Andi X Sarah

Andi X Sarah
19. Terdyam


__ADS_3

Terdyam


Musik minang menggema ke seluruh penjuru rumah Andi. Mama Andi biasa menghidupkan musik minang tatkala dirinya memasak di dapur. Bunyi suling yang mendayu-dayu membuat terkenang sawah dan kerbau yang pernah ia tinggalkan di ranah Minang sana.


"Aku belum mandi tak tun tuang ... tak tun tuang ... tapi masih cantik juga ... tak tun tuang ... tak tuntuang." Andi mengikuti lirik musik yang dinyanyikan. Baru saja ia mengganti musik pilihan Mama dengan pilihannya sendiri.


"Ijan diganti-ganti. Alah lamak musik tadi, ang ganti lo," kata Mama dari dapur. (Jangan diganti-ganti, sudah enak musiknya tadi, kamu ganti pula.)


"Iyo, Ma. Andi ganti lai." Andi menekan handphone Mama yang tersambung ke sebuah speaker. (Iya, Ma. Andi ganti lagi)


Kembali berbunyi lagu faforit Mamanya, takicuah di nan tarang dari Ratu Sikumbang, yang membuat Mamanya bergoyang-goyang di dapur sendirian.


Felix, Nanang, dan, Agus, hanya terdiam mendengar lagu Minang yang terputar. Maklum, Felix keturunan tionghoa, Nanang orang betawi, sedangkan Agus orang Jawa. Mereka mana ngerti dengan lagu Minang. Sembari, mendengarkan lagu Minang yang entah apa artinya, mereka menghabiskan sarapan pagi di meja makan. Kebetulan tadi malam kan ada pertandingan bola Barcelona dan Real Madrid, mereka nobar di rumah Andi.


"Kecek jo amak ang, rendangnyo lamak rasanyo," ucap Agus dengan logat Jawa yang medok banget. (Bilang sama mama kamu, rendangnya enak rasanya)


Semua tertawa mendengar logat Jawa Agus yang bercampur dengan bahasa Minang.


"Eh, lelek ... logat lo jangan dicampur bahasa Minang. Lo kira gado-gado," kata Nanang sambil tertawa.


"Udah-udah, habisin sarapannya. Kita main pe'es bentar lagi."


Musik game PES 2013 menggema di kamar Andi. Nanang dan Agus sedang melanjutkan duel bolanya yang kemarin sempat tertunda karena mama Andi melarang mereka karena hari sedang berpetir kuat. Mamanya ga mau lagi tv di rumah jadi korban sambaran petir. TV di kamar Andi pernah kesambar karena sering main pe'es waktu hari hujan.


Jemari Andi memainkan mainan kunci Sarah yang ia gantung di meja belajarnya. Gabut banget nungguin giliran dirinya yang main pe'es. Soalnya dari kemarin dia ga ada menang.


"Woi, Ndi. Kamar mandi lo kok bau pandan? Baru nyoli lo, ya?" tanya Felix tiba-tiba.


"Ancoeg, lo ga liat seharian kemarin kita sama-sama di kamar ini. Mana ada yang nyoli. Tapi bisa jadi, sih. Soalnya kemarin yang habis nonton pilem siapa??" Mata Andi mengarah ke Agus.


Agus balas menatap Andi. "Lah, kok gua, sih?"


"Hmmm ... sudah kuduga ...," balas Felix.


Permainan baru aja berlangsung lima menit, gawang Nanang udah kebobolan sekali. Skill Agus memang ga bisa dianggap enteng, anak pengusaha sawit ini memang gamer sejati.


"Nooob ... masa di-goalin sama bek," ejek Agus sewaktu dirinya ngegolin lagi.


"Ah, ini stiknya berminyak. Gua ga fokus," jawab Nanang untuk membela diri.


"Kalau Noob, ya Noob aja." Felix ikutan ngejek Nanang. Ia menghempaskan diri ke kasur Andi. "Ndi, ada bahan ga? Gua gabut di rumah."


Andi langsung konek dengan perkataan Felix. Laki-laki memang butuh ini untuk melawan kegabutan mereka di rumah. Apalagi hari dingin-dingin gitu kan. Ia mengambil handphone dan melemparkannya kepada Felix.


Dengan cepat Felix reflek denga mengontrol dada dan melakukan salto ke belakang untuk menendang handphone itu tepat ke kepala Nanang yang noob banget main pe'es. Oke ... ini becanda. Felix cuma ngambil handphone Andi dan mencari folder rahasia tempat menyimpan pilem.


Mata Felix menganga melihat berbagai file yang tersimpan. Ia tersenyum, akhirnya terlampiaskan sudah karena udah menahan seminggu ini.


"Ini episode udah sampai berapa? Tanya Felix.


"Sampai Boruto ngelawan anaknya Kisame itu."

__ADS_1


Telunjuk Felix iseng menekan folder galeri. Biasanya Felix sering nyimpanin foto cewek dari akun-akun Instagram yang pakai embel-embel mostbeauty bla bla bla. Memang benar adanya. Banyak banget foto-foto cewek yang terpampang di sana. Maklum, Andi kan jomblo. Semakin ia scroll ke bawah, ia mendapatkan banyak banget foto cewek yang sepertinya ia kenali. Ia memicingka matanya untuk melihat foto itu dengan jelas.


UANJIRRRR!!!!!!!!!


Felix berdiri langsung menatap kepada Andi. "WOI!!! Lo suka sama Sarah?"


"Anying lo ya ... masa gua suka sama cewek begituan."


"Jadi, ini apaan?" Felix menunjukkan puluhan foto Sarah yang tersimpan di galeri. "Lo, nyimpan foto Sarah."


Nanang dan Agus berhenti bermain pe'es. Mereka berdua ikut mendekat untu menyudutkan Andi. Agus merampas handphone Andi dan melihat puluhan foto Sarah yang tersimpan dalam berbagai pose.


"Ih, bener ... Lo suka sama Sarah, kan?" tanya Agus.


Telunjuk Nanang mengarah kepada Andi. "Dulu lo bilang Sarah itu jelek, sekarang lo yang suka sama dia."


Felix mengambil catatatn kode etik keberandalan. "Lo melanggar kode etik keberandalan nommor 3 tahun 2017, sebagai berandalan kita ga boleh suka sama Sarah, walaupun dia ...." Ia terheran melihat akhir dari pasal tersebut. " Walaupun dia cantik? Siapa yang nambah-nambah bunyi pasalnya?"


"Gua, njing. Heheheheh ... benerkan Sarah dasarnya memang cantik?" jawab Agus.


Akhirnya Agus dismekdon sama Felix.


Felix bangkit dari smekdonnya. "Bener, Ndi? Jangan bo'ong lo!"


"Ya enggaklah, njing. Waktu itu kan handphone ini gua kasih ke Sarah. Ya ... suka dia dong mau foto-foto di sana," balas Andi.


Mereka tidak percaya dengan pengakuan Andi. Namanya kan temen, suka banget ngerjain temennya sendiri. Antara percaya dan tidak percaya, yang penting ngegass terus buat ngerjain Adi.


"Ah, jangan bohong lo."


"Anjing, gua ga nyangka ini akan terjadi."


"Demi upil dewa neptunus, lo harus diruqiyah sama bapak gua."


"Pasti lo udah ena-ena sama dia, kan?"


"Bener lo udah ena-ena?"


"Anjing, lo ga ngajak lagi."


"Pideoin, dong."


Akhirnya mereka bertiga bener-bener dismekdon sama Andi.


"Woi, lo bener suka sama Sarah?" tanya Agus dari luar rumah.


Felix menempeleng kepala Agus. "Diam lo, njing. Kita barusan diusir sama Andi."


Karena kejadian kemarin, Andi jadi malu-malu sendiri sehingga malah ga mau ngumpul sama mereka. Tapi mau gimana lagi, dengan siapa lagi Andi bakal main kecuali dengan mereka. Akhirnya Andi ikut juga nongkrong di kantin walaupun di-bully lagi. Dia hapus semua foto Sarah yang masih tersimpan di handphone-nya. Harga dirinya terasa tercoreng akan foto itu. Sementara itu Felix, Nanang, dan Agus malah ketawa-ketiwi mengingat tingkah Andi yang meng-smekdon dan pakai acara ngambil hingga ngusir mereka dari rumahnya. Padahal kan itu cuma bercanda.


"Hahahaha ... gitu aja ngambek. Kaya baru kenal aja sama kita," kata Agus.

__ADS_1


"Yaa gua jadi malu, njing. Kalian becandanya ga lucu," balas Andi.


Tiba-tiba mata mereka mengarah kepada seorang wanita cantik yang bodinya aduhai tiada duanya. Ia dan teman-teman bahenolnya melangkah ke arah meja kantin mereka. Masing-masing dari Anak Amak memperbaiki tampang agar terlihat sempurna, kecuali Andi. Menurutnya dia udah ganteng dari lahir, ga perlu dimodifikasi lagi.


"Biasa aja kali kalau ketemu sama Raisa," kata Andi sama mereka.


Mereka bertiga ga peduli dan tetap memperbaiki bentuk tampang mereka yang tidak seberapa itu.


"Itu Raisa loh, mantan lo. Masa ga mau kelihatan ganteng di depan mantan lo. Cewek paling cantik satu sekolahan," balas Nanang sambil ngelirik ke arah Raisa.


"Gua udah ganteng dari lahir."


Seberapa beruntungnya mereka, Raisa menyadari bahwa Anak Amak sedang ngongkrong di kantin yang sama. Raisa tersenyum dan mendekat. Nanang, Felix, dan Agus dibikin mimisan karena kehadiran Raisa.


"Nih, tissue buat kalian." Raisa menarik tissue dari kantong dadanya. "Biasa aja kali liat gue."


"Hehehe iya, sayang," kata Agus tanpa basa-bas. "Eh, Raisa maksudnya."


Raisa bener rada-rada jijik gitu sama Agus. Tapi dia masih tersenyum buat ngeladenin ketidakjelasan seorang Agus. Matanya mengarah ke Andi.


"Hai, Andi. Mana cewek lo yang waktu itu, Gue kira lo kemarin itu bener-bener homo. Ternyata cuma hoax." (BACA PART 9)


"Cewek?" tanya Andi dengan terkejut.


"Cewek?" Nanang, Felix, dan Agus ikut-ikutan nanya.


"Cewek?" Ibu kantin juga ikutan


Raisa mengangguk. "Iya, tapi kata lo dia itu pacar lo. Itu loh waktu kalian nge-date di Kaefci"


Ia berpikir sejenak untuk mengingat-ingat kapan dia bilang kalau dia punya pacar. Akhirnya Andi ingat kejadian sewaktu dia kepergok makan sama Sarah di Mall.


"Oh, dia. Dia bukan pacar gua," kata Andi sambil ketawa kecil.


"Anjing, Andi punya pacar." Nanang menerobos pembicaraan. "Siapa Raisa?"


"Eh, dia bukan pacar gua. Sumpah."


Raisa tertawa sejenak. "Hahaha gua tau sifat lo, Ndi. Lo pasti ga mau hubungan kalian ketahuan, kan? Kaya kita dulu ...."


ADUHHH!!!!! MATI GUA!!!! BAKAR GUA TOLONG BIAR MATI SEKALIAN1!!!!


"Wah, memang dasar lo, Ndi. Masa' sahabat sendiri ga dikasih tau kalau lo punya pacar," cibir Agus sambil menunjuk Andi.


"Sebatas ini persahabat kita, Ndi?" tanya Felix. "Jadi siapa, Raisa?


Keringat dingin Andi sudah berucur deras. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ingin rasanya ia bunuh diri sekarang, namun ia masih teringat dosa-dosanya masih banyak sama emak di rumah. Trus, utang lontong di kantin ini masih ada yang belum kebayar.


"Sarah," jawab Raisa dengan singkat.


"SARAAHHHH??????????????"

__ADS_1


Plis, gua bisa jelasin semua ini.


***


__ADS_2