Andi X Sarah

Andi X Sarah
9. Mantan


__ADS_3

Mantan


Mobil Andi tiba di Mall tempat biasanya dirinya memperbaiki handphone. Sarah hanya mengikuti Andi dari belakang. Kalau jalannya sejajar mah nanti di bilang pacaran. Apalagi kalau nampak temen satu sekolahan, jadi ancur reputasi Sarah karena udah jalan sama Andi.


Andi terus saja berjalan tanpa memedulikan Sarah di belakangnya. Pikirannya mengawang kepada Udin, celengan ayam yang ia pelihara semenjak enam bulan yang lalu. Ia tidak tega memecahkannya di lantai kamar. Ia menangis tersedu-sedu tapi bukan karena celengannya itu tidak ada isi, melainkan menyadari celengan itu ternyata bisa dibuka di bagian atasnya. Dia lupa dan malah memecahkan celengan tersayangnya itu.


Andi berhenti tiba-tiba. Pikirannya tiba-tiba blank gitu.


"Sarah gua lupa di mana konter service-nya. Heheheh." Andi nyengir ga jelas gitu. Bikin ilfil Sarah.


Sarah menghela napas. Ia membuang pandangan dari "Gaya lo aja yang songong jalannya. Eh ternyata tempatnya aja ga tau."


"Sensi amat sih lo," balas Andi sambil melirik ke setiap took di sekitarnya.


"Bodo, ah. Ikutin gue." Sarah jalan duluan mening Andi di belakang.


Mata Andi memerhatikan Sarah dari belakang. Rambutnya panjang mengkilau melebih bahu. Tubuhnya juga proposional. Sedikit melikuk di bagian pinggulnya. Semerbak wangi tubuhnya yang tertinggal tercium oleh Andi. Pikirannya tiba-tiba tidak fokus lagi.


Anjir, gua mikirin apa tadi? tanya Andi dalam hati. Dia ga percaya apa yang udah dia pikirin barusan.


Sarah melihat tempat service-nya dan langsung menuju ke sana. Sementara Andi dari tadi ngucap aja menyebut nama Yang Maha Kuasa karena udah mikirin Sarah seperti itu.


"Ndi, lo bilang tuh sama orangnya," kata Sarah sambil melipat tangan. Menyiratkan kalau dia masih sebal dengan Andi.


"Oke."


"Lo bawa uang, kan?"


"Lo kira perbaiki ini sehari apa? ya paling seminggu selesai, baru dibayar," jawab Andi. Sebenarnya dia ga bawa uang banyak juga sih. Tinggal dua puluh rebu. Paling habis buat beli sempurna sebungkus nanti.


Andi bicara sama abang service-nya dan menjelaskan apa-apa aja yang rusak dari HP Aipon Sarah. Terjadi percakapan yang panjang antara Andi dan abang-abang service. Kepala Andi tampak ngangguk-ngangguk, tapi sebenarnya dia tidak mengerti apa yang dibilang abang service. Dia cuma tau bayar doang.


"Seminggu lagi ambil," kata Andi pada Sarah.


Sarah cuma bisa ngurut dada nyadar kalau selama seminggu ini dia bakal bertahan hidup tanpa handphone, tanpa streaming Youtube, tanpa buka Instagram, tanpa bisa streming drama korea buat ngelihat oppa-oppanya itu.


"Dah, masalahnya selesai, kan?" tanya Andi sambil senyum-senyum ga jelas.


"Selesai kepala lo. Gua bakal kaya orang suntuk di rumah tanpa handphone," jawab Sarah lalu jalan duluan.

__ADS_1


Langkah Andi menyamai langkah Sarah. Mereka jalan samping-sampingan dan terkadang tangan mereka ampir bersentuhan. Masing-masing dari mereka tentu saja gugup tiba-tiba. Anjing memang.


Krrrrrr, perut Andi bunyi. Cacingnya udah demo buat makan,


Telinga sarah mendengar suara perut Andi, tapi dia pura-pura cuek aja. Suara perut Andi bunyi lagi. Andi megangin perutnya yang udah keroncongan. Maklum dari tadi siang belum makan. Sehari ini cuma diisi selapis roti ama susu.


"Lo lapar njing?" tanya Sarah


Njir galak amat, ucap Andi dalam hati. Dia udah was-was dengan Sarah. "Ga kok, gua ga lapar,"


"Alah usah bohong lo. Yok nepi dulu. Mumpung ada Kaefci."


Sarah akhirnya ga tega mendengar suara perut Andi. Takutnya dia tumbang, trus nyusahin aja. Setelah masuk ke Kaefci, Andi duduk duluan. Sementara itu, Sarah memesan burger dan minuman masing-masing dua biji plus satu kentang goreng.


Kedatangan Sarah semakin membuat seantero perut Andi bergocang dan berdemo untuk segera menurunkan makanan ke dalam perut. Sarah melempar burgernya ke hadapan Andi. Andi tanpa basa-basi langsung menyerang burger yang di hadapannya. Kaya makan bakpao, Andi ngegigit burger itu lebar-lebar.


Orang kaya tapi malu-maluin kaya gini nih, ­Sarah sedikit menjaga jarak dari cowok di hadapannya.


Mulut Andi masih terisi oleh burger, tapi ia memaksa untuk berbicara. "Lo kok baik, sih?"


"Baik pala lo! Lo kira ini gratisan. Bayar sendiri, dong!" jawab Sarah sambil menggigit burger.


"Ga ah, handphone lo udah ternodai. Udah banyak yang lengket-lengket gitu."


Mata Andi tiba-tiba melotot ke arah Sarah. "Anjing, gua nyoli ga pake HP ini. HP satu lagi."


Daripada menyuntuk ria di rumah, Sarah terima pinjaman handphone dari Andi. Sarah mah terpaksa, ntar dia bisa ketinggalan drama korea yang sering dia tonton.


Burger mereka sudah habis. Sarah bergegas buat ninggalin meja. "Ganti uang gue tuh. 50 rebu."


"Bentar yaa," jawab Andi tanpa basa-basi. Dengan pedenya manusia yang satu ini mengambil dompetnya yang tak seberapa itu. Alangkah terkejutnya dia cuma liat dompetnya tinggal 20 rebu plus satu buah struk pembayaran di indoapril waktu dia beli popok buat sepupu di rumah.


Sarah kembali ngurut dada melihat anak orang kaya yang bokek kaya Andi. Ikhlas gue ... Ikhlass ...Sarah jadi ga tega ngambil uang Andi yang tinggal segitu.


"Yaudah, ga apa-apa. Gue traktir lo kali ini."


"Nah gitu dong," jawab Andi dengan senyuman yang sangat lebar. Ia melangkah lebar duluan dengan rasa lega.


Sementara itu, Sarah masih menahan-nahan sedari tadi. Anjing lo, nyesel gue ngajakin lo makan, gumam Sarah dalam hati.

__ADS_1


Baru saja Andi melangkah beberapa kali, ia melihat sesuatu yang nyesek di sana. Seonggok pasangan yang sedang memadu kasih sambil nyuap-nyuapan. Senyuman yang sepasang kekasih yang nge-jleb banget ke dada Andi. Udah kaya terpanah di sebuah peperangan klasik yang masih pakai panah-panahan gitu. Nyesek bangetlah pokoknya dan parahnya lagi .....


Mantan gue!


Andi terkejut melihat Raisa─salah satu barisan para mantan yang lagi keluar barisan─lagi makan berdua dengan cowok baru. Rasanya baru seminggu putus, udah dapat cowok baru aja. Gile bener gass Raisa. Andi jalan sambil nyembunyiin muka pake tangan. Takut ketahuan dia lagi makan sama Sarah. Raisa kan masih satu sekolah sama mereka berdua. Dia masih kakak kelasnya Andi dan Sarah.


Kebetulan sekali Sarah berjalan ke arah meja Raisa. Andi mikir dua kali buat mutar jauh. Kan aneh gitu kalau mutar. Terpaksa Andi ngekor di belakang Sarah.


Dan tiba-tiba ...


"Eh, Andi!" Pas banget Raisa melihat Andi.


SHITT!!!!


"Lah lo lagi makan sama dia?" tanya Raisa.


Andi perlahan ngebuka tangannya dari wajahnya. Sambil senyum-senyum nyengir gitu, dia ngangguk-ngangguk.


"Ini pacar lo? Tapi lo kan sekarang udah jadi homo?" tanya Raisa. "Ga mungkin dong lo masih suka sama cewek."


Andi pura-pura pingsan, nungging-nungging, pura-pura kesurupan, pura-pura amnesia, dia kayang, dan kembali tegak seperti biasa. Sementara itu, Sarah masih menahan ketawa. Namun karena sadar bahwa kalimat Raisa tadi mengandung kata pacar, Sarah dan Andi langsung saling tatap-menatap.


"Ah, enggak, kok." Jawab Andi dan Sarah serentak.


Raisa mengangguk. "Beneran? Masa iya? Makan berdua loh? Beneran ini pacar lo, Ndi? Lo kan homo."


ANJING!!!!! Bunuh abang dek ....


Panik dan malu bercampur menjadi satu. Mau pura-pura kesurupan, Andi nyadar tempat. Mau bunuh diri, Andi ingat sama dosa dan se-giga pideo di laptopnya yang belum dihapus ama histori browser tadi malam. Mau nungging trus kayang, ntar dikira orang gila.


Ia tetap tegar menghadapi semuanya. Ia tegakkan dagu, ia busungkan dada, lalu kayang ... lupakan.


"Oh, enggak salah lagi maksudnya. Ini pacar gua dan gua ga homo, kok," jawab Andi tanpa beban. Jantungnya mau copot ngelihat Sarah udah berubah jadi hijau menuju transpormasi selanjutnya, huluk.


AWAS LO ANDI! GUA CINCANG LO SAMPAI MAMPUS! ucap Sarah dalam hati. Sarah bener-bener jadi huluk.


Ampun Sarah!!!!!!!!!


***

__ADS_1


__ADS_2