
Namanya juga Sarah, kalau urusan dibayarin makan pasti dia senang. Hobinya selain berolahraga dan main motor ialah makan. Oleh karena itu ia menghargai orang-orang yang membelinya makanan. Apalagi Andi, ia sangat senang sekali jika Andi membawakan makanan untuk dinikmati sembari nonton film atau main game PS bersama Papa di rumah.
Sore-sore memang pas banget untuk mengisi perut di gerobak abang-abang cilor yang sering nangkring di sekitaran sekolah. Biasanya nih, bakalan banyak anak SMA-nya Sarah yang berkerumun sehabis pulang sekolah. Sayang sekali Andi sedang membuat tugas bersama Nabe di kediaman Ari Kiting. Ia senang jika Andi rajin buat tugas, terutama ada Nabe yang akan membimbingnya. Ya, Sarah tahu kalau sebenarnya Nabe itu goodlooking dan bisa jadi bikin Andi ngelirik, tetapi Sarah seperti percaya aja sama wanita itu. Perkenalannya selama ini ternyata membuat Sarah menyimpulkan jika Nabe itu wanita yang menyenangkan.
“Bang, lima ribu yang tadi ….” Sarah langsung merobos kerumunan anak SMA yang baru saja pulang sekolah.
Sebenarnya Sarah sama sekali tidak ada membeli sebelumnya. Tetapi cara ini sudah berkali-kali Sarah coba karena Andi sendiri yang ngajarin. Berkat sudah langganan hampir tiap hari, jadi abang cilornya sudah paham jika mereka berdua mengatakan hal tersebut, berarti tidak ingin mengantri dan ingin langsung mendapatkan pesanan.
“Oh, bentar Neng … selesai yang ini ya …,” balas Abang Cilor sembari tersenyum. “Andi mana?”
“Lagi selingkuh sama tugas kuliahnya Bang. Gue dianggurin sama dia ….”
“Tenang … sama abang aja Neng. Bisa sepuasnya makan cilor ….”
“Sini gue karate dulu Bang ….”
Abang cilor pun tertawa dan segera memberikan pesanan Sarah.
Setelah mendapatkan dua porsi cilor pesanan, ia segera pergi ke rumah Tami yang sebelumnya menitip cilor sebelumnya. Ketika berbelok, ia terkejut melihat sebuah mobil sedan mewah yang tidak asing di matanya. Warna putih silver mengkilap itu selalu dibawa oleh pria itu ketika SMA. Terlebih lagi ada stiker SMA mereka yang didapat ketika perpisahan SMA.
“Pram? Ngapain lo di sini?” tanya Sarah pada dirinya sendiri.”
__ADS_1
Sarah sudah yakin sekali jika mobil ini merupakan milik Pram. Anehnya, mobil tersebut parkir ditempat sepi seperti ini, hanya ada kebun singkong warga sekitar. Biasanya nih, area ini dijadiin ajang pencelupan bagi para muda-mudi, atau pun bermain mobil goyang di tempat sepi. Kenapa Sarah tahu? Karena diberitahu Memet yang sudah berkali-kali memalaki muda-mudi ketahuan berbuat hal yang diinginkan.
“Astagfirullah … ga gue sangka Pram. Ternyata elo malah begituan di sini. Apa lo kaga mampu nyewa hotel apa?!” Sarah langsung turun dari mobil dan pergi melihat keadaan dalam mobil. Lima kali Sarah mengetuk kaca mobil gelap itu. “WOI!!! Ngapain lo di sini!!! Buka Woi!!!”
Orang yang didalamnya seketika terbangun dari tidur singkat. Ternyata benar, di dalam mobil itu ialah Pram. Ia segera mengucek mata dan melihat seorang wanita tengah bertegak pinggang ke arahnya. Pram membuka kaca mobil dengan panik. Tentu saja Sarah mencurigai kenapa dirinya berada di sini.
“Sarah? Lo ngapain?”
Sarah menghidupkan lampu yang ada di handphone jadulnya itu, lalu mengecek seisi mobil. Lagi-lagi, gelagat seperti ini diajarkan oleh Memet langsung. Kan Memet sudah berpengalam menjadi seksi keamanan komplek dan RW, serta sering memergoki muda-mudi.
“Lo ngapain di sini? Ada tissue juga?” Sarah memandang sinis padanya. “Kenapa lo buka baju dinas lo?! Hmm … gue tahu. Sudah kudagi, eh kuduga ….”
“Sembarangan! Gue kalau begituan, mending nyewa hotel. Ngapain juga gue di tempat sepi begini. Jangan kek orang susahlah!”
“Otak lo rusak ya lama-lama! Heh … masuklah cepat!” Pram membukakan pintu sebelah untuk Sarah. “Cepetan masuk!”
Sarah menyenter wajah Pram sehingga ia menutup wajahnya. “Apa maksud lo ngajakin gue masuk? Setelah lo enggak ada cewek yang nemenin aksi lo itu, sekarang malah lo minta gue?”
“Memang anak bangsat lo ya, Sar.”
Mau tidak mau Pram harus menghujat Sarah, baru kali ini ia berkata seperti itu kepada orang yang ia sukai. Dengan cepat Pram memaksa masuk Sarah hingga ia meronta-ronta untuk dilepaskan, tetapi Sarah tidak berdaya untuk melepaskan diri.
__ADS_1
“Masuk lo! Diem di sana!”
Pram membawa motor Sarah dulu sebentar entah ke mana, lalu kembali lagi dengan berjalan kaki. Ternyata, terdapat anak Kodomo yang sedang menunggu di gang lain dan motor Sarah bisa diparkir sementara di sana.
“Gue lagi mengintai preman yang udah ngebacok Kevin! Motor lo tuh sama Revin di gang sana ….”
Pram kembali menutup kaca mobil.
“Lah, kok bisa?”
“Ya bisa lah … kan pake senajat tajam ngebacoknya ….”
“Oh gitu …”
Wajah Pram langsung aneh dengan respon Sarah.
“Oh gitu?”
“Tunggu dulu, apa? Dibacok? Kapan?!”
Barulah Sarah sadar dengan hal tersebut. Ia pun teringat Andi yang pernah mengalami hal yang sama.
__ADS_1
***