
Antophosfer
Tidak seperti biasanya, Sarah menyendiri ria di kantin. Dengan ditemani dua buah cireng keju plus minuman susu Indomilik rasa vanilla, matanya jelalatan ngelihatin kakak kelas yang kece badai lalu-lalang di kantin.
Sesekali adik kelas menyapa Sarah. Mereka cukup menghormati Sarah yang menududuki jabatan ketua OSIS di sekolah. Yah, kalau kakak kelas mah cuek-cuek aja sama dia. Sarah pun ga open juga sama mereka.
Satu kali sedotan susu, Sarah ngelihat senpai yang ganteng. Yang sedotan kedua kali, Sarah ngelihat senpai yang kece. Yang sedotan ketiga kali, Sarah ngelihat Andi lewat. Dia ga sudi dan memuntahi sedotan yang ketiga. Sedotan ke empat, Sarah ngelihat senpai yang ganteng kece badai subhanallah ampun
Pria itu adalah mantan berandalan sekolah yang udah lama tobat semenjak naik kelas tiga SMA. Jadi ceritanya gini, dulu kan ada tawuran besar-besaran, dan abang kece itu jua ikut. Yang ikut tawuran udah di ruqiyah sama ustad kondang yang di undang sekolah. Dan parahnya lagi dia juga nge-ruqiyah anaknya sendiri, Nanang.
Sewaktu kelas satu dan dua, dia memang satu geng sama Kevin. Namun, semenjak kelas tiga ini, dia mengasingkan diri dari mereka dan pensiun dari dunia keberandalan sekolah.
Lihat aja tangannya yang kokoh karena sering loncatin pagar sekolah. Badannya yang berotot, hasil sering tawuran sama anak SMA lain. Wajahnnya yang ganteng, sering dicap sebagai playboy kelas kakap.
Pram tersenyum dengan Sarah
Deg...Deg...Deg
Hati Sarah cenat-cenut ga karuan.
"Hai Kell! sendirian aja?" Tanya Pram pada Sarah. Tanpa basa-basi ia duduk di hadapan Sarah.
Sarah mengeluarkan senyum termanisnya. "Hai Kak! Vanesa ga datang hari ini. Jadi, terpaksa gue sendirian."
"Ga usah panggil kakak lah, jijik gua. Kita seumuran. Cuma gua masuk sekolahnya cepet."
"Oh gituu ... jadi gue panggil Pram aja, gitu?"
Sarah nyedotin lagi susu Indomilik Vanilla yang udah tinggal dikit. Matanya menelusuri setiap detail wajah Pram. Bersih mulus kaya anggota boy band Gengbeng, eh BigBeng maksudnya.
__ADS_1
Begitu pula Pram, nih anak namanya juga laki-laki, mantan berandalan lagi, pasti ga jauh sama bagian itunya Sarah duluan. Tapi yah sekedarnya saja, maklum lelaki. Jarang-jarang dia duduk berdua sama cewek kaya Sarah.
Pram mengeluarkan handphone-nya. Tanganya mencari-cari aplikasi icon LINE di layar handphone.
"Sar, gua minta ID LINE lo," tanya Pram.
Sarah panik.... Sarah panik.... Sarah beneran panik. Dia sibuk nyariin hadnphone di kantong, ngeraba-raba sana sini. Kantong dada, kantong rok, kantong orang sebelah.
Njir, ngapain gue panik. Gue kan hapal ID gue -_-
"ID gue Sarahcantik63," kata Sarah sambil nyalain layar handphone.
Mata Pram memerhatikan dengan seksama ke bagian belakang handphone yang sedang dipegang sama Sarah. Rada-rada aneh gitu, orang yang paling benci sealam semesta sama Andi kok malah masang-masang stiker begituan.
Biar nakal, durhaka jangan ..., Pram membaca tulisan di bawah stiker.
Ia baru ingat kalau stiker itu ada di belakang handphone Andi ini. Sarah langsung liatin bagian belakang handphone yang sedang ia pegang. Bibirnya melebar untuk menjawab pertanyaan Pram.
"Lah jangan bilang lo secret admirer mereka ya?" tanya Pram dengan manja.
Sarah senyum sama Pram. "Dasar Lo!! Masa gua fans Andi." Sarah langsung nutupin mulutnya. Njing, blak-blakan banget gue. Jaga image dong, ucap Sarah dalam hati sambil garukin kepala.
Tawa kecil Pram keluar sebentar. "Ah biasa aja kali sama gua."
"Sorry, Heheheh." Sarah tertawa, "Ini handphone Andi. Kan HP gue pecah. Dia ganti dengan ini untuk sementara."
"Oh gitu, bilang, dong."
Indra ke enamnya menangkap pergerakan makhluk astral di sana. Bergerak cepat ke arah Sarah. Mukanya kusam kaya perilakunya. Kepalanya botak, cuma pakai kolor putih berlobang dikit di bagian belakang. Lah, emang Andi tuyul. Ia berjalan sembari memegang handphone di tangan kanannya.
__ADS_1
Andi udah ga sabar mau jitakin kepala Sarah sampe gosong, trus narik-narik rambutnya ampe kutangnya sekalian sambul teriakin, eh cabe! Tapi Andi ngurungin niatnya, karena itu kecewe'an banget. Ga Andi banget cynnn ....
Ia mendapati Sarah di kantin sama Pram. Berdua kaya sejoli baru pacaran, padahal baru kenalan. Dasar cabe, baru kenal udah ngajak makan, kata Andi dalam hati.
"Andi ngapain ke sini?" tanya Sarah. Pram langsung menghadap ke belakang. Andi bener-bener mendekat. Mukanya bringas, ganas.
Ia menarik napas panjang-panjang. "Woi Kell, ini pasti kerjaan Lo kan!!" protes Andi sambil jalan ke arah mereka.
Sarah udah pucat nih, entah apa yang bakal diperbuat Andi sama dirinya. Wajah Andi kelihatan serius kali ini. Pram dengan sigap menghadang kehadiran Andi. Andi ga sanggup sampai ke Sarah. Dia tertahan sama dada bidang Pram.
"Woi, jangan ikut campur lo yah! Ini urusan gua sama Sarah!" Ia mendorong Pram.
"Jangan main keras sama cewek!" balas Pram. Suaranya ga kalah sangar dengan Andi.
"*** lo yah."
"Lo yang ***!" balas Pram lagi.
Seketika mereka berdua hening. Masing-masing HP Andi dan Pram berbunyi. Suara khas aplikasi LINE menghiasi ketegangan antara mereka. Dengan serentak mereka langsung melihat mereka handphone masing-masing. Andi dan Pram terkejut dengan isi pesan mereka. Mereka saling tatap-tatapan seakan masalah yang tadi selesai begitu saja.
"Antophosfer?" tanya mereka serentak satu sama lain, namun pelan. Ga sampai kedengaran Sarah. Karena ini sangat bersifat rahasia.
Tanpa basa-basi Andi dan Pram langsung pergi ninggalin Sarah sendirian. Andi ngelupain masalah hoax kemahoan dirinya. Dan Pram pura-pura ga tau kalau udah berhasil membuat Sarah baperan.
Sarah aneh melihat tingkah mereka. Awalnya udah kaya civil war, eh sebentar aja udah damai lagi. Gitu doang? Ga seru-seru amat kelahinya.
Sesuatu yang menjanggal membuat ia penasaran dan berusaha mencari tahu.
***
__ADS_1