
“Makasih banget ya, gue jadi kenyang nih ….”
Ucapan terima kasih Andi kepada Tasya di parkiran fakultas terdengar lembut. Di balik sayup-sayup senja yang mulai meredup, di sana ada senyum yang melingkar. Cerah wajah Tasya tampak dari pandang mata Andi yang menunduk karena wanita itu sedang di dalam mobil. Berpadu dengan wangi parfum tubuh Tasya yang masih terasa, Andi menghirup udara senja segar ini untuk mengucapkan pamit kepadanya. Ia tinggal menunggu baju itu jadi dan siap untuk melaksankan kegiatan KKN.
Tasya tidak seburuk yang ia kira. Ia bersikap normal saja, lurus apa adanya tanpa ada sesuatu yang berlebihan. Ia orang yang baik. Sebagai wanita yang punya berlebihan materi, loyalitas kepada temannya untuk membeli segala sesuatu pun jangan ditanyakan lagi. Namun Andi juga sadar diri, harga dirinya sebagai pria juga dipertaruhkan jika tidak mentraktir Tasya, mengingat kebaikannya hari lalu yang telah menyelamatkannya dari Fajri.
Beberapa hari lagi Andi akan diantar menuju desa tersebut. Meskipun Andi tidak ada kegiatan di kampus lagi, Andi suka berkeliaran untuk bersantai. Selain kamar, ternyata kantin fakultas jadi tempat faforit merokok. Ia juga suka melihat aktivitas kampus yang cenderung santai dan tidak sibuk. Apalagi biasanya akan ada abang-abang security fakultas yang menjadi tempat berbincang. Biasanya mereka juga ikut ngopi dengan Andi.
Andi merasa lebih dekat dengan pegawai-pegawai fakultas. Ada untungnya juga dekat dengan mereka karena Andi punya link orang dalam ketika mengurus segala sesuatu. Contohnya tatkala Andi mengurus surat dari fakultas, ia hanya tinggal mengirimkan pesan WA kepada pegawai yang mengurusnya, lalu berkas diantar keesokan hari. Jadi, prosesnya lebih cepat dan tidak ribet. Kalau dengan security, Andi bisa minta rokok tatkala kehabisan stok. Ia memang suka berbagi rokok dengan abang-abang security, jadi ada semacam timbal balik.
Selain itu, banyak informasi bawah tanah yang bisa Andi dapatkan dari security. Mengenai masalah maling, dosen bermasalah, konspirasi kampus, bahkan ayam kampus pun mereka tahu. Mereka juga tahu siapa aja cewek-cewek di fakultasnya yang pernah jadi ayam kampus, tentu saja mereka miris, bukannya malah ikutan mesan. Ternyata, Nabe pun tidak luput dari pantauann mereka berkat kedekatan Andi dengan Nabe. Gilanya Andi dikira pacaran sama Nabe karena selalu bersama ketika di fakultas. Andi pun menjelaskan jika Nabe sudah tobat dari pekerjaan tarif berkencan.
Kantin Fakultas berada tepat di belakang bangunan Fakultas. Kantin itu juga bersebarangan dengan dua fakultas lainnya, yaitu Fakultas Teknik dan Fakultas Budaya dan Filsafat. Jadi, tidak heran jika Andi mendapati mahasiswa dari fakultas lain yang ikut nongkrong di kantin mereka. Bukan tanpa alasan, pertama karena mereka tidak mempunyai kantin sebesar itu dan kondisi kantin tempat biasa Andi mengopi terlihat santai karena berdampingan dengan kolam anak Jurusan Perikanan.
Pukul empat sore menjadi waktu bagi Andi pulang. Ia pergi menuju motornya yang terparkir di muka kantin. Namun, ada segerombol geng Fajri yang baru saja datang. Fajri tampak memandangi Andi, tetapi Andi tidak menghiraukannya. Ia menghidupkan motornya untuk segera pulang. Hanya saja mungkin karena knalpot Andi ini mode caper, alias bunyinya memekakkan telinga, Andi dikirain nantangin. Merasa ingin dihampiri, Andi segera kabur karena tidak ingin mencari masalah.
Baru saja Andi menyebrangi comberan depan kantin, ternyata Andi dilempari batu oleh anggota geng Fajri. Satu helaan napas, Andi turun dengan membuka helem. Ia menunjuk lima orang tersebut, termasuk Fajri sendiri yang berdiri paling tinggi di antara mereka.
“Woi, yang sopan dikit napa? Gue kaga pedul kalian senior atau gimana, kalau udah ngelempar batu itu perbuatan salah! Gue salah apa sih, anjim?”
Ternyata kelima-lima orang tersebut malah maju. Andi yang sendiri malah jadi ciut. Sempat Andi ingin kabur dengan langsung meng-gas motor. Tapi, Andi merasa jatuh harga dirinya karena sudah lebih dulu menantang mereka. Pokoknya, apa pun yang terjadi, mau bentuk apa Andi pulang nanti, hajar aja dulu.
“Lo mau nyari masalah sama kami?” ucap salah satu anggota Fajri.
Fajri tidak merespon, ia hanya memandang sinis kepada Andi.
__ADS_1
“Woi pendek, elo yang ngelempar gue?”
“Lah, malah bodi sheming lo ya?” Ia memegang kedua kerah Andi, lalu mendorongnya ke belakang.
Andi terjerembab ke belakang. Berkat tangannya yang berusaha menahan tubuh ke motor, motornya pun ikut-ikutan jatuh. Hati Andi bagaikan disiram dua liter bensin, lalu disulut sama ujung pemantik api kayu, membara-bara karena saking emosinya. Napasnya udah tidak karuan kaya bocil lagi emosian. Dengan cepat Andi menggenggam tali helem fullface miliknya, lalu melemparkannya dengan kuat ke tengah kerumunan anggota Fajri. Pria yang telah mendorong Andi langsung tumbang karena terkena di bagian dada. Bayangkan saja besar helem fullface original yang bukan kaleng-kaleng, digunain buat persiapan balap dan menghantam aspal, kini malah menabrak dada orang.
“Ni anak minta mati rupanya!” Fajri langsung menunjuk Andi.
“Woi anak syaiton! Sini lo gue bikin mampus!” ucap temannya.
Loh?
Andi jadi kaget ngelihat semuanya maju mengejarnya. Andi mau tidak mau langsung mengeluarkan jurus lari seribu langkah untuk menghindari amuk masa. Beruntung mereka bukan ormas putih yang sering demo dan geruduk musuh politiknya, tetapi lima orang pemuda yang sebenarnya masih bisa Andi hadapi meskipun kalah. Andi lari menuju depan fakultas orang lain karena berharap mereka tidak ingin ribut di sana, namun harapan Andi tidak berbuah hasil. Mereka masih ngejar.
“Anjir nih orang larinya cepet banget. Makan apa sih mereka?!”
Andi jadi panik sendiri sewaktu mencari gerbang memasuki kawasan basket. Jarak mereka hanya sekitar lima meter saja. Sekali Andi kena tangkap, alhasil Andi jadi bulan-bulanan mereka. Namun, demi nyawa yang ingin diselamatkan, Andi langsung membuka pintu besi kawasan basket. Ia menguncinya dengan dari dalam sehingga mereka tidak bisa masuk.
“Gimana bisa ngejar gue kaga?”
“Anjir lo ya berani-beraninya sembunyi di sini!”
Ia melihat ke atas. Arena basket ini merupakan aren outdoor, tetap dikelilingi oleh pagar jaring besi setinggi dua setengah meter.
“Lo kaga keluar, ya udah kami tunggu di sini. Lo mau kabur ke mana?” tanya Fajri.
__ADS_1
“Oke, gue tunggu juga di sini sampe malem.” Andi tidak mau kalah.
“Nih anak goblok atau gimana sih.” Fajri langsung memanjat pagar jaring besi tersebut. Tinggi sekitar dua setengah meter bukanlah menjadi masalah. Aksinya tersebut diikuti oleh teman-teman yang lain.
Alhasil, Andi jadi panik lagi karena mereka berhasil masuk ke dalam. Andi pun celingak-celinguk kiri dan kanan untuk mencari tempat kelua. Di kiri merupakan tombok bangunan lain, di kiri juga tembok bangunan. Yang bisa diajak kabur ya cuma satu, pagar jaring besi yang sudah dipanjati oleh Fajri dan kawan-kawan.
“Anjir mati nih gue … mati!”
Fajri yang di atas sana duduk sebentar memerhatikan Andi yang memasang kuda-kuda.
“Lo mau lari ke mana? Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengahnya elo yang lagi panik. Sekarang lo kaga bisa kabur. Gue bikin jadi tempe lo sumpah.”
“Sini kalau berani. Satu-satu tapi, masa keroyokan lima orang. Sini satu lawan satu sama gue. Gue ladenin kalian semua!” teriak Andi.
Jemari Andi membuka kemejanya agar tidak robek nanti. Tinggllah dirinya yang memakai kaos dan menyandang tas kampus. Namun, Fajri dan kawan-kawan masih bertahan di sana untuk memerhatikan kekonyolan Andi yang sedang panik. Bagaimana tidak panik, mereka sudah berlima, ditambah lagi dengan Fajri yang secara teknik bertarung menang jauh dari Andi. Kemarin saja, Andi terhitung beruntung tidak sampai habis berkelahinya.
“Lo ngapain sih monyet?!” tanya Fajri.
“Ayo sini lo turun!”
“Oke, gue turun!”
Bunyi sepatu mereka terdengar tatkala mendarat. Lagi lagi karena kalah jumlah, Andi lari sejadi-jadinya ke belakang.
***
__ADS_1