Andi X Sarah

Andi X Sarah
30. Samsak Tinju (SEASON 3)


__ADS_3

Hari ini terasa panas memanggang di udara. Mentari bersinar selayaknya bara api yang terus saja mendekat. Terlalu bersih langit kali ini tanpa awan yang menaungi keteduhan. Mungkin saja pepohonan terdengar meminta tolong bahwasanya manusia sudah terlalu banyak mengemis kesejukan, sementara itu mereka terus saja menebang tanpa tahu jati diri sebenarnya. Tidak ada celah bagi orang untuk berlama-lama tanpa atap, berlindung diri dari freon dingin yang mendukung pemanasan global.


Ya, begitulah manusia dengan segala antosentrisnya di dunia ini. Mereka ingin berteduh sementara peneduh habis untuk memuaskan hasrat diri. Mereka ingin tidak haus, di lain sisi mereka selalu saja mengeringkan sumber-sumber air. Sungguh serakahnya manusia bergerak di atas dunia yang sejatinya suci, terkotorkan oleh keangkuhan. Maka kali ini manusia hanya berdiri di atas sombongnya dunia. Mereka tertatih dari apa yang mereka kerjakan.


Lalu, apa hubungannya sekilas kalimat di atas dengan cerita absurd ini.


Ya sungguh tidak ada.


Ya ada dong …


Tadi malam Tami bercerita tentang sebuah buku yang pernah ia ceritakan tentang keserakahan umat manusia. Mereka bertiga, Tami, Aisyah, dan Andi membuat acara ngeteh kecil-kecilan di kamar Andi karena wilayah komplek sedang mati lampu. Daripada percuma dibawa terbang nyamuk yang berterbangan, mending mereka ngumpul bareng. Tami yang cerdas dan banyak baca buku mulai bercerita mengenai hal tersebut.


Aisyah masih nyambung sih dengan percakapan tersebut karena dirinya tertarik dengan isu-isu lingkungan. Bahkan, ia sering bergabung menjadi sukarelawan online untuk mengkampanyekan isu-isu lingkungan.


Berbeda hal nih sama Andi yang govlok dan ga tahu apa-apa. Dia malah ngedebat Tami kalau semua itu konspirasi elit global, konspirasi peka`i, konspirasi tukang potong rumputnya Sarah yang ngebakar rumput karena disuruh oleh elit global. Padahal kan biasa aja tuh rumput habis dipotong, setelah itu dibakar sampe habis.


“Kayanya bener nih kalau bumi itu datar. Semua ini konspirasi elit global. Masa ada orang ke bulan. Ah bodoh, enggak ada. Mau aja dibodoh-bodohin sama media.” Andi masih aja membahas perdebatan tadi malam di meja makan bersama Aisyah.


Kebetulan sekali Tami sedang pergi bekerja sehingga tidak bisa meladeni debat Andi yang ngelantur. Padahal sumbernya Andi cuma dari nonton youtube, sedangkan Tami dan Aisyah sering baca buku serta artikel ilmiah.


“Bumi itu bulat, Uda. Kalau bumi itu datar, ujungnya di mana? Emangnya ada bukti bumi itu datar?” tanya Aisyah yang udah males ngeladenin abangnya.


“Ih, kamu ini sok tahu, sih. Lihat ini ….” Andi menunjukkan foto google yang menunjukkan foto bumi datar. “Ini nih kaya gini bumi itu.”


“Itu kan foto rekayasa, Aisyah aja bisa bikin begitu di potosop.” Aisyah menutup wajahnya. “Gini nih kalau kebanyakan nonton youtube tapi kurang baca buku.”


“Nah kamu ini sotoy lagi. Udah jelas bumi itu datar. Kita semua udah terjebak di rencana elit global buat memperkaya diri.”


“Aduuh … udahlah … bumi itu bentuk segitiga,” pungkas Aisyah yang kesel.


“Gini nih kalau kalah debat pasti ngambek. Makanya banyakin informasi,” balas Andi.


“Iya, uda … bumi itu datar. Bumi itu kaya papan datarnya. Elit global itu ada, yang bikin pos ronda itu juga elit global.”


“Itu elit RW untuk memperkaya diri. Masa buat pos ronda aja banyak banget dananya. Korupsi tuh Pak RW yang baru,” jawab Andi.


“Uda ini apa-apaan sih? Semua aja dikonspirasikan!” Tangan Aisyah mengambil piring Andi yang sudah habis makanannya. “Sekarang jemput Kak Sarah ke lokasi perguruan karate. Dia lagi enggak bawa motor.”


“Motornya lagi dibawa sama Memet buat di-bore-up.”


Makan siang sudah, kali ini berangkat dengan motor bebek modifikasi anti disalip-salip. Motor melaju ke tempat Sarah melatih karate.


Lokasinya cukup jauh, pokoknya harus pakai helem biar ga ditangkap pak polisi. Bermodalkan seliter minyak bensin eceran di warung, Andi sampai ke tekape. Andi memarkirkan motornya paling depan, sekaligus digembok. Soalnya hal itu disuruh mamanya kalau lagi markir di mana saja. Ya mau gimana, motor itu merupakan kendaraan mamanya buat pergi wirid ibu-ibu.


“Dek, saya nyari Kak Sarah. Dia ada di dalem?”


“Oh, Sensei Sarah? Dia masih ngelatih di dalam.”


“Oh bilangin ya, ojeknya udah nyampe di sini.”


“Siap Bang!”


Sekitar dua menit kemudian, murid karate itu kembali mendatangi Andi.


“Bang, disuruh Sensei Sarah buat ke dalam.”


Aneh tapi nyata, Sarah pengen Andi buat masuk ke dalam. Selama ini kalau Andi ngejemput selalu nunggu di luar. Berbunyilah tendangan dan pukulan murid karate pada samsak tinju. Andi melangkah sembari melihat keadaan perguruan karate-nya Sarah. Terdapat cermin besar di kiri sebelah kiri dan kanan sebagai fungsi memperlihatkan gerakan yang benar. Andi ngerasa insecure dengan serangan mereka karena Andi kalau kelahi pasti sembarang pukul aja, yang penting musuh sampe mampus.


“Nah, untung lo datang.” Sarah menisyarakan salah satu muridnya untuk mengambil sebuah benda di atas matras. Benda itu merupakan pelindung tubuh untuk sparing. “Pakai ini dulu.”


“Tunggu dulu, lo mau ngejadiin gue samsak tinju?” tanya Sarah.


“Iya, emangnya kenapa?

__ADS_1


“Emangnya kenapa? ****** gue datang jadi ojek malah dijadiin samsak tinju.” Andi menggeleng karena nolak. “Gue kaga mau ah. Enak aja.”


“Ya elah preman SMA malah lemah begini. Katanya sering tawuran sama nantangi senior. Jangan lembek gitu.” Sarah memasangkan pelindung tubuh tersebut beserta helmet-nya sekaligus. “Gue mau peragain serangan yang baik ke murid-murid.”


“Sarah masa gue, sih?” Tangan Andi ditarik untuk ke tengah.


“Nunduk dulu sama mereka biar sopan.”


Andi yang ga tau apa-apa sekarang nunduk hormat kepada para murid-murid karate. Mereka semua masih para bocil, sementara Sarah itu bagaikan beruang betina kalau lagi emosi.


“Adik-adik, di sini sensei akan mengajarkan cara menendang musuh dengan baik. Kalian harus perhatiin poin-poin pentingnya buat dipraktekin besok, ya?”


Salah satu murid perempuan mengangkat tangan. “Sensei, abang ini siapa? Kami kok enggak pernah lihat di sini.”


“Oh, abang ini ….” Sarah merangkul Andi. “Dia tukang ojeknya Sensei.”


“Ganteng Sensei!”


Andi dan Sarah saling menatap.


“Ya iya dong. Ya kan?” Alis Sarah naik turun kepada Andi. “Sekarang tolong mundur ya ke belakang tiga langkah.”


Sambil menghela napas berat, Andi turun tiga langkah. Gerakan mulut Sarah mengkode Andi buat membentuk kuda-kuda. Dia kan enggak pernah belajar bela diri jadi enggak pernah tuh bikin kuda-kuda. Seketika Andi mengingat kuda-kuda karakter Rock Lee di anime Naruto. Jadi, Andi praktikin di hadapan Sarah.


“Tangan lo ngapain?”


Sarah heran kenapa tangan Andi kaya lagi bikin jurus di anime Naruto.


“Katanya kuda-kuda. Kuda-kuda di Naruto kaya gini.”


“Ya … elah. Terserah deh. Pokoknya siap-siap aja.”


“Tenang … tubuh gue ini sering kena tendang sama Kevin.” Andi menepuk-nepuk dadanya.


“Adik-adik, kalau ingin menghasilkan tendangan yang kuat. Maka kuda-kuda kita harus kuat pula. Pusatkan kekuatan di kedua paha, konsentrasi, angkat kaki seperti ini, lalu ayunkan dengan kencang. Kalian akan menghasilkan tendangan yang sungguh ber-damage. Paham?”


“Paham, Kak!”


Kuda-kuda Sarah bersiap-siap untuk mempraktikin tendangan mautnya. Seluruh kekuatan sudah ia pusatkan pada paha sebagaimana perkataanya tadi. Ngelihat Sarah yang pengen nyerang Andi, Andi menelan ludah dan pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya.


“HAAAA!!!!” Teriakan Sarah bener kaya om-om.


Andi langsung terpelanting ke belakang.


Anjir gue masih hidup!!!


“Nah begitulah kira-kira. Terima kasih kepada adik-adik yang udah datang berlatih. Minggu depan kita akan bertemu lagi. Sekarang, adik-adik boleh pulang ke rumah masing-masing. Hati-hati ya ….” Sarah menunduk kemudian.


Sementara itu, Andi lagi engap-engap di atas matras karena terpelanting oleh tendangan kejantanan Sarah. Dia narik napas berkali-kali karena hantaman Sarah hampir sama kaya pukulan Kevin yang ototnya segede nangka. Kini Andi pun paham kenapa bisa Memet langsung tumbang ditendang Sarah tepat pada biki ketika sekolah mereka sedang ingin tawuran. Berkat Memet yang tumbang, mereka pun tidak jadi tawuran.


Tangan Andi masih menggosok-gosok perutnya yang sakit kena hantaman Sarah.


“Ya elah … segitu aja ngeluh. Itu belum seberapa.”


Sarah baru saja selesai mengganti baju dan mereka kini sama-sama menuju parkiran.


“Sumpah itu tendangan bener-bener kaya serangan gorilla.”


“Gorilla mana ada yang nendang.” Sarah menatap Andi. “Ya udah, maap gue udah ngejadiin lo samsak. Gue traktir pop es di depan ya.”


“Nah gitu, dong. Mumpung hari panas nih.”


Telunjuk Sarah mengarah kepada Andi. “Tapi kalau tenggorokan lo sakit, jangan bilang ke mama lo kalau gue yang traktir ya.”

__ADS_1


“Tenang … soal itu mah aman sama gue.”


Mereka berdua tidak jadi pulang dan lebih memilih untuk mengademkan diri di sebuah pondok minum pop es. Tempat minum pop es tersebut memang banyak didatangi oleh para mahasiswa karena masih di sekitar kawasan salah satu kampus universitas. Selain ngadem, Sarah juga pengen pamer-pamer kemesraan kepada para jomblowan dan jomblowati. Andi pun punya tujuan lain, di sini banyak mahasiswi cantik yang juga bikin matanya jadi seger lagi sehabis tepar ditendang Sarah.


Minuman pop es dingin toping cokelat parut pun datang. Andi langsung minum kaya kehausan, apalagi Sarah. Mau gimana lagi, udara sungguh panas. Andi masih kukuh hatinya panas hari ini merupakan ulah elit global yang pengen menjual produk AC. Ada-ada aja memang.


“Nanti sore lo jemput motor gue di rumah Memet ya. Uangnya udah gue transfer,” ucap Sarah.


“Kenapa enggak ngambil sendiri aja?” tanya Andi.


“Gue abis ini main ke rumah Vanesa. Makanya mandi dulu ke rumah, makan, terus pergi lagi.”


“Lah, lo kan bisa sekalian.”


“Vanesa lagi di rumah gue. Kan Papa lagi enggak ada di rumah, dia pergi mancing dari pagi sama temen-temennya. Papa bilang pulangnya malam banget.”


“Iya … iya ….”


“Gimana? Seneng kan lo ngelihatin Tami tiap hari di rumah?” Sarah menekan hidung Andi.


“Apaan sih? Mending gue ngelihatin elo tiap pagi,” rayu Andi sambil melepaskan jemari Sarah. “Eh tahu ga antara Memet dan Tami⸺”


“Udah tahu, Tami ngerasa bersalah kan sama Memet semenjak nolak Memet. Kemarin dia datang ke rumah buat curhat.”


“Mungkin aja karena gue nasehatin di rumah buat enggak ngejauhin Memet. Soalnya kan kami sahabatan dari kecil,” balas Andi.


“Gue tuh bingung ya. Bingungnya itu begini, kenapa cewek ngerasa bersalah kalau dia nolak cowok. Kalau dia nerima, alasannya cuma karena kasihan.”


“Jadi lo nerima gue karena ngerasa kasihan, gitu?” Mata Andi memicing curiga.


“Ngapain lo bawa-bawa ke hubungan kita? Ini beda konsep.” Sarah melipat tangannya. “Jadi gini, Tami itu ngerasa yakin nolak Memet. Eh malah dia yang ujung-ujungnya risau. Apa dia nyesel ya karena udah nolak Memet? Masa sih dia nyesel? Malah pantas sih dia nolak HAHAHA ….”


“Bangke lo … dekil-dekil gitu dia juga sahabat gue loh,” jawab Andi setelah meminum pop esnya. “Dari curhatan Tami ke gue, Tami itu bener-bener enggak punya perasaan sama Memet. Dia itu ngelihat Memet itu sama aja kaya gue, sahabat dari kecil. Tapi ya Tami itu selalu enggak enakan orangnya. Dia nolak telpon gue aja dia enggak enakan, langsung nyamperin di rumah.”


“Bilanginlah ke Memet, jangan terlalu berharap kalau orang itu enggak mau sama kita. Nanti malah kita sendiri yang tersakiti pada akhirnya,” balas Sarah.


“Ntar dia nyadar sendiri kok, udah gede soalnya. Udah pande cebok sendiri.”


“Kalau gue yang bilang, takutnya dia tersinggung karena gue bukan orang deketnya Memet. Lebih baik elo sih.”


“Iya, nanti sekalian gue bawa dia cerita.”


Sarah dan Andi menyelesaikan sesi minum pop esnya mereka sambil dilihatin oleh para jomblowan dan jomblowati di sana. Dua sejoli tersebut ngerasa dunia milik sendiri. Romantisme pun tidak terjadi di café-café, di taman-taman penuh lampu redup, atau pun restoran mewah dengan makan malam penuh lilin. Hanya di warung pop es dengan toping keju. Harganya enggak sampe sepuluh ribu. Sungguh harga yang memperhatikan sisi kemahasiswaaan agar bisa nongkrong dan tidak lagi makan emi instan di akhir bulan.


Sore hari pun tiba. Andi memenuhi janji Sarah untuk menjemput motor trail tersebut di rumah Memet. Sarah tadi siang sempat cerita kalau Memet lagi demam, oleh karena itu Andi ngebawain rokok buat dia. Bukannya bawain buah dan vitamin, ini malah bawain racun. Namanya juga temen, ulahnya kadang bikin elus dada.


Sesampainya di rumah Memet, Andi mengetuk pintu beberapa kali. Adeknya Memet yang masih bocil pun bilang kalau Memet lagi ada di samping, tempat di mana dia ngebongkar motor. Andi pergi ke samping rumahnya yang seperti lorong ke belakang. Pantes aja Memet enggak denger karena lagi ngehidupin DJ jedag-jedug sambil ngebongkar mesin motor orang lain.


“Nah ini elu, kecilin volumenya dikit. Bisa-bisa bayi samping rumah lo enggak bisa tidur gara musiknya.”


“Eh elo … mau ngambil motor Sarah, kan?” tanya Memet sambil nunjukin motor Sarah yang terparkir di belakang rumah.


“Bener, makasih banget udah perbaiki motor Sarah.”


Mereka berbincang-bincang ringan sore ini dengan ditemani secangkir kopi dan rokok suria. Memet terlihat sehat-sehat saja tanpa indikasi demam. Sampailah pembicaraan mereka ke topik Tami yang ngejengukin Memet dan ngasih ini itu. Andi pun berkesimpulan pantes aja Memet langsung sembuh.


“Kayanya lo harus ngelupain Tami, deh. Takutnya lo sendiri yang kesiksa. Lebih biak kita deket seperti sahabat aja.”


Memet berdiri sambil mencabut ujung rokoknya. “Enggak, karena in perasaan gue. Cinta enggak bisa dipaksakan, ya kan? Maka ngelupain itu pun enggak bisa dipaksakan. BIar saja dia ada ada, hingga pada waktunya tiba.”


Mata Andi ngelihat Memet sungguh keren waktu dia mengatakan hal itu.


***

__ADS_1


__ADS_2