
Kesambet
Andi diam ga berkutik. Dia menyingkirkan tangan pria itu dari tangannya. Dia semakin kesal melihat cowok itu yang belagu sok keren. Sebenarnya keren sih, Andi aja yang ga sudi ditandingi sama cowok itu. Sarah pinginnya dia yang dipegangin, dipegang-pegang trus, diserang deh.
"Lo siapa? Belagu amat lo! Ga tau gua lo, hah?" ucap Andi dengan sedikit mengendus-ngendus karena keharuman pria itu.
Ia tertawa tipis sesaat. "Gua Pram. Anak 12.IPS 1. Gua tau lo, lo cuma berandalan sekolah."
Andi terhenyak, tersentak, jingkrak-jingkrak. "Ngeselin nih anak. "
"Ngeselin elo daripada gua. Percuma ganteng tapi maho," kata Pram.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!" Sarah ketawa abis sehabis mendengarkalimat Andi.
Kalau Andi lawan, sebenarnya cowok itu sebanding dengannya. Tapi, karena mengingat dia udah banyak masalah sama anak IPS, dia ga jadi ngelawan tuh cowok. Dia bisa aja ngebogem tuh anak sampe ****** dan minta ampun akibat keperkasaan Andi.
"Lo hapus ga videonya!" pinta Andi sama Sarah. Sarah menolak dan malah mengejek balik Andi.
"Ga, ah. Gua mau sebarin di group angkatan. Angkatan SMA, Angkatan SMP, sampe angkatan TK sekalian."
"Sini ga hape lo!"
Dengan sigap Andi mengambil HP Sarah yang dia letak di kantong dada. Ga peduli dirinya kalo di sana ada daging kenyal yang terlarang. Ampir kena sih, tapi Andi cuek aja. Dia pun ga bakal napsu sama tuh cewek yang ratanya udah maksimal.
"Ih ga sopan lo yah." Sarah berusaha buat ngambil HP-nya kembali.
Jemari Andi mengecek satu per satu folder galeri di handphone Sarah. "Woi anjing, di folder mana lo simpen? Banyak banget folder lo? Kaya anak cowok nyimpen pideo!"
"Anying, ya. Emang gue kaya lo yang nyimpen pideo bacolan." Sarah semakin gesit berusaha untuk mengambil handphone miliknya kembali. Namun, Andi tetap saja menghalanginya.
"Sana gih. Jangan gangguin gua."
"Sini HP gue!"
Pram cuma diam ngelihat tingkah dua makhluk ga jelas di sana. Satu cowok maho dan satunya lagi cewek perkasa yang sering bikin takut cowok satu sekolah.
"Eh sini HP gue." Sarah dapat merebut handphone-nya. Namun, Andi ngambil lagi. Ga sengaja Andi ngejatuhin Aipon Sarah sampe ke lantai.
Bunyinya jatuhnya cukup keras. Tak petak tak tak, begitulah kira-kira bunyinya. Mereka jadi panik berdua. Apalagi si Sarah. Sarah cepet-cepet ngelihat kondisi HP-nya yang udah ga jelas gitu. Layarnya ke belah dua. Sebelah udah hitam gitu. Layarnya pecah-pecah. Trus bagian tepinya juga patah.
Sarah diam ga bicara. Dia sibuk berlutut sambil merenungi HP-nya yang sedang sekarat. Kalau ada sound effectnya gitu,bisa dimasukin lagu Opik-Terangkanlah.
Terangkanlah~
**** lagu dari mana nih, tiba-tiba muncul, Andi bergumam dalam hati.
Andi jadi panik ngelihat Sarah yang ga kunjung bicara. Biasanya dia langsung jadi hijau dan ngamuk kaya huluk gitu. Trus, loncat-loncat udah kaya huluk yang ngeloncat. Kali ini beda sekali, ia pucat, seputih Felix ketahuan ngerokok sama Pak Marlan.
"Sarah." Andi menyentuh Sarah.
__ADS_1
Isakan tangis Sarah terdengar. Bulir-bulir air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya. Dia jongkok sambil nyebok ... eh dia jongkok sambil meratapi handphone merek Aipon yang udah retak.
"Pergi lo! Gua ga mau ngelihat lo lagi!"
Andi langsung pucat beneran. Pucat karena tiba-tiba Sarah bisa jadi huluk beneran. "Tapi, gua kan ga seng─"
"Pergi lo! Ga liat HP gua nih pecah gara lo?!"
"Andi, udah pergi aja dulu," pinta Pram sambil mendekat kepada Andi. "Biar aja dia tenang dulu."
Andi tidak menjawab. Pikirannya masih dirundung sama handphone Sarah yang pecah. Biaya perbaiki hape begituan ga murah lagi. Andi akhirnya pergi. Dia beneran ga bisa ngelihat cewek nangis. Walaupun dia benci banget sama Sarah.
"Sarah maapin gua," ucap Andi dalam hati .
Andi masih ga tega ngelihat HP Sarah yang pecah berantakan. Dia ga fokus ngelihat pantat cewek di pilem pes en porius tujuh di kamar Agus. Biasanya sih mereka nongkrong dulu di warung dekat sekolah sambil nyebat sebentar, tapi tante warungnya lagi pergi arisan, ya warungnya jadi tutup.
Segelas minuman t*rpedo udah serasa minum minuman keras kaya di club malam gitu. Rasanya nyegerin, murah lagi. Cuma seribu di warung-warung. Minuman yang cocok buat mereka nyebat bersama.
Felix dan Andi serius ngelihat balapan Om Dom di pilem pes en porius tujuh. Mereka kan ceritanya mau nonton yang ke delapan nih, jadi nontonin yang tujuh dulu. Nanang baru donlot di layar jendela 21 pake internet bapaknya.
Agus menyendiri lagi di sudut kamar. Mereka sudah tidak heran dengan kelakuan teman yang satu itu. Nanang kan bandar, jadi banyak bacolannya. Agus udah jadi member setia. Setiap hari nyoli apa ga bosan nih anak. Kamarnya ini mungkin udah banyak tuyulnya, soalnya mitos-mitosnya kalau anak terbuang di WC itu ujung-ujungnya jadi tuyul. Cuma sekedar mitos, sih.
"Woi *****, gua lagi ga enak nih," kata Andi sambil telungkup di kasur Agus. Kasur agus udah kaya bau pandan gitu. IYKWIM ...
"Tumbenan lo," kata Felix sambil minumin Torpedonya.
Ia benamkan wajahnya ke bantal Agus yang baunya naujubillah. "Gua ga enak sama Sarah."
Anjing, kerasukan malaikat apa anak satu ini, ucap Felix dalam hati.
Ya Allah, Engkau memberi hidayah kepadanya, Nanang benar-benar mau menyeleding Andi.
Nganggu konsen gua aja lo, kan turun lagi itu gua, kata Agus sambil melirik lagi ke layar handphone.
Andi jadi heran ngelihat mereka yang diam gitu.
"Kok, diem kalian?" tanya Andi.
Nanang mendekat untuk menempelkan tanganya ke dahi Andi. "Ini lo beneran elo, Ndi? Bukan setan bawaan di WC kemarin, kan?"
"****, ini gua. Andi Fernanda, cowok ganteng tingkat kota."
"Kok bisa lo peduli sama dia?" tanya Felix. Ia benar penasaran apa yang terjadi.
"Gua mecahin handphone dia. Handphone-nya Aipon lagi. Bisa miskin mendadak gua."
"Uang bapak lo banyak. Ga bakal abis tujuh turunan."
"Ya gua ga tega aja gitu. Dia nangis."
__ADS_1
Nanang mencari catatannya yang berisi buku panduan keberandalan mereka. Sambil ngebalik-balik buku kecil itu, Nanang ngedapetin pasal-pasal yang dilanggar Andi.
"Woi, di kode etik keberandalan No. 1 tahun 2017, kita wajib ngerjain si Sarah. Berarti lo berhasil."
"Berhasil sih berhasil. Cuma ini udah keterlaluan. Apa gua perbaiki aja ya HP-nya?" Andi kembali membenamkan kepalanya ke bantal Agus.
"Serah lo sih," jawab Felix.
Ia menegakkan tubuhnya, lalu menatap ke semuanya."Ya udah, besok kalian bawa mobil sendiri ya. Gua mau pulang sendiri besok."
"Anjing lo, lo tega ninggalin sahabat lo semenjak ******?" tanya Agus tiba-tiba. Ternyata ia sudah selesai dari rutinitas hariannya.
"****** pala lo pe'ak." Andi ngasih kaus kakinya sama Agus.
"Spregen Lama, coeg," jawab Agus.
Spregen Lama\= Teman Lama
"Pokoknya kalian bawa mobil sendiri besok. Ga malu apa? holang kaya kok numpang mulu."
We were staying in Paris
To get away from your parents
And I thought
Wow if I could take this in a shot right now
Lagu dari The chainsmoker yang judulnya Paris menggema di mobil Andi. Sedari tadi dia duduk di dalam mobil sambil melihat Sarah lewat. Biasanya dia pulang jalan sih, jarang pake mobil atau motor. Rumahnya deket, masih satu RW paling sama sekolahnya.
Mata Andi melihat Sarah lagi meminum susu Indomilik sambil jalan. Ni anak ga henti nyusu ya. Mungkin mau ninggi'in badannya kali. Andi mendekatkan mobilnya dan membuka kaca mobilnya.
Mata Andi menatap goda. "Hai Sarah, mau om booking?"
"Anjing lo. Sana! gua ga mau liat lo," jawab Sarah sambil membuang muka.
"Jangan ngambek gitu dong sama om."
"Apaan sih?"
Setelah senang gangguin Sarah sebentar, jiwa lelakinya keluar. Kini dia serius.Sambil keluar dari mobil dan berjalan ke arah Sarah. Andi menarik tangan Sarah untuk mengajak dia masuk ke dalam mobil. Sarah tidak bisa melawan. Andi memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Maafin yang kemarin Sar. Gua ga maksud buat itu."
"Trus, sekarang lo mau apa sama gue? Mau nyulik gue ya? Gue lapor ke Komnas Anak lo."
"Dasar lo ya. Negatif mulu sama gua. Gua mau perbaiki HP lo."
Sarah menatap wajah Andi yang kelihatan serius. Ga ada wajah becanda yang selalu ia pancarkan setiap bertemu dengan Sarah. Sarah ga mau lihat dia lama-lama, ganteng sih ganteng, tapi Sarah benci banget sama dia. Sarah diam trus bersandar sambil dengerin lagu Paris yang sedang menggema di mobil.
__ADS_1
Let's show them we are better.
Den den tas, den den tas, anggap aja nih bunyi musiknya.