
Ruang UKS
"WOI ANJING, LO KIRA SEKOLAH PUNYA ENGKONG LO?" kata Sarah dengan teriak-teriak.
Semuanya dipukuli hingga mampus di dalam ruang UKS. Pasien yang beneran pasien juga ketakutan melihat Andi dan kawan-kawan dibikin mampus oleh Sarah. Sebuah tongkat sapu ia jadikan senjata seperti Zhou Yun di game pe'es dua, Dinasty Warrior 6. Nanang dan Agus disodok-sodok, sedangkan Andi lagi pingsan di atas ranjang UKS.
"Gua tau lo lagi pura-pura pingsan?" tanya Sarah. Sapu melayang tepat ke perut Andi. Bunyinya khas banget waktu sapunya nempel ke perut Andi.
"Lah, gua lagi pingsan, kok," balas Andi sambil nunjukin muka meme Herp.
"You don't say." Pentungan melayang ke muka Andi.
Anak Amak kocar-kacir keluar UKS hingga sampai ke gerbang sekolah. Akhirnya mereka bisa menghela napas dengan lega karena Sarah udah ga nampak lagi. Namun, tiba-tiba mereka sadar kalau mereka lari sambil ga make sepatu. Sepatunya ketinggalan karena terpanik melihat Sarah yang udah marah-marah kaya emak kehilangan taperwer.
"Ya, Allah, sepatu kita tinggal, coeg! Siapa yang berani ke sana?" tanya Nanang ke semua.
"Ampun gua, gua ampun kena sodok sapunya Sarah. Dia kok kuat banget, sih!" Napas Agus masih ngos-ngosan. "Lo aja gih, Ndi. Di antara kita semua, lo yang paling berani."
Tiba-tiba Felix datang sambil bawa buku kecil yang berisikan kode etik keberandalan. "Menurut kode etik keberandalan nomor 2 tahun 2017, kita ga boleh takut ke Sarah, khususnya Andi."
Mata Andi langsung mengarah ke buku itu. "Lah, kok ada nama gua di situ?"
"Dulu kan elo yang bilang kaya gitu. 'khususnya gua' waktu itu lo bilang begitu."
Nanang, Felix, dan Agus tersenyum licik. Mereka mendorong-dorong Andi buat pergi ke UKS untuk ngambilin lagi sepatu mereka yang tertinggal.
Udah lima belas menit mereka menunggu ria di bawah naungan kumis Pak satpam yang lagi ngopi. Nanang, Felix, dan Agus terduduk di pos satpam sekolah sambil ngipas-ngipas karena kepanasan. Pak Satpam tak kunjung mengiyakan permintaan Felix agar Pak Satpam menolong mengambilkan sepatu mereka yang tertinggal.
__ADS_1
"Bang, satu bungkus, Bang. Ga mau juga?" tanya Felix pada Pak satpam.
Pak satpam menyeruput kopi hitamnya. "Eh, lo kira gua bapak lo? Udah-udah sana. Gua mau ngopi dulu."
"Yaelah, Bang. Itu doang ngambek. Kaya cewe PMS aja, bang." Felix berbalik diri setelah itu memegangi pundak kedua temannya. "Coy, kita lihat keadaan Andi. Udah modar atau belom dia."
Mereka bertiga kembali berdiri dan melangkah kembali menuju ke ruang UKS. Namun, mereka terhenti oleh sesuatu.
"Woi, lo punya rokok kaga? Asem nih mulut gua," pinta Pak Satpam.
Felix berbalik. "Ga, ada. Abang pelit sama kami."
"Mau gua aduin sama Kepsek kalian? Pagar samping kok bolong, ya?" tanya Pak Satpam. Dia pura-pura tidak melihat tiga berandal di sana.
Pertanyaan Pak Satpam membuat mereka bertiga saling bertatap. Baru aja seminggu yang lalu pagar yang baru direnovasi mereka bolongin buat cabut, biar ada pijakannya gitu. Trus kawat-kawat yang di atasnya mereka cabutin semua. Itu semua ide Andi sendiri. Soalnya tembok pagar tempat biasa mereka cabut, udah direnovasi biar seluruh murid ga bisa cabut lagi.
"Eh, Abang ga pelit, kok. Ini rokoknya. Mau berapa batang, Bang?" tanya Felix sambil senyum ga jelas.
"Sebat─" Kalimat Pak Satpam terpotong.
"Nah, gitu, dong. Rahasia aman terkendali." Pak Satpam memerlihatkan jempolnya pada Felix.
Tangan Felix mengurut dada sambil menghela napas. Hampir saja orangtuanya kembali datang ke sekolah buat ngurus kasusnya lagi. Sementara itu, Pak Satpam membuka sebungkus rokok pemberian Felix. Perasaan gembira menyelimuti dirinya tatkala membuka bungkus rokok. Jarang-jarang Felix ngasih sebungkus.
Tiba-tiba senyum Pak Satpam padam. "Anjir, cuma sebatang isinya."
Lo kan minta sebatang. Ya gua kasih sebatang. Hahahahahaha, tawa Felix dalam hatinya.
Dengan kaki yang gemetaran Andi melangkah dengan mengendap-ngendap di samping ruang UKS. Matanya tak henti berbolak-balik menatap ke sekitar. Hawa kedatangan Sarah belum dia rasakan. Biasanya ia bisa langsung merasakan aura keganasan Sarah.
"Mana huluk tadi, ya?" tanya Andi sambil mengendap-ngendap.
__ADS_1
Seseorang berdehem. "Lo nyariin gue? Perhatian banget lo,"
"Wah jelas, dong. But wait ..." Dia menoleh ke belakang dan menadapati Sarah sedang bertegak pinggang dengan memegangi sepatu mereka yang tertinggal. "Sarah, udahan, dong marahnya."
Sarah tertawa terbahak. "Hahahahahahah, khok ... khok" Ia terbatuk. "Jadi lo nyariin ini, kan?"
Di tangan Sarah ada tiga sepatu milik mereka, tapi cuma sebelah. Tanpa basa-basi Sarah berlari sekuat tenaga untuk mengambil ancang-ancang ngelempar sepatu mereka ke atas loteng sekolah.
Tidak ada cara lain menghentikan Sarah. Andi pasrah sepatu mereka nyangkut ke loteng untuk kesekian kalinya oleh Sarah. Ada cara satu-satunya cara, tapi nggak tau bisa berpengaruh sama Sarah si wanita berjiwa huluk.
"Gua harus menggunakan ketamvanan tingkat kota." Andi menyisir rambutnya seketika. Ia mengambil napas. "Sarah!"
Langkah Sarah terhenti oleh panggilan Andi. Suaranya berat tidak seperti biasanya. "Apa─" Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Ia terpana melihat Andi yang memandang lurus padanya. Wajahnya hanya berjarak dua jengkal dari dirinya. Bayang-bayang wajah yang hitam beriak di pupil matanya yang bening. Tercium aroma parfum Andi yang setiap hari ia gunakan. Sarah terpana.
"I-i-ya?" tanya Sarah dengan terbata-bata.
"Maafin gua, ya. Lain kali gua ga bakal gitu lagi. Pliss... sepatu kami," ucap Andi. Ia tersenyum tipis.
Njir, trik gua berhasil sama Sarah, dalam hati Andi kegirangan.
"Iya, maapin gua juga. karena─" Jari telunjuk Andi menempel pada bibir tipi Sarah. Sarah terpaku tak bergerak. Badannya bergetar akibat sentuhan Andi. Kasar dan dingin, itulah yang ia rasakan pada bibirnya.
"Shtttt ...." Andi meminta ia untuk tidak melanjutkan kalimatnya. "Lo ga perlu minta maaf. Kami yang salah."
"Lo tam─" Sarah menahan kalimatnya lagi. "Tam ..."
Senyum Andi melebar. Trik ini memang sudah berkali-kali membuat adik kelas klepek-klepek. "Apa?? Tampan?
Sarah balas tersenyum. Baru kali ini ia berkata begitu pada seorang pria. Terutama peria yang tengah tersenyum padanya.
__ADS_1
"Lo tam......"
***