Andi X Sarah

Andi X Sarah
96. Kolam Renang (2) (SEASON 3)


__ADS_3

Sembari menunggu anak cewek selesai dari urusannya mengganti pakaian renang, Andi dan Ari Kiting mencoba aksi berenangnya terlebih dahulu. Andi katanya jago banget gaya renang katak karena waktu kecil dia pernah niru katak yang ada di comberan. Kalau Ari Kiting, dia cuma bisa berenang gaya ala kadarnya, yang penting bisa gerak. Dua kali putaran mereka udah ngos-ngosan.


“Katanya lo pandai gaya katak?” tanya Ari Kiting.


Andi menarik napas dulu beberapa kali karena capek juga walaupun sebentar. Matanya melihat rijik yang masih enjoy mengetes kemampuan staminanya di kolam renang.


“Ga tau nih. Mungkin aja karena gue makin buncit kaya gini, jadi susah banget badan digerakin.”


“Ke mana nih anak-anak cewek?” tanya Ari Kiting.


“Ga tau nih, boker dulu kali sebelum renang.” Andi melihat cewek-cewek berwajah SMA yang baru aja datang.


Sementara itu di kamar ganti wanita ….


Nabe baru saja menggantinya pakainnya di bilik baju ganti. Mumpung ada cermin, dia fotoin diri dulu minimal dua kali jepretan. Nabe sama sekali tidak pernah membeli baju renang sehingga ia hanya memakai baju kaos saja. Sewaktu dilihat-lihat lagi, kaos bola Real Madrid yang ia pakai sungguh nge-press sekali dengan tubuhnya.


Apa gue kebanyakan makan ya akhir-akhir ini?


Yang namanya cewek, pasti sensitif dengan bentuk tubuh. Ada yang melar dikir, langsung memutuskan untuk diet. Padahal Nabe juga sering nge-gym. Masalahnya, abis nge-gym langsung deh ke warung bakso. Sama saja dengan tidak kalau dilakukan di hari berolahraga. Abis bakar kalori, malah nambah kalori. Sewaktu melihat tubuhnya yang aduhai membohaykan itu, Nabe berusaha cuek saja dan keluar dari bilik ganti untuk bergabung dengan yang lain.


Sebenarnya Nabe sedikit canggung dengan teman ceweknya tersebut. Selain karena jarang nongkrong, Nabe juga tahu kalau mereka pernah ngegibahin Nabe. Mungkin sudah jadi rahasia umum kalau dirinya sering kencan bertarif dengan beberapa pria.


“Sumpah ya Andi ganteng banget kalau pakai kaos hitam gitu,” ucap Lala kepada Dhepin.


Nabe langsung ngelihatin Lala dari belakang. Memang, Lala ini anaknya ceplas-ceplos kalau ngomong. Terlihat bagaimana ia berbicara di kantin tadi. Kalau Dhepin, ia lebih berwibawa dengan menjaga perilaku. Meskipun terkadang kalau bersama cewek-cewek, dia tetap saja sama dengan yang lain.


“Andi kan memang ganteng, ga kalah ganteng sih sama Rijik. Bedanya itu, Rijik orangnya lembut, kalau Andi itu agak bar-bar dikit,” balas Dhepin.


“Bicara apaan?” tanya Nabe.


Mereka berdua langsung melihat Nabe dengan segala kesexoyannya hari ini. Mata mereka langsung melotot waktu membandingkan ukuran Nabe dengan mereka sendiri. Ternyata beda jauh.


“Enggak ada sih … biasa, cowok-cowok idaman kelas ….” Lala kembali menghadap ke cermin besar di depan. “Eh, lo putus sama Rizky ya Nabe?”

__ADS_1


“Oh ya? Kok tahu?” tanya Nabe balik.


“Kemarin kata anak-anak cewek di kelas kalau lo udah putus sama Rizky.”


Nabe menghela napas. Ternyata benar seperti yang ia duga kalau anak cewek itu selalu membicarakan dirinya. Perkara putus pun dibicarain.


“Bagus sih ga apa-apa, Nabe. Lo bisa cari yang lebih baik kok.” Dhepin menjarak untuk memberikan ruang bagi Nabe bercermin di kaca.


“Iya, gue yang minta putus. Jadi, tenang aja. Dia memang ga pantas buat gue,” balas Nabe sembari melihat bulu matanya yang lentik.


“Jangan ambil Andi ya, Andi punya gue,” ucap Lala dengan becanda.


“Hush … dia udah punya cewek lo. Anak kedokteran lagi. Pasti cantik ceweknya itu. Gue sama sekali belum pernah ngelihat ceweknya Andi,” sanggah Dhepin. Ia pernah mendengar kalau ceweknya Andi itu berasal dari Jurusan Kedokteran dari anak-anak cowok. Namun, karena ia tidak memfollow Instagram Andi, jadinya Dhepin tidak pernah melihat story-story Andi bersama Sarah.


“Lah, elo kaga follow Instagram Andi apa?” tanya Lala.


Dhepin menggeleng. “Instagramnya itu privat. Gue minta follow, tapi enggak diterima-terima. Parah sih, padahal udah berapa tahun nih kita sama-sama sekelas mulu.”


“Nih ceweknya Andi ….” Nabe langsung menunjukkan foto instagram Andi yang ada foto berdua dengan Sarah.


Nabe melihat mereka berdua. “Jadi, kalian jangan macam-macam sama Andi.”


“Lah kok gue? Noh si Lala yang sering ngegatal,” tunjuk Dhepin.


“Hehehe … kan ceweknya ga tahu.” Lala berbalik diri dan beranjak pergi dari kamar ganti.


Sialan tuh cewek, saingan gue kayanya …, ucap Nabe di dalam hati.


Jalanlah mereka bertiga menuju kolam renang. Wajah mereka berseri-seri sewaktu cahaya mentari menerpa masing-masing wajah dari mereka. Dhepin terlihat jelas aura cewek cantik dan pintar dari caranya anggun berjalan. Lala dengan hijabnya terkesan seperti ughtea-ughtea, walaupun sebenarnya dia juga naughtea. Sedangkan Nabe, nah ini yang jadi daya tarik satu kolam renang. Mantan ratu kencan bertarif memang bikin gigit bibir, sampe-sampe petugas kebersihan ngelihatin Nabe.


Rijik berhenti dari berenangnya, lalu melihat ke mereka bertiga.


“Sumpeh itu Nabe … aduh … gimana ya bilangnya,” ucap Rijik secara tanggung-tanggung.

__ADS_1


“Sampe tumpeh-tumpeh,” balas Ari Kiting.


“Ah biasa aja ….” Andi melihat ke arah samping, gue malah pernah lihat lebih dari itu ….


Lala melambai ke arah mereka dan langsung nyebur. “Hello guys, gue datang.”


Berharap akan disambut dengan Andi, nyatanya Andi malah pindah biar tidak kepercik air dari terjunnya Lala.  Sementara itu, Nabe melihat gerak-gerik Lala dari tadi yang mati kecentilan. Bagi Nabe, Lala itu anaknya sok asyik sama cowok-cowok. Ia masih respect dengen Dhepin yang sedikit lebih kalem.


Bermain air memanglah asyik, apalagi bersama teman-teman. Menyiprat air ke teman lain, lalu dibalas dengan cara yang sama, ternyata menyimpan keseruan tersendiri. Wajah yang basah serta rasa kesal karena diciprat terus-terusan dibayar dengan tawa bersama. Bukan olahraga jadi tujuan bersama, melainkan berseru ria dan berkumpul dengan teman sekelas di tengah tugas-tugas yang mungkin saja menunggu untuk dikerjakan malam nanti.


Untuk orang yang jarak mengongkrong dengan mereka, Nabe mulai masuk ke pembicaraan-pembicaraan ringan. Bahkan sewaktu mereka bermain games kecil-kecilan, Nabe juga terlihat senang, tersurat dari wajahnya yang tersenyum lebar. Hingga setelah berenang berakhir, Nabe masih mempertahankan senyumnya sewaktu menunggu yang lain mengganti baju.


“Wah, udah duluan aja lo ganti baju ….”


Andi datang sebagai orang kedua yang baru selesai mengganti baju. Rambutnya masih terpasang handuk kaya emak-emak ke sungai. Ia pun duduk di samping Andi.


“Iya, gue ga mau lama-lama di kamar ganti. Mereka banyak omong, males gue ladenin. Terutama tuh si Lala, sok asyik banget.”


“Lah, si Lala kan memang gitu orangnya. Lo aja kali yang harus beradaptasi sama mereka. Buktinya lo juga asyik kan seruan-seruan kaya yang tadi.”


Nabe menoleh ke Andi. “Makasih ya udah ngajakin gue. Ya … setidaknya gue enggak ngerasa sendiri. Dhepin juga sebenannya baik sama gue, dia orangnya perhatian kayanya.”


“Lah kan Ari Kiting yang ngajakin lo,” balas Andi.


“Kata dia, elo yang minta ngajakin gue. Mungkin aja lo ga segan atau gimana ngajakin gue.”


“Heheh … gue pernah bilang ke Ari Kiting kalau mereka lagi ngumpul, coba ajakin elo sesekali. Akhirnya dia ngajakin elo. Jadi, jangan ngerasa sendiri lagi ya. Gue ga mau lo kaya gitu ….”


Nabe membuang wajahnya ke arah berlawanan dengan Andi. Ekspresinya terlihat cuek dan sinis dengan kalimat itu.


“Makasih baidewai, tapi lo jangan deket-deket Lala ya. Dia centil. Gue ga suka …”


“Dekat lo aja gue ga mau, apalagi Lala.”

__ADS_1


Muka Andi langsung ditampol sama sendal jepit belasan ribu. Meskipu sakit, tapi mereka tertawa bersama.


***


__ADS_2