Andi X Sarah

Andi X Sarah
7. Kakak Pembimbing (SEASON 2)


__ADS_3


Kakak Pembimbing



Hari ini terlihat lebih senang dari biasanya. Yang biasanya Andi terkulai lemas menatap papan tulis sambil ngebayangin tiga jam pelajaran MTK, kini ia bisa bebas karena akan mengikuti peresmian program kakak bimbingan yang baru diadakan di angkatan kelas 10 sekarang. Bahkan, Andi juga akan melewati jam pelajaran hingga istirahat sholat dzuhur. Kenikmatan yang hqq. Otaknya kan memang seneng banget yang beginian.


"Tumben ganteng," puji Sarah ketika menghampiri Andi yang sedang berjalan ke aula sekolah.


Lah ... kesambet apa nih anak? Duh, ni anak pagi-pagi bikin deg-degan.


Terkejut abang terheran-heran mendengar Sarah yang memuji Andi dengan sebutan ganteng. Seganteng-gantengnya Andi, Sarah jarang banget memuji dirinya. Padahal Andi udah sering banget berpenampilan sekeren mungkin biar Sarah terkesima. Memang sih pernah muji Andi, tapi agak ngegas gitu. Entah lah, author pun enggak tahu apa yang terjadi dengan Sarah kok bisa begini.


Walaupun wajahnya memerah, Andi tetap memasang wajah cool gitu. Soalnya dia baru aja nonton drakor dan ngelihat kalau cowok cool itu keren. Jadi, dia agak memasang wajah datar kepada Sarah.


"Gue memang ganteng. Terganteng se-kota," balas Andi menyombongkan diri.


"Enggak ... bagi gue lo jelek."


Wtf?


"Trus ngapain kamu ngatain aku ganteng?" tanya Andi.


"Enggak boleh?" Sarah menatap mata Andi. "Kalau lo manggil kamu, ada jijik-jijiknya gitu ya ...."


"Gue mau lembut, eh lo enggak mau. Gue ngatain lo cantik, eh lo bilang gue gombal. Lo mau apa sih?"


Tidak lama kemudian, Sarah mengenggam tangan Andi dengan erat. Ia dekatkan tubuhnya hingga bersentuhan dengan lengan Andi. Sarah ngerasa Andi terganggu dengan perkataannya tadi. Ia tahu banget Andi bakal baik lagi kalau ia sandarkan kepalanya ke bahu Andi.


"Eh, listen me ... gue tahu banget lo itu gimana. Lo orang yang males baaaaaaaanget berlembut-lembutan sama orang yang lo sayang. Dan gue ngerti itu. Gue enggak butuh dipuji, karena gue enggak terlalu suka dipuji. Cukup lo pertahanin rasa cinta lo ke gue, itu udah cukup. Begitu pula gue sebaliknya."


Ya Allah .... gue meleleh ....

__ADS_1


Andi mengacak-ngacak rambutnya. Ia lemparkan senyum terbaiknya pagi ini. Apa yang dikatakan Sarah itu benar, Andi enggak suka terlalu terbuka tentang hal itu. Ia lebih banyak diam dan menunjukkannya dengan segala perlakuan lembut kepada Sarah. Andi enggak pandai bermanis mulut.


Kalau enggak di sekolah, udah Andi cium si Sarah. Paling cium di kening. Kalau di bibir, bisa-bisa Sarah auto jadi huluk dan meng-smekdon Andi hingga KO, trus diseret ke rawa-rawa buat jadi umpan buaya. Kalau buayanya udah makan Andi, eeknya bakal jadi pupuk bunga di halaman Sarah.


**** Sarah psikopat banget, thor?


Canda doang, kan author cowok humoris yang disenangi banyak pria dan wanita.


"I love you," bisik Andi ke telinga Sarah ketika sampai di pintu aula sekolah.


"Love me too." Sarah menunjukkan ujung lidahnya.


Andi tidak apa-apa jika ia tidak menjawab pernyataannya tersebut. Ia sudah tahu jawabannya, tersimpulkan dari garis wajah yang Sarah tunjukkan.


Ah, begitu lucunya diaa .....


Acara peresmian dibuka dengan pidato kepala sekolah di atas podium. Tidak semua guru yang terdapat dalam acara ini, hanya guru-guru tertentu saja. Dilanjutkan oleh sepatah kata dari ketua OSIS yang sekarang dan juga Sarah sebagai ketua dari kakak-kakak pembimbing yang ikut berpartisipasi.


Ada sebuah rasa bangga yang muncul di hati Andi ketika melihat Sarah begitu lantang dan lugas menyuarakan pendapatnya atas program ini. Ia begitu lihai dalam berbicara dan begitu percaya diri di depan orang banyak. Berbeda dengan Andi yang ogah banget dengan begituan. Ia lebih suka mengaktualisasikan diri dengan bidang-bidang yang ia sukai, seperti halnya olahraga yang ia kuasai.


Nama para kakak-kakak pembimbing bicakan satu per satu, diikuti oleh para adik kelas yang akan dibimbingnya. Setiap kakak pembimbing akan mendapatkan lima orang kakak pembimbing. Sarah senang sekali mendapatkan kebanyakan adik bimbingannya perempuan semua. Mereka sudah duduk di bersama di satu tempat. Sementara itu, Andi masih berdiri di atas panggung untuk menunggu adik bimbingannya dipanggil satu per satu.


***** ... kok cuma satu cowok, sih???? Andi melihat adik bimbingannya yang cuma ada satu orang cowok. Padahal kan dia mau nerapin didikan militer ke adik-adik kelasnya.


"Selanjutnya adalah Naila Rahmah Sikumbang dipersilahkan naik ke atas panggung," sebut MC.


Andi terbelalak melihat seorang wanita dengan wajah datar berjalan ke atas panggung. ia adalah Naila, si cewek yang sok kenal banget dengan dirinya. Leher Andi jadi sedikit tegang ketika Naila menatap Andi. Tidak lama kemudian tampak jari tengah perlahan dipertunjukkan kepada Andi.


***!!!! Kok bisa diaaaaa????


"Dek, enggak salah nama kan yang terakhir ini?" tanya Andi kepada MC.


"Enggak, bang. Memang adik Naila ini kok," balas MC dengan riangnya.

__ADS_1


Naila berdiri di samping Andi yang sedikit tegang akibat kedatangannya. Andi tidak abis pikir kenapa bisa bertemu lagi dengannya di sini. Padahal dia udah bersumpah untuk enggak mau lagi ketemu sama cewek yang model begini. Cantik sih cantik, tapi kalau kelakuannya begini, siapa yang mau sih?


Mungkin aja Nanang dan Agus mau karena agak kurang normal gitu.


"Hai, Kak Andi." Naila mendekatkan kepalanya ke kepala Andi. Ia bersuara selembutnya seperti halnya adik-adik kelas yang ketemu sama senior sekeren Andi.


"Bodo!" balas Andi membuang muka.


"Gue bilang baik-baik, lo jawabnya begitu ya?" tanya Naila dengan dingin dan sedikit berbisik.


"Apaan sih! Sok kenal."


Andi dan adik bimbingannya dipersilahkan untuk duduk membentuk lingkaran. Ketika di perjalanan, Sarah menghampiri Andi. Ia begitu senang Andi mau ikut perpartisipasi di program ini, walaupun awalnya terkesan terpaksa.


"Makasih ya udah mau ikutan ...."


Ia menangguk pelan. "Iya, terima kasih juga udah ngajakin gue ke sini."


Naila mendekat menatap Sarah. Mereka berdua saling bertatapan seakan sudah pernah bertemu sebelumnya. Naila terlihat memerengkan wajahnya.


"Kak Sarah???" tanya Naila. "Kak Sarah yang dapet juara ketua OSIS SMA terbaik se-kota, kan?"


Mendengar itu membuat Sarah langsung antusias menatap wanita yang sedang ada di hadapannya. "Iya, ini Kak Sarah. Kamu adik bimbingan Kak Andi, kan?"


Andi sedikit membuang muka ketika mendengar percakapan ini. Apalagi Sarah menyebut dirinya dengan sebuatan 'kak' kepada dirinya. Padahal bagi dia sebutan itu agak menjijikkan kalau didengar.


"Iya, Kak. Ini Naila, kita pernah samping-sampingan duduk di waktu di malam anugerah penghargaan," balas Naila dengan antusias.


Dahi Sarah mengernyit sesaat. Ia kembali mengingat ketika malam anugerah penghargaan itu. Malam itu merupakan malam di mana ia di anugerahkan sebagai ketua OSIS terbaik se-kota. Ia teringat dengan seorang wanita berpakaian batik SMP dan menggunakan sebuah bando di kepalanya.


"Oh, Naila yang jadi narasumber inovasi digital waktu itu, ya?" Sarah menepuk jidat. Ia baru ingat jika mereka pernah berjumpa sebelumnya. "Maaf, Kakak lupa ... padahal kamu ngasih kakak es krim malam itu."


Sarah memeluk erat Naila untuk memberikan salam perjumpaan setelah sekian lama tidak bertemu. Di tengah pelukan itu, Naila menatap Andi dengan tatapan liciknya. Ia julurkan ujung lidahnya hingga membuat Andi kesal.

__ADS_1


"Bangsssst!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" ucap Andi dengan ditahan.


__ADS_2