
Pucuk dicinta, ulam pun ga tiba … begitulah cinta Memet yang bertepuk sebelah tangan. Sakit hatinya melihat barang pemberian darinya ternyata berada di mobil cowok lain. Rasanya tuh sakit di sini kaya salah satu lagu dangdut. Selayaknya temen yang ngutang gede terus kaga diganti, seperti nungguin dosen berjam-jam ternyata dia lagi tidur di rumah, sakit sekali kawan.
Hatinya remuk tak bertulang, mungkin sudah dipresto oleh rasa kecewa.
Ia pikir sudah saatnya melepas seluruh rasa yang tengah terpendam. Ia gali kembali rasa itu agar bisa dibuang dalam kubangan memori-memori terlupakan. Kubangan itu pun ingin ia sirami dengan bensin dari motor maut mber Andi agar benar-benar hilang. Kalau sudah hilang, tak akan pernah lagi ia cari. Tidak ada pos pengaduan untuk rasa yang pernah ada dan juga pernah pergi.
Keesokan harinya, Andi berkeliling di Fakultas Kedokteran untuk melihat seberapa megahnya fakultas termahal di kampusnya tersebut. Andi jadi nagih naik lift fakultasnya Sarah karena selama ini ia hanya menaiki tangga yang penuh pasir pada setiap anak tangganya. Lorong-lorong di Fakultas Kedokteran juga modern banget dan dipenuhi oleh poster-poster kreatif mahasiswa serta foto tokoh kedokteran lengkap dengan biografi singkatnya. Jurusan merah pasti mager banget kalau bikin begini.
“Lah elo? Kenapa ke sini?” Ternyata itu Kelly yang baru saja keluar dari salah satu ruangan. Ia menutup hidungnya. “Ih bau rokok ….”
Sumpah nih anak mulutnya memang kaga bisa dijaga. Apasalahnya buat menahan argumen tersebut agar orang lain tidak marah, meskipun apa yang ia katakan itu sebenarnya hal benar. Andi pun hanya menghela napas melihat Kelly yang mulai berperilaku ngeselin.
“Itu mulut kek durian, tajam banget ya ….”
“Ya elo ke mana-mana bau rokok, gue kan anti rokok ….”
“Hey Maemunah … gue kaga peduli lo bagian dari komunitas anti rokok atau kaga, yang mau gue bilang, suka-suka gue dong mau bau rokok atau enggak, itu hak gue. Kecuali gue ngerokok di depan muka lo.”
“Ya itu kan salah lo sendiri kenapa bau rokok,” balas Kelly tanpa peduli. Ia pun pergi meninggalkan Andi.
“Woi cewek knalpot⸺”
Kelly yang mendengar julukan itu langsung menoleh dan balik kepada Andi. “Apa lo bilang? Knalpot?”
“Iya, mulut lo kaya knalpot bocor, kaga bisa ditahan-tahan. Sarah mana? Gue nyariin dia,” jawab Andi.
“Ya mana tahu gue, emang gue emaknya dia ….”
“Yaelah … gue nanya baik-baik, lo malah jawab gitu,” kesal Andi.
“Kan elo dulu yang mulai ngejulukin gue knalpot bocor!” Kelly memasang wajah datar.
“Sumpah lo cocok banget sama Sarah ….”
__ADS_1
“Cocok kenapa?” Bukannya Kelly yang bertanya seperti itu, melainkan perempuan yang baru saja keluar dari ruangan Kelly tadi.
Andi menunjuk Sarah. “Nah … ternyata elo di sini. Ayo pulang ….”
“Cocok kenapa?” tanya Sarah lagi.
“Kaga ada ….”
“Dia bilang gue knalpot bocor, terus lo dibilang gitu juga,” sambung Kelly buat manasin.
Andi melihat dengan cepat kepada Kelly. Sama sekali tidak ada ia menyebut Sarah dengan julukan tersebut.
“Yaleah … lo malah ngadi-ngadi ….” Andi membentuk jari peace-nya kepada Sarah. “Sumpah gue kaga ada bilang lo begitu.”
“Kalau lo bilang gue knalpot bocor dan cocok sama Sarah, berarti lo bilang dia juga knalpot bocor dong.”
Tangan Andi terangkat. “Gue kaga tahu berada di dunia mana ini sekarang. Apakah gue berada di planet dengan alien aneh, gue kaga tahu lagi deh.”
“Nah Sar … lo dibilang alien loh,” ucap Kelly.
“Allahuakbar … Allahuakbar … ngucap gue sumpah, ngucap gue … nanti malam gue sholat tahajud, serius!”
“Aneh ya cowok lo Sar,” sambung Kelly lagi.
Sarah mengangguk. “Beneran memang dia aneh gitu kadang-kadang. Ayo pulang ….”
“Bye Sarah ….” Kelly melambai, lalu pergi,
Andi tidak tahu, mungkin saja anak Fakultas Kedokteran itu terlalu pintar atau gimana, sehingga bisa nyimpulin hal yang sebenarnya tidak tahur disimpulkan. Andi bilang begini, eh malah ditafsirin begitu. Entah kenapa Sarah bisa bersahabat dengan teman anehnya itu. Sewaktu SMA juga, Sarah berteman dengan Vanesa yang kepedeannya di atas rata-rata orang normal. Sarah jadi aneh juga karena temenan sama Vanesa.
Atau jangan-jangan Sarah yang bikin orang lain aneh …. Andi mulai berpikir yang tidak-tidak.
Sarah diantarkan oleh Andi sampai di depan muka papa Sarah sendiri. Ia pun menyalami papanya Sarah yang lagi main sama burungnya sendiri. Ituloh burung hitam yang bulunya lebat itu. Kalau dipegang kepalanya, burung papanya Sarah bakalan naik dan berkicau dengan merdu.
__ADS_1
“Gimana, burungnya om udah cocok kontes, kan?” Melihat Andi yang menunduk ke bawah, papanya Saerah langsung menepuk jidat Andi. “Bukan burung yang itu, ada-ada aja ….”
“Pembicaraan macam apa ini!” Sarah memegang kepalanya, lalu pergi meninggalkan sepasang mertua dan menantu itu.
“Bagus nih om, kan udah sering menang kontes juga sebelumnya. Pantes aja mahal ….” Andi memberikan jempolnya.
Burung peliharan papanya Sarah memang berasal dari peranakan yang bagus. Pemilik sebelumnya juga mengikuti burung itu ke berbagai kontes sehingga harga burung itu cukup mahal.
Papanya Sarah duduk di kursi garasi. Isyarat tangannya meminta Andi untuk duduk juga. Tersedia teko yang berisikan kopi hangat. Andi pun dituangkan kopi ke salah satu cangkir kosong.
“Kapan sih kamu tamat? Cepet ya tamat, Ndi … terus cari kerjaan.”
“Tenang om, Andi kan juga lagi berusaha buat tamat. Urusan kuliah mah aman. Andi rajin kuliah soalnya ….”
Tangan Papa Sarah menepuk pundak Andi. “Aduh … kadang om jadi bingung nih. Masa om nikah lagi, tapi ngelangkahin anaknya dulu yang belum nikah.”
“Ah … itu aja dipikirin. Dari pada om duda terus yang kesepian, mending nikah aja. Kan Sarah udah ngasih izin buat mama yang baru.”
“Kadang kasian om ngelihat Sarah. Apakah dia bener-bener ngebolehin atau enggak, om juga bingung. Kadang dia yakin ngizinin, tapi perilakunya enggak.”
“Tanyain aja baik-baik lagi sama Sarah biar jelas. Andi yakin Sarah ngebolehin kok. Mohon maap ni ya Om, kan mamanya Sarah udah meninggal dari Sarah kecil. Dia pasti pengen banget punya mama baru.”
Papa Sarah mengangguk. “Bener juga ya. Kalau ada waktu yang pas, Sarah bakal om ajakin ngobrol asyik dulu.”
“Nah gitu dong om ….”
“Tapi Andi, kamu harus nikahin Sarah ya, jangan sampai enggak. Soalnya Om itu kepingin banget kalau kamu yang jadi menantunya Om. Kamu itu baik, kadang-kadang bandel juga sih, tapi kan normal-normal aja bandelnya kaya anak muda umumnya, kaga sampai narkoba hehe.” Asap rokok keluar dari mulut Papa Sarah. “Om yakin kok kamu bisa ngebahagiain Sarah.”
Andi terdiam mendengar kalimat tersebut. Sebegitu besarnya harapan papanya Sarah terhadap masa depan anaknya sendiri. Harapan itu bersemat sosok dirinya sebagai pendamping sehidup semati.
“Iya Om, Andi cepet-cepet sukses dulu biar bisa nikah dengan Sarah ….”
Di dalam hati Andi ga kebayang gimana nanti nikahnya sama Sarah, ngomel tiaaap hariii!!!
__ADS_1
***