
Papanya merupakan orangtua tunggal yang harus mengurus anaknya seorang diri. Istrinya harus meninggalkan ia sendirian ketika Sarah masih di usia belia. Semenjak itu, seluruh peran tertuju kepada papanya seorang, mulai dari mencuci, memasak, mengantar sekolah, membantu mengerjakan PR, memberikan kasih sayang, serta hal-hal lainnya yang biasa dilakukan oleh seorang Ibu.
Tanggung jawab, mungkin itu yang ditanamkan oleh Sarah di dalam hati. Ia tidak tega dengan perjuangan Papa yang seorang diri. Bertambahnya usia Sarah membuatnya belajar banyak hal, sehingga sedikit demi sedikit mengambil peran itu. Dengan kemampuan memasak ala kadarnya, ia tidak ingin meninggalkan Papa kelaparan di siang hari. Sebagaimana pun sibuknya aktivitas di siang hari, ia harus bersibuk diri di dapur. Rumah yang ia tinggalkan harus di dalam keadaan bersih agar Papanya bisa dengan pulang dengan nyaman sehabis bekerja.
“Kalau ada yang harus gue bantu, bilang aja. Gue bantu kok.”
Andi mengelus rambut Sarah dengan lembut setelah momen yang singkat itu terjadi. Senyum di antara mereka begitu tulus selayaknya cahaya pagi yang menghangatkan itu.
“Ada satu.”
“Apa? Bilang aja, Babang Andi akan siap membantu Adek.”
Sarah menunjuk ke arah luar. “Siram tanaman gue ya. Itu gue yang nanam loh. Gini-gini gue suka dengan bunga, Lo aja yang jarang ngasih gue bunga.”
“Kode apa ini? Yaudah … besok-besok gue ngirim bunga. Papan bunga sekalian.”
Andi pergi meninggalkan Sarah untuk bersiap-siap. Ia mengarah ke halaman depan untuk menyirami tanaman dengan selang panjang rumah Sarah. Bingung dong yang lain dengan kelakuan Andi yang tiba-tiba kaya tukang kebun. Dikirain langsung pergi, eh ternyata Andi main air dulu bentar. Tapi ga apa, demi Sarah apa pun Andi lakukan. Nememin boker di sungai waktu itu aja Andi mau, apalagi nyiram bunga.
Selesainya Andi menyiram bunga beriringan dengan Sarah yang keluar dari rumah. Pram tampak berbicara singkat dengan papanya Sarah yang membuat Andi risih. Papanya Sarah sembari ngerokok, ia memberikan wejangan untuk para muda-mudi yang hendak liburan. Ia terkesan menitipkan Sarah kepada Andi dan Memet karena dua pemuda ini paling yang ia kenal di sini. Untuk keamanan, tentu saja Memet sang penjaga ronda. Bakalan enggak ada tuh copet-copet kalau mereka ada di keramaian soalnya mata Memet paling gesit, malah lebih gesit daripada copet.
Mobil kini dihidupkan. Pram, Kevin, dan Revin masih berada di dalam satu mobil. Mobil sebesar itu hanya diisi oleh tiga orang sehingga menyisakan banyak tempat kosong di sana. Sementara yang lain kukuh hendak di dalam satu mobil lainnya. Tidak ada yang ingin bergabung dengan para senior SMA mereka tersebut. Awalnya mereka meminta Memet untuk pindah ke sana, tetapi Sarah dan Tami melarangnya. Sarah tahu kalau Memet bakalan enggak enakan kalau beda mobil dan Tami lebih nyaman kalau Memet ada di satu mobil dengan Andi. Alhasil, mereka semua berada di mobil Phanter bapaknya Agus. Untung aja mobil tersebut cukup besar.
Perjalanan cukup jauh, Pram sudah mengatakan jauh-jauh hari kalau masih di kawasan Merapi, Yogyakarta. Villa yang ia kelola terletak di sana. Awalnya, Pram mengecek apakah villa dari bisnis keluarga yang lain apakah masih tersedia, terutama untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Ternyata, semuanya udah diisi oleh pelanggan. Jadi, mereka harus menempuh jarak yang jauh. Malahan, Sarah lebih setuju jarak perjalanan yang jauh karena ia ingin menikmati alam ketika di perjalanan nanti.
“Kalian udah sarapan apa belom? Kalau belum, kita beli sarapan dulu.” tanya Pram lewat walkie talkie.
__ADS_1
Kedua mobil tersebut tergabung di komunitas mobilnya masing-masing, sehingga sering melakukan travelling ke berbagai macam daerah. Jadi tidak heran memiliki walkie talkie di dalamnya untuk saling berkomunikasi satu sama lain.
“Kalian udah sarapan belom?” tanya Agus sang supir lintas kepada yang lain.
“Sudah ….” Hampir semuanya menjawab sudah, kecuali Memet dan Andi.
“Enggak perlu berhenti kok. Aku udah nyiapin nasi goreng lebih tadi,” ucap Tami.
“Oke-oke ….” Agus mendekatkan walkie talkie ke mulutnya. “Izin bicara senior, Tami udah ada nasi goreng. Jadi, bisa makan di mobil.”
“Ah, elo pakai senior-senior segala. Udah … biasa aja sama gue. Enggak ada senior dan junior. Oke-oke, deh … jaga jarak iring ya. Kalian tetap di belakang mobil gue.”
Ya namanya Pram itu senior Agus di kepolisian, jadi hal biasa bagi Agus untuk memberikan kesan hormat kepada seorang senior. Bahkan, tidak jarang bagi Agus untuk memberikan sikap hormat kepada Pram ketika mereka bertemu.
“Ya elah, gitu ama lo sama Pram,” sindir Sarah sambil membuka kotak nasi goreng Tami. Padahal kan bukan untuk dia. Andi dan Memet jadi cuma nelen ludah.
“Enak banget ya makan nasi gorengnya.” Andi cuma ngelihatin aja dari tadi.
Andi duduk di antara Sarah dan Tami pada bangku bagian tengah. Wanginya nasi goreng nikmat jadi bikin perut Andi ngelunjak.
“Sarah, kasih dulu tuh sama Andi dan Memet. Mereka ngeliatin kamu dari tadi.”
“Ya udah nih ….” Nasi goreng yang tinggal setengah porsi itu pun diberikan kepada Andi dan Memet.
Memang ****** tuh Sarah kalau soal makan selalu aja cepet.
__ADS_1
“Kira-kira kita mau ke mana? Sumpah gue ga tau.” tanya Memet di bangku paling di belakang. Sempat ngelihat ke samping, ternyata Nanang udah molor aja. “Nih anak di mana-mana bisa molor ya.”
“Oh iya sorry Met. Gue ga ngasih tahu lo. Kita ke kawasan Merapi karena di sana villa-nya Pram. Jauh sih, tapi gue suka,” jawab Sarah.
“Kira-kira kita ngapain aja ya?” tanya Andi.
“Nge-push rank dong ya kan?” Felix menoleh ke belakang. Di sini yang paling jago main game ialah Felix. “Kalian bakal gue gendong.”
“Liburan jauh-jauh cuma buat nge-game, mending gue tinggal nih,” balas Agus.
“Pokoknya keliling sampe ga ada yang bisa dikelilingin. Alam itu anugerah, teman-teman,” balas Sarah.
Andi yang mageran cuma memikirkan bagaiman ia bisa ngopi dengan santuy di Villa sambil ngelihatin cewek-cewek Tik-Tak.
Perjalanan sudah hampri menempuh waktu tiga jam. Mata pun mulai mengantuk karena kondisi udara dingin. Bahkan, mereka ga harus menghidupkan pendingin udara mobil. Hanya dua orang yang masih bertahan matanya, yaitu Andi dan Agus. Kalau Agus ikut-ikutan merem, bisa-bisa mobil mereka dimasukin ke jurang. Berkat minuman emsatulimapuluh dari rumah Sarah, matanya seperti dipasang penyangga biar ga turun. Saking ga bisa turun, dari tadi matanya ngelihatin kancing Tami yang agak terbuka. Dia jadi iri ngelihatin Andi yang di pundaknya sedang ada Tami tertidur. Sedangkan Sarah malah memanjangkan tubuhnya, sehingga paha Andi jadi ganjelan.
Ni anak enak banget di dalam mobil gue …, ucap Agus di dalam hati.
Enak kepala lo … mereka berat gini lo bilang enak …. Ternyata Andi ngebalas.
Lah lo denger gue?
Kan kita bicara pake mulut, goblok … author ini aja yang salah nulis naskah kok jadi dimiringin gini.
Hahah sorry ….
__ADS_1
***