
Masih ingatkah kalian dengan Dandi, yang katanya pendekar jalanan tapi pernah dimasukin ke comberan sama Kevin dengan satu tangan saja. Anak yang dulu sering cari masalah hingga dia sendiri pun dapat masalah itu kini mengetahui berita jika Ajiz dikeroyok oleh sejumlah preman. Dandi mengakui bahwa Ajiz merupakan satu-satunya rival yang dianggap setara, meskipun Kevin bisa aja ngebahibisin Dandi pakai satu jari telunjuk saja. Dandi berdalih harus apple to apple, jadi jangan dibandingin sama Kevin. Gimana mau dibandingin, lengan Kevin aja segede pahanya Dandi.
Berita itu sampai ketika orang satu tongkrongannya cerita kalau Ketua Kodomo terakhir digebukin sampai mampu, yaitu Ajiz. Meskipun Ajiz merupakan rival Dandi, tetapi mereka pernah sahabatan sewaktu masih di SMP. Dandi tidak menerima rivalnya tersebut dihabisi begitu saja, tanpa campur tangan dirinya sendiri. Bagi Dandi, yang berhak menghabisi Ajiz hanya dirinya sendiri.
Kaga tahu nih anak kok pedenya kebangetan ….
Ya, tidak ada sebenarnya masalah pribadi antara Ajiz dan Dandi setelah diselesaikan secara baik-baik, tidak lain dan tidak bukan dengan gelud tanpa baju. Kalau gelud pakai baju, yang ada bajunya koyak-koyak. Ketika di SMA, Ajiz menerima Dandi sebagai anggota Antophosfer sehingga mereka sering bersama ketika tawuran antar sekolah. Ajiz dan Dandi sudah seperti Kevin dan Pram yang ditakuti oleh orang banyak. Merekalah tombak penerus dari senior SMA pada saat itu.
Dandi pun datang bertandang ke rumah sakit di mana Ajiz dirawat. Sudah lama sekali mereka tidak bersua semenjak tamat SMA. Meskipun warung tongkrongan mereka berdekatan, tetapi Dandi tidak pernah menampakkan diri di hadapan anak Kodomo yang merupakan tongkrongan terbesar di wilayah mereka.
“Samlekom ….,” ucap Dandi dengan sangar. Tapi matanya ngelihat Naila ada di samping Dandi. Suaranya langsung lembut. “Eh ada Naila … kabar Nai?”
Yang sakit gue woi, bukan dia! teriak Ajiz di dalam hati.
Mumpung sekali di sana ada Kevin yang turut menjaga Ajiz sejak tadi sore. Sebentar lagi ia harus pergi bekerja sebagai kasir indoapril.
“Lah elo, Dan. Udah lama kaga jumpa, kirain udah meninggal,” ucap Kevin.
Dandi memberikan tos tinju kepada seniornya tersebut. Masih ingat tangan itu pernah membuat dirinya melayang dalam satu kali serangan.
“Iya Bang, maklum pengacara. Pengangguran banyak acara,” balas Ajiz. Ia kini menyentuh dahi Ajiz. “Ternyata demamnya udah turun.”
“Keknya gue kaga demam deh, kayanya gue enggak kena DBD deh,” sindir Ajiz.
Bisa-bisanya Dandi memerika Ajiz demam atau tidak, padahal Ajiz sedang dalam keadaan bonyok akibat dipukulin.
“Haha canda, jadi gimana? Enak digebukin?” tanya Dandi. Ia menyentil salah satu luka Ajiz hingga Ajiz mengerang kesakitan. “Katanya kuat, tapi kok lemah gini.”
“Gila coy, mereka berempat, salah satunya megang beceng. Gue beruntung masih hidup sampe sekarang.”
“Kira-kira lo tahu ga siapa yang ngegebukin lo itu?” tanya Dandi.
__ADS_1
“Enggak tahu, gue enggak pernah lihat. Tapi kalau yang megang beceng kayanya pernah gue lihat. Dia satu atau dua tahun yang lalu katanya baru keluar dari penjara deh.”
“Kaga peduli gue mau mantan napi atau enggak. Kalau sama-sama makan nasi, kita semua sama.” Dandi duduk di deket Naila.
“Jangan deket-deket!” Ajiz menggeser Naila.
“Oh iya, sensitif banget sih kalau lagi sekarat.” Ia menoleh pada Naila. “Nai, Ajiz bakalan jadi jelek kalau mukanya begini. Mending sama gue aja. Walaupun gue jelek, setidaknya muka gue masih utuh.”
“Kaga mau!” pungkas Naila dengan tegas.
Hampir sampai tengah malam Dandi berada di sana untuk menemani Ajiz. Bahkan, Naila saja sudah pulang karena tidak boleh keluyuran terlalu malam. Revin pun datang untuk menggantikan Naila hingga besok pagi. Katanya, Kevin juga nyusul setelah selesai bekerja sekitar pukul dua malam.
“Papa pulaang ….” Kevin membuka pintu dengan semangat. Ia memperlihatkan kantong plastik yang dibawa. “Coba tebak gue bawa apa.”
“Bawa apa lo Bang?”
“Hehehe … gue bawa insisari kehidupan ….”
“Udah … elo enggak usah gerak. Itu urusan gue. Gue udah mengantongi sejumlah nama kok,” saran Kevin kepada Dandi yang mengutarakan niat untuk mendatangi preman-preman itu.
“Jangan Bang. Sampai kapan kami selalu minta bantuan Abang. Udah saatnya kami ngeberesin urusan ini sendiri. Abang pensiun aja jadi preman, fokus aja jadi kasir indoapril.”
“Eh elo anak kemarin tahu apa sih?”
“Ya elah gini nih orang tua ngomong, ngeyel mulu. Si paling berpengalaman, si paling tua,” sindir Dandi.
“Gue kaga mau main nyerang gitu aja. Gue cuma minta mereka nyerahin anggota mereka, biar gue habisin sendiri.”
Dandi tetap menggeleng. “Udah tua Bang. Ingat umur. Nanti cacat kaga bisa nikah.”
“Ah elo ini selalu ngeyel kalau gue bilangin.”
__ADS_1
Yang namanya Dandi, selalu tidak ingin dibilangin oleh para senior. Ia selalu bergerak sesuai keinginan sendiri. Bahkan, Dandi pun pernah ingin menyerang Kodomo, meskipun ada Kevin di sana.
Keesokan harinya, Dandi menelpon anggota Four Dog lainnya untuk bergerak ke tongkrongan. Sekitar tiga puluh menit kemudia, datanglah teman-temannya tersebut, yaitu Darwin, Egi, dan Okto. Mereka sudah mematangkan rencana untuk mengincar satu per satu preman yang menghajar Ajiz.
“Kalian masih berani kaya dulu kan?” tanya Dandi.
Darwin memperlihatkan luka bacokan yang pernah bersarang di punggungnya. Luka itu merupakan bekas tawuran di akhir masa SMA. “Nih buktinya, masih kurang apa lagi gue.”
“Tenang Dan, mereka enggak bakalan bisa nahan yang badan gue segede ini,” ucap Egi.
Egi kemudian menggerak-gerakkan lemak tubuhnya yang menggumpal itu. Tubuh Egi memang gembrot banget. Butuh empat orang kalau harus menahan serangan Egi yang brutal.
“Butuh senjata ga?” tanya Okto sambil ngeluarin celurit dari jok motor.
“Senjata itu hanya mainan orang lemah.” Dandi mengambil kunci motor untuk memanaskan mesin. Jiwa di dalam dirinya sudah sejak kemarin panas. Kalau motornya kaga panas, bisa-bisa mogok nanti. “Ayo kita gerak ….”
Four Dog pun bergerak mengincar salah satu dari mereka yang paling dikenal. Dandi mengetahui identitas preman yang memiliki senjata api tersebut. Ia telah bertanya kepada pemilik warung kalau ada preman yang punya pistol, lalu baru aja keluar penjara dua tahun lalu. Meskipun umur mereka terpaut jauh, Dandi tetap tidak kalah mental. Bahkan, kosan preman itu pun sudah diketahui oleh Dandi dari informan yang dia punya.
Mereka nongkrong dulu di warung depan kosan selama satu jam hingga preman itu keluar memakai motor. Di saat preman itu bergerak, Four Dog mengikutinya sampai di tempat sepi. Merasa keadaan sudah aman, Dandi langsung mencegat preman tersebut.
“Lo punya beceng?” tanya Dandi.
Sontak preman itu terkejut dengan pertanyaan tersebut.
“Eh bocah, lo mau apa dengan beceng gue?” Preman itu langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongnya kepada Dandi. “Nih mau gue tembak lo?!”
“Pistol mainan kok bangga!”
Sekali hantaman, preman itu langsung tumbang beserta motornya sekaligus.
***
__ADS_1