Andi X Sarah

Andi X Sarah
6. Konter Koko Felix (SEASON 3)


__ADS_3

Zaman telah berubah selama tiga tahun semenjak mereka tamat dari SMA. Antophosfer yang menjadi kebanggaan para pentolan SMA kini sudah bubar karena tragedi tersebut. Padahal, organisasi bawah tanah tersebut merupakan warisan para senior yang berharap besar untuk perlindungan anak-anak SMA dari serangan tawuran sekolah lain. Bahkan, Antophosfer turut andil dalam menciptakan keseimbangan politik sekolah. Di kala OSIS sudah bersikap semena-mena, maka dari itu mereka bergerak sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, tidak ada satu pun anak Antophosfer yang masuk dalam organisasi OSIS. Ya gimana mau masuk, mereka semua bandel begitu.


Antophosfer bukan hanya berguna untuk melindungi anak-anak SMA dari sekolah lain, melainkan mendukung kerukunan antar pentolan di SMA sendiri. Mengingat, banyak sekali pergesekan antara geng-geng sekolah sehingga harus diansipitasi, eh antisipasi dengan menyatukan mereka. Bisa dilihat darimana hubungan Anak Amak yang hanya beranggotakan empat orang harus melawan komplotan Kodomo yang beranggotakan dari tiga angkatan. Jika bukan karena Antophosfer, udah habis tuh Anak Amak dilahap Kevin sendirian.


Sarah sudah mengetahui hal tersebut dari Nanang. Jadi waktu itu Nanang lagi pulang dari rumah Andi sehabis main basket, eh ngelihat mangga-nya Sarah, mangga buah ya bukan mangga itu, terus Nanang minta izin sama papanya Sarah buat minta satu biji. Ketemulah mereka berdua. Sedikit ngobrol politik, Sarah nanyain kapan bapaknya masuk partai biar jadi Wali Kota, kan bapaknya terkenal. Nanang pun menolak karena takut bapaknya bakalan punya istri dua kalau jadi Wali Kota. Di sanalah Nanang cerita kalau Antophosfer udah bubar. Sarah jadi senang karena enggak bakalan ada lagi tawuran-tawuran.


Handphone Sarah berbunyi. Tampaklah nama Vanesa yang merupakan sahabat sejolinya sewaktu SMA. Cewek centil itu lagi ngidam aipon terbaru dan mintain Sarah nanya ke Koko Felix yang punya konter hape.


Iye, gue rampok nih hari ini toko dia, jawab Sarah lewat WA.


Namanya juga kawan, jadi harus ditolong. Lagi pula, udah lama Vanesa mengeluh hapenya mati-mati sendiri. Mumpung lagi dapat banyak job open BO jasa pembuatan bunga handmade, Vanesa langsung meng-gas untuk membeli hape.


“Anjir, motor gue dipakai lagi sama Papa.” Sarah melihat garasi yang tidak ada mobilnya.


Mungkin papanya lagi nyari cewek di luar sana, kan papanya duda. Mobil sedan tua di garasi pun hanya bisa Sarah tatap saja karena ia sama sekali tidak bisa mengendarainya.


Ia mencoba menelpon Andi.


“Hallo ma beibe tersayang ….” Andi merespon.


“Ndi … anterin gue ke mall konternya Felix, dong. Ini gue udah wangi enggak kaya abis main karate.”


“Mau wangi mau enggak, gue pasti nganterin elu. Tapi, gue lagi bimbingan laporan nih sama dosen. Lagi nunggu antrian kek nungguin sembako,” balas Andi.


“Ih, lo milih gue atau dosen?”


“Ya dosen guelah govlok!”


Nada dengung panjang berbunyi pertanda Andi mematikan sambungan secara sepihak. Kaya orang lagi enggak pacaran aja, cueknya minta ampun. Tapi udah biasa pada hubungan mereka yang absurd.


Telinga Sarah berdiri tatkala ada seseorang yang memanggil nama papanya. Ia pun keluar dan mendapati Memet sedang menenteng tas selempang ala-ala penagih uang ronda.


“Woy, mau nagih uang ronda lo?” tanya Sarah.

__ADS_1


“Lah kok tua?”


“Kok tau!” Sarah membuka gerbang. “Ini gue bayar dan gue lebihin, tapi anterin gue ke mall.”


Memet pun menyerngitkan dahi. “Eh, lo mau gue dibacok sama Andi?”


“GUE YANG BACOK DIA!”


Serem amat nih cewek ….


“Ditambah uang rokok tapi,” jawab Memet.


“Oke, tapi lo anterin gue lagi ya. Tunggu aja diparkiran jangan ikut gue.” Sarah memasang helm ala-ala motor trail.


“Lah, emangnya kenapa? Kan gue pengen juga ngadem.”


“Tapi lo ngejarak dari gue tiga meter!”


Biar cepet, Sarah langsung naik motor matic mber knalpot racing punya Memet. Bukan sebagai penumpang, malah sebagai pengemudi. Tanpa ragu dan tanpa bimbang Sarah langsung mengkritik peforma mesin motor Memet. Berasa paling tahu mesin dah, padahal Memet lulusan SMK permesinan dan sekarang jadi teknisi di perusahaan motor. Daripada diamuk oleh kejantanan Sarah, Memet memilih diam di belakang motor sembari pegangan gagang samping. Kalau meluk Sarah, bisa-bisa nanti malah pergi ke UGD. Pertama di karate sama Sarah, kedua dibacok sama Andi.


Memet belaga jadi bodyguard Sarah dari belakang sambil merhatiin sekitar. Kan udah dibayar lebih plus ditambah uang rokok. Di lantai dua mereka mengarah ke sebuah toko konter yang SPG-nya lagi nawarin-nawarin brosur hape. Sementara Sarah nyamperin toko itu, Memet malah ngobrol sama salah satu SPG.


“Ada Koko Felix, ga?” tanya Sarah kepada karyawati konter.


“Ada, Mbak. Bentar ya ….”


Tidak sampai semenit, Felix datang masih dengan kaos oblong celana pendek plus sendal jepit. Matanya yang sipit bertambah sipit tatkala menatap Sarah.


Ini kenapa ada gorilla ke sini, ucap Felix di dalam hati.


“Woy, gue kira lo udah nikah kaga pernah muncul-muncul.” Suara Sarah serasa jadi yang punya mall.


“Gue enggak jualan samsak tinju di sini,” balas Felix.

__ADS_1


“Samsak tinju? Makin lucu aja lo semenjak jadi pengusaha.” Sarah mengeluarkan handphone-nya yang sudah terpampang promosian Instagram konternya Felix. Waktu itu tokonya lagi promosiin hape aipon second generasi terbaru. “Gue mau beli ini. Gue punya duit, kok.”


“Siapa bilang lo enggak punya duit, sih?” Felix melihat promosian tersebut. Lalu bertaanya kepada karyawati konter mengenai stok yang ada. Setelah memastikan stok masih tersedia, ia pun mengangguk kepada Sarah. “Barangnya ada, tapi di gudang. Kalau yang di sini masih seri di bawah ini. Maklum, kan hapenya baru keluar.”


“Diskon dikit napa.” Sarah menawar.


“Eh gue dagang bukan penggalangan dana,” sindir Felix sembari menyerahkan handphone Sarah. “Gini aja, deh. Gue bakalan pilih stok yang paling bagus, dua hari lagi gue bakalan ke rumah lo bawa handphone itu. Siapin uangnya.”


“Ngapain juga lo ke rumah gue?” tanya Sarah dengan perasaan aneh.


“Gue, Nanang, dan Agus main ke rumah Andi. Curiga banget sih lo.”


Sarah pun tersenyum. “Gini aja, deh … main ke rumah Tami aja sekalian. Kita mukbang mie instan. Biar Tami ngecekin hapenya karena Tami paling ngerti tentang itu. Oke?”


“Oke-oke … percaya aja sama gue. Gue enggak bakalan ngibul, gue dagang jujur biar berkah dunia akhirat.”


“Tumben religious ….”


Felix melihat ke samping kiri. “Keknya itu Memet. Lo sama dia?”


“Jadi bodyguard pribadi gue. Tampangnya kaya jambret, jadi enggak ada cowok yang berani gangguin.”


“Terserah lo deh.”


“Gue pamit dulu, jangan lupa hapenya.”


Sarah berpamitan kepada Felix. Memet pun tidak lupa pula menyapa Felix. Sebagai teman dari Andi, Memet pasti mengenal Felix. Setelah itu, mereka berdua kembali ke parkiran. Saking baiknya, Memet memasangkan helm ke kepalanya Sarah, walaupun terbalik.


“Sar, gue mau nanya.” Wajah Memet tampak serius.


“Nanya siapa yang maling rumah Pak Armen? Sumpah bukan gue.”


“Tami udah punya pacar?”

__ADS_1


Wajah canda Sarah seketika padam tatkala mendengar kalimat yang penuh dengan cerita cinta bertepuk sebelah tangan.


***


__ADS_2