Andi X Sarah

Andi X Sarah
125. Gugup (SEASON 3)


__ADS_3

“Haaaaa lapaaar!!!!”


Sudah bisa ditebak siapa yang akan mengatakan itu apabila perut dalam keadan keroncongan. Tentu saja Sarah yang sedang dalam mode beruang laper dan pengen banget seblak sore-sore hari. Tapi, dompet berjalan Sarah malah tidak bisa dihubungi. Entah ke mana Andi tatkala ia telpon, padahal Sarah tahu jika Andi sedang berada di Fakultas Keguruan sore hari ini. Ia sempat bertanya kepada Nabe ke mana Andi, ternyata Andi sedang membantu anak perikanan buat manen ikan.


Gimana bisa anak itu ikut-ikutan urusan anak perikanan, padahal dia iu belajar di jurusan keguruan. Nabe bahkan merekam aktifitas Andi yang sedang memakai kaos dan celana pendek sembari nyelam di kolam tersebut untuk manen ikan. Ternyata, senior futsal Andi berada di sana dan malah ngajak Andi buat ikutan manen ikan. Soalnya, ikan-ikan di kolam jurusan itu kalau tidak dipanen, ludes oleh mahasiswa nakal yang lagi aktifitas malam. Mereka pancing diam-diam, terus dibakar rame-rame buat dimakan.


“Muka lo parah banget kalau lagi laper,” sindir Kelly.


“Gue begini kalau lagi lapar dan gue harap jangan ada yang nganggu gue ….”


Tiba-tiba temen sekelasnya manggil Sarah buat ngerjain tugas bareng. Sarah langsung menyeringai kaya beruang dan tidak mau mengurusi tugas itu sekarang. Cowok itu pun lari biar enggak kena amuk Sarah. Padahal, niatnya kan baik.


“Nah, cowok aja pada takut sama lo kalau lagi lapar.”


Sarah mengangkat kedua bahunya. “Mereka aja yang lemah, bukan gue yang serem.”


“Pergi makan kita, Sar?” ajak Kelly.


Tangan Sarah pun menggandeng Kelly. “Kenapa enggak dari tadi sih ….”


Mereka sama-sama ke parkiran. Mumpung Kelly bawa mobil, sekalian aja mereka jalan-jalan sore pakai mobil. Namun, langkah mereka dihentikan oleh pria yang berselisih jalan di koridor. Pria itu ialah Aslan, temen sekelas mereka yang jauh-jauh hari dibikin pecah mental sama Andi dan Memet. Tubuh saja yang tegap dan tinggi, tapi ditatapin Andi langsung ciut.


“Sar, nanti malam nongkrong yuk di rumah Bang Alip. Dia ngajakin demisioner organisasi olahraga buat nongki di sana sesekali.”


Bang Alip merupakan mantan Organisasi Olahraga Fakultas periode lalu. Kebetulan Sarah menjadi anggotanya pada saat itu. Semester itu merupakan masa-masa Sarah sibuk menjadi anak organisasi, terutama yang bergerak di bidang olahraga.


“Bilang aja lo mau bareng sama Sarah.” Kelly mencibir Aslan. Ia tahu kalau dari gelagat Aslan, pria itu suka dengan Sarah. Tapi, tahu sendiri Sarah itu cuek banget sama cowok yang bermaksud buat pedekatean, kecuali murni untuk berteman.


“Eh, mana ada loh gue begitu.” Aslan harap maklum dengan Kellly yang selalu ngawur bicaranya. “Lo mau pergi?”


“Ada makanan ga?”


“Urusan makanan aman dah, kita bisa kumpulin duit beli makanan,” balas Aslan.


Kelly membuang wajahnya. “Ga usah mau sih kalau saran dari gue. Pasti mereka bawa senior-senior gatal.”

__ADS_1


“Lo kenapa sih?!” protes Aslan.


“Yaudah … gue pergi nanti malam. Gue bawa Andi ya ….”


“JANGAN!”


“Kalau Memet?” tanya Sarah lagi.


“APALAGI!!!”


“Yaudah … gue pergi sendiri aja. Dah sana … gue mau pergi.” Sarah mendahului Aslan.


“Mentang-mentang pakai mobil, ngajak jalan cewek sembarangan,” sambung Kelly.


“Ih ni cewek mulutnya pedes banget ya!”


Sebenarnya, Sarah sudah nyadar kalau Aslan itu suka pada dirinya. Semester-semester awal saja, Sarah itu sering di-chat sama pria itu. Awalnya dengan dalih nanya tugas, eh lama-lama malah ngajak ngobrol ini itu. Merasa sudah dekat, Aslan malah ngajak Sarah nonton. Pria itu belum tahu kalau Sarah sudah punya cowok. Jelas Sarah menolak ajakan tersebut dengan alasan ia harus benerin motor ke bengkel.


Sesampainya di parkiran, Sarah melihat seseorang yang baru saja turun dari motornya. Rambutnya pendek cepak dengan tubuh tegap berotot. Setelan pakaiannya seperti mahasiswa, tetapi dengan wajah seperti itu malah dikirain intel yang mau ngincar mahasiswa. Sarah bingung kenapa Memet berada di fakultasnya kali ini.


Memet menoleh kepada Sarah. Ia apes hari ini kenapa harus ketemu dengan huluk dulu. “Uaduh … kenapa ketemu dia sih!”


Sarah dan Kelly menghampiri Memet.


“Lah, elo Memet yang kemarin di festival musik itu kan?” tanya Kelly.


“Iya gue itu,” jawab Memet singkat.


“Sinis banget, kek keren aja lu.” Lagi-lagi Kelly mode setelan pabriknya.


“Eh, elo kenapa sih?” tanya Memet


“Udah, dia memang begitu.” Tangan Sarah mengibas di hadapan wajah Memet agar melihat dirinya. “Lo ngapain ke fakultas gue? Andi ngajakin elo ngopi di café sini ya?”


Memet bingung mau jawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Terpaksa Memet berbohong dulu. “Hmm .. iya … gue nunggu Andi dulu yang lagi manen ikan.”

__ADS_1


Mumpung banget Memet ngelihat story Andi di WA tadi. Ternyata eh ternyata, Sarah tidak bisa melihat story tersebut karena kontaknya sudah di-hide untuk story kali ini.


“Pasti Andi ngajakin buat ngegoda mbak-mbak barista itu kan?”


Memet menggeleng. “Enggak kok, gue yang ngajak dia ke sini. Soalnya kemarin gue dann Andi pernah ngopi di café itu dan kopinya enak. Jadi, gue ngajak dia kali ini.”


Sempat Sarah diam dulu karena merasa tidak yakin. “Yaudahlah, ga peduli juga gue. Gue laper sekarang.”


“Lo yang laper, kenapa ngadu ke gue?” tanya Memet.


“Ya ga ada, biar lo tahu aja. Bye ….”


Kelly melambai ke Memet. “Bye Memet … jangan serem-serem ke anak kedokteran ya.”


“Ngapain juga gue begitu, gblok!”


Agar tidak terjadi introgasi lebih jauh lagi, Memet cepat-cepat meninggalkan dua cewek aneh itu. Satu cewek kepoan banget kek wartawan, satu lagi mulutnya pedes banget ceplas-ceplos. Memet bisa jadi gila kalau lama-lama berada bersama mereka.


Sore hari ini, Memet berencana untuk mengujungi Ipit di tempat kerja paruh waktunya itu, yaitu Café Fakultas Kedokteran. Saling tukaran nomor WA ternyata telah membawa Memet untuk lebih dekat dengan salah satu mahasiswi Jurusan Psikologi. Memet pun tidak menyangka bisa sekenal itu dengan Ipit, padahal Memet hanyalah seorang fans band yang dibawakan alunan gitar oleh Ipit sendiri.


Memet melambai ketika duduk di outdoor area. Ipit menyadari kedatangan Memet, sehingga ia menghampirinya. Masih dengan kostum ala barista, Ipit duduk di hadapan Memet.


“Katanya tadi ga mau dateng,” ucap Ipit.


“Heheh … tadi banyak kerjaan di dealer motor.” Memet mengelus rambut belakangnya. Padahal, Memet gugup sekali menerima ajakan Ipit untuk datang ke tempat kerja paruh waktunya itu. “Dan gue ada di sini. Sibuk ga?”


“Gue sibuk terus sih kalau lagi jadi barista. Tapi, temen gue bisa ngehandle kok buat sementara.” Ipit menoleh ke meja barsta yang sudah standby rekan kerjanya.


“Oh, iya … bagus … takutnya lo malah dimarahin pengelola, heheh ….”


Ipit memangku wajahnya dengan tangan. Ia pandangi Memet dengan seksama. “Lo keren hari ini, kaya mahasiswa banget heheh ….”


Di saat itulah Memet berwajah memerah.


***

__ADS_1


__ADS_2