Andi X Sarah

Andi X Sarah
59. Balikan (SEASON 2)


__ADS_3


Balikan



Jadwal ujian akhir sudah mengitung hari. Kesibukan yang tidak berguna sudah dari dulu Andi tinggalkan. Ia mulai jarang keluar malam untuk menjawab soal ujian dari buku UN yang ia pinjam dari Tami. Hal ini merupakan konsekuensinya yang memilih tidak ikut belajar bimbingan.


Sebenarnya mama Andi sudah meminta Andi buat ikutan belajar bimbingan, tapi tau sendiri gimana Andi. Ujung-ujungnya ntar malah cabut dan nongkrong di indopril sama yang lain.


Ia cukup berterima kasih kepada Tami karena mengajari otaknya yang bebal pake banget. Udah diajarin aljabar berkali-kali eh juga masih ngotot dengan jawaban yang salah. Merasa paling benar dan akhirnya malu sendiri kalau rumusnya salah. Belum lagi Andi sering nyeloteh ga jelas dengan jokes-jokes garing kepada Tami. Niatnya mau belajar, eh malah ngobrol panjang.


"Iya, Sayang ... jawabanya itu A," sebut Tami dengan lembut-lembut. Ni anak sombong amat mentang-mentang jawabannya benar.


"Nah, gitu dong. Pinter banget gue ya."


Perasaan dari lima belas soal, baru ini yang benar tanpa bantuan aku, ucap Tami dalam hati.


Daripada Andi ngerokok di kedai soto sebelah, lebih baik Tami menarik paksa Andi buat nemenin di baca buku. Dulu jarang banget sih berduaan sama Andi di sekolah kaya gini karena menjaga perasaan Sarah. Walaupun Tami deket banget sama Andi, sampe-sampe sering tidur di kamarnya Andi waktu dia lagi bosan di rumah, tapi dia masih ngehargain Sarah sebagai pacaranya. Sekarang kan mereka udah putus, jadi Tami bebas mau berduaan sama Andi.


"Tami, lo mau masuk apa setelah lulus?" tanya Andi.


"Hmm ... gue berencana buat tes STAN. Gue pingin banget masuk Bea Cukai."


STAN\= Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Author udah dua kali tes dan ga lulus.


"Oh gitu, lo kan pinter. Gue rasa lo bisa jebol," puji Andi.


"Kalau kamu?" tanya Tami.


"Gue? Gue aja masih bingung. Tapi, ada sedikit keinginan buat masuk jurusan hukum. Biar kaya kaya Hotman Paris."


"Di atas langit masih ada Hotman Paris, ya? Hahaha ...."


"Hahaha, gue bingung kok bisa tajir kaya sultan ya."


"Sarah cerita ke gue kalau dia mau masuk kedokteran. Bayang ga Sarah yang bar-bar jadi dokter. Pasiennya malah dimaki-maki entar."


Wajah Andi turun mendengar nama Sarah. Sengaja bagi Tami untuk membahasnya karena ada hal yang ia tanyakan.


"OH, anak itu ... cocok deh sama polisi, kan? hahaha ...," balas Andi.


"Ih, kenapa sih? mukanya kok murung gitu? Cemburu ya kamu?" tanya Tami.


"Lah, siapa yang cemburu, sih? Kan gue cuma bilang dia cocok sama yang polisi itu."


Tami mendekatkan tubuhnya. "Polisi yang mana hayoo?"


"Apa sih? Cukup tau ajalah ....."


"Siapa?Siapa? Aku mau denger."


"Pram ... Pram ... Pram ... siapa lagi?" jawab Andi.


Tami tertawa pelan mendengarkan jawaban Andi yang agak ngegas. Ia tahu, Andi males banget ngebahas ini.


"Aku tahu kamu masih suka sama dia, ya kan? Kamu bilang lagi deket sama Clara itu cuma bermaksud biar Sarah cemburu, kan?" tanya Tami.


"Enggak kok. Gue memang ada perasaan sama Clara. Gue rindu dia, jujur ...."


"Alah, aku tahu sifat kamu Andi. Kamu ga bakalan bisa suka serius sama cewek yang baru aja kamu kenal. Butuh lama, contohnya Raisa dan Sarah."


Andi terdiam sejenak. Walaupun hatinya pernah menatap kepada Clara, tetapi tetap tidak bisa mengisi kekosongan yang ada. Terlalu banyak lorong-lorong dihatinya yang sepi tak berpijak semenjak ia dengan Sarah tidak ada apa-apa lagi. Semuanya sirna.


"Gue ga tau perasaa gue ini bagaimana. Gue benci sama Sarah yang udah nyampakin gue kaya gitu aja," balas Andi.


"Lo itu ga benci, Andi. Lo itu cuma butuh waktu buat tenang. Kayanya lo udah ngelakuin itu semua. Gue mau lo balikan sama dia."


"Naila juga bilang gitu, lo juga. Tapi, gue tetap ga bisa."


"Kenapa sih ga bisa? Lo cemas sama Pram? Hey ... Sarah itu juga sama kaya lo. Pram cuma alat biar lo cemburu. Gue akui Pram itu keren, tinggi, pintar, calon polisi, tapi kalau ga cinta, yaa ga bakalan bisa lanjut. Sarah bukan orang yang mentingin materil."


"Yaudah deh, gue ga janji. Tapi, bisa gue pikirin."


Andi tidak bisa memastikan jika semua ini berhasil mengingat perasaan yang tengah ia rasakan saat ini. Cinta alasannya, ia rasa ia tak lagi memiliki perasaan pada Sarah. Kekosongan yang ia rasakan ini hanyalah adaptasi. Andi hanya membutuhkan seseorang di sisinya, namun orang itu bukanlah Sarah. Tidak ada motivasi baginya untuk mendapatkan Sarah kembali. Sama sekali tidak ada. Entahlah, mungkin saja hatinya kini sudah berubah haluan.


Sarah menatapnya di depan pintu kelas kaya malaikat penjaga neraka yang lagi nunggu para pendosa. Beringas kaya anjing penjaga kalau ada seseorang yang lagi senyumin dia. Di tangannya ada sebuah tangkai sapu, mungkin aja lagi piket. Tapi siswa mana yang mau piket siang-siang begini? Ga tau sih kalau itu Sarah.


"Awas ...." Andi berdiri di hadapan Sarah. "Sapu lo biasa aja ya."


Sarah menempelkan ujung sapu ke dada Andi. Tampak wajahnya marah akan sesuatu. "Eh lo bilang sama ketiga temen ******* lo itu, kalau makan itu di kantin. Bukan di kelas gue."


"Ya terserah mereka. Gue ga ngurus."


Kalimat tersebut memicu sapu Sarah langsung menghantam lengan Andi.


"Ih *****, main pukul-pukul aja nih huluk," protes Andi.


"Dia itu ninggalin sampah di mana-mana. Ga sadar diri tau!! Gue suruh cewek-cewek lain yang piket, malah jijik. Terpaksa gue ngepel sama nyapu. Kalau gue ketemu sama mereka, gue cincang!"

__ADS_1


Kayanya gue lagi bicara sama Sarah yang dulu.


"Yaudah sini gue sapu lagi, maapin temen-temen gue." Andi mengambil alih sapu Sarah.


"Eh, mau ngapain?" tanya Sarah.


"Gue mau nyapu lagi."


"Ngapain nyapu lagi. Kan udah gue bersihin," balas Sarah.


Sarah kembali mengambil alih sapu tersebut. Memang benar, ga ada lagi yang perlu di sapu.


"Ikut gue ...."


Andi terheran dengan sikap Sarah.


"Ke mana?"


"Suatu tempat yang pernah kita kunjungi."


Entah kenapa Andi mengiyakan permintaan Sarah tersebut. Terlihat Sarah yang was-was dengan keadaan sekitar. Mereka memutari gedung sekolah dan menyelusuri koridor yang sedikit terlihat oleh orang banyak. Sarah memastikan keadaan yang aman dan mengapai puncak pagar untuk menaikinya.


Yaealah mau cabut was-was banget ....


"Eh lo mau cabut? Segitu waspadanya."


"Gila lo ya? Kalau dilihat guru gimana?" protes Sarah.


Bibir Andi mencibir kepada Sarah. Ia menaiki pagar lebih dahulu karena sudah terbiasa. Enggak kaya Sarah yang kesusahan karena enggak dari golongan para siswa yang hobi cabut.


"Gue duluan─"


"Lah, tunggu gue gimana?" tanya Sarah.


"Pandai-pandai lo ...."


Bunyi hentakan tanah di seberang menandakan Andi meloncat. Sementara itu Sarah masih kesusahan buat naik.


"Woi, tolongin gue napa?"


Andi memicing kesal karena harus mengurusi anak yang ga bisa cabut. Makanya, jadi siswa itu jangan rajin-rajin amat. Nyusahin anak cabut, kan?


"Lo ngajakin gue cabut, lo sendiri yang ga bisa? Gimana sih?" protes Andi.


Terdengar gesekan kaki Sarah di dinding sebelah. Wanita itu benar-benar kesusahan.


"Tolong dong. Ambilin tangga kek, gimana kek!"


"Woi, ngapain di bawah?" cemeeh Andi.


Sarah menunjuk Andi dengan emosi. "Jangan ketawain gue ya?! Ginian aja gue yg ga bisa."


Tangan Andi menjulur untuk memberikan bantuan kepada Sarah. Berkat itu, Sarah dengan mudah memanjat pagar yang tingginya hampir dua meter.


"EH─" Sarah hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan. "Lo becus megangin gue ga?"


Dengan reflek Andi memegangi tubuh Sarah yang hampir jatuh. Mereka saling bertatap dalam satu sorot mata. Momen tiga detik ini mengetarkan tangannya hingga Andi melepas perlahan sentuhan.


"Ngapain sih ke kedai soto? Tumben amat."


Andi menghela napas sembari duduk di atas tangga batu tersebut.


"Gue mau minta maaf." Wajah Sarah menunduk.


"Cuma itu?"


Tangan Sarah memegangi tubuh Andi untuk memperbaiki posisi duduknya di atas pagar. Hatinya berdegup begitu kencang. Bukan karena tengah berduaan bersama Andi, namun karena cemas guru bakalan ngelihat.


"Lo ga salah. Gue yang salah karena terlalu emosi dan mudah banget bilang putus. Gue tau semuanya, kita cuman ketemu di momen yang ga tepat waktu itu. Naila mungkin aja kebawa suasana megangin tangan lo di saat lo risih dipegangin sama cewek lain. Gue juga salah karena udah cemburuan banget. Padahal kalian kan cuma temenan."


Mata Sarah terlihat berkaca-kaca tatkala berbicara.


"Menurut lo wajar ga gue jalan sama cewek lain waktu kita pacaran waktu itu?" tanya Andi.


Sarah menggeleng. "Menurut gue ya lo salah karena waktu itu gue adalah pacar lo. Tapi, seharusnya gue harus percaya sama lo."


"Gue salah karena udah pergi sama cewek lain, walaupun cuma nemenin dia semata."


"Gue mau balikan, gue ga bisa ngelupain lo."


Andi terdiam mendengar kalimat tersebut. Ia hanya bisa menatap dalam-dalam mata Sarah yang berkaca tatkala mengucapkan kalimat penuh makna itu. Tangannya menggenggam puncak pagar dengan keras, berharap ia mempunyai jawaban untuk menyelesaikan percakapan ini.


*Gue harus bicara apa?


Aduh, lo kok manis banget kalau lagi serius ...


****** ....


Handphone Andi berbunyi. Fokusnya hilang tatkala melihat layar handphone.

__ADS_1


"Permisi ...." Andi meminta izin buat buka handphone. Padahal kan mereka lagi bicara serius.


Naila baru saja mengirimkan pesan LINE.


Naila: WOI, NGAPAIN BERDUAAN DI ATAS PAGAR. JELEK AMAT SELERA ROMANTIS LO.


Andi :KOK BISA LIHAT SIH?


Naila :GUE DI KEDAI SOTO


Mata Andi langsung menyorot kedai soto dan melihat ada empat anak cewek yang lagi duduk di sana. Tiga orang yang ga make jilbab, sedangkan satu orang yang lain lagi makai jilbab se-dada. Ia sorot dalam-dalam karena seakan melihat orang yang familiar di tengah perkumpulan tersebut. Memang, tiga orang yang lain merupakan Naila dan temen-temennya.


"Kayanya itu Aisyah, deh?" ucap Andi.


Aisyah kan baru aja masuk ke SMA Andi semenjak sebulan yang lalu. Tapi rasanya dia ga mungkin gaul sama anak-anak gaul kaya Naila.


"Ah, masa'?" Sarah turut melihat kedai soto dengan seksama.


"Ayo turun."


Mereka bersama-sama ke kedai soto tersebut buat ngelihat orang yang sebenarnya. Alangkah terkejutnya Andi tatkala melihat adiknya sendiri lagi cabut bersama temen-temen haluan kiri yang udah biasa keluar masuk sekolah tanpa izin.


"Aisyah?!" ucap Andi.


"Lah, Uda Andi? Kok di sini?" tanya Aisyah.


Ih, ni anak manis kok cabut sih!!!!!


"Uda udah biasa kalau ke sini. Lah, Ais kok malah cabut sih?"


"Yaealah, abang adik sama aja," cibir sarah di belakang.


Andi menghada ke belakang. "Diam lo."


Naila menatap aneh kepada mereka berdua. "Jadi, si tonjang sama lo ada hubungan apa?"


"Lo ngejulukin Aisyah tonjang?" tanya Andi.


"Iya, dia kan tinggi banget. Ga kaya kami bertiga." Naila dan yang lain mengangguk setuju. "Jadi, lo siapanya dia?"


"DIA ADIK GUE WOI!!!!!!" Andi menarik Aisyah buat pulang ke sekolah. "Malah lo ajakin cabut!!!!"


Aisyah jadi cemas karena muka Andi yang lagi marah. Tapi kan dia ga lagi cabut. Soalnya tadi minta izin.


"Uda, tadi Ais minta izin kok," ucap Aisyah ketika berjalan.


"Mana ada cabut bilang-bilang. Bohong aja lu."


Aisyah berhenti dan melepaskan genggaman tangan Andi.


"Ih, siapa yang bohong? Kami itu bersihin perpustakaan dan dikasih uang buat makan soto di sini. Wali Kelas langsung kok yang ngizinin ke guru piket."


"Eh, bener nih?" tanya Andi kepada Naila yang mengikuti langkahnya.


"Lo kira gue sebejat itu ngajakin anak baru cabut. Tapi, ga tau juga kalau besok yaaa. Beneran abangnya Aisyah lo?" tanya Naila balik.


"Ga lihat gue mirip apa sama dia?" balas Andi dengan menunjuk muka.


Semuanya menggeleng, termasuk Sarah. Andi dibuat menepuk jidat akan hal itu.


"Terserah kalian deh, pokoknya cepetan balik sana."


"Marah-marah aja kaya di rumah," protes Aisyah.


"Jangan ngelawan deh sama abang sendiri. Udah, kamu balik sanah."


Naila membawa Aisyah kembali ke sekolah. Ternyata Andi salah paham karena mengangap ia sudah membawa Aisyah buat cabut. Padahal kan iya, izinnya cuma sebentar eh malah pake lama.


Sementara itu Sarah menyentuh tangan Andi.


"Jawaban lo apa? Gue mau balikan. Gue masih sayang sama lo."


Perlahan Andi melepaskan sentuhan Sarah. "Maaf, jawaban gue enggak untuk sekarang. Gue masih pikir-pikir. Gue balik dulu."


Andi berbalik arah buat manjatin pagar kembali. Ia menatap Sarah sejenak ketika sesampainya di atas.


"Alasan lo apa? Lo udah ga sayang gue lagi?" tanya Andi.


"Gue mau fokus UN ... alasan klasik kaya abege jaman sekarang. Bye ...."


*BAJIGUR!!!!


Sok-sok fokus UN!


Eh gue baliknya gimana*?


"Andi, tunggu gue!!!! Gue ga bisa manjat nih!!!"


"Pake aja tangga sebelah," teriak Andi di sebelah dinding.

__ADS_1


Sarah tersenyum. Setidaknya Andi sudah mau berbicara dengannya kali ini.


***


__ADS_2