
Pertandingan Yang Cepat
Senang rasanya melihat mereka berdua berhasil maju ke ronde kedua. Andi hanya melihat mereka dari kejauah karena kepalanya masih sakit dan bertambah sakit jika terus di bawah terik matahari. Betapa lucunya ketika melihat Ajiz dengan muke yang ga bisa di konto .. eh dikontrol karena bersusah payah memacu lawan-lawan di depan. Ditambah lagi dengan peluk erat Naila yang seakan mencekik leher Ajiz.
Wah mereka sangat serasi.
Andi berbalik arah tatkala melihat mereka berdua terjatuh bersama. Dia udah tahu Sarah ngambil ancang-ancang buat marah karena mereka jatuhnya pake lama. Kaya ngambil kesempatan gitu. Pantes aja Andi balik arah karena ga mau ngelihat mulut bar-bar Sarah.
Minum banyak tadi pagi ternyata membuat Andi pengen pipis. Mumpung ga ada orang di area sungai, dia langsung menumpahkannya kaya air mancur. Pantes aja ikan-ikan lagi pada kabur karena Andi nembak di sana.
"ANDI!!!!" panggil seseorang.
Sontak Andi langsung menyudahi pipisnya tanpa cebok. Itu merupakan suara Naila.
"Lah, elu di sana?" Naila melambaikan tangan. "Lo ngapain?"
"Eh ... eh ... gue lagi ...." Andi menggaruk-garuk kepala. Ia terpikir untuk mengambil sebatang rokok. "Ini gue lagi ngerokok sambil ngeliatin ikan ****** di bawah."
"Ada ikan ****** ya?" tanya Naila.
"Iya, banyak tuh. Liat aja ada buih-buihnya. Itu tempat ikan ngeletak telor." Andi menunjuk buih-buih ikan ****** yang menempel di rumput-rumput tepian sungai.
"Kami menang." Naila langsung memegangi kedua tangan Andi tanpa malu-malu.
Eh gue abis megangin itu gue *******!!!!
Ia dengan cepat melepaskan tangan Naila. "Lo mau kena smekdon Sarah gara-gara megangin tangan gue?"
__ADS_1
Naila hanya tersenyum. "Eh, iya ... maap."
"Oh itu mereka."
Rombongan dari tanah lapang mulai beranjak ke tepian sungai. Sungai juga sudah tersedua dua buah batang pohon pinang yang di pasang melintasi sungai. Itu akan menjadi arena perang bantal mereka. Selain diamplas dulu biar mulus, di masing-masing ujungnya terolesi oli tipis biar ada licin-licinnya. Hal tersebut akan jadi tantangan tersendiri.
"Cepetan, kaya Andi ke sekolah aja, lambat banget!" teriak Sarah lewat toa.
Kenapa mesti nama gue sih? Agus kek!
Sarah kembali berkoar untuk menjelaskan sistim permainan ini. Dengan semangat membara, ia turut memberikan masukan agar bermain adil dan aman. Boleh ganas, tapi jangan dendam kemudian. Pokoknya sportif.
Sistim permainannya ialah masing-masing kelompok yang sudah terpilih untuk menjadi lawan, mereka akan melempar koin. Siapa yang menang, mereka berhak memilih untuk memilih lawan cewek atau cowok. Jika memilih lawan cewek, mereka akan turut juga mengirimkan perwakilan cewek. Jadi adil, ga ada cowok yang lawan cewek. Setelah didapati pemenang pada fase ini, mereka berhak maju ke final.
Ajiz sebagai ketua kelompok melakukan lempar koin dengan tim lawan. Ternyata mereka kalah.
"Kami memilih lawan cowok," ucap ketua lawan sebelah.
Mata Ajiz berapi-api melihat seseorang yang maju. Ia merupakan Darwin, anak Four Dogs yang menawari Ajiz untuk bergabung dengan kubu mereka waktu itu. Pria itu merupakan tangan kanan Dandi.
"Sekarang siap-siap ke tengah jalur," ucap salah satu panitia kepada Ajiz.
Ia mengangguk dan duduk di pohon pinang yang licin karena dilumuri oli. Untung saja ia punya keseimbangan yang bagus, jadi dengan mudah merangkak ke tengah.
Kini mereka berhadap-hadapan. Darwin melempar senyum walaupun Ajiz tetap menatap dingin pria itu. Mereka punya masa lalu yang buruk. Sembari menunggu arena sebelah bersiap-siap, mereka saling berbincang.
"Kita jumpa lagi, walaupun ga lagi tempur kaya dulu."
Ajiz meludah ke bawah sungai. Ia sangat membenci jika ada seseorang yang berani membahas masa lalunya.
"Lo diam aja. Lo anjing bawahan yang setia sama majikan. Beda sama gue," sindir Ajiz.
__ADS_1
"HAHAHAHAHAHA ...." Darwin tertawa terkikik-kikik. "Lah, elo? Ke mana yang katanya Singa Dari Utara itu? Udah jadi kucing."
"Kalau engga di sini, gue udah abisin lo."
Masa lalu Ajiz pernah bergesekan dengan anak-anak Four Dogs. Ia merupakan ketua dari geng di mana mereka biasa nongkrong. Salah satu alasan ia disebut sebagai Singa Dari Utara ialah karena tidak ada satu pun orang yang berani mengusiknya di SMP. Kebetulan SMP-nya berada di utara kota. Jarak sekolah Ajiz dan Dandi sangatlah dekat, sehingga mereka pernah bentrok antar dua kedai tongkrongan.
Hasilnya adalah kekalahan Ajiz yang bonyok dihajar Dandi. Baru kali itu ia melawan orang yang berhasil mengalahkannya. Meskipun ia kalah, ia tetap lekat dengan julukan itu. Baginya, akan ada satu titik ia akan kalah dan berhenti berkelahi. Semenjak saat itu, ia memutuskan untuk berkelahi dan masuk SMA yang agak jauh dari lingkungannya. Namun sayangnya, Ajiz kembali bertemu dengan Dandi. Ia tahu niatnya untuk berubah akan bertambah susah dengan kehadiran Four Dogs.
"Sudahlah ... gabung sama kami. Kita taklukkan SMA ini. Kita hancurkan Antophosfer. Kita bakalan menang. Jika ada lo, Dandi ga bakalan segan ngincar satu per satu pentolan Antophosfer. Bahkan, Andi aja hampir mampus."
Ajiz menunjuk tegas wajah Darwin. "Woi *******!!! Jangan lo sebut Andi dengan kata-kata itu!!!!"
"Lo masih aja bela-belain dia." Darwin mendekatkan wajahnya kepada Ajiz. "Jika lo gabung, kita buat Andi ngejauhin Naila. Naila jadi milik lo."
"Andi udah punya pacar. Dia enggak mungkin ngekhianatin Sarah!" balas Ajiz.
"Hahahahah ... lo enggak tahu ya Andi itu sebenarnya *******. Dia itu pria berdarah dingin."
"Lo kalahkan gue, gue gabung sama lo. Jika gue menang, lo pergi dari hidup gue dan jangan sentuh Andi."
"Boleh."
Sarah membunyikan peluit. Ajiz langsung menangkat bantal untuk mengeker kepalanya Darwin yang masih terpasang senyum liciknya.
"HAAAA!!!!" teriak Ajiz sembari melesatkan bantalnya dengan kuat.
Suara ceburan air sungai berbunyi. Orang-orang sempar terperogoh melihat pertandingan tersebut berakhir begitu cepat. Panitia mengangkat berdendera pertanda salah satu tim sudah memenangkan pertandingan. Darwin pun berenang ke tepian dengan wajah wajah bercampur malu.
"LAKUKAN ITU *******!!!!" teriak Ajiz.
Seluruh peserta kemah terkejut ketika Ajiz berteriak.
__ADS_1
***