
Seumur-umur hidup, Memet belum pernah ngebonceng cewek. Gimana mau ngebonceng, cewek pada enggak mau diajak jalan sama Memet. Tami sebagai cewek yang pernah diajak jalan pun tidak sempat ia bonceng karena perginya masing-masing. Bicara mengenai bonceng-boncengan, malah kali ini ada cewek yang pengen Memet di belakang. Kadang Memet bingung kalau Sarah ini cewek atau enggak. Soalnya kalau ketemu bawaannya ngajak tawuran mulu.
Berbekal wangi sabun dan deodorant sore tadi, Memet mempersiapkan mental untuk bertemu Tami sekali lagi. Semenjak ditolak, tidak ada pertemuan yang berarti di antara mereka berdua, kecuali waktu dia mintain uang ronda. Sulit untuk menjadi penagih uang ronda yang profesional tanpa membawa perasaan tatkala bertandang ke rumah Tami. Kali ini ia benar-benar siap untuk menabuh senyum kepada wanita itu.
Sarah menepuk punggung Memet.
“Hidung lo meler kek bocah.” Sarah menatap datar kepada Memet.
“Eh, iya? Sorry, Sar. Soalnya gue tadi siang banyak minum es. Tadi barusan gue kena marah emak gara banyak minum es.” balas Memet sambil mengelap idungnya.
“Muka preman tapi dilarang emak minum es.” Sarah memberikan jalan untuk Memet. “Masuk … mereka semua nungguin di belakang.”
Memet takjub melihat seisi rumah Tami yang mewah. Selama ini ia hanya masuk sebatas ruang tamu, kini mulai melangkah jauh ke dalam. Waktu dia lihat wastapel, dia jadi bingung kaya gimana buka keran airnya. Oleh karena itu, Memet memutuskan nanti kalau cuci tangan pakai keran luar aja.
“Eh, liat tuh siapa yang datang ….” Andi bertegak pinggang.
“Wah, ada Memet. Makin buncit aja tuh perut,” ucap Kevin yang enggak sadar diri.
Lambaian tangan Memet terayun dari kejauhan. “Hehehe … sering makan uang judi bola online soalnya.”
Ketiga ketua kelompok yang pernah jaya pada masanya seakan memberikan angin segar baru dalam nostalgia ini. Kelompok yang saling sikut menyikut dan tawuran ini pada akhirnya berkumpul dalam satu suasana gembira. Tidak ada kata-kata cacian untuk menyerang lawan atau pun ayunan untuk merobek wajah musuh, melainkan mata yang memicing karena senyum.
“Gimana ceritanya lo di sini?” Kevin datang dengan mengapit kepala Memet ke lengannya.
Otot tangan Kevin udahlah kaya om-om gym, makin enggak napas tuh Memet dibuatnya. “Aduh … ini otot atau batang kelapa!”
“Tadi gue diberentiin di pos ronda sama dia karena nanyain papa gue di mana. Sekalian aja gue bawa nih anak daripada kebanyakan makan kacang rebus di sana. Bikin jerawatan,” balas Sarah.
Andi meninju lembut dada Memet. “Sumpah udah lama banget enggak ketemu lo.”
“Iya⸺”
Memet seketika menoleh ke belakang tatkala mendengar suara seorang wanita memanggilnya. Tami tidak percaya kalau Memet akan datang malam ini.
“Terima kasih banget udah datang, Met.” Tami tersenyum lembut.
“Iy … iy … iya, sama-sama.” Mata Memet bergerak kepada pria yang mengikuti langkah Tami tatkala keluar dari rumah. “Woi, Pram. Udah lama enggak jumpa.”
“Iya, udah lama enggak jumpa.” Pram memandangi Tami dan Pram. “Gue enggak nyangka kalau kalian saling kenal.”
Kalimat tersebut membuat Memet mati kutu. Ia bingung akan menjawab apa. Yang pasti, ia hanya bisa mengakui karena sering menagih uang ronda ke rumah Tami. Untung saja Sarah paham dengan situasi canggung tersebut sehingga ia mengalihkan pembicaraan.
“Kan kami tinggal satu kawasan, wajar dong saling kenal.” Alis Sarah naik turun. “Mari kita makan karena semuanya udah siap!”
“AYO!” Andi teriak paling kencang.
Makanan disuguhkan ke masing-masing piring. Minuman tinggal minum di tengah-tengah mereka. Ada minuman cola, ada es the, ditambah kopi bikinan Andi. Andi ngelarang Tami bikin kopi karena wanita itu sama sekali enggak pande bikin kopil. Kopi kok manis, itu kopi apa cendol.
__ADS_1
Lahapnya makan bersinggungan dengan cerita masa-sama dulu tatkala mereka masih SMA. Pasti yang paling dibahas ialah bagaimana cerita Anak Amak, Kodomo, Serta Prebep SMK Permesinan saling tawuran satu sama lain. Tidak luput pula menyinggung kebodohan-kebodohan mereka yang tentu saja masih segar diingatan. Memet sebagai anak SMK pun menceritakan kegilaan anak SMK Permesinan yang mayoritas isinya anak laki-laki. Ia mengeluhkan krisis stok cewek di sana sehingga banyak anak SMK yang jomblo. Daripada ngegasak cowok, mending mereka berburu cewek di sekolah lain.
“Sumpah gue belum kenyang ….” Jatah bonus ayam Andi langsung direbut sama Sarah. “Ini buat gue.”
“Ni huluk lapernya kapan berhenti, sih!” balas Andi dengan kesal.
“Ini punya aku ada kok.” Tami menawarinya kepada Andi.
Merasa tahu kalau Memet suka sama Tami, Andi pun enggan mengambil jatah itu.
“Oh, enggak perlu. Gue mau punya Memet aja!” Andi membegal ayam milik Memet.
“Ih, Bangsa⸺”
“Jangan kelahi … ini punya aku masih ada. Aku enggak habis. Heheh …” Ayam panggang milik Tami mendarat mulus di atas piring Memet.
“Jadi, gue denger kalian mau nyewa villa keluarga gue?” tanya Pram kepada semua hadirin makan-makan ayam panggang.
“Gue enggak suka basa-basi. Lo ngasih diskon, enggak?” tanya Sarah ngebar-bar.
“Kalau soal itu gue enggak bisa kasih kepastian. Walau gimana pun, ini tetap bisnis.”
“Dasar otak kapitalis!” sindir Sarah.
Andi sedikit menjauh dari Sarah karena pengen ngebakar rokok. “Jadi, kesimpulannya villa lo bisa enggak kami pakai?”
Bibir Pram tersenyum. “Bisa, sangat bisa. Bahkan kalau kalian setuju malam ini, tinggal gue telepon penjaga villa buat bersiap-siap. Tapi ….”
__ADS_1
“Tapi apa?” tanya Andi.
“Gue bisa kasih gratis ….”
“Gue tahu otak lo … GUE TAHU BANGET OTAK LO!” Andi udah ngerasa yang enggak-enggak nih.
“Jadi apa?” tanya Sarah tidak penasaran.
“Gue, Kevin, dan Revin ikut sama kalian liburannya.”
Andi sontak bertepuk tangan. “Kan bener anjir. Nih anak otaknya udah ketebak banget. ENGGAK!”
“GUE TERIMA ASAL GRATIS! BENERAN, KAN?” Sarah seketika bersemangat.
Respon tersebut membuat Andi bingung. “Sarah, *excuse me*? Dia itu ditaburi biji wijen!”
“Tenang, kok. Gue bakalan pisah villa dari kalian semua. Bahkan, kami perginya pakai mobil berbeda dari kalian. Sebagai persiapan di sana untuk kalian liburan, kami bisa pergi duluan.”
Sarah merangkak kehadapan Pram dan langsung menyalami Pram. “Senang berbisnis dengan anda. Tinggal bilang tanggal eksekusi!”
Nih anak udah sengklek otaknya kalau denger gratisan! Andi kesal di dalam hati.
“Setuju kan semua?” tanya Pram untuk memastikan.
“SETUJU!”
Semuanya bulat bersuara. Hanya Andi yang tidak setuju dengan keputusan tersebut. Namun sebagai warga negara yang katanya demokrasi, Andi mau tidak mau harus mengikuti suara mayoritas, meskipun dengan hati yang kesal.
Awas aja lo macam-macam sama Sarah. Gue ajak gelud, sumpah!
__ADS_1
***