
Ada tangan yang membuka kaos Andi dengan pelan. Lalu, secara tidak sengaja tangan itu menyentuh dada Andi dengan lembut. Andi menjadi geli gimana dong, meskipun ia menolak dengan tegas untuk tidak dibuka bajunya. Sarah tetap memaksa, hingga Andi tersudutkan di tepi dinding. Matanya melebar tatkala Sarah menunjuk celananya. Hingga Andi pasrah dengan ketidakdayaannya untuk melawan.
“Jangan dong Sar, lo mau ngapain?”
“BAJU LO ITU BUKA?! GUE LAGI NYUCI?!” teriak Sarah sambil menepuk tangan Andi kaca bocah yang tidak mau pergi mandi.
“Lah, kenapa elo yang nyuci?”
“Mama minta tolong. Dia masih masa penyembuhan jadi gue nawarin buat nyuciin baju kalian.” Sarah menepuk tangan Andi kembali. “Cepetan, itu mesin cucinya lagi hidup.”
“Kan gue bisa buka baju sendiri?!” tanya Andi sambil membuka bajunya.
“Ya gue pengen aja buka baju lo.”
Jadi ceritanya Sarah tadi melihat mamanya Andi mencuci baju di belakang. Sebagai calon mantu paling baik, Sarah pun menawarkan diri untuk membantu Mama untuk mencuci baju. Sarah jadi kasihan ketika beliau menyeka keringat yang memenuhi dahi, hingga Sarah ikut membasahi tangan bersamanya. Kebetulan Mama ingin mengejar jadwal ketemuan dengan dokter untuk mengontrol kesehatan, jadi Mama berpesan agar Sarah melanjutkan aktivitas mencuci tersebut.
Tentu saja Sarah tidak menolak karena makin semangat untuk membantu calon mertuanya. Sarah juga bukan anak manja seperti perempuan kota sepertinya karena Sarah yang mencuci baju sendiri dan bahkan pakaian papanya. Sarah tidak ingin mengantarkan ke laundry karena ingin merasakan apa yang dulu dilakukan oleh mendiang ibunda.
Selesai mandi, Andi mengecek Sarah di belakang. Otot-otot Sarah dari berlatih karate, kini keluar semua. Semangat sekali terlihat Sarah mengucek baju kaos yang tadi Andi pakai. Tidak cukup hanya dengan direndam karena Andi berkeringat sekali. Andi yang merasa tidak tega, ia pun ikut berjongkok bersama Sarah.
“Sumpah lo Sar udah kaya emak-emak jongkoknya,” ucap Andi.
“Lah emangnya jongkok emak-emak gimana?”
“Ya begitu, kaya emak-emak masak besar di hajatan pakai daster. Coba lo pakai daster, pasti cocok.”
Sarah mencibir Andi. “Kalau gue pakai daster, gue sexy dong. Kaya cewek-cewek Tik-Tak.”
“Oh iya, gue sering lihat.”
Mata Sarah langsung menatap Andi. “Lah kok sering lihat?”
“Maksudnya Memet itu yang sering nonton, jadi gue jadi ngelihatin juga …..”
Setelah itu, Sarah memasakkan Andi makanan sederhana untuk mengganjal perut. Tepat ketika mereka sedang suap-suapan, datanglah Tami dengan pakaian rumahan tipis. Melihat Andi dan Sarah sedang suap-suapan, Tami jadi berbalik arah.
“Eh kayanya gue ke kamar Aisyah dulu deh ….”
“Ikut sini makan, masih lumayan banyak kok ….”
Tami melewati televisi yang di sana ada handphone Andi sedang dicas. Terdengar suara dering dari handphone tersebut. Arah mata Tami membaca sepenggal nama yang tertera di layar. Melihat namanya, Tami tidak pernah merasa mengenali orang itu.
__ADS_1
“Andi, ada yang nelpon tuh,” sebut Tami.
Kini Tami dengan perasaan canggung duduk bersama kedua pasangan tersebut.
“Siapa?” tanya Andi.
“Nabe … temen kampus lo mungkin ….”
Nabe? Mampus gueee …..
“Nabe kenapa nelpon elo?” tanya Sarah dengan heran. Ia meletakkan sendok di atas piring.
“Itu … hmmm … kayanya lagi nanyain tugas deh. Soalnya ada laporan,” balas Andi.
Tangan Sarah mendorong tubuh Andi. “Elo ini! Pergi angkat sana, kaga sopan tahu nganggurin telepon dari orang. Kemarin lo juga malah nyuekin temen sekelas lo.”
“Iya, angketin aja Ndi.”
“Eh tahu ga Tam, ni anak anti sosial banget di fakultas. Sampe temen sekelasnya aja dicuekin,” jelas Sarah sembari menoleh kepada Andi.
Bangsat tuh anak kenapa bisa nelpon di keadaan begini sih?!
“Andiiiii …..,” panggil Nabe dengan manja.
“Kenapa lo Nabe? Gue lagi sama Sarah ini. Mau ngapain?” tanya Andi baik-baik.
“Gue sakiiit ….”
“Kenapa elo ngadu ke gue? Emangnya gue ini dokter? Kalau sakit ke dokter atau ke apotik,” jawab Andi.
“Tasya kemarin cerita kalau kalian ngopi berdua di rumah sakit. Gue jadi tambah sakit dong. Jangan gitu ya lain kali, waterboom men.”
Andi menggeleng, kenapa bisa mereka berdua itu bertemu.
“Kok ke sana sih ceritanya. Kalau sakit, ya ke dokter Nabe. Bukan ke gue.”
Nabe diam sejenak, ternyata dia sedang merapikan guling yang nempel di kakinya.
“Ih, elo kok ga care sama gue? Gue care sama elo ….”
Napas Andi naik turun mendengar hal tersebut. Mungkin Andi selalu care dengan teman sekelasnya. Tetapi untuk sakit begini tidak perlu dicurhatkan seperti ini. Andi juga jadi ngerasa risih kalau ditelponin.
__ADS_1
“Jadi elo sakit apa?” tanya Andi dengan lembut.
Di atas ranjang kos, Nabe senyam-senyum mendengar pertanyaan Andi. Ia merasa diperhatikan oleh pria itu. Padahal, pertanyaannya juga biasa aja.
“Gue sakit demam nih Ndi. Panas gue enggak turun-turun dari siang,” jawab Nabe.
“Elo udah berobat?”
“Belom … obatin doong ….”
Tangan Andi menjauhkan hapenya dari telinga tatkala Nabe mengatakan itu.
“Obatin dengan cara apa sih Behel? Gue dokter emang?” Andi menghela napas panjang. “Lo pergi berobat deh.”
“Enggak ada yang nganterin.”
“Lah elo kan punya motor.”
“Gue maunya dianterin elo …..”
Andi menoleh ke belakang, memastikan Sarah tidak menguping pembicaraan.
“Gini deh, lo ada obat kan di rumah? Makan parasetamol dulu, kalau besok enggak turun, lo harus ke dokter ya. Jangan sampe elo enggak masuk kelas buat kuliah. Oke?”
Sengaja Andi berlembut nada agar Nabe tidak berkata aneh lagi. Sumpek telinganya kalau diginin terus.
“Makasih ya Andi. Walaupun lo sebenarnya enggak peduli sama gue, gue seneng kalau lo kelihatan care sama gue. Demam gue kerasa jadi mendingan, padahal ingus gue meler terus nih. Makasih banyak ya Andi.”
“Cukup makasihnya sekali ….”
“MAKASIH ANDI!!! GUE SENENG BANGET⸺”
Andi langsung menutup teleponnya. Ia segera mengecas hapenya kembali dan bergabung bersama kedua wanita itu untuk mengganjal perut. Ia merasa ditelponin Nabe hanya membuang waktu saja.
Sementara itu di kosan Nabe, ia duduk sembari melihat wajahya di kaca. Wajahnya sangat pucat oleh demam yang ia rasakan. Ketidakhadiran teman-teman yang benar peduli sangat membuatnya terpuku. Di kala teman yang lain ada tempat untuk bercerita, sementara itu Nabe menyimpannya sendiri, merasakan sakit untuk dirinya sendiri. Ingin sekali ia berbagi, tetapi tidak ada yang ingin mendengar. Semua teman yang ia miliki rasanya penuh kepalsuan.
Di kala ia mengadu kepada Andi, seketika ia pun sadar. Ia hanya orang ketiga yang dianggap tidak ada. Ia pudar ditelan oleh kenyataan, jika Andi telah memiliki.
Nabe menutup wajahnya di atas bantal, seakan masih wangi parfum Andi di kala itu masih menyelinap di dalam hatinya.
****
__ADS_1