ada sebuah tenda besar yang menjadi persiapan para band yang akan tampil. Mumpung penjagaannya tidak terlalu ketat, Andi bisa masuk dengan mengaku sebagai kru dari MotherFather. Ternyata hanya satu personil band dari MotherFather masih berada di sana, yaitu Ipit sendiri.
“Ipit …,” panggil Andi.
Gadis itu berhenti memainkan gitarnya. “Oh elo Andi. Kok bisa ke sini?”
“Gue ngaku kru band kalian hehe. Sorry ….” Andi mendorong Memet ke depan. “Gue enggak percaya loh kalau lo gitaris dari band sebagus ini.”
“Hai …” Ipit menyalami kedua teman Andi yang turut menghampirinya. “Ya … gue bisa dibilang anggota baru sih semenjak gitaris yang lama keluar. Dari dulu gue emang hobi ngeband.”
“Temen gue ngefans sama kalian … ini dia ….” Andi menunjuk Memet.
Memet tidak kunjung berbicara. Mungkin saja ia masih tidak percaya melihat gitaris band faforitnya berada di hadapan.
“Oh … gue kira anak kampus kita enggak ada yang suka genre band seperti ini ….”
“Bukan, gue engak anak kampus lo. Gue temen rumah Andi ….”
“Oke deh … nama gue Ipit ….”
“Gue Memet ….”
Kedua tinju mereka saling bertemu untuk merayakan perkenalan ini. Di antara semua cewek yang Memet kenali malam ini, hanya Ipit yang mendapatkan perlakuan berbeda. Ia lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. Andi melihat ada semangat baru yang diperlihatkan Memet setelah sebelumnya dirundung oleh patah hati.
__ADS_1
***