Andi X Sarah

Andi X Sarah
56. Hunting Foto (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Aktivitas mancing memancing berakhir sudah. Andi dan Sarah pulang ketika jam di dinding menunjukkan pukul dua siang. Sarah sudah mengeluh panas siang hari, meskipun udara tetap dingin. Oleh karena itu Andi memutuskan untuk membawa pulang Sarah. Ikan yang dibawa pun rasanya sudah cukup untuk dipanggang nanti malam. Ternyata dugaan Andi salah mengenai sulitnya mendapatkan ikan di danau itu di awal-awal waktu mamancing. Mereka dapat memenuhi jarring penyimpanan ikan, terutama oleh ikan mas mas dan gurame besar hasil tambak ikan warga sekitar.


Villa terlihat sepi, tidak ada orang yang terlihat kecuali Bapak Santoso yang sedang dangdutan di pos security. Dangdut Jawa yang sama sekali tidak Andi mengerti itu ternyata enak juga untuk didengarkan. Buktinya, Andi juga ikut-ikutan goyang dan ngajakin goyang Sarah.


Andi dan Sarah mengecek bangunan kayu tingkat dua belakang, ternyata Pram dan kawan-kawan sedang tidak ada di sana. Sewaktu menelusuri villa, didapati Pram dan Kevin sedang bermain PS4 4.


“Ternyata kalian di sini.” Andi ketawa ngelihat skor. Ternyata Pram dibantai main bola sama Kevin. “Udahlah pakai Real Madrid, malah kalah sama Villareal.”


Hati Pram sedikit tersinggung karena hujatan tersebut, tetapi ia enggan untuk membalas. Ia tetap fokus menggerakkan pemain di layar TV LCD.


“Hahah … Pram ini goblok main bola PS,” balas Kevin.


“Betewe, yang lain mana? Kok anyep kaya kuburan,” ucap Sarah.


“Oh, Agus ngajakin Nanang, Felix, dan Revin buat nyari makanan khas Jawa. Kan Agus orang Jawa, jadi pengen berburu kuliner.” Kevin bersorak ria kemudian. Ia berhasil menjebol gawang dari Pram. Akhirnya Pram kalah dengan skor 5-0. “Mampus lu!”


“Memet dan Tami?” tanya Andi.


“Kaga tahu,” jawab singkat Kevin.


“Mereka berdua pergi pakai motor Bapak Santoso,” sambung Pram.


Tiga jam yang lalu …..


Villa sepi anyep tidak ada aktifitas. Memet berhara ada hantu lewat biar bisa digebukin, soalnya gabut banget. Saking gabutnya, dia ngebakar rokok sekali dua. Satunya lagi dengan merek berbeda. Maksud Memet biar ngerasain sensasi ngerokok dengan dua rasa. Tapi, waktu dihisap rasanya beneran apek dan bikin Memet mual.


“Sumpah ini kalau liburan begini gue pengen mampus. Kaga ada ngapa-ngapain. Gue bukan anak senja yang suka ngelihatin gunung sambil minum kopi. Ke mana kek, apa kek.”

__ADS_1


Memet ngomel-ngomel sendiri di teras belakang. Saking kesel dan gabutnya nih, Memet sampai mikirin gimana bisa mindahin bukit di depan cuma pakai tangan aja. Ya jelas hal itu mustahil.


“Apaan sih Memet? Kamu ngomel-ngomel sendiri kaya Andi kalau kesel sama Aisyah di rumah.”


Ternyata, Tami yang ada di dapur mendengar omelan Memet. Ia pun menghampiri Memet karena penasaran apa yang sedang terjadi.


“Eh ternyata elo Tam.” Memet memperbaiki cara duduknya yang kaya preman pasar nungguin setoran. Malulah kalau begini di depan Tami. “Gabut gue diam-diam begini. Agus sibuk main game online sama yang lain. Kevin gue ajakin ngopi malah telponan sama mbak-mbak Indoapril. Mau ngajak bicara Pram, kayanya bicara sama batu, dingin banget. Mau main sama Revin, gue kaga terlalu kenal sama dia.”


“Hahah … ternyata kamu secerewet ini, Met.” Tami duduk pada kursi yang ada di hadapan Memet.


Uanjir, ni anak sexy juga, ucap Memet di dalam hati ketika melihat paha Tami. Tami kali ini hanya mengenak daster tipis yang bawahnya tersingkap sampai paha. Daster yang dipakai Tami juga terlihat ketat dan memperlihatkan bentuk tubuh indah wanita itu. Mata Memet bener-bener kaga bisa menghindar dari tali temali yang berbercak di bagian pundaknya.


“Iya, sorry kalau gue ceweret ….”


“Ikut gue yuk,” pinta Tami,


Berseri-seri wajah Memet ketika mendengar ajakan tersebut. “Mau ke mana?”


“Ayo … hehehe ….”


Tentu saja Memet semangat. Walaupun ia sama sekali kaga ngerti sama fotografi dan tidak akan paham bagaimana menikmati berfoto ria, asalkan itu bersama Tami, dia pasti mengiyakan.


“Kamu pakai baju keren ya. Kamu bisa jadi model aku.”


Baju keren?


Memet jadi bingung bagaimana berpakaian keren di hadapan Tami. Palingan Memet hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Emangnya ngapain pakai kemeja biar keren di desa begini. Karena defenisi keren Memet ya begitu, jadi Memet pakai kemeja untuk berfoto kali ini. Memet pun orangnya jarang banget pakai kemeja, yang ada cuma pakai seragam bengkel perusahaan motor tempat ia bekerja.


“Memet, kamu culun banget sih kalau pakai kemeja begini. Kaya anak kuliahan semester satu.” Tami tertawa. Dia pun terpaksa memasuki kamar tempat Memet tidur dan membongkar pakaian yang sedang Memet bawa.


“Eh Tam, ngapain bongkar baju gue? Emak gue marah-marah lo kalau kusut.”

__ADS_1


Tidak ia pedulikan hal itu, Tami tetap memilih baju yang cocok untuk karakteristik Memet.


“Pakai kaos hitamnya, terus luarannya pakai kemeja warna biru gelap ini. Celananya ganti ya, pakai jeans robek-robek kamu yang ini. Kamu punya jam tangan?” tanya Tami. Karena Memet menggeleng, Tami mengambil jam tangan Andi yang ada di tasnya. “Pakai aja punya Andi. Nanti bilang aja Tami yang minjam.”


Oh begini ya pakaian cowok keren … kayanya gue kelamaan udah ga nongkrong di café, kebanyakan nongkrong di pos ronda sama bapak-bapak ….


Pakaian yang ditunjuk oleh Tami kini Memet kenakan. Bermodalkan parfum indoapril yang iklannya bisa bikin bidadari berjatuhan, ia menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuhnya, termasuk ketek sendiri. Merasa sudah maksimal, Memet keluar dari kamar.


“Nah gitu dong … karakter kamu itu kaya badboy-badboy di pilem-pilem. Kamu cocok banget penampilan urak-urakan.” Tami menggulungkan lengan kemeja flanel yang dikenakan Tami. “Ayo pergi ….”


Memet ngerasa cowok paling ganteng sedunia waktu digulungin lengan kemejanya sama Tami. Bener-bener kaya punya cewek sendiri, terutama ketika Tami mengajaknya untuk bergegas pergi. Meskipun cuma keliling kawasan sekitaran desa, Memet merasa mau pergi ke mall makan ayam goreng berdua.


Sempat Memet berpapasan dengan Pram yang baru saja meninggalkan pos security, di sanalah meningkat sekali harga diri Memet sebagai seorang pria. Ia jadi tidak sadar kalau dari segi penampilan, dia masih kalah jauh dari karisma Pram.


“Mau ke mana?” tanya Pram sama Memet.


Tidak menjawab dengan kata-kata, Memet memberikan jari tengahnya kepada Pram. Ketika menghidupkan motor bebek milik Bapak Santoso, Memet pun turun menggeber-geber biar menarik perhatian Pram. Dia pengen bikin Pram iri kalau sekarang Memet berhasil ngajakin pergi Tami.


“Tam, pegangan yang erat ya. Jalannya menurun loh.”


“Iya Memet ….”


Tangan Tami memegang pinggang dari Memet. Tatkala jalanan mulai menurun, menempellah tubuh wanita itu dengan lembut. Tercium wangi parfum semerbak dari tubuh Memet di penciuman Tami.


Harum banget …., puji Tami di dalam hati.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2