
“Sini lo …” Sarah menggerakkan tangannya ke arah Kevin.
Kevin tidak jadi melanjutkan langkahnya. Dia malah memicingkan mata karena takut kalau Sarah bakalan ngamuk. Lah kan Kevin kaga salah apa-apa, malah takut diamukin sama cewek itu.
“Anggap aja tidak terjadi apa-apa,” ucap Kevin dengan cepat.
Tangan Andi hanya menutup dahinya. Ia sama sekali tidak mengira jika aktivitas sentuh menyentuh tadi diketahui oleh temannya sendiri. Pasti nantinya akan jadi barabe.
“Oke, lo tahu kan yang harus lo lakukan?” tanya Sarah.
“Tau kok.” Kevin menyentuh bibir lalu menggerakkan jemairnya dari ujung ke ujung. “Gue kaga bakalan ngasih tahu
kejadian ini.”
“Oke, terima kasih sudah paham. Sekali lagi, jangan bocorin ini, anggap aja angin lalu. Dan kalau lo ngebocorin, gue pecahin biji lo.” Sarah menunjuk Kevin.
Ancaman tersebut membuat ia menelan ludah. Ya kali bijinya pengen dipecahin, kan Kevin tidak akan punya masa depan nantinya. Tidak mungkin juga Kevin menjomblo dan tuanya cuma pacaran sama motor. Sekarang aja dia belum punya pacar, apalagi kalau udah tua. Otot doang yang gede, tapi jadi sadboy mulu.
“Elo sih ngajakin beginian di sini?”
Sarah tersenyum sembari menyentuh hidung Andi. “Kan gue kebawa suasana. Soalnya lo itu romantis banget kalau gue lagi ngambek.”
“Ya kan kalau kita khilaf, kan gue jadi enak.”
“Kok jadi enak?”
“Ya enaklah, masa enggak.” Andi kini berdiri untuk mematikan TV sekaligus PS-nya. Gara-gara itu mereka jadi ketahuan.
Andi berencana bergabung dengan para pemain mobail lejen di pos security. Waktu masih di villa, ia mendapati Memet dan Tami sedang berdua-duaan. Sedangkan dari kejauhan, Pram masih seperti awal-awal ia kenal, yaitu pendiam dan dingin. Pria karismatik itu sedang berdiri di balkon kayu bangunan tingkat duanya itu. Sembari bawa kopi yang sudah disiapin Sarah satu teko, Andi diterima dengan hangat oleh para gamer dan langsung diajakin main untuk menggantikan Revin yang pengen ngelihatin video Tik-Tak.
__ADS_1
Begitulah malam ini berlangsung hingga dini hari. Mata para gamer pun perlahan mengantuk. Berkali-kali menang
ternyata membosankan juga, sehingga timbul nih kata-katas sombong buat ngejekin lawan. Begini biasanya nih para gamer. Kalau menang terus, ngejekin lawan sampe puas. Kalau kalah terus, malah ngatain temen tidak becus mainnya. Hingga sekitar pukul satu dini hari, akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.
Tami berkali-kali mengecek koper dan tasnya untuk menemukan sesuatu. Ia jadi panik sendiri karena benda khusus para perempuan ketika datang bulan tidak sedang ia bawa. Memang, Sarah sedang membawanya tetapi secara ukuran terlalu kecil, sehingg membuat ia jadi tidak nyaman. Tami pun memutuskan untuk membelinya di warung terdekat.
Tangan Andi mengetuk dua pintu kamar anak cowok, tetapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia mendapati kalau Andi sedang tidur di sofa dengan pose ngangkang faforitnya. Tami hanya mendapati tangan Andi yang mendorongnya menjauh agar tidak dibangunkan. Pria itu sama saja seperti Sarah, kalau udah tidur susah sekali untuk dibangun. Ia pun terpaksa mengambil kunci mobil Agus berada di atas meja dan pergi sendirian.
Apa aku minta tolong sama Bapak Santoso aja ya?
duh … masa aku minta beliin pembalut sama cowok. Malulah!
Atau aku minta temenin? Eh janganlah, dia kan orang baru. Kata Mama jangan mau pergi sama orang yang baru dikenal.
Keadaan kawasan bukit yang gelap ini menjadi tantangan bagi Tami untuk mendapatkan benda yang ia inginkan. Dingin sungguh mencekam sehingga ia meminjam tanpa izin hoodie tebal milik Andi. Mobil Phanter berbunyi tatkala Tami membuka kuncinya dari jarak jauh. Pada saat itu keluarlah seseorang dari pos security. Orang itu merupakan Pram yang masih bertahan tanpa ingin tidur.
“Eh, Kak Pram … hmm … itu ….” Tami cenderung ragu untuk mengatakan maksudnya. Tetapi sudah tertangkap
basah. “Mau ke warung mau beli pembalut.”
“Haha … lo mau ke warung jam segini? Yang ada cuma warung kopi yang isinya bapak-bapak main judi.”
“Eh iya, ya?” Tami jadi cemas karena ia baru saja halangan malam ini. “Jadi gimana dong?”
“Biar gue temenin ya. Swalayan terdekat dua puluh menit dari sini. Tunggu sebentar.” Pram masuk kembali ke pos security untuk mengambil jaket denimnya. Setelah keluar, ia bergerak menuju mobil. “Pakai mobil gue aja.”
Ia diam sejenak melihat tampilan Pram yang seperti orang seumurannya. Menurutnya, Pram seperti cowok-cowok badboy urak-urakan yang memakai celana jeans robek-robek dan jaket denim ala-ala rider motor tua. Tubuhnya yang tinggi dan proposional sungguh menawan hati. Selama ini, Tami hanya melihat Pram yang selalu rapi, memakai celana bahan kain dan setelan PDH polisi atau pun kemeja putih dengan dasi warna hitam.
Kalau Sarah ngelihat Pram, udah diledekin mirip intel tuh yang lagi ngincer penjahat.
__ADS_1
Pelan sekali Tami menutup pintu, bahkan ia ragu jika sudah tertutup dengan sempurna. Kakinya sungguh kaku duduk tepat di samping Pram dengan gestur tubuh yang tertutup. Ia lebih banyak memalingkan wajah ke kiri daripada melihat Pram yang sedang menyetir.
“Kak …”
“Tam ….”
Keheningan itu terhenti tatkala mereka saling memanggil bersamaan satu sama lain. Pram yang selalu mendominasi wanita tidak memberikan kesempatan Tami untuk berbicara duluan. Ia malah tersenyum, lalu berbicara sebagaimana yang ia ingin katakan.
“Gue enggak nyangka lo berani keluar di malam begini. Bahaya tahu.”
Perlahan Tami menoleh ke arah Pram.
“Iya Kak, mau bagaimana lagi. Soalnya tiba-tiba aja Tami halangan. Mau minjam punya Sarah, punya dia kekecilan.”
Bener-bener tepos banget tuh anak, beda banget sama Tami. Ternyata eh ternyata, antara Pram, Kevin, dan Revin juga sering tuh ngegosipin Tami yang katanya punya body aduhai. Siapa lagi kalau bukan Kevin yang membuka pembicaraan tersebut. Tetapi entah kenapa Pram tetap mencintai Sarah, meskipun di luar sana masih banyak cewek yang lebih cantik dan sexy.
“Oh gitu yaa. Gue kaga ngerti soalnya soal yang begituan.”
“Kak, beneran ada hantu ya di rumah itu?”
Pram menahan tawanya sebentar, tetapi meledak tidak lama kemudian. Semua itu hanya akal-akalan Kevin yang iseng untuk mengerjai mereka. Udah dari dulu jika anak Kodomo baru pertama menginap, pasti ditakuti dengan rumor-rumor seperti itu.
“Enggak dong Tami. Masa ada hantu sih di villa gue. Itu cuma cerita bodoh Kevin yang pengen ngerjain kalian.”
“Aku jadi takut ke WC Kak gara-gara itu.”
“Minta kawanin Sarah aja, atau Andi aja sekalian hahaha,” canda Pram.
“Haha … masa Tami minta kawanin Andi ke WC, yang ada Sarah ngesleding mukanya Andi nanti. Kalau Sarah, dia males banget ngawanin-ngawanin ke WC. Nanti dibilang manja banget sama dia.”
“Haha … kan udah biasa aja kali cewek ke WC sama-sama. Kalau cowok ke WC sama-sama itu mah baru aneh. Kalau pun ke WC sama-sama, itu pun cuma buat ngerokok kaya di WC. Kaya di SMA. Tapi kan tetep aja kegiatan yang aneh.”
Senyum Tami melingkar. Pram tetaplah sama seperti para cowok di SMA, dibalut dengan karisma yang memikat sebagaimana ia lihat dahulu.
__ADS_1
***