Andi X Sarah

Andi X Sarah
35. Udah Ga Tahan (SEASON 3)


__ADS_3

Agus kalau udah namanya jalan lintas, maka sudah makanan sehari-hari. Ia merupakan supir kedua kalau keluarganya pergi ke luar kota. Urusan kelok-mengkelok dan tikung menikung Agus memang hebat, tapi beda hal nih kalau soal nikung-menikung cewek. Kalau soal itu, Agus harus belajar banyak dari Andi sang mantan fakboy.



Mobil yang dibawa Agus bener-bener kaya mobil travel. Awal-awal perjalanan, musik diputar dari playlist milik Tami yang notabene lagu-lagu melow ala anak indie jama sekarang. Alhasil, mereka mengantuk dan tidur tanpa pembicaraan. Agus jadi bosen. Makanya dia memutar lagi DJ Tik-Tak jedag-jedug yang bikin seluruh telinga berdiri kembali. Tami kebangun, Memet melek lagi, Nanang makin kesel gara-gara ga bisa tidur, sedangkan Felix mengoceh dengan Bahasa Tionghoa biar Agus ga ngerti.



Nah, ada satu orang nih yang masih bertahan, yaitu Sarah. Paha Andi jadi kesemutan gara-gara Sarah ngejadiinnya kaya bantal. Belum lagi kalau jhonny-nya Andi sedikit aktif dan bikin Andi gelisah. Kan ga enak gitu kalau Sarah nyadar. Bisa-bisa Sarah ngamuk dan Andi kehilangan masa depan. Makanya kepala gadis itu diganjel sama bantal kecil sama Andi.



“Woy, bangunlah! Pemandangan seenak begini malah molor!” Agus ngangguk-ngangguk ketika menikmati musik EDM jedag-jedug.



“Agus! Musik kamu ini bikin telinga aku budeg!” balas Tami.



Tami menutup kedua telinga pakai tangannya. Musik keras Agus benar-benar menganggu dan tidak santuy ketika memasuki pendengaran.



“Kerasin lagi Nang. Enak nih!” Andi makin manasin. Ia melihat ke wajah Sarah. “Biar nih kebo bisa bangun. Pulas banget tidurnya kek di hotel.”



“Gue denger, vangsat!” balas Sarah.



Tangan Sarah mengarah ke pipi Andi, lalu dicubit keras-keras. Andi jadi kesakitan karena Sarah mencubitnya kaga pakai hati, tapi pakai otot.



“Bangun sih bangun, tapi jangan pipi gue juga yang jadi hantaman.” Andi melepaskan tangannya Sarah. “Sar, bangun dong. Paha gue bisa-bisa jadi kayu mati nih karena kesemutan. Lo itu berat.”



“Jadi lo bilang gue gendut?!” tanya Sarah tanpa membuka mata.



Cewek sensitif banget ya kalau soal BB. Apalagi Tami yang sangat memerhatikan kondisi tubuh agar tetap terlihat sexy dan tidak melar.



“Bukannya begitu. Emang ada bilang lo gendut?!”



“Nah itu lo bilang lo gendut!”



Andi langsung menaikkan tubuh Sarah dan menyandarkan gadis itu ke tepi pintu. Kaki Andi langsung kesemutan hebat sampe-sampe menggeliat kaya cacing. Dia pegang sana-sini dan hampir kena tabok Sarah gara-gara menyentuh paha Tami. Tami malah nolongin Andi dengan mengurut kaki Andi. Yang namanya orang lagi kesemutan, kalau dipijat begitu ya kesemutannya tambah menjadi-jadi.



“Sumpah kaki gue kesemutan banget.” Andi mengelus-ngelus kakinya. “Ini perjalannya masih jauh?”



“Yaelah … setengah perjalanan aja belum. Kalau mau cepet, naik pesawat aja. Kalau bisa, naik buroq aja sekalian.”



“Pokoknya kalau sampe, gue mau nyari nasi padang!” Sarah memegang perutnya. Padahal tadi baru ngabisin setengah nasi goreng Tami.



Agus menoleh ke belakang. “Di desa-desa mana ada nasi padang.”



“Pokoknya harus ada!”



“Jualan sendiri sonoh!” pungkas Agus.

__ADS_1



Hijaunya pegunungan kiri dan kanan menghiasi lajunya mobil berjalan di atas aspal basah. Pegunungan hijau tersebut menyegarkan mata dengan pepohonan lebat yang memesona. Udara semakin dingin saja. Embun tipis sehabis hujan telah menyisakan butir-butir air yang bergerak turun di kaca depan. Jalanan sedikit berkelok setidaknya tiga puluh menit terakhir. Kondisi jalanan masih terbilang lancar sehingga mobil mampu melaju cepat tanpa hambatan berarti.



Jika dilihat ke sekitar, warung-warung warmindo banyak bertebaran sepanjang jalan yang menjadi tempat bagi para traveller beristirahat. Ingin sekali Agus berhenti untuk sekadar bersantai setelah lebih dari dua jam mengemudi. Namun, Pram masih memimpin perjalanan dengan mobilnya di depan. Agus harus tetap mengikuti kecepatan Pram agar tidak ketinggalan jauh.



“Pram mengemudi mobil juga kenceng ya ….”



“Ya … ampir sama kaya lo. Jantung gue hampir copot nih.” Felix mengelus dadanya. Ia berada di posisi paling depan. Dirinya pula yang sering memperingati Agus untuk tetap berhati-hati dengan lobang.



“Gus ….,” panggil Andi.



“Kenapa? Kaki lo kesemutan lagi.”



“Perut gue ….”



“Kenapa sih? Laper?” Agus menatap Tami dari cermin depan. “Masih ada makanan, Tam? Kasih umpan makanan tuh Andi. Tangannya megangin perut mulu.”



“Bukan itu … gue pengen⸺” Andi berhenti sejenak.



“LO MAU MUNTAH?!”




Perut Andi kini sudah terasa tidak beraturan. Kadang pengen muntah, kadang kembali normal. Bibirnya sampe kering gara-gara nahan mual sedari tadi. Tangannya berkeringat dingin karena sudah tidak tahan. Agus jadi prihatin karena melihat Andi sedang dalam keadaan yang tidak biasa. Tumbenan anak itu mabuk perjalanan, padahal Andi sudah terbiasa menaiki mobil dalam perjalanan jauh.



“Pram … kita lambat-lambat aja dulu, jangan kenceng. Ada yang mual nih ….” Agus berbicara melalui walkie talkie.



Walkie Talkie bergemuruh kemudian yang menjadi tanda ada balasan dari seberang.



“Oke … mau berhenti ga?”



Sejenak Agus bertanya kepada Andi, tetapi Andi menyarankan tetap lanjut perjalanan. Ia merasa masih bisa menahan mual.



“Enggak usah, masih bisa terkendalikan.”



“Siap ….”



Pram tampak melambatkan laju mobil, diikuti oleh Agus yang mulai pelan menginjak pedal gas. Agar Andi tidak mual lagi, Tami memberikan minyak kayu putih di bagian leher. Sementara Andi bersandar pada bahu Sarah, Tami memijat bagian belakang tubuh Andi. Pokoknya di-servis dengan baik oleh kedua cewek kiri-kanannya. Agus juga menurunkan sebagian kaca mobil agar Andi mendapatkan angin segar.



Sekitar lima belas menit berkendara, Agus kembali bertanya mengenai keadaan Andi.



“Gimana … masih mual?” tanya Agus.

__ADS_1



Awalnya Andi ketiduran karena empuknya pundak Sarah, eh kemudian jadi kebangun. Ngelihat kondisi mobil yang berjalanan, Andi jadi mual lagi seketika. Ia menggapai plastik kosong di bawah untuk berjaga-jaga.



“Plastik buat apa?”



“Jangan aja bicara gue⸺” Kalimat Andi berhenti.



“Gus, kayanya kita harus berhenti deh. Andi udah ga tahan kayanya.”



Andi mengangguk pelan. Bibirnya udah pucat bener karena pengen muntah. Bahkan, Andi bersiap-siap dengan kantung platik di mulut. Bernapas di dalam plastik memberikan rasa nyaman bagi dirinya. Namun, Agus menganggap bahwasanya Andi bersiap-siap untuk muntah.



“JANGAN MUNTAH DI MOBIL GUE!” Agus cepet-cepet membelokkan mobil ke tepi sembari menggapai walkie talkie. “Pram, kita berhenti sebentar. Andi udah ga tahan!”



Kaya operasi penangkapan, Agus sigap keluar dari mobil. Sarah ikut keluar sembari menolongkan gerak tubuh dari Andi. Ia membawa Andi menjauh dari mobil agar tidak dilihat sama yang lain. Andi yang udah enggak tahan langsung muntah di parit tepi jalan. Seluruh mata langsung memejam karena Andi ngeluarin yang sedari tadi harus dikeluarin.



“Untung aja dia ga muntah di mobil gue. Lo cepet banget bawa mobilnya,” ucap Agus sama Pram.



“Ya mana tahu gue ….”



Sarah dengan setia menunggu Andi sembari memijat bagian pundaknya. Ia jadi kasihan ngelihat Andi yang membungkuk sembari mengeluarkan air mata. Ini anak bener-bener enggak tahan, tangannya dingin banget.



“Udah … keluarin aja semuanya,” ucap Sarah.



“Udah semua ini ….”



“Minum dulu.”



Tangan Andi menerima air mineral dari Sarah untuk berkumur-kumur.



“Gue malu-maluin?” tanya Andi.



Selembar tissue mengusap mata Andi yang berair dan juga bibirnya. Sarah tersenyum kemudian agar Andi kembali tenang.



“Enggak kok, kalau gue malu … kenapa juga gue nungguin lo begini?” Sarah membelai rambut Andi. “Udah … nanti gue pijitin punggung lo di mobil.”



“Makasih banyak ya Sar.”



“Iya … senyum dong anak mama …."



Andi kemudian tersenyum kaya anak kecil yang baru dihibur oleh orangtuanya.


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2